Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
30. Elin Mendapatkan Mangga Muda


__ADS_3

"Sabar, Neng," ujar Budhe Sarti ketika Elin kembali muntah-muntah setelah ia makan siang. Dengan lembut Budhe Sarti memijat tengkuk Elin sementara gadis itu membungkuk di wastafel.


Elin membasuh wajahnya. Ia merasa agak lega usai muntah, tetapi ia juga begitu lemas. "Perut aku nggak enak banget, Budhe."


"Duduk dulu, Neng." Budhe Sarti membantu Elin duduk kembali di meja makan. Ia menuangkan air putih ke gelas Elin, tetapi Elin hanya mau minum sedikit. "Neng harus makan, dikit-dikit deh. Tapi sering. Kalau lemes banget mending ke dokter, bilang aja sama Pak Ariel. Kasian."


Elin membuang napas panjang. "Saya nggak papa, Budhe. Makan buah masih oke. Kalau nasi saya sering mual apalagi mie, pasti langsung muntah."


"Coba roti, kentang gitu, Neng. Nanti saya rebus kentang ya buat Eneng." Budhe Sarti menepuk-nepuk punggung Elin dengan lembut. Ia begitu khawatir melihat wajah pucat Elin. Pantas saja Ariel dan Sinta ingin ia menunggu Elin sejak pagi. Ternyata Elin benar-benar rewel. "Mungkin Neng bisa makan kalau disuapin sama suaminya. Saya dulu gitu, manja banget sama suami, tapi suami telaten banget. Anehnya kalau pas disuapin suami saya bisa makan."


Elin tertawa kecil membayangkan wanita setengah baya di depannya bersikap manja pada suaminya. "Serius, Budhe?"


"Iya. Orang hamil kan macam-macam, Neng. Coba aja deh," ujar Budhe Sarti.


Elin hanya tersenyum tipis. Bahkan kemarin ketika Ariel hendak menyuapinya, Sinta langsung terlihat begitu cemburu. Ah, ia agak kesal jika ingat kemarin. Padahal, ia baru bisa merasakan soto daging yang nikmat.


"Budhe, nanti malam bikin garang asem dong. Aku mau kayaknya enak," ujar Elin.


"Siap, Neng! Nanti saya masak sekalian buat Bapak sama Ibu."


Elin mengangguk. Yah, nanti sore mungkin Ariel akan pulang, pikirnya dalam hati. Jika saja bisa, ia ingin bersikap manja seperti yang dikatakan oleh Budhe Sarti, tetapi rasanya itu tidak mungkin.


***


"Saya pulang dulu, Pak," pamit Budhe Sarti ketika Ariel dan Sinta sudah pulang. Waktu sudah menunjukkan lewat pukul 7.00 malam.


"Iya, makasih, Budhe. Dari subuh udah di sini nemenin Elin," tukas Ariel.


"Elin nggak papa kan, Budhe?" tanya Sinta.


Budhe Sarti hanya menggeleng pelan. "Seharian muntah terus, Pak, Bu. Mau makan tapi abis itu mbalik lagi. Kalau buah-buahan masih masuk. Tadi saya bikinin susu juga nggak mau."


"Ya ampun, tapi nggak lemes kan?" tanya Ariel cemas. Ia sudah melihat betapa lemahnya Elin kemarin ketika ia menjemput.

__ADS_1


"Ya kayak gitu, Pak," jawab Budhe Sarti. Ia menatap Sinta yang membuat gestur hendak naik ke atas untuk melihat keadaan Elin. Budhe Sarti pun mendekati Ariel saat Sinta mulai menaiki anak tangga. "Saya kasihan sama Neng Elin. Lagi hamil muda biasanya suka manja sama suami, Pak. Coba makannya disuapin dan sering ditemenin, Pak. Mungkin jabang bayinya pengen deket sama ayahnya juga, Pak."


Ariel terkesiap mendengar ucapan Budhe Sarti. Ia mengangguk saja karena tidak tahu harus berkomentar apa. Budhe Sarti sudah sangat dekat dengan mereka. Jadi, Ariel bisa membagi semua rahasia tentang pernikahannya dengan Elin, tetapi ia tidak menyebutkan tentang bayi yang akan ia ambil bersama Sinta.


"Makasih sarannya, Budhe," ucap Ariel.


"Iya, Pak. Maklum hamil anak pertama memang begitu, apalagi Neng Elin masih muda," ujar Budhe Sarti.


"Iya, Budhe," tukas Ariel. Ia menatap ke lantai atas rumahnya ketika Budhe Sarti sudah benar-benar pulang. Ariel menjadi agak tidak enak karena ia belum bisa memperhatikan Elin seperti yang dikatakan oleh Budhe Sarti. Tentu saja ia juga khawatir dengan kondisi Elin, tetapi ia juga mempertimbangkan perasaan Sinta jika ia memberikan lebih banyak perhatian pada Elin.


***


"Wah! Ini beneran mangga dari rumah!" pekik Elin senang. Ia baru saja turun ke ruang makan setelah mengobrol sedikit dengan Sinta.


