
"Aku ingin bisa mencintai kamu, El," ujar Ariel menanggapi pertanyaan Elin padanya. Ia mengusap pipi Elin dengan lembut. "Kamu tahu, cinta kita terlarang."
Elin mengangguk pelan. Ia mendaratkan kepalanya di dada terbuka Ariel dan mendekap pria itu erat. Yah, lagipula mereka mungkin akan segera berpisah, pikir Elin.
"Kakak memainkan peran yang sangat baik untuk berpura-pura mencintai aku," bisik Elin.
Ariel menarik kepalanya menjauh lalu mengangkat dagu Elin agar mereka bisa bertatapan. "Aku minta maaf."
"Nggak perlu. Aku yang minta kakak buat pura-pura cinta sama aku selama 5 bulan kan? Sekarang ... masih tersisa 4 bulan lagi," kata Elin seraya tersenyum.
Ariel ikut tersenyum. Hatinya terasa sakit melihat senyuman di wajah Elin yang begitu polos. Ia benar-benar telah melukai cinta tulus Elin padanya. Bahkan, Elin rela meminjamkan rahimnya untuk menyimpan benihnya.
Ariel mengusap perut Elin dan berkata, "Dia udah bobo?"
Elin mengangguk. "Udah, anteng banget deh. Kayaknya kita juga harus bobo, Kak."
"Iya, aku ke toilet dulu sekalian mandi," kata Ariel seraya keluar dari selimut Elin. Ia mengusap pipi Elin dan mencium pipinya. "Aku tidur di sini, tenang aja."
Elin tersenyum tipis. Ia hanya bisa menduga bahwa Ariel sengaja mandi usai pergulatan panas mereka agar besok pagi ketika bertemu Sinta, ia tidak terlihat baru selesai mandi keramas. Mungkin saja, ia tak pernah bertanya. Namun, Elin sudah hafal bagaimana tingkah Ariel yang selau menjaga hati Sinta.
Ariel kembali ke tempat tidur Elin ketika gadis itu sudah terkantuk-kantuk. Hingga Ariel menariknya ke pelukan, Elin masih memejamkan matanya. Ariel mengusap-usap punggung Elin, tetapi ia tak bisa lekas tidur.
Andai saja ia bisa memutar waktu, ia tak akan menjadikan Elin sebagai wanita yang ia pilih untuk melahirkan bayinya. Rasa sesal itu terus mengisi hati Ariel, apalagi semakin lama ia semakin merasa bahwa Elin semakin mencintainya. Bahkan, jika bayi itu lahir nantinya ia tak tahu bagaimana caranya ia mengusir Elin dari kehidupannya.
Apakah egois baginya untuk memiliki Elin sekaligus? Ariel menggeleng pelan. Ia masih memiliki Sinta yang juga mencintainya. Sinta sudah kehilangan rahimnya, Sinta butuh dirinya. Ia tak boleh seperti ini. Ia harus memilih satu di antara kedua istrinya suatu hari nanti.
***
Keesokan harinya, ketika Elin bangun Ariel masih terlelap. Ia begitu lelah hingga tidak terbangun untuk makan sesuatu di tengah malam. Padahal, biasanya ia akan mencari sesuatu di dapur. Ia menepuk pipi Ariel pelan agar suaminya itu bangun.
"Kak, udah pagi," kata Elin ketika Ariel menggeliat pelan.
Ariel tidak menjawab ucapan Elin, tetapi Ariel justru mengeratkan pelukannya ke tubuh Elin. "Kamu tahu, aku selalu bermimpi bisa memeluk kamu kayak gini dulu."
__ADS_1
"Apa?" tanya Elin kaget. Ia mengerjap karena Ariel bicara seperti sedang meracau. Mungkin Ariel masih setengah tertidur karena matanya masih tertutup dan napasnya begitu lembut. "Kak! Kakak bangun."
Ariel mengernyit kini, ia membuka mata dengan malas-malasan lalu tersenyum tipis ketika melihat wajah sayu Elin di depannya.
"Tadi Kakak bilang apa?" tanya Elin penasaran. Ucapan Ariel sudah berhasil membuat jantungnya tidak normal.
"Apa? Aku ngomong apa?" tanya Ariel bingung. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Mimpi kali. Aku nggak sadar deh."
"Serius?" tanya Elin.
Ariel mengangguk. Apakah ia mengigau atau mengucapkan sesuatu yang membuat Elin sakit hati? "Apa aku ngomong yang nggak enak?"
