
Elin menatap Sinta nyalang. Ia tidak terima dengan penghinaan yang dilayangkan secara bertubi-tubi oleh wanita yang berstatus sebagai istri pertama suaminya itu.
"Aku bukan wanita murahan," ujarnya dengan nada jengkel. Ia mengusap tangannya yang terkena busa sabun ke bajunya tanpa peduli ia menjadi kotor. "Aku bukan perebut suami orang. Dan aku juga adalah istri sah Kak Ariel. Kenapa aku bisa jadi murahan?"
"Karena kamu cuma wanita bayaran. Kamu menyewakan rahim kamu!"
"Kalian yang menginginkan aku buat ganti bayi kalian yang telah tiada. Kalian berdua yang membuat drama ini!" Elin mendekati Sinta yang kini membeku di tempatnya berdiri. "Aku cuma terjebak di antara kalian. Bukan salah aku jika aku jatuh hati sama Kak Ariel. Aku ... bisa membela diri di depan Mama kalau suatu hari Mama tahu."
Sinta mengerjap melihat wajah tegas Elin di depannya. Ia tak tahu Elin bis berubah seberani ini padahal sebelumnya Elin adalah gadis yang lemah di matanya.
"Apa yang bakal Mama lakuin kalau tahu kalian berdua sudah menjebak aku, membayar aku demi bayi ini? Mama bakal tahu Mbak Sinta udah nggak sempurna sebagai menantu. Mbak Sinta nggak bisa kasih pewaris ke keluarga Kakak," kata Elin tanpa peduli dengan perubahan air muka Sinta. "Mbak Sinta mungkin akan diusir oleh Mama, tapi aku? Mama sayang banget sama aku selama ini dan mungkin, Mama bakal bisa maafin aku. Lagipula ... aku mengandung cucu Mama. Aku bahkan bisa hamil lagi nantinya."
"Apa?" Sinta dengan gemetar hampir melayangkan sebuah tamparan ke wajah Elin, tetapi kali ini Elin lebih cekatan menepisnya.
"Jangan kayak gini. Aku nggak suka dikasari," ujar Elin jengkel. "Aku bisa bilang ke Kakak kalau Mbak Sinta jahat sama, tapi aku masih punya hati."
Elin menatap wastafel yang masih berisi banyak piring kosong. "Mbak aja yang nyuci itu. Aku capek."
Tanpa mempedulikan tatapan sengit Sinta, Elin segera berlalu. Ia setengah berlari menaiki anak tangga lalu menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ia benar-benar terkejut dengan aksi Sinta sekaligus ucapan Sinta tentang ibunya.
Yah, sebenarnya Elin begitu ketakutan jika ia ketahuan. Ia tak seyakin itu bisa mendapatkan pembelaan dari ibunya. Bagi Maria, Ariel adalah sosok yang sempurna dan harus mendapatkan kehidupan yang sempurna juga. Jadi, bahkan jika Ariel menginginkannya, itu tak akan berhasil.
"Mama nggak boleh tahu," gumamnya pilu.
Elin hanya tak ingin terintimidasi di depan Sinta, padahal ia sungguh takut jika suatu hari semua ini akan terbongkar di hadapan ibunya. Ia tak ingin lemah dan bisa dipermainkan oleh Sinta. Tentu saja, sama seperti dirinya Sinta juga takut jika ia ketahuan tak memiliki rahim lagi. Jadi, Elin berharap Sinta tidak bersikap kasar lagi padanya atau mengancam untuk memberitahu ibunya.
Setelah merasa jauh lebih tenang, Elin pun membaringkan dirinya di atas ranjang. Ia membuka ponselnya lalu menatap foto keluarga yang dilakukan ketika Gladis lulus SMA. Ia mengusap wajah ibu dan ayah ya, lalu Gladis.
"Maafin aku," ujarnya.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Elin terbangun sangat pagi karena ia langsung tidur setelah berdebat dengan Sinta di dapur. Ia tak yakin, haruskah ia memberitahu Ariel bahwa Sinta bersikap kasar padanya tadi malam, atau ia bisa membiarkan hal itu saja? Perasaan Elin berkecamuk.
"Aku bakal biarin yang semalam," ujarnya. Lagipula, ia tak hanya berdua saja dengan Sinta hari ini, pikirnya. Ada Budhe Sarti juga di rumah. Jadi, ia tak perlu takut Sinta akan kasar padanya.
Elin langsung mandi lantas menunaikan ibadah sholat subuh. Ia berdoa banyak untuk bayinya yang kini mulai terasa lebih sering menggeliat di perutnya. 18 minggu, dia pasti akan segera membesar, pikir Elin dalam hati.
