Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
69. Pagi Hari yang Berbeda


__ADS_3

"Aku suka ciuman sama Kakak," ujar Elin malu-malu. Entah berapa lama Ariel mencium bibirnya tadi, tetapi Elin bisa merasakan ketulusan di sana. Ketika berada di motel, Ariel menciumnya dengan menggebu-gebu dan penuh gairah. Dan pagi ini terasa berbeda, Ariel menciumnya dengan lebih lembut dan tak menuntut.


"Aku bakal cium kamu tiap pagi sebelum sarapan," kata Ariel. Ia mencium kembali bibir Elin, tetapi tidak selama ciuman yang sebelumnya. Ia mengusap-usap pipi merah Elin dan tersenyum. "Ayo sarapan dulu. Udah siang."


Elin mengangguk. Karena Ariel memperlakukan dirinya dengan manis pagi ini, rasanya ia bisa melupakan apa yang dilakukan Sinta tadi malam. Ia juga bukan gadis yang akan melaporkan hal semacam itu pada Ariel atau siapapun selama ini bisa menanganinya.


Sembari tersenyum, Elin pun menuruni anak tangga. Ariel menggandeng tangannya! Oh, jantung Elin benar-benar tidak normal sekarang. Ia tidak bisa berhenti nyengir karena hal itu. Sedikit rasa puas menyambangi hati Elin ketika mereka tiba di ruang makan, karena Sinta yang biasa menyambut Ariel dengan senyuman lebar, kini terlihat masam.


"Pagi, Sayang."


Elin tak ingin kecewa ketika Ariel melepaskan tangannya lalu merangkul Sinta dan memberinya kecupan kecil di pipi. Yah, ia mendapatkan banyak ciuman di bibir dan Sinta hanya kecupan di pipi, pikir Elin.


"Mbak Sinta masak apa?" tanya Elin seramah mungkin.


"Nasi goreng. Kamu suka kan?" tanya Sinta.


"Ya, makasih. Aku mau bikin jus dulu," kata Elin seraya berjalan ke dapur. Ia berhenti sejenak lalu membalik badan. "Kakak mau minum jus juga?"


"Nggak usah, Sinta udah bikin teh," jawab Ariel.


"Oke."


Elin kembali ke dapur. Ia melirik interaksi Ariel dan Sinta sembari menyiapkan blender dan beberapa buah yang hendak ia jadikan jus. Sinta hampir selalu menyiapkan sarapan sementara ia bisa langsung makan. Elin tiba-tiba berpikir, mungkin ia juga bisa menyiapkan sarapan untuk Ariel lain kali.


"Kamu masih bikin kue pesenan?" tanya Ariel pada Sinta.


Elin baru saja duduk dengan 1 gelas besar berisi jus. Ia membalik piring lantas mencentong nasi goreng dari mangkuk saji sembari menyimak obrolan Sinta dan Ariel.

__ADS_1


"Masih ada beberapa, Mas. Tenang aja semuanya orderan online, jadi aku nggak pernah ketemu sama customer langsung," jawab Sinta dengan nada suara manis yang menurut Elin tengah dibuat-buat.


"Ya udah. Kamu jangan capek-capek. Kalau urusan sama kurir kamu minta Miko atau siapa di luar. Oke? Nggak usah sering-sering keluar rumah," kata Ariel.


"Siap, Mas." Sinta tersenyum ketika Ariel mengusap pipinya. Ia kemudian menoleh pada Elin. "Kamu denger kan? Kamu nggak boleh sembarangan lagi keluar rumah."


"Aku ngerti kok," ujar Elin datar. Ia bisa merasakan nada sengit Sinta. Sinta mungkin ingin menjambaknya lagi sekarang, tetapi Elin yakin Sinta tak akan berani melakukannya di depan Ariel.


"Aku udah kenyang," ujar Ariel memotong ketegangan di antara Elin dan Sinta. Ia meneguk tehnya hingga tersisa seperempat gelas. "Aku berangkat dulu ya."


Ariel melirik Elin yang memberinya senyuman dan ia mengangguk penuh makna. Ia lalu menarik tangan Sinta untuk membawanya ke depan. Ariel tak pernah begini, pikir Sinta. Biasanya Ariel tak akan canggung mencium dan memeluknya di depan Elin.


"Sayang, nanti telepon aku kalau kamu butuh sesuatu ya," ujar Ariel seraya mengusap puncak kepala Sinta.


