Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
81. Untung Tak Ketahuan


__ADS_3

"Miko ... jangan siksa aku, buruan," pinta Sinta ketika Miko hanya memainkannya dengan jari. Ia menginginkan lebih, seperti yang dilakukan Miko padanya pagi itu.


"Tuh kan, tadi kamu jual mahal. Rupanya kamu udah kangen sama pusaka aku," ujar Miko.


Sinta mengangguk, ia mungkin sudah gila, tetapi serangan Miko benar-benar luar biasa di tubuhnya. Padahal, ia masih berpakaian, begitu juga dengan Miko.


"Plis, buruan!" Sinta tak tahan lagi, ia bahkan tak tahu malu meminta Miko untuk melakukannya.


Miko pun tak membuang kesempatan. Ia menoleh untuk melihat situasi karena tahu Elin tidak meninggalkan rumah ini. Itu artinya mereka harus berhati-hati jika tak ingin ketahuan.


"Jangan keras-keras desa hnya," kata Miko mengingatkan. Ia pun mengangkat kaki Sinta ke atas konter agar bisa masuk dengan leluasa. Ia tersenyum puas melihat wajah Sinta yang begitu berhasrat. Dengan cepat ia pun mulai menyerang.


Sinta tak tahu berapa lama penyatuan itu terjadi, tadinya ia berharap cepat agar tak ada yang tahu, tetapi begitu merasakan pusaka Miko ia ingin penyatuan ini tak berakhir. Sungguh luar biasa bagaimana Miko mengobrak-abrik dirinya dengan berbagai gaya yang baru pertama ia rasakan.


"Kamu rapiin baju kamu," kata Miko ketika ia sudah selesai dengan Sinta. Ia menoleh dan tersenyum karena Elin tak terlihat. "Capek banget, kamu lemes?"


Sinta membuang napas panjang. Ia mengambil tangan Miko dan berdiri di depannya. "Jangan sampai hal ini diketahui orang lain. Kamu bisa jaga rahasia kan?"


"Tentu aja, aku mau kita main aman. Aku nggak mau dipecat. Aku masih butuh gaji dari Pak Ariel," kata Miko seraya mengusap wajah Sinta. "Tapi aku nggak tahan setiap liat kamu. 2 minggu ini aku kangen banget."


Sinta tersenyum tipis. Karena Miko menginginkannya, ia merasa sedikit senang. "Aku juga nggak mau kehilangan suami aku."


"Aku tahu, makanya kita hati-hati. Kita bisa sesekali begini kalau ada kesempatan. Kamu mau kan, Sin?" tanya Miko.


Sinta menatap Miko dengan ragu. Semua ini sangat menegangkan, tetapi ia tidak bisa memungkiri setiap sensasi yang ia dapatkan ketika bercinta dengan Miko sungguh luar biasa. "Aku ...."


"Aku lebih hebat dari suami kamu kan?" tanya Miko lagi.

__ADS_1


Sinta tak tahu. Bersama Ariel juga tidak kalah menyenangkan, meskipun tidak sepanas ketika bersama Miko. Apa karena ia sudah beberapa tahun bersama Ariel? Atau karena Miko sedikit lebih muda dari Ariel hingga permainannya menggebu-gebu? Atau karena mereka bermain-main sembunyi-sembunyi sehingga terasa lebih menegangkan?


"Aku bisa bikin kamu puas terus. Kalau kamu mau, aku bisa bikin kamu lemes," kata Miko. Sinta meremang, ia tak membayangkan permainan seperti apa lagi yang bisa dilakukan Miko padanya. "Yang kemarin dan hari ini, itu bukan apa-apa, Sin. Andai kita bisa menghabiskan waktu semalam suntuk. Kita bisa main berkali-kali."


Berkali-kali, pikir Sinta. Ia menggeleng pelan. Ia tak ingin ketahuan bahkan jika ia menikmati. "Aku nggak bisa, Miko. Itu berbahaya."


"Aku tahu. Jadi, kita curi-curi waktu agar bisa berduaan gini, aku udah seneng. Kamu tahu kan jadwal Elin ngunder di kamar, kalau kamu pengen, kamu chat aku aja. Aku selalu di depan kok," kata Miko.


Sinta mengangguk pelan. Yah, selama ia tidak ketahuan mungkin tak apa. Ia bisa menikmati tubuh atletis Miko dan pusaka besarnya. Ia pun sepakat dengan Miko.


"Aku minum dulu, haus banget," kata Miko seraya membuka kulkas. Ia mengambil air mineral lalu minum. "Aku keluar dulu ya."


