
"Di saat seperti ini, kamu hanya memikirkan bayi itu?" hardik Ariel pada Sinta. Ia sudah mengkhawatirkan Elin sejak semalam. Yah, ia juga khawatir dengan bayi yang ada di kandungan Elin, tetapi ia juga tak ingin ada sesuatu yang buruk menimpa Elin.
"Maksud aku ... bukan gitu, Mas," ujar Sinta gelagapan. Ia cukup kaget karena Ariel membentaknya. "Tapi bahaya jika Elin kabur, Mas. Gimana kalau Elin nggak pulang dan bawa pergi bayi kita? Gimana kalau Elin bocorin isi perjanjian itu sama orang lain, Mas?"
Ariel memucat. Ia tak ingin semuanya berantakan. "Makanya, aku harus segera nyari Elin. Kamu cek CCTV rumah, kabari aku!"
Dengan cepat Ariel meninggalkan Sinta yang masih berdebar tak keruan. Sinta pun masuk ke kamar Elin seolah ingin memastikan apakah benar Elin pergi dari rumah. Yah, Elin tak ada. Beberapa barang pribadinya juga tak ada. Bahkan pintu lemarinya sedikit tersingkap, mungkin ketika Elin mengambil baju-bajunya untuk dibawa.
Sinta mengepalkan tangannya. Ia sudah merelakan Ariel untuk tidur dengan Elin. Dan ketika akhirnya Elin hamil, Elin justru kabur! Ia tidak akan rela jika Elin membawa bayi itu. Itu bukan bayi Elin, bayi itu adalah miliknya dengan Ariel.
"Kamu ke mana sih?" gumam Sinta kesal.
Sinta segera berlari ke kamarnya, ia membuka laptopnya yang terhubung dengan CCTV rumah ini. Ia melihat ke waktu setelah tengah malam ketika ia pulang. Yah, ia bisa melihat rekaman dirinya dan Ariel yang sedang masuk ke pintu depan.
"Pasti setelah kejadian tadi malam," gumam Sinta lagi.
Sinta pun mempercepat rekaman hingga ia bisa melihat Elin sedang berjalan limbung dengan mengangkat ransel besarnya keluar rumah. Ia terkesiap!
"Mas!" panggil Sinta di telepon.
"Ya, kamu udah liat rekaman CCTV?" tanya Ariel.
"Ya. Elin pergi sekitar pukul 3.00 pagi lebih, Mas. Dia ... dia jalan kaki dari depan gerbang," jawab Sinta.
__ADS_1
"Apa? Jalan kaki? Kamu yakin nggak ada yang jemput Elin di depan?" tanya Ariel lagi.
"Nggak, Mas. Nggak ada mobil, Elin keluar sendiri dan dia jalan ke arah kiri. Abis itu nggak kelihatan lagi," jawab Sinta.
"Oke. Mungkin dia pakai taksi," tebak Ariel.
"Kamu ada pandangan ke mana Elin, Mas?"
"Aku nggak tahu. Elin kan baru juga di sini. Aku ... kamu coba telepon Elin juga, kabari aku kalau Elin pulang."
Sinta membuang napas panjang usai Ariel mematikan sambungan teleponnya. Ia masih tidak menyangka Elin akan kabur seperti ini. Ia khawatir jika semua rencana yang telah ia susun bersama Ariel tidak lagi berjalan mulus.
'Apa Elin sakit hati banget gara-gara kejadian semalam?' batin Sinta. Mungkin, jika ia menjadi Elin, ia juga akan sangat sakit hati. Sinta memijat keningnya dengan kasar. 'Apa aku kurang baik sama Elin selama ini sehingga Elin memutuskan untuk kabur?'
***
Dengan gusar, Ariel memukul setirnya keras-keras. "Kamu pergi ke mana, El?"
Karena kehabisan akal, Ariel pun mencoba menelepon Pak Jono, satpam yang menjaga rumah lama mereka. "Pagi, Pak. Apa Elin ada di sana?"
"Non Elin? Nggak tuh, Mas. Kenapa nggih?" tanya Pak Jono dengan nada bingung.
