
"Itu karena cinta aku terlarang," jawab Elin. Ia menaburkan parutan keju dengan telaten di atas kue. "Aku cuma anak angkat di keluarga Kak Ariel. Aku pasti bakal dianggap sebagai anak yang nggak tahu terima kasih kalau aku berani mencintai Kak Ariel."
Sinta menatap Elin getir. Itu benar, ia sudah merasakan bagaimana dinginnya keluarga Ariel. Ia berasal dari keluarga miskin yang tinggal di desa, ia sama sekali tidak dihargai di keluarga Ariel. Beruntung, ia tidak tinggal bersama mereka karena Ariel sudah memiliki rumah sendiri.
"Jadi kamu bakal menyembunyikan perasaan kamu selamanya?" tanya Sinta lagi.
Elin mengangguk. "Kalau bisa. Gladis udah tahu, dia yang nyimpen buku harian aku. Buku itu hilang ... ternyata diambil oleh Gladis." Elin menoleh pada Sinta yang menatapnya prihatin. "Mbak nggak bakal bilang ke Kakak kan?"
"Nggak," jawab Sinta. Ia berpura-pura mengecek kue di dalam loyang. "Sebenarnya aku takut perasaan Mas Ariel bakal berubah kalau dia tahu kamu cinta sama dia."
Elin menggeleng pelan. "Nggak, Mbak. Kak Ariel cinta banget sama kamu. Kak Ariel cuma nganggep aku sebagai seorang adik. Dia mungkin bakal menjauh dari aku kalau tahu aku punya perasaan yang lebih. Jadi, aku nggak pengen dia tahu."
"Kenapa kamu nggak mencoba mencintai pria lain?" tanya Sinta.
Elin tertawa kecil. Ia sudah mencoba, berkali-kali, tentu saja. "Aku nggak bisa, Mbak. Setiap kali aku pacaran, aku cuma nyakitin hati pria yang aku jadiin pacar. Aku juga pengen bisa ngelupain Kak Ariel dan mencintai orang lain, tapi nyatanya hati aku sampai sekarang hanya berdebar buat Kak Ariel."
Sinta membuang napas panjang. Ia tidak begitu menyukai fakta ini, tetapi ia juga kasihan dengan Elin. Jika ia menjadi Elin, ia tak tahu apa yang akan ia lakukan, sanggupkah ia mencintai seseorang tanpa bisa memiliki?
"Jadi, selama ini kamu pasti sering ngerasa cemburu sama Mas Ariel, sama kami," tebak Sinta. Ia jadi ingat setiap pagi, Elin akan buru-buru pergi dan tak ikut sarapan. Apa itu karena ia menghindari Ariel?
Elin hanya tersenyum getir. "Jujur aja, aku cemburu. Kak Ariel sayang banget sama kamu, Mbak. Aku ... ngerasa paling hancur setelah kecelakaan kita dulu. Kak Ariel udah benci sama aku. Dia nyalahin aku, dia minta aku tanggung jawab. Tapi, dia sama sekali nggak pernah ngajak aku ngobrol selama berbulan-bulan. Aku masih bisa melihat kalian berdua bareng-bareng, hati aku sakit, tapi aku baik-baik aja. Tapi, kalau dia nggak nganggep aku ada dan benci sama aku, aku nggak sanggup."
__ADS_1
"Jadi, kamu ngelakuin perjanjian itu karena ...."
"Aku nggak mau Kak Ariel terus marah dan benci sama aku. Kak Ariel bakal maafin aku kalau aku bisa kasih dia bayi. Aku cuma mau Kak Ariel maafin aku," kata Elin.
"Tapi kamu menahan perasaan kamu," kata Sinta kaget. "Kamu terluka karena pernikahan itu hanya ... hanya pernikahan kontrak."
"Aku nggak papa," ujar Elin lemah. "Aku ngelakuin ini biar Kak Ariel bahagia. Dia bakal maafin aku dan dia bakal seneng bisa punya bayi lagi. Dia juga bakal bahagia kalau ngeliat kamu bahagia, Mbak. Dia ngelakuin ini demi kamu, Mbak. Dan aku ngelakuin ini demi Kak Ariel. Aku cuma mau Kak Ariel bahagia. Aku nggak bakal ngerusak rumah tangga kalian, Mbak tenang aja."