Sinta membuang napas panjang. Ia merapikan roknya yang masih terangkat tak keruan lalu mengambil ********** yang tergeletak begitu saja di lantai. Ia meremasnya pelan. Jika Ariel bisa membagi tubuhnya dengan Elin, ia juga bisa! Ia tak mau menjadi pihak yang dipermainkan, pikir Sinta kesal.


***


Dan hari-hari pun semakin berlalu. Setiap kali ada kesempatan, Sinta dan Miko akan berduaan, bercinta atau sekadar berciuman panas. Mereka berdua sama-sama tak ingin ketahuan oleh Elin apalagi Ariel, jadi mereka juga berusaha berhati-hati. Sinta tentu tak lupa untuk menghapus rekaman CCTV yang menampakkan dirinya atau Miko.


"Miko ...." Sinta menyebut nama pria yang berdiri di depannya sementara ia merapat ke dinding kamar mandi. Ia mencengkeram bahu Miko keras-keras ketika sensasi nikmat terus menjalari dirinya.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi Elin mencari-cari Sinta. Ia baru saja turun ke lantai satu untuk membersihkan ruang tamu, tetapi bahkan di dapur Sinta baru tak ada. Padahal, ia mencium aroma gosong dari sana.


"Ini udah mateng," ujar Elin seraya membungkuk di depan oven yang berteriak-teriak karena kue di dalamnya telah selesai dipanggang.


Elin segera memakai sarung tangan, lalu membuka pintu oven. Dengan cekatan, ia menarik keluar loyang tersebut lalu meletakkannya di atas papan. "Ini mah gosong, Mbak Sinta ngapain sih?"


Karena tak ingin kue itu lebih gosong, Elin segera mengeluarkannya dari loyang. Ia menatap sedih kue yang seharusnya lezat itu, tetapi kini aroma sangit justru mendominasi.

__ADS_1


"Apa di belakang ya?" Elin menebak-nebak di mana Sinta. "Mungkin nyiram bunga."


Elin pun berjalan pelan, karena perutnya yang sudah besar memang menuntut dirinya untuk bergerak lebih hari-hari, menuju pintu belakang. Namun, ketika ia melewati kamar mandi, ia berhenti dan menajamkan telinganya. Ia tidak asing dengan suara di sana, tetapi ia juga tak ingin menduga-duga.


"Mbak?" panggil Elin seraya mengetuk pelan daun pintu kamar mandi itu.


Elin terkesiap karena justru sekarang suara riuh di dalam sana berhenti. Ia bahkan berdebar karena khawatir dugaannya benar.


"Mbak Sinta di dalam?" tanya Elin lagi. Ia kembali mengetuk, kali ini lebih keras.


"I-iya, El!" Sinta buru-buru mendorong tubuh Miko yang masih menyatu dengannya. Ini sungguh gila, pikirnya. Apakah ia mendes ah terlalu keras? Apakah Elin mendengar? "Pakai baju," kata Sinta tanpa suara pada Miko.


Pria itu tampak kecewa karena ia belum selesai melampiaskan hasratnya pada Sinta, tetapi ia tak mau mengambil risiko, jika ia dan Sinta ketahuan maka tamatlah sudah.


"Mbak Sinta ngapain di dalem?" tanya Elin dari luar.


"A-aku ... aku baru sakit perut," jawab Sinta gugup. Ia sedang memakai pakaiannya kembali, tetapi karena ia sangat kaget, ia justru berpakaian ala kadarnya. Ia merapikan rambut dengan cepat lalu membuka daun pintu sedikit.


Elin mundur sedikit ketika Sinta melongok dari balik daun pintu. Ia agak kaget karena Sinta terlihat agak berantakan dan pucat. Bisa dibilang, tak hanya ia yang kaget, tetapi Sinta juga mungkin sedang kaget.


"Tadi aku denger suara di dalem," kata Elin. Ia mencoba melihat sesuatu di balik punggung Sinta, tetapi ia tak memiliki akses karena Sinta berdiri tepat di antara daun pintu dan kusen. Sementara Miko, bersembunyi di balik daun pintu.


"Udah aku bilang, aku lagi sakit perut. Kamu ngapain di sini?" tanya Sinta dengan nada ketus.


"Ah, aku tadi mau bersih-bersih, tapi aku cium bau gosong. Kuenya ...."


"Nanti aku aja yang beresin kuenya. Kamu istirahat aja, tadi aku udah ngepel kok," kata Sinta. "Mas Ariel nggak mau kamu capek, bentar lagi bayinya kan mau lahir. Masuk kamar aja."

__ADS_1


Elin mencebik. Yah, ia hanya tinggal menghitung hari hingga HPLnya tiba. 2 minggu lagi.


"Sana ke kamar! Aku masih mules ini."


__ADS_2