
"Budhe udah pulang, Kak?" tanya Elin. Ia membawa turun alat makannya yang tadi dibawa oleh Budhe Sarti untuknya makan.
"Udah baru aja. Kamu butuh sesuatu?" tanya Ariel.
"Nggak kok," jawab Elin. Ia meletakkan alat makannya ke wastafel lalu menyalakan kran. Ia mulai mencuci piring sementara Ariel mengamatinya.
"Kalau kamu butuh atau pengen sesuatu, bilang aja sama aku. Besok aku beliin kalau pulang kerja," kata Ariel. Ia mendekati Elin yang tengah mengeringkan tangan dengan serbet. "Pokoknya kamu tinggal di rumah aja dengan nyaman, nggak usah capek-capek. Oke?"
"Oke," tukas Elin. Ia tak tahu, bahwa Ariel sudah menyiapkan banyak pengawal untuk menjaga rumah ini. Ia juga tak tahu, Budhe Sarti tak akan lagi datang mulai besok.
***
Malam harinya, Elin dengan langkah ragu mulai menuruni anak tangga. Ia hendak bergabung ke ruang makan, tetapi rasanya canggung sekali karena ada Sinta juga di sana. Mengingat sambutan Sinta tak begitu ramah sore tadi, ia agak tidak enak sekaligus kesal. Ia juga harus kembali terbiasa melihat kedekatan Ariel dengan Sinta.
Elin baru saja tiba di lantai bawah, dan ia langsung mendengar senda gurau Ariel dengan Sinta. Tentu saja, ia menghentikan langkahnya sejenak. Haruskah ia kembali ke kamar atau masuk saja ke ruang makan dan bertingkah acuh tak acuh?
Elin membuang napas panjang. Sudahlah, ia sudah terbiasa menahan rasa cemburunya selama ini. Jadi, ia segera datang ke ruang makan. Obrolan Ariel dan Sinta pun terpotong ketika melihatnya duduk.
"Mbak Sinta masak apa?" tanyanya seraya membalik piring yang ada di atas meja.
"Biasa, sop sayur sama ayam goreng. Kamu suka?" Sinta menoleh pada Elin yang langsung mengangguk. "Ya udah, makan."
"Ya, makasih," tukas Elin.
__ADS_1
Ariel masih merasakan ketegangan yang ada di antara kedua istrinya. Rupanya begini rasanya memiliki 2 istri, pikirnya dalam hati. Ia tahu, Sinta lebih mudah cemburu dan marah sementara Elin pandai menyimpan perasaan. Namun, Ariel sudah mengenal Elin bertahun-tahun lebih lama dibandingkan dengan Sinta. Elin bisa melakukan hal tak terduga seperti kabur dari rumah kemarin jika marah.
"Tambah lagi dong nasinya," kata Ariel pada Elin.
"Udah deh, tadi sore udah makan. Aku nggak mau gendut," kata Elin sambil tersenyum.
"Kan wajar kamu sedang hamil," tukas Ariel. Ia mengambilkan potongan paha ayam ke piring Elin. "Habisin ya. Kamu suka kan ayam goreng?"
"Ya. Suka banget. Yang kemarin di motel itu juga enak banget, padahal cuma ayam krispi," kata Elin seraya tertawa melihat raut ceria Ariel.
Sinta menyendok nasi ke mulutnya penuh-penuh. Mendadak ia sangat kesal karena Ariel dan Elin tampak begitu ringan mengobrol. Yah, dulu pun mereka demikian sebelum terjadi kecelakaan maut itu. Ariel dan Elin adalah 2 saudara yang begitu dekat. Namun, sekarang status mereka sudah berbeda dan Sinta begitu kesal.
"Mas, bukannya kamu kerja besok," ujar Sinta ketika mereka bertiga selesai makan.
"Iya. Aku mau ngurus beberapa kerjaan dulu ya," kata Ariel.
"Oke," ujar Elin. Ia yakin tujuan Sinta mengajaknya mencuci piring tak semata-mata demikian. Sejak kepulangannya, ia belum memiliki kesempatan untuk bicara berdua saja dengan Sinta.
Sinta menumpuk piring kotor dan beberapa mangkuk sop. "Kamu ambil kotak makanan. Itu masih ada ayam gorengnya, simpen aja di kulkas. Nasi juga masih ada kalau nanti malam kamu kelaperan."
"Ya." Elin pun berlalu ke dapur untuk mengambil kotak kecil yang biasa digunakan untuk menyimpan aneka makanan.
