
Sinta tidak melakukan apa yang dikatakan oleh Ariel sebelumnya. Ia tidak bertanya kenapa pagi tadi Elin terlihat dalam kondisi mood yang tidak baik. Ia hanya mengatakan bahwa Elin kelelahan ketika Ariel bertanya melalui telepon.
"Elin nggak balas chat aku, aku khawatir," kata Ariel ketika ia menelepon siang itu.
"Elin tuh nggak papa. Dia tidur dari tadi. Turun cuma makan aja," tukas Sinta meyakinkan.
"Ya udah, nanti kamu tanyain dia pengen makan sesuatu atau nggak biar aku mampir pulang kerja nanti," ujar Ariel.
"Oke, Mas. Nanti aku chat."
Sinta mematikan panggilan Ariel dan langsung menggerutu, "Apa-apaan sih Mas Ariel, tiap hari yang ditanyain Elin mau makan apa. Udah jarang banget nanyain aku."
Sinta melemparkan ponselnya begitu saja di atas ranjang. Ia bahkan tidak berniat menanyai Elin karena sudah terlanjur kesal. Sinta hanya berbaring selama beberapa menit kemudian ia kembali mengambil ponselnya. Ia lupa, ia hendak mengecek jadwal film yang ingin ia tonton dengan Ariel besok malam.
Dengan ceria, Sinta pun masuk ke situs pemesanan tiket. Ia tidak memesan tiket untuk pukul 7.00 malam. Ia memilih untuk membeli tiket midnight. Ia sudah cukup lama tidak menghabiskan malam di luar dengan Ariel. Barangkali Ariel mau mampir ke pantai atau ke hotel hingga pagi, pikirnya ketika ia memilih untuk membeli tiket midnight.
Tentu saja, Sinta tidak memberitahu Ariel sekarang. Ia akan memberitahu Ariel besok setelah mereka berangkat.
***
Sepulang kerja, karena Elin tidak bisa dihubungi seharian, Ariel memutuskan untuk mengunjunginya di kamar. Ia mengetuk pintu lalu masuk begitu saja. Dilihatnya Elin sedang menonton film di laptopnya. Sebuah headphone terpajang di atas kepala Elin. Pantas saja Elin tidak mendengar ketukan pintu tadi, pikirnya.
"Elin," panggil Ariel seraya mendaratkan tangannya di bahu Elin.
Sontak, Elin terkaget. Ia mencopot headphone-nya lalu mematikan film di laptop. "Ada apa, Kak?"
"Aku tuh chat kamu dari siang kenapa nggak bales?" tanya Ariel.
"Nggak papa, aku nggak pengen makan apa-apa kok, makanya aku nggak bales," jawab Elin. Ia melirik ponselnya yang telah ia abaikan sejak tadi.
"Kamu marah sama aku? Kenapa kamu cuek banget sejak pagi?" tanya Ariel lagi.
__ADS_1
"Kenapa aku harus marah?" Elin bersedekap. "Aku cuma ... lagi nggak mood."
"Kenapa? Ada masalah? Kamu capek atau kenapa, bilang sama aku," kata Ariel dengan nada membujuk.
Elin tertawa getir. "Buat apa? Lagian Kakak cuma peduli sama bayi ini kan? Kakak tiap hari tanya sama aku mau makan apa, aku pengen apa, hanya karena aku sedang hamil. Kakak nggak benar-benar peduli sama aku."
"Kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gini?" tanya Ariel yang mendadak semakin yakin Elin sedang marah dengannya.
"Nggak papa kok," jawab Elin. "Aku cuma lagi nggak pengen apa-apa. Kalau aku pengen sesuatu, nanti aku bilang sama Kakak. Nggak usah chat atau telepon aku."
Elin kembali duduk lalu menyalakan kembali film yang sedang ia tonton. Kali ini ia membiarkan speaker mengeras. Elin meremas tangannya sendiri, ia merasa sedikit puas karena bisa meluapkan kekesalannya pada Ariel. Meskipun kini, Ariel dibuat bingung setengah mati dengan sikapnya.
"Kamu bisa bilang sama aku kalau ada masalah," kata Ariel.
Elin bergeming di tempat duduknya. Ia tak memberikan respon apapun atas ucapan Ariel. Pria itu membuang napas panjang lalu memutuskan untuk keluar dari kamar Elin. Ia masuk ke kamarnya dan terduduk di tepi ranjang.
