Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
70. Tendangan Bayi


__ADS_3

Elin tahu, dirinya benar-benar sudah mirip tawanan di rumah Ariel. Ia tidak memiliki kesempatan untuk keluar rumah kecuali jika ia datang ke klinik Dokter Ridwan bersama Ariel. Apalagi sekarang perutnya sudah mulai membesar karena kandungannya telah masuk ke minggu ke-22.


Elin akan merengek pada Ariel untuk menghabiskan lebih banyak waktu berdua ketika mereka di luar rumah. Namun sayang, Ariel berkata itu cukup berbahaya karena Ariel tak ingin mengambil risiko ada orang lain yang melihat mereka. Bahkan, Ariel berencana untuk menyewa dokter khusus untuk persiapan kelahiran Elin nantinya karena bayi itu akan diakui sebagai bayi Sinta.


Elin menghabiskan harinya di rumah dengan menyapu sesekali atau mengepel seperti yang Sinta inginkan meskipun jika Ariel tahu, Ariel akan melarangnya bersih-bersih. Namun, karena tak ingin ribut dengan Sinta, Elin pun memilih mengalah. Ia tetap membersihkan rumah hampir setiap hari.


"Dia nendang!" Elin menarik tangan Ariel ke perutnya dan mereka bertatapan.


Senyum lebar menghiasi wajah Ariel ketika ia merasakan gerakan aktif bayi di perut Elin. "Aktif banget. Apa dia lapar?" Ariel meletakkan telinganya di perut Elin.


"Nggaklah, kalau malam emang suka gerak-gerak. Kalau jam 2.00 ke atas baru suka laper," ujar Elin senang.


Elin tertawa geli ketika Ariel menciumi perutnya yang terbuka. Meskipun perutnya belum begitu besar, Ariel selalu gemas terhadap bayi mungil itu.


"Udaahh," rengek Elin seraya mendorong bahu Ariel agar pria itu menjauh dari perutnya. "Aku geli, Kak."


"Iya?" tanya Ariel. Elin mengangguk pelan. Ariel pun menutup perut Elin dengan baju tidurnya lalu merangkul bahu Elin. "Kita bobo aja?"


"Nggak mau bobo," ujar Elin manja. Ia melingkarkan kedua lengannya di bahu Ariel.


"Jadi?" tanya Ariel dengan nada menggoda. Ia tertawa kecil ketika menempelkan keningnya di kening Elin. Mereka sangat dekat untuk saling mencium, tetapi Ariel tak segera melakukan itu. "Kamu pengen?"


Tentu saja Elin mengangguk. Ariel tak akan setiap hari datang ke kamarnya. Ariel hanya akan tidur di kamarnya 1 atau 2 malam dalam seminggu. Namun, setiap kali mereka berbaring di atas ranjang yang sama, mereka pasti melewati malam panas yang tak terlupakan.


Ariel bahkan berkata bahwa ia selalu puas dan sangat suka bercinta dengan Elin yang tengah hamil. Elin yang melihat perubahan pada tubuhnya merasa lebih percaya diri karena ucapan Ariel. Ia tak lagi kurus ramping, tetapi badannya benar-benar padat berisi sekarang karena ia sangat doyan makan. Dan Ariel menyukainya! Itu sudah lebih dari cukup, bagi Elin.


"Dia nendang lagi," bisik Elin.

__ADS_1


"Mungkin dia juga kangen sama papanya, dia pengen dijenguk," ujar Ariel. Ia menarik wajahnya dari wajah Elin lalu mengusap pipi dan rahang Elin dengan penuh gairah. Ia lalu mendaratkan tangannya di tengkuk Elin dan mulai mencium.


Elin tak pernah menolak ciuman Ariel. Ciuman itu sudah menjadi candu bagi Elin meskipun setiap hari Ariel akan menciumnya. Ia tak tahu apa jadinya jika nanti mereka berpisah. Ah, ia tak ingin peduli. Ia hanya perlu menikmati apa yang Ariel berikan sekarang.


Dengan bersemangat, Ariel melucuti semua yang menutupi tubuh mereka berdua. Ia tak menunggu lama untuk masuk karena Elin sudah sangat siap. Ia lekas memberikan dorongan yang membuat Elin menjerit nikmat setiap kali, tetapi ia juga tetap berhati-hati karena perut Elin.


Tak hanya Elin yang menikmati gerakan tubuh Ariel. Ia pun membiarkan Elin bergerak liar di atas tubuhnya. Bagi Ariel, Elin sungguh nikmat dan kehamilan Elin justru membuat gairahnya meningkat. Jadi, ia menikmati setiap gerakan yang dilakukan oleh Elin terhadapnya.