"Siapa mereka?" gumam Elin ketika ia membuka jendela dan melihat ke taman dari balkon. Terlihat 2 pria berkemeja hitam dan merah maroon di bawah. Ia tak pernah melihat mereka sebelumnya dan ini terlalu pagi untuk seseorang bertamu.
"Apa orang-orang Kak Ariel?" Elin hanya bisa menebak, tetapi ia tak tahu apa maksud mereka berdua ada di rumah ini.
Elin kemudian tersadar, ia ingat jelas Ariel memiliki niat untuk menjaganya lebih ketat dan tak membiarkan ia keluar rumah. Apakah mereka penjaga baru? Ia benar-benar tak memiliki kesempatan untuk keluar?
Elin menyugar rambutnya dengan gusar. Ia memilih untuk masuk ke kamar dan duduk di kursinya. Jantungnya berdebar tidak nyaman karena perasaan aneh yang menjalari dirinya. Ia dikurung. Ia tidak diberi kesempatan untuk keluar lagi, pikir Elin.
Elin tertawa getir, karena rasa cintanya pada Ariel, ia bisa membela pria itu padahal ia masih tidak tahu isi hati Ariel yang sebenarnya. Namun, ia ingat, ia hanya dimanfaatkan oleh pasangan Ariel dan Sinta. Sudah terlambat untuk menyesal sekarang. Ia hanya berharap, Ariel benar-benar memiliki perasaan yang tulus padanya suatu hari nanti.
***
Tok! Tok!
Ariel mengetuk pintu kamar Elin lalu menyeruak masuk. Ia sudah bersiap dengan kemeja dan jas yang ia lipat di lengannya. Ia ingin melihat Elin sebelum turun untuk sarapan bersama.
"Kamu udah bangun, El?" tanya Ariel.
"Udah, Kak. Aku udah bangun dari tadi," jawab Elin seraya berdiri dari duduknya. "Udah mau kerja hari ini?"
"Ehm. Kamu kalau pengen jajanan nanti telepon atau chat aku ya. Sore aku beliin," ujar Ariel.
__ADS_1
Elin mengangguk pelan. Ia masih merasa tidak nyaman dengan adanya beberapa penjaga di luar rumah. "Kak, kenapa ada orang-orang itu di bawah?"
"Ah, Miko dan Marcus. Mereka orang aku, tenang aja," ujar Ariel.
"Kenapa ada di sini? Aku nggak bakal kabur kok," kata Elin.
"Aku cuma pengen kalian aman. Dan rumah ini juga nggak boleh ada gangguan dari luar. Jadi, aku minta mereka berjaga," kata Ariel. Ia mendekati Elin lalu memeluknya karena tak ingin Elin berpikir buruk.
Elin membalas pelukan hangat Ariel dan berkata, "Kakak tahu aku nggak suka dijagain kayak gitu."
"Aku tahu," ujar Ariel terkekeh. Sejak kecil, kedua orang tua mereka begitu protektif, terutama pada Gladis. Jadi, orang tua mereka akan menyewa bodyguard untuk menjaga Gladis sementara Elin, ia tak mau diikuti pria-pria penjaga itu.
"Makanya, nggak usah lebay," gerutu Elin protes. Ia mendongak untuk melihat wajah Ariel. "Aku tuh nggak bakal kabur, janji."
"Aku takut kamu punya niat pergi lagi dari rumah suatu hari," ujar Ariel. Ia melihat Elin mencebik, jadi ia mengusap pelan puncak kepala Elin. "Aku nggak mau kehilangan kamu, El. Aku bingung banget waktu kamu pergi. Aku khawatir."
"Kakak nggak bohong kan?" tanya Elin.
"Nggak, kenapa harus bohong?" Ariel menangkup pipi Elin sekarang sementara kedua lengan Elin masih melingkar di pinggangnya. "Aku nggak mau kehilangan kamu dan bayi aku."
"Aku boleh keluar sesekali kan?" tanya Elin ragu.
"Tentu aja. Kalau kamu mau pergi, bisa pergi sama aku. Oke?"
Elin mengangguk pelan, meskipun ia tahu penjagaan Ariel agak membuatnya tak nyaman.
"Ya udah, ayo turun sarapan," ujar Ariel. Ia mendaratkan kecupan di bibir Elin sekali lalu menatap wajah menggemaskan Elin. Entah sejak kapan, Ariel berdebar setiap kali Elin menatapnya seperti ini. Ia tak tahu, ia menyewa penjaga itu untuk mencegah Elin membawa pergi bayinya atau justru ia benar-benar tak ingin Elin pergi.
Namun, Ariel yakin satu hal. Ketika ia mencium kembali bibir Elin pagi itu, ia tahu, ia tak bisa lagi melihat Elin pergi darinya.
__ADS_1