
"Elin! Jawab pertanyaan Mama!"
Tak hanya Elin yang kini tampak gemetar karena pertanyaan Maria. Bahkan, Sinta juga begitu gentar.
"Ma, jangan begini. Kita bicara baik-baik. Aku nggak mau istri aku tertekan," kata Ariel seraya merangkul Elin.
Kedua mata Maria semakin membola karena ketika Ariel menyebut istri, Ariel justru merangkul Elin alih-alih Sinta. Dadanya bergemuruh, tak mungkin putranya menikahi Elin!
"Elin, kamu ke kamar dulu, ayo." Ariel menarik lembut bahu Elin. Ia mengusap pelan di sana karena tak ingin Elin semakin takut. "Sinta, tolong kamu ajak Mama duduk dulu."
Sinta mengangguk pelan. Ia membenci semua ini. Bagaimana Ariel lebih mementingkan merangkul dan menenangkan Elin. Ia juga gemetar, ia juga takut kena omel mertuanya. Ia benar-benar takut menjelaskan semuanya pada Maria.
"Kamu sudah gila, Ril!" teriak Maria.
"Kamu jangan panik," bisik Ariel pada Elin. Ia tengah menuntun Elin menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Elin tak bicara hingga ia masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi ranjang. Di sana, ia baru bisa merasa sedikit lebih lega. Ia juga bisa bernapas dengan lebih tenang. Beberapa detik lalu, ia merasa begitu sesak hingga bernapas saja begitu sulit.
"El, kamu baik-baik aja?" tanya Ariel seraya menggenggam tangan Elin yang begitu dingin.
Elin menatap Ariel kini, air matanya langsung jatuh. "Mama marah."
"Marahnya pasti nggak lama, aku bakal jelasin semua sama Mama. Kamu di sini aja," kata Ariel. Ia mengusap lembut rambut dan pipi Elin.
"Tapi ... Mama nggak suka aku hamil anak kakak," kata Elin pilu. Bahkan tanpa dijelaskan pun, ia bisa merasakan hal itu. Ibunya tak menyukai hal ini.
"Mama pasti ngerti. Aku turun dulu, aku mau jelasin semua biar Mama bisa dengerin dulu," kata Ariel meyakinkan.
__ADS_1
Elin masih menatap kedua mata Ariel yang teduh. Ia tak tahu apa yang akan dijelaskan oleh Ariel pada ibu mereka. Apakah itu tentang perjanjian pernikahan mereka 9 bulan lalu ataukah tentang kronologi kecelakaan yang merenggut rahim dan nyawa Arinta? Elin tak tahu, baginya semua sama saja. Maria tak akan suka ia mengandung bayi Ariel.
"Aku turun dulu, kamu istirahat aja di sini," kata Ariel. Ia mendaratkan kecupan di sisi kepala Elin lalu di pipinya.
"Aku takut," ujar Elin seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Tunggu bentar, biar aku ngobrol sama Mama. Kamu tahu, Mama selalu nurut sama omongan aku," kata Ariel.
Elin mengangguk saja. Ia kembali merasakan pelukan hangat Ariel. Ia ingin seperti ini, dipeluk untuk waktu yang lama agar ia yakin semua akan baik-baik saja. Sayangnya, Ariel melepaskan tubuhnya begitu cepat. Itu membuat Elin merasa jauh lebih buruk.
Dengan berderai air mata, Elin pun menatap punggung Ariel yang lenyap di balik pintu. Ia membuang napas panjang lalu mengambil banyak-banyak udara ke paru-parunya. Ia merasa tak nyaman, apalagi perutnya mengencang sesekali.
"Sayang, kamu tenang ya. Mama nggak papa," kata Elin seraya membelai perutnya dengan lembut. Ia mencoba berbaring agar merasa lebih baik, sayangnya meskipun perutnya tak terasa nyeri lagi, ia masih bisa merasakan debaran di jantungnya yang luar biasa. Ia tak tenang dengan semua ini.
***
"Jadi, kamu sudah bersandiwara dan mengaku bahwa kamu sedang mengandung. Padahal sama sekali tidak?" tanya Maria pada Sinta.
Sinta mengangguk. Tak mungkin ia menyangkal karena sudah jelas semuanya terlihat seperti itu!
"Kenapa? Kenapa kamu berbohong?" tanya Maria dengan nada mencela. Ia menatap tubuh Sinta dari atas hingga ke bawah. Sinta memang cantik, Sinta juga juga pintar makanya Ariel langsung jatuh cinta dulu, pikir Maria. "Kenapa Elin bisa hamil anak Ariel?"
