Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
13. Memberitahu Sinta


__ADS_3

"Nggak. Aku nggak bakal benci lagi sama kamu. Aku janji."


Kedua mata Elin sontak basah karena ucapan Ariel. Setengah tahun berlalu dengan menyakitkan bagi Elin. Mendapatkan tatapan mengintimidasi dan sorot kebencian dari Ariel adalah hal yang terburuk. Ariel bahkan jarang mengajaknya bicara dan hanya menganggapnya angin lalu walaupun mereka tinggal serumah. Dan jika Ariel tidak membencinya lagi, itu cukup.


"Aku masih punya proyek film berjalan," ucap Elin sembari menatap ke arah pintu rumah. Mereka baru saja sampai. "Aku harus nyelesain film ini dulu dan ngerjain satu naskah lagi."


"Oke. Jadi berapa bulan lagi?" tanya Ariel dengan nada menuntut.


"Mungkin 2 sampai 3 bulan," jawabnya. Ia menatap Ariel lagi. "Aku bakal nikah sama kakak dan hamil anak kakak. Tapi, aku nggak bisa bilang sama Mbak Sinta. Apa yang Mbak Sinta bakal pikirin tentang aku? Aku nggak enak. Aku ... aku cuma ... aku mau menebus kesalahan aku."


"Kamu tenang aja, biar aku yang ngomong sama Sinta," kata Ariel meyakinkan. "Kita turun. Kamu perlu istirahat."


Hari sudah sore ketika mereka pulang. Seperti biasa, Sinta menyambut kedatangan Ariel dengan pelukan. Ia sudah mendengar dari Ariel bahwa Elin mengalami kecelakaan kerja dan ia harus menjemputnya pagi-pagi tadi. Ia yang juga cemas dengan keadaan Elin pun langsung menyuruh Ariel lekas berangkat.


"Gimana keadaan kamu, El? Kok bisa sih ada orang kesurupan nyampe nyerang kamu?" tanya Sinta. Ia duduk di sebelah Ariel setelah membawa tiga cangkir teh serta satu toples kue kering buatannya.


"Semalam aku pakai kaos merah padahal ternyata itu pantangan di hutan sana, Mbak. Makanya pas aku sama Mirna lagi jalan mau ke toilet yang ada di pinggir hutan tuh tiba-tiba aku diserang. Aku juga nggak inget gimana kejadiannya, tapi tahu-tahu aku udah dihajar," jawab Elin.


"Ya ampun," desis Sinta. Di sebelahnya, Ariel menggeleng pelan. "Lain kali kamu hati-hati. Diingat-ingat apa yang boleh dan apa yang nggak boleh."


"Iya, Mbak. Aku kapok nulis naskah genre horor. Tapi itu udah kelar kok. Tinggal syuting aja," kata Elin. "Abis ini aku mau balik ke romansa yang lebih santai."


"Ya bagus deh. Kasian kamu nyampe baret-baret gitu wajah sama tangannya," ujar Sinta. Ia menatap perban di kepala Elin. "Itu juga kepala kamu sakit?"


"Iya, kebentur batu makanya dijahit," jawab Elin.


"Elin udah dicek lengkap di rumah sakit nyampe CT scan juga," kata Ariel seraya menepuk paha Sinta. "Jadi kamu nggak usah cemas. Dia cuma butuh beberapa hari buat istirahat."


"Alhamdulillah." Sinta tersenyum pada Elin. "Ya udah, kamu istirahat aja, El, jangan pecicilan dulu. Kalau mau makan sesuatu bilang, biar aku masakin."


"Makasih, Mbak." Elin meneguk tehnya untuk menepis rasa gugup. Sinta sangat baik dan perhatian padanya. Entah apa yang akan Sinta katakan jika akhirnya tahu bahwa ia akan menikah dengan Ariel 2 atau 3 bulan lagi.

__ADS_1


***


Sebulan berlalu dengan cepat. Dan selama sebulan terakhir, Elin bisa merasakan perubahan sikap Ariel padanya. Ariel mulai banyak bicara padanya, bahkan sesekali bercanda dengannya. Elin tahu, Ariel melakukan itu karena kesepakatan yang telah mereka buat. Ariel masih terlihat marah atau kesal setiap kali ibu mereka menelepon, atau jika ada yang menyinggung kehamilan di depan Sinta. Jadi, Elin sadar bahwa sikap Ariel hanya berpura-pura. Ariel bersikap baik padanya karena ingin mengambil hatinya agar ia tidak membatalkan kesepakatan itu.


Dan malam itu, karena waktu terus berlalu Ariel pun memutuskan untuk memberitahu Sinta. Ia sudah menyiapkan surat kontrak yang akan ia berikan pada Elin jika Sinta juga menyetujui ide gilanya itu.


"Sayang, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Ini penting," ujar Ariel ketika ia memperhatikan Sinta mengoleskan krim malam di wajahnya.


"Apa? Tumben kamu ngomong serius gitu, Mas," ujar Sinta sambil terkekeh. Ia melihat wajah tegang Ariel dan ia penasaran apa yang membuat suaminya seperti itu.


"Aku udah nemu wanita itu," jawab Ariel.


Sinta menghentikan aksinya sejenak lalu ia kembali mengusap wajahnya. "Wanita yang bakal melahirkan bayi kamu?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Bayi kita. Bayinya bakal jadi milik kita, bayi kita berdua," kata Ariel meyakinkan. Ia berdiri di belakang tubuh Sinta lalu menyentuh kedua bahunya.


"Jadi, wanita itu sepakat memberikan bayinya? Kita hanya ... pinjam rahimnya?" tanya Sinta sembari menengadah.


