Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
16. Malam Pertama


__ADS_3

"Mas, kenapa kamu masih di sini?" tanya Sinta ketika waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Pernikahan Ariel dengan Elin telah dilangsungkan siang tadi. Sinta tentu saja cukup terluka, tetapi ia ingat apa tujuan dari pernikahan tersebut. Mereka melewati sisa waktu seperti biasanya. Mereka bertiga bahkan makan malam bersama. Namun, begitu waktu istirahat tiba Ariel memilih masuk ke kamarnya sendiri.


"Kayaknya aku nggak bisa ngelakuin itu sama Elin," gumam Ariel. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas lalu membaringkan tubuhnya.


"Mas, kamu jangan kayak gini," ujar Sinta mengingatkan. "Bagaimana pun, Elin sudah jadi istri kamu. Kamu juga harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan pasangan yang baru menikah. Malam ini adalah malam pertama kalian."


"Besok aja," ujar Ariel seraya memeluk tubuh Sinta. "Bilang sama aku, kamu juga nggak bisa kan ngeliat aku tidur sama Elin?"


Sinta berdebar keras. Yah, sebenarnya ia tidak rela. Namun, ia bisa apa. Ariel melakukan ini demi menjaga posisinya di depan mertuanya. Dan jika Ariel menunda-nunda waktu untuk membuat bayi dengan Elin, pernikahan kontrak itu akan berlangsung lebih lama.


"Aku tahu kamu dan Elin tidak memiliki perasaan apapun, jadi nggak masalah. Kamu boleh pergi, Mas. Istri kedua kamu udah nungguin kamu."


Sinta menatap Ariel penuh makna, hingga akhirnya pria itu mendudukkan dirinya. "Maaf, aku harus ngelakuin ini, Sayang."


"Aku ngerti. Cepetan kamu pergi ke Elin, Mas."


Sinta merasakan belaian lembut di puncak kepalanya. Ia membuang napas panjang begitu Ariel meninggalkan kamar mereka. Air mata Sinta spontan meluruh. Ia menggigit bibirnya lantaran tak ingin tangisnya mengeras. Ia harus kuat, ia pasti bisa melewati ini. Hanya beberapa bulan, pikirnya.


***


Sementara itu, Elin tengah duduk sembari memainkan ponselnya. Ia sudah izin selama tiga hari karena tadinya Ariel ingin mengajaknya melakukan perjalanan. Mungkin semacam bulan madu, pikirnya. Namun, ketika sore menjelang, Ariel berkata ia tidak ingin pergi. Elin tahu, Ariel berat meninggal Sinta sendirian. Jadi, ia memutuskan untuk membatalkan cutinya.


Elin baru saja hendak mematikan lampu ketika ia mendengar pintu kamarnya dibuka dari luar. Kedua mata Elin menatap Ariel yang tiba-tiba sudah masuk. Ia pun berdiri dengan gugup. Ia tahu, ini adalah malam pertama baginya dan Ariel, tetapi karena Ariel tidak datang sejak tadi ia mengira bahwa Ariel akan melewatkan malam pertama mereka.

__ADS_1


"Duduk aja," ujar Ariel.


Elin pun menurut, ia meletakkan ponselnya lalu duduk. Tak lama, ia merasakan sisi ranjang di sebelahnya melesak sebagai tanda bahwa Ariel telah duduk di sana. Elin menoleh dengan jantung berdebar tak keruan.


"Aku belum siap-siap," gumamnya. Kedua tangannya mengepal. Sebenarnya, ia sudah berlama-lama mandi dan membersihkan dirinya sebaik mungkin. Namun, ia sendiri tidak yakin Ariel akan memintanya malam ini.


"Kamu nggak perlu ngapa-ngapain, aku yang bakal ngelakuin itu," kata Ariel. Ia melingkarkan lengannya ke pinggang ramping Elin dan menariknya pelan hingga keduanya bisa bertatapan lebih lekat. "Kamu gugup?"


Elin mengangguk pelan. Ia merasakan tangan kanan Ariel menyapu wajahnya sementara pinggangnya masih ditahan oleh Ariel. Jantung Elin berdetak semakin liar tatkala Ariel menyusupkan jemarinya di bawah telinga lalu mendarat di tengkuk. Elin tahu adegan selanjutnya. Ciuman.


Ariel mencium bibir Elin untuk pertama kalinya malam itu. Itu adalah ciuman yang panas hingga Elin merasa seperti sedang terbakar. Ariel menjeda ciumannya dan melihat reaksi Elin.


"Ini bukan pertama kali bagi kamu kan?" tanya Ariel.


Elin tidak menjawab. Ia memang sudah pernah berciuman dengan mantan-mantan pacarnya. Ia sengaja berpacaran karena ingin membuang rasa cintanya pada Ariel, tetapi sayangnya ia tidak bisa menghapus perasaan itu meski ia sudah mencoba berkali-kali pacaran.