Sinta menunduk. Ia takut menjelaskan semuanya. Jadi ia memilih diam meskipun ibu mertuanya mengatakan hal-hal tak enak. Ia menatap Ariel lega ketika suaminya itu turun dari tangga. Segera, Ariel duduk di sebelah Sinta. Ariel mengambil tangan Sinta yang membeku lalu menggenggamnya.
"Mama, udah. Aku yang jelasin semua," kata Ariel.
"Oke. Kamu jelaskan sama semua kekacauan ini!" hardik Maria.
__ADS_1
Ariel menatap istrinya yang menggeleng pelan. Ariel tahu, Sinta begitu takut jika Maria tahu ia tak memiliki rahim lagi. Namun, Ariel mengangguk pelan. Ia berharap ibunya akan luluh jika menceritakan semuanya.
"Kecelakaan tahun lalu ... tidak hanya merenggut nyawa cucu Mama," kata Ariel mengawali ceritanya. "Tapi ... Sinta juga harus kehilangan rahimnya. Itu, adalah kecelakaan yang fatal."
"Apa?" Maria menutup bibirnya dengan telapak tangan. Selama ini ia sangat tidak menyukai Sinta, tetapi kini ia merasa agak kasihan pada menantu pertamanya itu. "Lalu?"
"Kami nggak mungkin memiliki anak. Tapi ... Mama terus bertanya, menuntut ini dan itu. Sinta tertekan selama berbulan-bulan! Kamu berduka, tapi ... kami nggak bisa cerita karena Mama terus meminta cucu," kata Ariel.
Maria mendengus. Yah, ia sudah sangat terobsesi agar bisa menggendong seorang cucu. Makanya ia cepat-cepat pulang ke Indonesia. Ia tak mau melewatkan momen kelahiran cucunya yang berharga.
"Kami berniat mengadopsi, tapi kami yakin Mama bakal bertanya-tanya kenapa kami mengadopsi anak. Lagipula Mama dan Papa pasti pengen memiliki keturunan dari darah daging aku," kata Ariel. Kali ini, ia merasakan tatapan menusuk ibunya. "Jadi ... aku menikahi Elin dan menghamilinya."
"Kamu kurang ajar!" teriak Maria seraya menyiramkan air tehnya ke wajah Ariel. Sinta memekik, tetapi Ariel hanya terdiam. "Kamu tahu, siapa Elin? Dia adik kamu sendiri! Apa yang kamu lakukan? Menghamilinya? Lalu apa? Kamu membuat Elin kehilangan masa depannya!"
Ariel mengangguk. Ia tahu itu. Mungkin, itu adalah kesalahan terbesarnya. "Itu hanya pernikahan kontrak. Elin ... dia hanya perlu melahirkan bayi untuk aku dan Sinta. Kami yang akan menjadi orang tua untuk bayi itu. Mama nggak usah khawatir. Aku udah ngatur semuanya."
"Kamu keterlaluan! Elin hanya kamu manfaatkan?" tanya Maria tak terima.
"Awalnya begitu," jawab Ariel. Ia merasakan remasan di tangan oleh Sinta. Ia menoleh pada Sinta, tetapi kali ini ia ingin bersikap egois. Ia kembali menatap ibunya. "Tapi sekarang, Elin benar-benar istri aku, Ma. Aku cinta sama Elin, Ma. Elin juga cinta sama aku. Kami ... bukannya kami hanya saudara angkat?"
"Apa? Kamu cinta sama Elin?" Maria membelalak. Entah berapa banyak kejutan yang diberikan oleh Ariel hari ini. Dengan gusar, ia memijat keningnya sendiri. "Kamu sungguh gila, Ril. Kamu punya istri!"
"Aku tahu, tapi aku nggak bisa berbohong. Mama nggak usah cemas. Aku dan Sinta tetap yang akan merawat bayi itu. Tapi ... tolong terima Elin. Dia bukan putri Mama lagi, dia istri kedua aku."
Sinta menarik tanyanya dari genggaman Ariel. Ia semakin membenci ini. Dengan kasar, ia mengusap pipinya yang basah.
"Istri kedua? Elin?" tanya Maria dengan sengit. Ariel mengangguk. "Tidak akan! Kamu tidak bisa memiliki dua istri, Ril. Ambil bayinya dan Elin ... Mama yang akan urus!"
__ADS_1