Sinta pernah mendengar bahwa tingkat tertinggi rasa cinta seseorang adalah ketika kita merelakan seseorang demi kebahagiaannya. Itukah yang sedang dilakukan oleh Elin? Elin rela mengorbankan tubuh dan perasaannya demi Ariel. Sedangkan ia, apa yang bisa ia berikan pada Ariel? Sanggupkah ia, jika ia berada di posisi Elin?
"Kamu begitu mencintai Ariel rupanya," gumam Sinta.
Mereka terdiam selama beberapa saat hingga terganggu dengan suara dari oven yang menunjukkan bahwa kue Sinta sudah masak. Sinta pun membukanya, ia mengambil loyang lalu memasukkannya loyang lain. Dengan sabar, ia memindahkan kue kering itu ke wadah lain agar lekas dingin.
"Nggak bakal. Sama kayak aku yang ngerasa cinta aku terlarang, aku yakin Kak Ariel juga bakal ngerasa begitu. Lagian, Kak Ariel cuma cinta sama kamu, Mbak." Elin mencoba tersenyum meskipun bibirnya terasa begitu kaku. "Kak Ariel cuma nganggep aku sebagai seorang adik."
"Tapi sekarang, aku merasa begitu buruk di depan kamu. Aku udah bikin kamu sakit hati," kata Sinta.
Elin tersenyum tipis. "Mbak udah minta maaf sama aku, jadi itu udah cukup. Aku cuma pengen kita akur lagi, seperti sebelumnya."
Sinta ikut tersenyum dan mengangguk. Ia semakin yakin bahwa Elin tak akan merebut Ariel darinya. Elin bahkan hanya ingin melihat Ariel bahagia. Elin akan pergi setelah melahirkan, jadi itu bukan masalah besar jika ia harus akur dengan Elin selama beberapa bulan. Bahkan jika ia tidak menyukai Elin lagi, ia bisa berpura-pura baik dengan Elin di depan Ariel.
__ADS_1
"Ke mana kamu bakal pergi setelah ini?" tanya Sinta. "Kamu benar-benar mau pergi?"
"Ya. Aku belum tahu. Mungkin, ke luar negeri atau tempat yang jauh," jawab Elin. Ia menggeser loyang yang telah ia kerjakan lalu mengambil loyang lain lalu mulai mengoles dengan kuning telur.
"Kamu masih punya waktu 7 bulan untuk menjalani pernikahan ini. Gimana kalau aku biarin kamu menikmati peran kamu sebagai istri Mas Ariel?" tanya Sinta dengan maksud mengetes Elin.
"Apa?" Elin menatap Sinta tak percaya.
"Kamu janji bakal pergi setelah melahirkan, kamu ... lagipula kamu juga istri Mas Ariel. Kamu bisa mendapatkan hak kamu sebagai istri Mas Ariel jika kamu mau," kata Sinta dengan nada getir. Tentu saja, sebenarnya ia tak rela jika harus berbagi suami dengan Elin.
"Kenapa Mbak ngomong kayak gitu?" tanya Elin dengan gugup.
"Kamu cinta sama Mas Ariel, kamu pasti merindukan kehadiran Mas Ariel kan?" tanya Sinta.
Elin ternganga mendengar pertanyaan Sinta. Ia ingin mengangguk karena itu yang sedang ia rasakan sekarang. Ia tak hanya merindukan Ariel, ia benar-benar mendambakannya.
"Aku nggak mau ngelanggar perjanjian itu, Mbak. Lagipula belum tentu Kak Ariel mau. Dia cuma nganggep aku sebagai adik angkatnya. Dia juga cuma ... peduli sama bayi dalam kandungan aku," kata Elin yang teringat akan obrolan Ariel dan Sinta. "Di ngelakuin itu demi mendapatkan bayi ini aja."
"Tapi jika dia menginginkan kamu ...."
Elin menggeleng. "Nggak. Jika aku sama Kak Ariel ngelakuin yang lebih jauh, aku bakal lebih berat untuk pergi nanti. Jadi, biar kayak gini aja. Asalkan Mbak Sinta sama Kak Ariel nggak benci sama aku, itu udah cukup."
__ADS_1
Sinta tersenyum miring. "Oke, aku pegang kata-kata kamu. Kalau Ariel yang meminta haknya sama kamu, kamu bakal nolak kan?"
"Itu nggak bakal terjadi," ujar Elin. "Mbak tenang aja."