Ariel kembali melepaskan ciuman. Ia menatap Elin yang terbakar gairah akibat ulahnya. Ariel hanya ingin ini segera selesai. Jadi, ia pun membaringkan Elin. Ia membuka setiap anak kancing baju tidur Elin dan membuatnya benar-benar tak tertutup apapun. Ia juga melucuti dirinya sendiri.


Seperti sebelumnya, ia mencium bibir Elin, mencumbu setiap jengkal tubuh polos Elin. "Apa ini pertama kali buat kamu?" tanya Ariel ketika ia menyentuh pangkal paha Elin. "Kamu udah basah banget. Kamu udah pernah ngelakuin ini sebelumnya?"


Elin tak menjawab. Ia masih tenggelam dalam sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Ariel mungkin mengiranya sudah sering bermalam dengan Galang, atau pria lain. Namun nyatanya, ini adalah pertama kalinya ia akan berhubungan ****.


"Kak, plis," racau Elin ketika Ariel terus menggesek di bawah sana. Elin meremas seprei, ia mengerang lebih keras dan benar-benar merasa sangat tinggi. Hanya dengan jemari Ariel, ia berhasil mencapai puncak dalam waktu singkat.


Elin menatap Ariel yang kembali mengungkung dirinya. Ariel mencium rahangnya, pipinya lalu kembali ke bibirnya. Elin semakin gelisah ketika ia merasakan sesuatu yang keras dan besar mendesak tubuhnya di bawah sana. Elin membelalak bahkan ketika Ariel menciumnya dengan lembut. Ia mencengkeram bahu Ariel kuat-kuat.

__ADS_1


Ariel terkesiap karena kuku-kuku panjang Elin menusuk kulitnya, jadi ia melepaskan ciuman. Ia merasa agak kesulitan memasuki tubuh Elin dan Elin tampak begitu ketakutan sekarang. Ia baru tahu bahwa ini adalah kali pertama bagi Elin.


"Jangan takut," bisiknya. "Rileks, kamu bakal baik-baik aja."


Elin mengangguk dan kembali memejamkan mata karena Ariel kembali menciumnya. Namun, ia langsung mencengkeram bahu Ariel lebih kuat ketika sentakan keras Ariel begitu menyakitkan. Elin menggeleng pelan hingga Ariel melepaskan ciuman.


Ariel mengusap kening Elin dengan lembut. Ia benar-benar merasa bersalah ketika melihat air mata mengalir di wajah Elin. Selama ini ia mengira Elin sudah melakukan hal-hal seperti ini karena sering tidak pulang dan bergaul dengan banyak pria.


"Sakit, Kak," rintih Elin.


"Cuma sebentar," bisik Ariel seraya mendorong lebih kuat. Ia merasakan jepitan kuat di bawah sana dan mendesah nikmat. Ia hanya harus melakukan ini dan mengakhirinya. Jadi ia pun mulai bergerak.


Menit demi menit berlalu, des ahan demi des ahan terdengar bagaikan lomba di antara keduanya. Hingga akhirnya, Ariel pun memuntahkan cairannya di rahim Elin. Ia terengah ketika melepaskan diri dari Elin. Kedua matanya menatap sekilas bercak kemarahan di sprei Elin. Ia tak menyangka, bahwa ia akan mengambil mahkota Elin dengan cara seperti ini.


Ariel menggeleng pelan lalu berbaring di sisi ranjang yang kosong. Ia menekuk lengannya dan meletakkannya di atas kening. Ia menatap langit-langit kamar Elin, tetapi ia tak sanggup menatap wajah Elin.


Di sebelahnya, Elin pun segera menarik selimut. Ia menutupi tubuhnya dengan cepat. Ia menatap Ariel bingung. Ia baru pertama kali melakukan ini dan ia tak tahu kenapa Ariel hanya terdiam seperti itu. Jadi, ia hanya menatapnya.


"Kak Ariel nyesel?" tanyanya setelah beberapa saat.


Ariel menoleh pada Elin yang menatapnya. "Semuanya udah terjadi, nggak ada gunanya nyesel," ujar Ariel. Ia mendudukkan dirinya lalu memunguti pakaian. "Kamu bisa pakai baju sendiri. Aku mau keluar, aku butuh udara segar."


"Oke," ucap Elin lirih. Ia menarik selimutnya lebih rapat dan mengalihkan tatapan ketika Ariel berdiri untuk mengenakan bajunya. Ia begitu malu atas apa yang baru saja mereka lakukan.


Elin menatap punggung Ariel hingga akhirnya lenyap ditelan pintu. Elin membuang napas pelan. Ia mulai merasa kecewa karena Ariel pergi begitu saja setelah mereka berhubungan. Namun, apa yang ia harapkan? Ariel menidurinya memang hanya untuk menebar benih saja, bukan untuk melampiaskan kasih sayang pada istrinya.

__ADS_1


Elin mencoba untuk menepis rasa kecewanya. Ia memeluk gulingnya dengan erat. Tangannya dengan lembut mengusap sisi kosong ranjang di mana Ariel tadi berada.


"Andai aja Kak Ariel di sini terus," gumamnya.


__ADS_2