Sementara Sinta, sembari membersihkan meja makan, ia mengamati Ariel. Ia memastikan Ariel sudah benar-benar naik ke lantai dua. Sembari tersenyum miring, Sinta pun membawa alat makan kotornya ke dapur. Ia meletakkan semuanya ke wastafel, tetapi ia tak lantas mencucinya. Ia masih mengamati Elin yang sedang menyimpan beberapa potong ayam goreng.
__ADS_1
"Dasar murahan!" seru Sinta ketika Elin memasukkan kotak makanan itu ke dalam kulkas.
"Apa?" Elin menutup pintu kulkas dan menatap Sinta tak percaya.
Sinta tersenyum getir. "Bukannya kamu bilang, kamu nggak akan menerima godaan Mas Ariel. Kenapa kamu mau tidur dengan Mas Ariel? Berapa kali kalian ngelakuin itu? Ha? Kalian tinggal di motel selama 2 malam. Benar?"
"Aku juga istri Kakak," kata Elin membela diri. Ia berdebar keras karena Sinta tampak begitu marah.
"Kamu hanya istri pura-pura. Jangan lupa, yang Mas Ariel butuhkan dari kamu hanyalah rahim kamu!" hardik Sinta. "Aku nggak akan terima kalau kamu bertingkah gatal di depan Mas Ariel."
"Aku nggak pernah kayak gitu. Aku udah berusaha menolak dan mengingatkan tentang perjanjian kita, tapi dia menginginkan aku," kata Elin. Ia melipat kedua lengannya di depan dada karena tak ingin terlihat lemah.
"Dan kamu bangga? Kamu merasa Mas Ariel mencintai kamu?" Sinta tertawa seketika. "Jangan salah, El. Mas Ariel hanya mencintai aku. Setelah 5 bulan, kamu bakal dibuang begitu aja."
Elin mengangkat bahu. "Kak Ariel bilang, aku bisa tetap tinggal setelah aku melahirkan. Aku nggak mau dengerin kata-kata Mbak, jadi nggak usah sama-sama bikin emosi. Ayo kita cuci piring dan istirahat."
Karena Sinta tak lekas mencuci piring, Elin pun berinisiatif melakukannya. Ia berdiri di depan wastafel lalu mulai membilas piring kotor dan mengambil sabun. Ia baru saja menggosok piring itu dengan spons. Namun, tiba-tiba ia merasakan rambutnya diremas dan ditarik ke belakang oleh Sinta.
"Ah! Mbak, lepasin!" pekik Elin seraya menoleh. Ia tak mengira Sinta akan melakukan kekerasan fisik seperti ini padanya.
"Jangan harap kamu bisa tinggal di rumah ini setelah kamu melahirkan! Kamu sudah bertingkah murahan dengan mengingkari janji kamu. Dan sekarang, kamu juga berniat untuk ingkar janji lagi? Mau tetap di sini? Hah! Langkahi dulu mayat aku!" Sinta melepaskan rambut Elin dengan mendorong kepalanya keras hingga Elin pun terhuyung.
"Mbak Sinta nggak boleh kayak gini," kata Elin. Ia mulai menangis karena rasa sakit di hatinya dan juga akibat jambakan Sinta di rambutnya. "Aku udah coba menahan sakit hati aku selama ini. Tapi aku nggak bisa lagi, maaf. Aku emang salah udah ingkar janji, tapi aku beneran nggak bisa bohong. Aku cinta sama Kak Ariel makanya aku mau pulang dan tinggal di sini lagi. Kalau Kak Ariel pengen aku tetap di sini, aku nggak akan pergi."
__ADS_1
"Jangan bodoh kamu!" seru Sinta seraya mendorong bahu Elin. "Kamu adik angkat Mas Ariel. Kamu lupa? Apa yang akan ibu dan ayah kalian katakan kalau tahu kalian sudah menikah? Kamu bahkan mengandung anak Mas Ariel. Aku yakin, kamu bakal dianggap sebagai wanita yang sudah menggoda Mas Ariel. Padahal, kamu sudah dibesarkan secara cuma-cuma di keluarga Mas Ariel. Dasar murahan! Nggak tahu terima kasih!"
Sinta tertawa puas melihat wajah pucat Elin. Ia mengedikkan dagunya pada piring-piring kotor yang ada di wastafel. "Kamu selesaikan itu. Jangan cuma numpang gratis di sini!"