Sinta mengangguk pelan. "Tapi, dia bisa dipercaya? Dia nggak akan kabur atau ... dia nggak akan ngerebut kamu dari aku kan?"


Ariel merundukkan tubuhnya lalu memeluk Sinta erat. "Nggak akan, Sayang. Aku hanya akan tidur dengannya hingga dia hamil. Jika dia udah hamil, aku nggak akan pernah tidur lagi sama dia. Kami cuma ... kami ngelakuin itu cuma buat bikin bayi. Nggak pakai perasaan. Aku janji."


Bibir Sinta bergetar. Ia ingin bicara, tetapi bibirnya seolah tak mau bergerak. Ia sudah menyetujui ide itu. Jadi, akan aneh jika ia tiba-tiba meminta Ariel untuk membatalkannya.


"Lalu, gimana dengan orang tua kamu?" tanya Sinta. "Gimana jika Mama atau Papa tiba-tiba datang?"


"Nggak, nggak akan. Mama sama Papa udah sepakat mau tinggal di Prancis selama Gladis kuliah di sana. Mereka hanya akan pulang kalau kamu melahirkan, dan kita bisa beritahu mereka bahwa kita punya bayi setelah bayinya lahir atau beberapa bulan mendekati persalinan," kata Ariel meyakinkan.


"Kamu yakin itu nggak bakal jadi masalah?"


Ariel mengangguk pelan meskipun ia juga melihat ada banyak cacat di rencana ini. Namun, ia sudah terlanjur meminta Elin. Yang perlu ia lakukan hanyalah meminta orang tuanya untuk tetap di Prancis.

__ADS_1


"Lalu, siapa wanita itu? Apakah ... aku kenal dia? Dia wanita seperti apa?" tanya Sinta. Ia takut jika Ariel akan tidur dengan wanita murahan.


"Dia cukup baik," jawab Ariel. Ia melepaskan tubuh Sinta lalu kembali duduk di tepi ranjang. "Yang paling penting dia bisa dipercaya dan tak akan membocorkan masalah ini. Dia juga tahu kenapa dia harus hamil anak kita."


"Kenapa? Siapa dia?" tanya Sinta penasaran.


Ariel terdiam beberapa saat. Ia membasahi bibir lalu berkata, "Elin yang akan melakukannya."


Sinta menutup bibirnya dengan telapak tangan. Jadi, karena itukah Ariel bersikap baik dan ramah pada Elin selama sebulan terakhir ini? Tak hanya Elin yang merasakan perubahan dalam diri Ariel, tetapi ia juga.


"Kenapa? Kenapa harus adik kamu?" tanya Sinta membelalak. Ia berdiri kaget. "Kamu mau bikin hancur masa depan adik kamu sendiri?"


"Dengerin aku dulu, Sayang," kata Ariel. Ia ikut-ikutan berdiri lalu meraih kedua tangan Sinta. Ia menggenggamnya erat. "Elin masih muda, hanya setahun tidak akan mempengaruhi masa depannya. Dia masih bisa bekerja, menulis di rumah atau apapun yang ia mau. Lagipula, dia yang harus bertanggung jawab atas kecelakaan itu. Kamu lupa? Dia yang bikin kamu harus mengalami ini semua."


Sinta menggeleng keras. "Itu kecelakaan, Mas."


"Aku tahu, aku tahu! Tapi ... Elin adalah pilihan yang terbaik. Dia udah tahu semuanya dan kita tak perlu menambah daftar orang yang harus tutup mulut perihal kondisi kamu saat ini. Elin bisa dipercaya."


"Dan dia setuju?" tanya Sinta dengan berderai air mata.


Ariel mengangguk pelan. "Ya. Elin juga ngerasa bersalah atas kecelakaan itu. Aku bakal maafin dia kalau dia mau ngelahirin bayi buat kita. Aku juga bisa bayar Elin. Kamu tenang aja, Sayang."


"Lalu, bagaimana dengan orang tua kalian? Membuat satu kebohongan saja sudah mengerikan, bagaimana bisa kamu menikahi adik angkat kamu dan membuatnya hamil, Mas?" tanya Sinta pilu. Ia menggeleng berkali-kali hingga Ariel memeluknya. Ia merasakan belaian lembut di punggungnya, tetapi ia tak bisa lekas merasa tenang.


"Udah aku bilang, itu bukan masalah. Jika bukan Elin maka kita harus mencari wanita lain. Sama saja. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh, Sin. Kamu fokus aja sama kesehatan kamu, setahun ke depan, kita bakal punya bayi."


Sinta menatap wajah Ariel ketika mereka mengurai pelukan. "Itu bayi kita kan? Kamu yakin Elin akan memberikan bayinya pada kita?"


"Ya. Sejak awal itu bakal jadi bayi kita. Kita cuma menitipkan bayi itu di perut Elin. Kamu tahu Elin seperti apa, dia tak akan mau menjadi ibu muda." Ariel mengusap wajah Sinta dengan lembut. "Aku minta maaf karena kita harus melakukan ini. Semuanya demi bayi kita."


Sinta terdiam selama beberapa detik lalu ia mengangguk. Elin dan Ariel hanya terikat sebagai adik dan kakak angkat. Mereka tidak saling menyukai, ikatan mereka tidak akan pernah berubah menjadi kasih sayang antara pria dan wanita. Itu mungkin lebih baik daripada ia harus melihat Ariel bersama wanita lain.

__ADS_1


"Oke, aku setuju. Demi bayi kita, aku mau kamu menikahi Elin dan membuatnya hamil anak kita."


__ADS_2