"Apa yang udah aku lakuin? Kenapa Elin semarah itu sama aku?" Ariel menggeleng keras.
"Elin masih cuek sama aku. Dari pagi kayak gitu," jawab Ariel.
Sinta mendengus. Ia menjadi kesal karena Elin sudah mencuri perhatian Ariel lagi. "Hormon kali, dari tadi emang dia agak ketus. Kamu tahu kan wanita hamil suka moody."
"Iya sih, tapi dulu kamu selalu bilang sama aku kalau kamu ngambek sebabnya apa. Sekarang aku nggak ngerti harus gimana sama Elin," ujar Ariel.
"Kalau dia butuh sesuatu pasti dia bilang. Kenapa kamu harus risau?" Sinta duduk di pangkuan Ariel. Ia tak mau terus membicarakan Elin ketika mereka sedang berdua. Dengan lembut Sinta melingkarkan kedua lengannya di bahu Ariel. "Kamu mau mandi sekarang, Mas? Aku udah siapin baju ganti buat kamu."
Ariel mengangguk seraya mengusap punggung Sinta. "Ya. Kamu udah mandi, Sayang?"
"Udah, kenapa? Kamu mau ditemenin?" tanya Sinta dengan nada menggoda.
"Nggak usah, Sayang. Aku mandi sendiri aja."
__ADS_1
"Oke." Sinta mendaratkan kecupan di bibir Ariel. Ia harus berusaha agar pikiran Ariel tidak terbagi dengan Elin. "Sana, kamu mandi dulu."
***
Malam berikutnya, Sinta dengan senang sedang memoles wajahnya di depan cermin. Sebenarnya, ia agak was-was jika keluar rumah dan mungkin akan bertemu dengan teman-teman Ariel secara tidak sengaja. Ariel selalu bilang untuk tidak usah memikirkan apapun, tetapi ia agak takut jika suatu hari mereka merawat bayi Elin, akan ada orang yang curiga karena ia tidak pernah memiliki perut yang membuncit.
Sinta sendiri tidak memiliki teman di daerah itu karena ia berasal dari desa yang jauh. Ia hanya khawatir jika orang lain bertanya pada Ariel. Namun, jika ia mengaku sedang hamil 4 bulan mungkin saja semua orang akan percaya. Ia selalu berharap untuk tidak berjumpa dengan kenalan mereka jika bepergian keluar rumah.
"Mas, kamu nggak siap-siap?" tanya Sinta.
"Oh ya, aku gini aja. Cuma nonton kan," jawab Ariel.
"Kita kan mau makan malam di luar juga, Mas. Filmnya masih nanti jam 10.30, Mas."
"Kok malem banget? Katanya jam 7.00?" tanya Ariel kaget. Seingatnya, Sinta berkata bahwa filmnya akan tayang pukul 7.00.
"Iya, tapi udah habis tiket yang jam segitu. Kita nonton yang malam aja, Mas. Biar lama jalan-jalannya," kata Sinta beralasan. Ia menyimpan semua peralatan dandannya lalu membalik badan. "Kita makan malam dulu, Mas, baru ke bioskop. Abis nonton, kamu mau nggak ke pantai? Kita bisa cari penginapan, besok pagi liat matahari terbit kan asyik."
Ariel membuang napas panjang. Ia tahu itu adalah ide yang menyenangkan. Namun, karena ia masih dibuat bingung dengan sikap Elin yang cuek merasa agak tidak enak jika meninggalkan Elin semalam suntuk.
"Kita makan dan nonton aja terus pulang, Sayang. Kasian Elin sendiri di rumah," kata Ariel mengingatkan.
Sinta langsung cemberut. "Kita jarang-jarang keluar, Mas. Ayo dong. Aku kangen nginep di luar, Mas."
"Ya ampun kamu ini. Kalau ada rencana gini harusnya bilang dari kemarin biar kita bisa minta Budhe Sarti buat temenin Elin di rumah. Aku nggak enak kalau Elin sendirian, aku khawatir aja."
"Dia kan udah nggak mual-mual, jadi jadi nggak masalah, Mas. Cuma semalam kok. Oke?" Sinta bicara dengan nada menuntut.
"Ya udah deh, kita liat nanti. Yang penting kita jalan dulu," kata Ariel. Ia masih ingin membujuk Sinta untuk pulang saja usai menonton bioskop.
"Ya udah, ayo!" Sinta dengan bersemangat menggandeng tangan Ariel.
__ADS_1