"Ya beneran lah," ujar Ariel. Ia mendekati Elin yang sedang menggenggam satu biji buah mangga dan menghirup aromanya. "Kamu mau makan? Nanti aku kupasin."


"Aku bisa sendiri kok. Kakak kan belum mandi."


Elin meletakkan kembali buah mangganya lalu masuk ke dapur. Ia mengambil piring dan pisau kecil untuk mengupas buah. Ia menoleh kaget ketika Ariel justru mengekor ke dapur, padahal ia sudah menyuruh Ariel untuk mandi saja.


Elin tersenyum tipis melihat aksi Ariel. Ia menjadi tidak sabar untuk menikmati buah mangga yang sudah ia bayangkan sejak berhari-hari itu. Apalagi Ariel yang memetik buah itu untuknya, dan lagi, Ariel yang mengupaskan untuknya.


"Nah, kamu bisa makan, itu udah agak mateng sih, tapi mungkin masih asem," ujar Ariel. Ia menyodorkan potongan buah pada Elin dengan garpu.


"Aku makan ya." Elin membuka mulutnya ketika Ariel menyuapkan mangga itu. Seketika kedua mata Elin berbinar. "Ehm! Enak banget. Aku jadi kangen rumah, dulu kita sering rujakan sama Mama dan Gladis kan."


"Iya, tapi Gladis kan kayak Papa, nggak begitu suka," ujar Ariel yang ikut mengenang masa lalu.


"Ehm, mereka cuma suka nimbrung aja. Tapi seru, aku kangen banget." Elin mengunyah kembali ketika Ariel menyuapinya. Ia merasa sangat senang sekarang, karena ia Sinta masih di lantai atas, ia bisa berduaan seperti ini dengan Ariel.


"Kamu mau makan nasi nggak? Masa buah terus. Budhe masak apa tadi?" tanya Ariel.


"Garang asem. Aku yang request," jawab Elin.

__ADS_1


"Ya udah kan kamu yang request. Berarti kamu harus makan yang banyak malam ini," kata Ariel dengan nada menuntut.


"Oke. Aku cobain, tapi ...." Elin menggigit bibirnya.


"Aku suapin, tenang aja," lanjut Ariel.


"Beneran?" tanya Elin kaget.


Ariel mengangguk. Ia mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi sedikit dan menambahkan potongan ayam serta kuah garang asem masakan Budhe Sarti.


Elin menoleh ke arah anak tangga ketika Ariel duduk di sebelahnya. Ia khawatir jika Sinta tiba-tiba muncul dan akan bersikap cemburu seperti sebelumnya.


"Kamu mikirin apa? Buruan makan," kata Ariel seraya menyodorkan sesendok nasi pada Elin. "Coba dulu siapa tahu kamu doyan makannya."


Elin tidak protes. Ia langsung menerima suapan pertama dari Ariel. Entah karena disuapi oleh Ariel, atau karena ia memang menginginkan makanan itu, ia merasa perutnya bisa bekerja sama. Ia sangat menikmati makanan yang sedang ia ***** dalam mulutnya.


"Enak?" Elin mengangguk pelan. "Nah, gitu dong. Makan lagi, tapi jangan buru-buru."


Elin menurut tentu saja. Ia tidak ingin kehilangan momen berduaan dengan Ariel. Ia sudah menghabiskan setengah porsi yang diambilkan oleh Ariel ketika ia menyadari Sinta sedang mendekat ke meja makan.


"Kamu belum mandi kan, Mas?" tanya Sinta pada Ariel. Sejak menuruni anak tangga ia sudah melihat Ariel sedang bersama dengan Elin di meja makan. Ia juga melihat bagaimana Ariel menyuapi Elin dengan begitu telaten.


"Belum, bentar lagi. Elin baru mau makan," kata Ariel. Ia hampir menyendok lagi, tetapi tangan Elin menahannya.


"Aku mau makan sendiri, nggak papa," ujar Elin yang merasa tak enak pada Sinta. Ariel mau menemaninya sebentar, baginya sudah cukup. Ia tak ingin Ariel dan Sinta berseteru karenanya.


"Oke. Aku ambilin air ya," kata Ariel.


"Aku aja." Sinta lebih dulu menjangkau teko dan gelas. "Kamu mandi aja, Mas. Ini kan udah malem."


Ariel menatap Elin sekilas. Karena Elin benar-benar mau makan sendiri ia segera berdiri dan meninggalkan ruang makan.


Sinta meletakkan gelas berisi air putih ke depan piring Elin lalu ia duduk di seberangnya. "Kamu kenapa? Beberapa hari ini kelihatannya kamu banyak banget cari perhatian sama Mas Ariel?"

__ADS_1


Elin mengangkat dagu untuk menatap Sinta. Ia jelas bisa merasakan bias kecemburuan di wajah Sinta. "Nggak kok, Mbak. Mbak nggak usah salah paham."


"Gimana aku nggak salah paham, giliran disuapin aja kamu mau makan. Apa kamu mau minta disuapin terus sama suami aku?"


__ADS_2