Elin menggeleng pelan. Mungkin benar, Ariel hanya bicara secara tidak sadar, pikir Elin. "Aku mau mandi dan sholat. Kakak keluar aja."
"Bentar deh. Baru adzan kan," kata Ariel.
"Udah adzan, bukan baru adzan," kata Elin mengingatkan.
Ariel mengangguk seraya tersenyum. "Oke. Ya udah, aku bangun dulu ya. Aku mau siap-siap kerja. Nanti aku ke sini lagi."
"Buruan mandi, pakai air anget aja. Dingin."
Elin hanya tersenyum. Ia membiarkan Ariel meninggalkan kamar setiap pagi begini setelah Ariel bermalam di kamarnya. Ia merasa agak sedih, tetapi ia juga bersyukur karena Ariel selalu bersikap baik padanya. Ariel benar-benar menuruti keinginannya untuk berpura-pura mencintainya.
Seperti biasa, Elin mandi pagi dan berdandan sedikit setelah sholat subuh. Ia memeriksa naskah yang ia ketik sejak awal kehamilannya. Ia tak tahu ke mana naskah itu akan ia bawa yang jelas ia masih ingin berkarya.
Ariel masuk ke kamarnya lagi dengan setelan jas seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia mendekati Elin yang sedang fokus di depan laptopnya.
"Pagi," sapa Ariel.
Elin tertawa kecil. Padahal mereka baru berpisah beberapa 1 jam yang lalu, tetapi Ariel selalu muncul dan memamerkan kerinduan padanya.
"Pagi, Kak!" Elin membiarkan Ariel memeluk dirinya dari belakang karena ia masih duduk. "Mau sarapan sekarang?"
__ADS_1
"Bentar, masih kangen," kata Ariel.
"Apaan sih," ujar Elin seraya berdiri. "Aku udah laper ini. Tadi malem aku nggak makan lagi."
"Oh ya? Kamu nyenyak banget dong tidurnya," kata Ariel.
Elin mengangguk. "Kakak juga kayaknya nyenyak bobonya."
"Iya dong." Ariel bergerak maju untuk mencium bibir Elin. Rasanya, ia sudah kecanduan dengan bibir Elin. Sehari saja tidak menciumnya rasanya ada yang kurang, jadi ia tak pernah melewatkan momen pagi seperti ini untuk berduaan sejenak dengan Elin.
"Udah kangennya?" tanya Elin ketika Ariel melepaskan ciuman.
"Udah, tapi aku mau cium bayi kita dulu," kata Ariel. Ia berlutut di depan Elin lalu menempelkan telinganya di perut Elin yang membusung sedikit itu. "Pagi, Nak. Kamu udah laper ya? Kita sarapan bentar lagi ya. Kamu sehat-sehat di dalam sana ya. Tumbuh dengan baik, Anakku."
Elin mengusap kepala Ariel pelan ketika pria itu mencium gemas perutnya. Ia tertawa kerena merasa sedikit geli atas aksi Ariel.
"Sekarang kita beneran sarapan," kata Ariel. Ia menggandeng tangan Elin agar mereka bisa turun ke bawah bersama.
Di lantai satu, Sinta sedang menyiapkan roti bakar untuk Ariel dan Elin. Ia sudah cukup terbiasa dengan pagi Ariel dan Elin, jadi ia tak banyak protes lagi sekarang. Terlebih, Ariel selalu mengatakan bahwa ia melakukannya hanya untuk membuat bonding dengan si jabang bayi di perut Elin.
Sinta menatap Ariel yang sedang menuruni tangga bersama Elin. Ia membuang napas panjang lalu duduk lebih dulu di meja makan. Ariel datang mendekat lalu mencium pipinya seperti biasa.
"Pagi, Sayang. Kamu masak banyak?" tanya Ariel.
"Nggak, Mas. Cuma roti bakar aja sama ceplok telur. Kamu mau pakai telur apa selai aja?" tanya Sinta dengan suara lembut. Ia melihat Elin lenyap di dapur karena biasanya Elin akan membuat jus untuk dirinya sendiri atau membuat susu ibu hamil.
"Selai kacang aja, Sayang. Aku bisa oles sendiri. Kamu mau juga?" tanya Ariel.
"Boleh," jawab Sinta. Ia memperhatikan Ariel mengoleskan selai kacang di atas roti bakarnya. Sinta tersenyum tipis ketika Ariel memberinya perhatian pagi ini. "Mas, nanti sore kamu beli ...."
"Ah!"
Ucapan Sinta terputus karena Elin tiba-tiba menjerit di dapur. Ariel bahkan segera berdiri untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Elin, kamu kenapa?"