Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
55. Petunjuk dari Elin


__ADS_3

Hingga hari keempat Elin meninggalkan rumah, Ariel belum menemukannya. Baik ia maupun Sinta sama-sama resah. Namun, Sinta juga menjadi lebih kesal pada Ariel yang gampang uring-uringan setiap kali pulang dan tak menemukan Elin. Sinta ingin mencuri perhatian Ariel lagi, tetapi bahkan ketika ia menggodanya di atas ranjang, Ariel tampak tidak tertarik.


"Aku belum lega kalau belum ketemu sama Elin, maaf," kata Ariel malam itu.


Sinta mendengus di sebelah Ariel. "Sebenarnya siapa yang kamu cemaskan, Mas? Bayi kita atau Elin?"


Ariel menelan keras. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri. "Keduanya. Bayi itu nggak bakal ada kalau Elin juga nggak ada, Sayang. Aku harap kamu maklum."


Sinta kembali mendengus keras. "Tentu aja aku maklum, Mas. Tapi aku agak khawatir, kamu berubah dalam beberapa hari cuma gara-gara Elin liat kita berhubungan. Apa perasaan kamu ke Elin sudah berubah? Apa nantinya bayi itu bakal jadi milik aku sama kamu atau ... kamu bakal memilih Elin?"


Ariel membuang napas panjang. Di sebelahnya Sinta terisak, jadi ia langsung merasa bersalah. "Kamu tahu siapa Elin. Dia adik angkat aku, dia anak adopsi orang tua aku. Walaupun seandainya kami saling mencintai, kami tetap nggak bakal bisa bersama."


"Jadi, sekarang ... bagaimana perasaan kamu ke Elin, Mas?" tanya Sinta takut-takut.


Ariel menatap wajah basah Sinta. "Aku ... aku nggak tahu. Aku bersalah banget sama Elin. Aku selalu memandang Elin sebagai adik aku selama ini, Sin. Tapi ... aku rasa dia punya perasaan lebih ke aku gara-gara pernikahan ini."


Sinta meremas selimutnya. Ia tahu, Elin sudah bertahun-tahun memendam perasaan pada Ariel dan mungkin akan gawat jika Ariel tahu. Ariel mungkin juga akan jatuh hati pada Elin.


"Jika itu benar, bagaimana?" tanya Sinta.


Ariel menggeleng. "Aku nggak tahu. Aku cuma pengen ketemu Elin dulu. Sampai hari ini dia belum ditemukan. Aku nggak tenang."


Sinta membalik tubuhnya dan memunggungi Ariel. Ia tak tahu jika pernikahan rahasia Ariel harus menjadi serumit ini. Ia tidak suka. Ia tak ingin Ariel terjerat dalam cinta Elin. "Kamu nggak bakal ninggalin aku kan, Mas?"


Ariel menoleh pada Sinta seketika. Ia paling tidak tahan ketika Sinta bicara seperti ini. Ia pun bergerak untuk memeluk Sinta dari belakang. "Nggak, Sayang. Udah aku bilang, hubungan aku dan Elin nggak bakal berhasil. Jika ada cinta di antara kami, itu adalah cinta terlarang."

__ADS_1


***


Siang itu, Ariel dikagetkan dengan laporan dari Soni. Elin terdeteksi baru saja menggunakan kartu debitnya di sebuah klinik dokter kandungan. Ariel sontak merasa panik, apakah Elin hanya periksa biasa atau terjadi sesuatu pada Elin dan bayinya?


"Kirimkan lokasi Elin sekarang juga!" ujar Ariel pada Soni.


Ariel meninggalkan kantor lebih cepat siang itu. Ia masuk ke mobil lalu membaca pesan dari Soni. "Ini cukup jauh," gumam Ariel.


Ariel sudah tahu Elin ada di Pulau Nareswari, jadi ia tak ingin membuang waktu. Sembari memacu mobilnya Ariel berpikir keras kenapa Elin pergi ke pulau itu, bukankah itu pulau yang tidak begitu banyak dikunjungi belakangan ini? Ia ingat dulu ia dan keluarganya pernah datang ke sana bertahun-tahun yang lalu. Apa Elin datang ke sana untuk mengenang masa lalu?


Ariel tak ingin pergi begitu saja tanpa memberi kabar pada Sinta. Ia segera menelepon nomor Sinta.


"Halo, Mas. Assalamualaikum," sapa Sinta dengan ceria di seberang.


