
Keesokan harinya, setelah Galang meninggalkan kamarnya, Elin pun berniat untuk menjenguk Sinta sebelum ia pulang hari ini. Sebenarnya, Galang mengatakan bahwa ia akan menunggu hingga Elin dinyatakan boleh benar-benar pulang. Namun, Elin sudah tidak enak.
Galang bahkan membelikannya ponsel baru, membawakan makan malam serta baju untuknya ganti. Itu adalah baju milik Desi, adik dari Galang. Semalaman, Galang berada di rumah sakit meskipun pria itu tidak menunggu langsung di kamar Elin. Galang sesekali keluar untuk merokok atau beristirahat di mushola. Namun, itu sudah cukup membuat Elin merasa tidak enak pada bosnya.
"Mbak Sinta bangun belum ya?" gumam Elin ketika ia keluar dari lift. Ia agak takut jika bertemu dengan Ariel lalu kembali dimarahi. Ia juga tak tahu bagaimana reaksi Sinta jika bertemu dengannya nanti.
Dengan kepala tertunduk, Elin pun melangkah pelan. Ia berjalan tanpa sadar hingga kepalanya menumbuk sesuatu yang keras. Ia mundur selangkah lalu mendongak. Jantungnya langsung berdegup tak keruan ketika melihat Ariel di depannya.
"Bukannya kamu pulang hari ini?" tanya Ariel.
"Ya. Tapi masih nunggu diperiksa dokter lagi," jawab Elin. Ia mengusap tengkuknya dengan tangan kanan karena gugup hingga Ariel bisa memperhatikan perban yang membalut di sana.
"Kamu baik-baik aja kan? Mama tanya tadi malam," ujar Ariel.
Elin mengangguk. "Ehm. Cuma lecet dikit. Mbak Sinta udah bangun?"
"Udah. Aku baru mau keluar cari makanan. Kamu udah sarapan?" Elin mengangguk lagi. "Ya udah, aku titip Sinta. Ehm, tapi aku mau ngomong sesuatu dulu sama kamu."
"Ada apa?" Mendengar Ariel cukup banyak bicara padanya bahkan dengan nada halus membuat Elin berharap setengah mati agar sang kakak sudah membuang amarahnya.
"Aku mau kamu rahasiakan kondisi Sinta dari Mama dan Papa. Ataupun Gladis atau siapa saja. Pokoknya hanya kita bertiga yang boleh tahu," kata Ariel dengan nada tegas.
"Ya, aku ngerti." Elin cukup paham karena ia tahu posisi Sinta selama ini sebagai menantu yang tak begitu diinginkan di keluarganya. Padahal, Sinta adalah wanita yang baik, pikir Elin. Namun, nyatanya mereka begitu menjunjung tinggi asal-usul seseorang. Ia yang hanya merupakan anak adopsi pun tak luput dari hal itu, ia sering merasa dibanding-bandingkan dengan Gladis ketika mereka masih tinggal satu atap. Jadi sebenarnya, ketika mereka memilih tinggal di luar negeri, ia merasa cukup lega.
"Ya udah. Kamu jangan ngomong aneh-aneh juga sama Sinta. Aku nggak mau Sinta semakin terpuruk dengan kondisinya. Ingat, kamu yang udah bikin Sinta kayak gitu!" hardik Ariel sebelum akhirnya meninggalkan Elin di koridor rumah sakit.
Elin terhenyak mendengar ucapan tajam Ariel. Rupanya, Ariel masih marah padanya. Dan itu sama sekali tidak membuat Elin nyaman. Ia menatap punggung Ariel yang menjauh. Ariel pasti akan membencinya mulai sekarang.
Tak ingin tenggelam dalam kesedihan, Elin pun segera membuka pintu kamar Sinta. Ia melangkah dengan hati-hati agar tidak membuat Sinta kaget. Ia berdebar kuat lantaran takut pertemuannya kembali dengan Sinta tidak akan bagus. Namun, ketika ia masuk Sinta justru tersenyum tipis padanya.
"Mbak Sinta udah enakan?" tanya Elin takut-takut. Ia melihat Sinta yang masih memakai selang infus. Itu sudah lebih baik karena kemarin Sinta juga harus mendapatkan transfusi darah.
__ADS_1
"Udah. Kamu terluka?" tanya Sinta dengan kedua mata yang memindai tubuh adik iparnya.
"Aku nggak papa." Elin mendekati ranjang Sinta lalu duduk di pinggirnya dengan hati-hati. "Mbak, aku minta maaf. Gara-gara aku ... aku udah bikin Mbak Sinta kayak gini. Maafin aku."
"Itu bukan salah kamu, El," kata Sinta. Ia merasakan tangannya diremas oleh Elin. "Itu kecelakaan, aku tahu."
"Tapi itu karena aku ngajak Mbak Sinta mampir nyari laptop baru. Coba kalau kita langsung pulang abis makan. Mbak nggak bakal ... aku minta maaf," ujar Elin dengan berderai air mata.
Sinta turut meneteskan air mata. Ia sudah berbicara langsung dengan ibunya di telepon tadi malam. Ia begitu terluka ketika ibunya berkata bahwa ia masih sangat muda, baru 28 tahun dan ia pasti bisa segera hamil lagi. Ibunya bahkan mendoakan dirinya untuk bisa melahirkan lebih dari dua bayi. Dan rasanya sangat menyakitkan ketika ia harus berbohong pada ibunya bahwa semua itu mungkin saja, mungkin beberapa bulan lagi ia bisa hamil.