"Kenapa kamu berubah sih, Mas?" tanya Sinta kesal. Ia melipat kedua lengannya di depan dada dan memanyunkan bibirnya sebagai bentuk protes.


"Ya kamu beda!"


"Nggak, tenang aja. Aku buru-buru nih. Kamu baik-baik di rumah. Ehm, jangan ribut sama Elin, aku mohon," kata Ariel sungguh-sungguh. Ia agak mencemaskan hubungan Elin dengan Sinta karena semenjak Elin pulang, Sinta tampak lebih marah.


"Kamu cuma mikirin Elin ternyata," ujar Sinta sengit.


"Bukannya gitu. Aku nggak mau ada keributan, Sayang. Elin udah tertekan dengan adanya beberapa penjaga di luar, jadi aku minta kamu jangan marah-marah sama Elin. Aku nggak mau dia stres. Kamu tahu, Elin sedang mengandung. Jadi, jaga Elin baik-baik selama aku bekerja," kata Ariel tegas.


Hati Sinta bergemuruh tatkala mendengar Ariel begitu mencemaskan Elin. Ia ingin melepas Ariel pergi dengan senyuman seperti biasa, tetapi sekarang rasanya ia tak bisa.


"Udah, jangan cemberut. Aku sayang sama kamu, Sin," ujar Ariel seraya memeluk tubuh Sinta dengan lembut. "Nanti aku beliin kamu martabak keju. Kamu suka kan?"

__ADS_1


"Malam ini kamu tidur sama aku. Aku cuma mau itu," kata Sinta.


Ariel mengangguk. "Oke, Sayang. Semalam kan juga sama kamu." Ariel mencium pipi Sinta lalu melambaikan tangan. "Ya udah, aku kerja dulu ya."


Sinta ingin protes karena ia tidak mendapatkan ciuman di bibir. Namun, ketika ia menoleh ke jam dinding ia sadar, Ariel memang hampir terlambat. Ia sangat merindukan Ariel, bahkan semalam mereka hanya tidur tanpa bercinta. Sinta jadi menerka-nerka, apakah Ariel sudah puas melakukannya dengan Elin selama 2 malam di motel?


Dengan kesal, Sinta pun kembali ke ruang makan. Ia tidak menjumpai Elin di sana karena Elin sedang mencuci piring di dapur. Sinta mendengus karena teringat adegan di sana semalam. Elin bertingkah sombong padanya.


"Budhe Sarti kenapa belum kelihatan, Mbak?" tanya Elin setelah ia selesai mencuci piring. Sinta tengah menikmati teh hangatnya di meja makan.


"Kamu nyari Budhe?" tanya Sinta dengan senyuman miring di wajahnya.


"Ya, biasanya kan Budhe udah datang jam segini," jawab Elin.


"Budhe nggak bakal ke sini mulai hari ini. Budhe udah pulang kampung," ujar Sinta.


Melihat raut licik di wajah Sinta, Elin pun meremang. Ia begitu menyayangi Budhe Sarti dan sebaliknya juga. Jadi, ia merasa ada yang janggal di sini. Seharusnya Budhe Sarti berpamitan padanya jika memang benar sudah pulang kampung.


"Apa Budhe dipecat?" tanya Elin dengan nada menebak.


"Suami Budhe sakit keras. Kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh," jawab Sinta. Ia berdiri ketika gelasnya sudah kosong. "Mulai hari ini kita bagi tugas, walaupun kamu sedang hamil, kamu masih bisa menyapu dan mengepel rumah kan?"


"Kita nggak punya asisten rumah tangga baru?" tanya Elin lagi.


"Nggak. Makanya kamu jangan cuma tiduran aja mentang-mentang kamu sedang hamil," kata Sinta dengan nada mencela. "Kamu jatahnya bersih-bersih rumah, aku yang bakal masak buat Mas Ariel. Cucian bisa kita laundry."


Elin mengangguk saja. Tak ada gunanya berdebat dengan Sinta. Ia segera kembali ke kamar karena ia masih penasaran kenapa Budhe Sarti tiba-tiba tidak bekerja lagi dengan Ariel. Ia mencoba menelepon nomor Budhe Sarti, tetapi sama sekali tidak tersambung.

__ADS_1


"Kenapa nggak aktif?" gumam Elin bingung. 'Apa Kakak beneran takut aku kabur lagi atau emang Kakak niat mau ngurung aku di rumah?


__ADS_2