Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
87. Elin Melahirkan


__ADS_3

Elin menghabiskan malam itu dengan menangis hingga akhirnya jatuh tertidur di kamar barunya. Ia tak tahu, bagaimana menghadapi hari esok karena mulai sekarang ia tak bisa lagi bertemu dengan Ariel. Padahal, dulu ia pernah berniat untuk pergi dari kehidupan Ariel. Namun rupanya, rasanya begitu menyakitkan karena ia harus pergi karena ia sudah ketahuan oleh ibunya.


"Elin," panggil Maria keesokan harinya. Ia menepuk lengan Elin ketika mencoba membangunkan putrinya.


"Mama," ujar Elin lirih. Ia mengernyit dan menyadari hari masih agak gelap, mungkin baru saja adzan subuh. Ia pun mencoba menegakkan diri. "Kenapa, Ma?"


"Kapan bayinya lahir?" tanya Maria. Ia menyentuh pelan perut Elin. Di depannya, Elin tidak menjawab karena gugup. "Mama minta maaf jika kemarin Mama kasar sama kamu. Tapi, Mama pikir ini yang terbaik untuk kamu. Mama nggak rela kamu menjadi istri kedua kakak kamu. Kamu berhak hidup lebih baik."


Itu pasti salah, pikir Elin. Ia tahu yang hendak dikatakan ibunya adalah ia tidak pantas untuk Ariel dan Ariel harus mendapatkan kesempurnaan dalam hidupnya. Sedangkan ia, bukanlah kandidat yang sesuai.


"HPLnya 2 minggu lagi, tapi sekarang udah sering kenceng," kata Elin.


"Nanti Mama panggil dokter ke sini, kamu bakal diperiksa, jadi kamu tenang aja." Maria mengusap wajah Elin dengan lembut. "Kamu gadis yang baik dan pemberani, kamu pasti bisa melewati semua ini. Bukankah Ariel juga berhak hidup dengan baik?"


Elin mengangguk saja. Ia tak ingin berdebat dengan ibunya. Ia hanya ... ia ingin melahirkan dengan lancar tanpa tekanan apapun. Ia hampir lupa, ada nyawa lain di tubuhnya. Setelah semalaman ia hampir tak tidur karena pikirannya penuh, ia harus lebih fokus dan memikirkan bayinya.


"Apa Kakak bakalan ke sini kalau aku melahirkan?" tanya Elin.


"Ya. Kamu tenang aja, Ariel pasti ke sini untuk jemput bayinya," kata Maria.


Elin menelan keras. Itu agak mengecewakan karena Ariel sudah berjanji untuk mendampinginya ketika melahirkan. Ia jadi rindu dengan Ariel karena memikirkan hal itu. Biasanya, Ariel akan menemaninya berjalan-jalan di taman belakang pagi-pagi setelah sholat subuh, atau menemaninya senam pagi di kamar.


"Aku mau sholat dulu, Ma. Aku juga laper. Aku mau sarapan," kata Elin.


"Kamu tenang aja. Mama bakal masak untuk kamu pagi ini," ujar Maria seraya tersenyum.


***


Usai sarapan, Maria menyodorkan beberapa berkas tentang universitas di Prancis. "Kamu bisa sekolah lagi setelah ini. Gladis pasti senang ketemu sama kamu. Kamu tinggal sama Mama aja besok."


Elin membaca satu per satu berkas dari ibunya. Ia mengangguk lagi meskipun ia tak yakin ingin pergi. Ia menyimpan semuanya di atas meja kamarnya. Dan ketika ia berdiri, ia merasakan perutnya sedikit sakit.


"Kamu kenapa?" tanya Maria.

__ADS_1


"Agak mules, Ma," jawab Elin.


"Apa mau maju lahirnya?" gumam Maria. "Kamu duduk aja. Nanti dokter bakal ke sini."


"Kayaknya cuma kontraksi palsu, aku nggak papa," kata Elin. Ia ingin menelepon Ariel. Sayangnya, Maria menyimpan ponselnya.


***


Hingga beberapa hari, Elin masih berada di rumah itu. Terkadang, ia berharap Ariel akan muncul, menggedor pintu depan dengan keras agar diperbolehkan bertemu dengannya, tetapi sayang, itu hanyalah angan-angan belaka. Barangkali benar, Ariel hanya akan datang untuk menjemput bayi ini, pikir Elin.


Elin baru saja mandi pagi ketika ia merasakan perutnya begitu sakit. Ia meremas daun pintu sembari mengatur napas. Seminggu sebelum HPL. Apakah bayinya akan melihat dunia hari ini?


"Aduh, sakit banget," rintih Elin. Ia berjalan pelan menuju pintu kamarnya. "Mama!"


Elin menoleh ke kanan kiri, tetapi sang ibu tak terlihat. Ia pun melambai dari pagar atas ke arah Susi, pembantu di rumah itu. Dan Susi sepertinya paham dengan kode Elin. Segera Maria berlarian naik ke atas.