"Udahlah, El. Itu udah takdir. Aku udah ikhlas," kata Sinta. Ia mengusap wajahnya yang basah dengan air mata. "Aku sedih banget, aku hancur. Tapi aku nggak mau nyalahin siapa-siapa. Aku ... cuma berharap Mas Ariel masih bisa menerima kondisi aku yang sekarang."
"Kak Ariel cinta banget sama kamu, Mbak. Tenang aja," kata Elin meyakinkan. Mengatakan itu sebenarnya cukup menyakitkan bagi Elin, ia sudah lama sakit hati karena pasangan Ariel dan Sinta.
"Ehm." Sinta mengangkat bahunya. Ariel masih sangat muda, Ariel selalu bisa menikah lagi dan memiliki anak. Jika mertuanya tahu ia sudah menjadi wanita cacat, itu pastilah yang akan terjadi. "Kamu pulang hari ini?"
"Iya, Mbak. Aku udah baikan."
"Ehm, nggak usah, Mbak. Aku pulang sama temenku kok. Dari kemarin dia temenin aku di sini," kata Elin yang tak enak jika ia harus merepotkan Ariel lagi. Apalagi ia yakin, Ariel hanya akan bertampang masam di depannya.
"Teman yang mana? Mirna?" tebak Sinta. Ia tahu beberapa orang teman kerja Elin.
"Bukan. Tapi Mas Galang."
"Oh, yang sutradara itu?" tanya Sinta sembari menahan senyumnya melebar. Elin mengangguk pelan. "Baik banget ya, dia pasti naksir sama kamu."
"Nggak, Mbak. Dia emang baik sama semua orang. Karena aku seumuran sama adeknya, dia jadi nggak tega liat aku sakit gini. Apalagi nggak ada yang jagain semalam," kata Elin. Ia tak ingin Sinta juga salah paham akan hubungannya dengan Galang.
Sinta tertawa kecil. "Jangan gitu. Kalau emang Galang suka sama kamu, bagus dong. Kalian kan satu passion. Cocok banget buat jadi pasangan. Siapa tahu mau nikah muda juga."
"Ah, nggak, Mbak. Jangan ngaco," ujar Elin dengan tawa getir. "Aku nggak mau nikah muda. Aku baru kerja, aku mau jadi orang sukses dulu."
__ADS_1
Sinta mengangguk. "Aku doain yang terbaik buat kamu. Toh, kamu emang masih muda. Baru merintis karir."
"Makanya, Mbak. Aku nggak pengen buru-buru. Aku masih suka kerja," ujar Elin.
Mereka pun mengobrol ini dan itu hingga tak sadar waktu berlalu cukup cepat. Elin pun kembali ke kamarnya ketika Ariel sudah datang. Mendapatkan tatapan menusuk dari Ariel, membuat Elin tak ingin mengganggu kebersamaan pasangan suami istri itu. Ia membereskan barang-barangnya lalu menatap ponsel barunya. Ia belum mengatur ponsel baru tersebut.
Sembari menunggu pemeriksaan akhir, Elin pun menyibukkan diri dengan mengatur ponselnya. Ia baru saja mengunduh beberapa aplikasi ketika ia dikagetkan dengan kedatangan Galang lagi.
"Kamu udah bisa pulang belum?" tanya Galang.
Elin membuang napas panjang. "Belum, Mas. Masih nunggu dokter. Nanti diperiksa lagi katanya."
"Ya udah, saya temenin. Nanti saya anter kamu pulang."
Elin hanya mengangkat alisnya sembari mengangguk. Dengan ditemani Galang, Elin pun melakukan pemeriksaan. Setelah dipastikan ia sudah cukup stabil untuk rawat jalan, ia pun pulang dengan diantar oleh Galang.
"Kamu sendirian dong di rumah," kata Galang ketika mereka tiba di rumah Ariel.
"Iya, nggak papa kok. Ehm, saya izin sampai minggu depan ya, Mas. Tapi naskah yang perlu revisi kemarin pasti saya selesaikan sebelum akhir pekan," kata Elin.
"Kamu nggak usah mikirin kerjaan dulu. Fokus sembuh saja." Galang menepuk lengan Elin pelan. "Kalau ada apa-apa kamu langsung chat saya ya."
"Ya. Makasih. Mas Galang mau mampir minum teh dulu?"
"Nggak usahlah, saya langsung balik ke kantor aja," ucap Galang seraya mengedikkan tangannya ke arah mobil.
Sepeninggal Galang, Elin pun masuk ke rumah. Ariel selalu meninggalkan kunci rumah di bawah pot kecil yang ada di teras. Ia mengedarkan pandangan ke penjuru rumah. Karena Ariel begitu marah padanya, mungkin ada baiknya ia tidak tinggal di sini lagi, pikirnya.
Kedua kaki Elin berjalan dengan malas menuju lantai dua. ia berhenti di depan pintu kamar bayi. Dengan ragu, Elin pun membukanya. Kamar itu masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Kedua matanya mengembun ketika ia mendekati boks bayi kecil yang kosong. Ia sering sekali mendengar Sinta bercerita tentang angan-angannya jika nanti bayinya sudah lahir. Dan sekarang, kamar bayi ini tak akan berguna lagi.
"Maafin aku," gumamnya. "Maaf."
__ADS_1