"Oh ya?" Sinta terdengar kaget. "Di mana, Mas? Kamu udah bisa bicara sama Elin?"


"Belum. Lokasi pastinya aku belum tahu. Tapi dia datang ke klinik dokter kandungan, kita berharap aja dia nggak papa."


"Ya udah, Mas. Kamu bujuk Elin buat pulang ya. Jangan sampai dia kabur lagi," pesan Sinta.


"Kamu tenang aja. Tapi, ini agak jauh. Aku mungkin nggak pulang malam ini," kata Ariel.


"Nggak pulang? Emangnya Elin ada di mana?" Sinta terdengar dua kali lebih kaget. Pastinya Sinta tak membayangkan Ariel menginap di suatu tempat, bersama Elin.


"Dia di pulau Nareswari. Aku harus ngejar kapal yang menuju ke sana dan adanya sore, Sayang. Jadi mau nggak mau aku harus ke sana sore ini. Dan aku nggak bakal bisa kembali sampai besok," kata Ariel. Di seberang, Sinta tidak merespon. Hingga Ariel merasa resah. "Halo? Sinta?"

__ADS_1


"Iya, Mas. Kamu bakal nginep sama Elin?"


"Aku aja belum tahu lokasi pasti Elin. Aku masih harus nyari dia dulu. Nanti aku kabari lagi. Oke. Aku baru di jalan ini."


"Oke, Mas. Hati-hati ya."


Ariel mematikan panggilan teleponnya. Ia mempercepat laju mobil untuk tiba di pelabuhan karena jaraknya yang cukup lumayan. Ia tak ingin ketinggalan jadwal kapal feri terakhir kali yang bisa mengantarkannya ke Pulau Nareswari.


Beruntung, ketika Ariel tiba di pelabuhan. Ia masih sempat membeli tiket untuk pelayaran pukul 6.30 petang. Masih ada waktu hampir satu jam untuknya beristirahat sembari menunggu waktu sholat Magrib. Ariel tidak sabar untuk bertemu dengan Elin nanti.


***


Elin merasa resah malam itu. Ia sudah berada di motel selama 5 hari dan selama itu juga ia merasa cukup tenang. Namun, malam ini terasa berbeda. Mungkin, karena ia baru saja menggunakan kartu debitnya secara terpaksa. Ia sudah kehabisan uang tunai dan ia baru ingat bahwa ia sudah harus memeriksakan kandungannya. Ia juga penasaran dengan kondisi bayinya.


Elin menutup laptopnya karena ia tak ingin menulis lagi. Ia mengambil foto hasil USG yang tersimpan di dalam dompetnya. Bayinya benar-benar sudah membesar. Ariel pasti akan senang jika tahu bayi yang ia kandung ternyata memang berjenis kelamin perempuan.


Dengan mata berlinang, Elin mengusap perutnya. Ia hanya ingin bayinya bisa hidup bahagia kelak dengan atau tanpa dirinya. Karena kemungkinan besar, ia tetap akan berpisah dengan bayi itu.


Elin merasa begitu senang sekaligus sedih membayangkan hal itu. Jadi, ia memutuskan untuk berjalan-jalan untuk mencari udara segar. Tadinya, Elin hanya ingin melihat-lihat di sekitar motel, tetapi ia tak sadar kedua kakinya sudah berjalan cukup jauh hingga di bibir pantai yang sepi.


"Cantik banget bulannya," gumam Elin seraya menatap bulan purnama yang begitu sempurna. Langit terlihat begitu terang dan sangat indah sementara ombak menghantam pantai dengan lembut. Elin tersenyum tipis seraya membelai perutnya. "Nanti kalau udah lahir, aku ingin kamu diberi nama Luna yang berarti bulan. Tapi aku nggak tahu apa ayah kamu bakal setuju dan bolehin kamu pakai nama itu, bayi."


Elin memeluk dirinya sendiri ketika merasa semakin dingin. Karena tak berencana untuk berjalan-jalan hingga di tepi pantai, ia lupa tak membawa jaket. Akibatnya, kini ia merasa begitu dingin. Ia hampir membalik badan untuk segera kembali ke motel saat tiba-tiba ada seseorang yang menyelimuti tubuhnya dengan jaket. Elin membelalak menatap sosok di sebelahnya yang mendadak hadir.


"Bukannya di sini dingin, seharusnya kamu pakai jaket yang hangat!"

__ADS_1


__ADS_2