"Kamu sakit?" tanya Maria.


"Masuk kamar," kata Maria. Ia sibuk menelepon Fendi agar mempersiapkan semuanya. "Tahan, El. Mama udah panggil dokter dan perawat."


"Aah, Mama!" Elin menggigit bibirnya usai merintih. Ia menoleh pada ibunya ketika didudukkan di atas ranjang. "Mama ... aku mau ketemu Kakak, plis."


Maria menggeleng. "Demi kebaikan kamu dan Ariel, jangan bertemu lagi. Kalian tak akan sanggup berpisah jika seperti ini. Maafin Mama."


Maria menemani Elin yang sesekali merintih ketika kontraksinya datang. Ia sangat gusar dan hanya mondar-mandir lalu mengusap kening Elin.


"Kontraksinya masih jarang, kamu tahan dulu," kata Maria khawatir.


Dari luar, Ariel sudah mengamati rumah tersebut. Ia bahkan tidak pergi bekerja selama seminggu ini karena ia ingin tahu di mana ibunya membawa pergi Elin. Ia juga ingin tahu kapan Elin melahirkan. Ia memiliki mimpi aneh sejak semalam. Ia menggendong bayi kecil yang begitu cantik dan berparas mirip sekali dengan Elin. Jadi, ia memiliki firasat bahwa Luna akan segera lahir.


Ariel menatap gusar pintu gerbang rumah sewa ibunya. Ia sudah mencoba masuk beberapa kali, dan selama itu juga ia mendapat pengusiran dari penjaga rumah. Kini, kedua mata Ariel membelalak ketika ia melihat mobil putih masuk. Ia jelas melihat tiga orang wanita masuk terburu-buru. Apakah itu dokter dan perawat?


"Apa Elin udah mau melahirkan?"

__ADS_1


Ariel cepat-cepat keluar dari mobil lalu berlari ke gerbang yang belum sempurna ditutup itu. Ia melihat raut panik penjaga dan ia semakin yakin bahwa bayinya akan segera lahir.


"Aku mau masuk! Aku mau lihat Elin," kata Ariel seraya memasang kuda-kuda di depan mereka. Ia tak peduli jika ia harus bertarung, ia hanya ingin melihat keadaan Elin sekarang. Ia sudah berjanji bahwa ia akan menemani Elin melahirkan bayi mereka.


Sementara itu, di dalam kamar, dokter sudah mengecek kondisi Elin. "Bukaannya sudah lengkap, Bu. Silakan mengejan sesuai instruksi saya," kata dokter itu.


Elin melakukan apa yang dipinta oleh sang dokter, tetapi rasa sakit menguasainya. Ia berkali-kali kehabisan napas ketika mengejan hingga bayinya tak kunjung keluar. Dokter pun memasang selang oksigen agar Elin bisa mengatur napasnya dengan lebih leluasa.


"Dokter, kenapa lama sekali? Cucu saya kenapa belum lahir-lahir?" tanya Maria panik. Di satu sisi, ia khawatir jika Elin kenapa-kenapa, ia juga cemas jika harus membawa Elin ke rumah sakit.


"Ibu bayinya tidak kuat mengejan, saya rasa ... sebaiknya Ibu dibawa ke rumah sakit saja," kata sang dokter.


"Elin, kamu pasti bisa," kata Maria seraya membujuk Elin. Ia merasakan Elin meremas tangannya begitu kuat ketika mencoba mengejan lagi.


"Mama ... sakit ... aku mau Kakak," kata Elin merana.


Fendi masuk tiba-tiba, ia memberi laporan pada Maria dengan berbisik bahwa di luar ada keributan yang ditimbulkan oleh Ariel.


"Suruh Ariel masuk. Buruan." Maria menatap Elin penuh harap. Ia tidak tega karena Elin begitu kesakitan. Barangkali, jika benar Ariel yang mendampingi Elin, bayinya mau segera keluar.


Tak lama, Ariel pun menyeruak masuk. Ia menatap Elin yang tengah berjuang. Segera ia mendekat, ia meraih tangan Elin dan mencium keningnya.


"Elin ... Sayangku," bisik Ariel dengan air mata di pipinya. "Kamu bisa, El. Aku di sini."


"Kakak ... sakit," rintih Elin.


Ariel mengangguk. "Aku tahu, aku tahu. Maaf. Hari ini ... kita bisa lihat Luna. Ayo, El. Kamu bisa."


Seperti mendapatkan kekuatan, Elin pun mencoba mengejan lagi. Dokter memberinya aba-aba dan setelah dua kali mengejan dengan susah payah, terdengar tangisan keras bayi.


"Elin!" isak Ariel. Ia mendekap tubuh Elin begitu erat. Ia mencium kening Elin berlama-lama karena merasa begitu lega.


Namun, kelegaan itu tak berlangsung lama karena Maria berkata pada salah satu perawat. "Bawa bayinya keluar."

__ADS_1


__ADS_2