"Nggak papa, Pak. Tadi Elin pergi dari rumah. Tapi saya nggak dipamiti takutnya dia ke rumah lama," jawab Ariel. Ia menggigit lidahnya seketika. Jika Pak Jono melaporkan ini pada orang tuanya semua akan gawat. "Ehm, Pak, tolong jangan bilang-bilang ke Mama sama Papa ya kalau saya nyariin Elin. Saya sedikit berantem sama adik saya, jadi ... tolong rahasiakan dan kabari saya kalau Elin ke rumah ya, Pak."
__ADS_1
"Oh, siap, Mas."
Ariel masih sedikit sangsi. Ia tahu Pak Jono adalah orang kepercayaan ayahnya. "Nanti saya kirimkan uang ke rekening Bapak. Pokoknya jangan sampai orang tua saya dengar."
"Baik, Mas. Nggak usah khawatir."
Ariel mematikan panggilannya. Rasanya ia sudah tak bisa berpikir dengan jernih. Ariel pun menepikan mobilnya sembari mencoba untuk berpikir lebih tenang karena mobilnya hanya berputar tak jelas sejak tadi dan ia sama sekali tidak melihat Elin.
Ariel merenung, kira-kira akan pergi ke mana ia jika ia jadi Elin yang sedang marah? Sayangnya, Ariel benar-benar tak punya ide. Elin sering bepergian bersama timnya karena urusan pekerjaan, tetapi ia tidak pernah bertanya Elin pergi ke mana. Mungkin di salah satu tempat yang pernah ia kunjungi. Apa mungkin menginap di hotel?
Ariel langsung mengecek data transaksi Elin yang dikirimkan oleh orang kepercayaannya ketika ia mendapatkan email. Sayangnya, terakhir kali Elin bertransaksi dengan kartu debitnya adalah seminggu yang lalu. Elin pasti menggunakan uang tunai.
"Elin ke mana sih?" desis Ariel frustasi. Selain karena ia tak ingin kehilangan bayinya, ia juga khawatir karena Elin pergi dalam keadaan marah. Bagaimana jika Elin sakit atau pingsan di suatu tempat?
Kedua mata Ariel melebar ketika ia mendapati laporan transaksi ketika Elin menyewa ojek mobil sekitar pukul 3.00 pagi. Sayangnya transaksi itu dibatalkan. Tempat tujuan Elin awalnya adalah Hotel Suryana yang ada di pusat kota.
"Apa Elin ke sana?" gumam Ariel. Namun, karena Elin membatalkan transaksi di aplikasi itu sepertinya Elin tak akan ke sana. Elin pasti memiliki tujuan lagi. Tapi di mana?
"Kamu cari rumah sakit atau klinik atau di mana saja!" perintah Ariel pada Soni, anak buahnya. "Temukan adik saja secepatnya. Ah, jangan lupa kamu cek ke pelabuhan antar pulau. Kabari saya kalau ada info!"
"Baik, Pak." Soni menjawab dengan cepat.
Ariel membuang napas berat. Ini salahnya. Ia sudah bermain-main dengan api dan ia juga yang sudah menyiramkan bensin di dalamnya. Seharusnya ia tahu sejak awal. Seharusnya ia tahu sejak Elin menatapnya penuh gairah, sejak ia memberikan kecupan malam itu, Elin ... pasti memiliki rasa yang berbeda untuknya.
__ADS_1
Ariel kembali memukul setirnya keras. Ia menyugar rambut dengan gelisah. Jika ia tidak bisa menemukan Elin, ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Begitu bodohnya ia hingga ia tidak bisa menahan diri untuk tak segera meluapkan nafsunya semalam pada Sinta. Kenapa harus di ruang tengah padahal ia tak hanya tinggal berdua? Dan padahal ia tahu, Elin sering bangun di malam hari untuk makan sesuatu sejak ia hamil.
'Oh, bodoh sekali!' Ariel merutuk dalam hati. Ia kembali melajukan mobilnya tanpa arah sembari mengingat-ingat di mana kira-kira Elin pergi. Sayangnya hingga bermenit-menit berlalu, Ariel masih tak memiliki petunjuk.