Malam panas itu tak pernah berakhir dengan cepat karena keduanya sama-sama merindu. Rasanya, sekali saja tak pernah cukup bagi keduanya. Meskipun Elin terlihat sangat lelah setelah pencapaiannya, ia akan kembali dibuat panas oleh Ariel yang pandai menggodanya.


"Kakak," bisik Elin dengan napas terengah-engah.


"Iya, Sayangku," jawab Ariel.


Elin menatap Ariel tak percaya. Ariel memanggilnya demikian dan itu sungguh luar biasa. Elin tak tahu apakah Ariel telah jatuh hati padanya atau hanya karena mereka baru saja meluapkan hasrat mereka. Karena selama ini, Ariel tidak pernah mengungkapkan rasa cinta padanya.


"Kalau bayinya udah lahir, aku boleh ngeliat bayinya kan?" tanya Elin.


"Apa? Menyusui?" tanya Elin kaget.


Ariel mengangguk. "Apa kamu mau menyusui bayinya? Bayi kita."


Elin menatap Ariel dengan berderai air mata. "Tentu aja. Aku bisa kasih apa aja buat bayi kita."


Ariel tersenyum. Ia memeluk Elin lebih erat sekarang. Ada banyak yang yang ia khawatirkan dalam hati, jika bayi itu lahir dan ibu mereka datang, itu sudah menjadi masalah besar. Ia harus memikirkan di mana menyembunyikan Elin tanpa membuat semua orang curiga.


"Mungkin, nggak menyusui secara langsung," kata Ariel ketika ia melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Jadi, gimana?" tanya Elin.


"Mama bakal datang kalau bayi ini lahir. Seperti yang kamu tahu, bayi ini bakal jadi bayi aku sama Sinta. Jadi, kamu nggak boleh terlihat di rumah ini kalau Mama ke sini. Mama pasti tahu kamu yang melahirkan bukannya Sinta. Kamu mengalami perubahan fisik, emosi dan aku khawatir Mama tahu semua itu," kata Ariel.


Elin menatap Ariel murung. Itu memang benar, tetapi rasanya ia sedih sekali jika ingat bayinya akan diakui sebagai bayi Sinta.


"Kamu bisa memompa ASInya, banyak ibu pekerja yang melakukan itu untuk bayinya," kata Ariel.


"Ya, aku pasti bisa ngelakuin itu. Kakak tenang aja," kata Elin meyakinkan.


"Ehm, aku tahu kamu pasti bisa," ujar Ariel senang. Ia mencium bibir Elin sekali lagi dan mengusap pipinya. "Sebenarnya, Sinta nggak mau kamu menyusui, tapi kalau kamu nggak menyusui langsung, aku rasa Sinta bisa dibujuk."


Elin sangat ingin menyusui bayinya secara langsung. Ia pernah membaca bahwa ikatan ibu dan bayi dijalin erat ketika proses menyusui. Ia sudah membayangkan bagaimana rasanya mendekap bayi itu sementara si bayi menyedot air susunya. Sungguh, itu pasti pengalaman yang luar biasa, batin Elin.


"Nanti kita juga harus yakinin Mama kalau Sinta nggak bisa menyusui langsung. Aku banyak mikir, tapi masalah ke depannya pasti bisa diatasi. Yang jelas, aku bakal siapin tempat untuk kamu setelah kamu melahirkan," kata Ariel lagi.


"Kakak nggak akan ngusir aku kan?" tanya Elin pilu.


"Tentu aja nggak. Kamu masih harus menyusui bayinya kan? Kamu juga bisa bertemu bayinya setelah kondisi kamu membaik dan Mama mungkin nggak bakal lama di sini. Hanya sementara Mama menginap di sini. Oke?"


Elin mengangguk. Lebih dari apapun, ia juga tak ingin ibunya tahu. Rencana ini harus berjalan mulus, pikirnya.


"Di mana aku harus tinggal, Kak?"


"Aku masih cari, yang jelas nggak jauh-jauh dari sini," ujar Ariel. Ia mengusap lembut lengan Elin yang terbuka. "Aku suka kamu dekat sama aku."


"Kakak nggak bohong?" tanya Elin.

__ADS_1


"Nggak, El. Seandainya aku belum menikah dengan Sinta dan cinta kita bisa bersatu, aku pasti akan mencintai kamu untuk selamanya," kata Ariel.


Elin membelalak. "Jadi, Kakak beneran cinta sama aku?"


__ADS_2