
"Tumben kamu dianterin," komentar Mirna ketika ia bertemu dengan Elin di lobi.
"Iya. Pas lagi bareng aja," tukas Elin. Ia merasa cukup senang bisa berangkat bersama dengan Ariel meskipun ketika sarapan, ia juga menahan cemburunya akan sikap perhatian yang ditunjukkan Ariel pada Sinta. Tentu saja, Ariel juga perhatian dengannya, tetapi Ariel tidak pernah menunjukkan itu di depan Sinta seolah-olah Ariel sangat menjaga hati Sinta.
"Semalam kamu juga dijemput kakak kamu kan?" tanya Mirna.
Elin mengangguk pelan. Mereka menaiki anak tangga untuk naik ke lantai dua di mana ruang kerja meraka berada. Seperti biasa, Elin menyapa teman-temannya dengan ceria lalu duduk di meja kerjanya.
"Pagi, El. Kamu udah sehat?" sapa Galang ketika melewati meja Elin.
"Pagi, Pak. Alhamdulillah saya nggak papa kok," ujar Elin.
"Oke." Galang mengangguk lalu masuk ke ruangannya.
Di luar, Mirna menatap Elin serta Galang bergantian. Ia sudah sangat kecewa karena Galang dan Elin tidak jadi pacaran padahal menurutnya mereka adalah pasangan yang sangat cocok. Selama sebulan terakhir sejak Elin menolak cintanya, Galang sudah mengabaikan Elin.
Siang itu, Elin dan Mirna berniat membeli kopi usai makan siang di kafe langganan mereka. Namun, Elin ingat apa yang direkomendasikan oleh dokternya, Elin memilih untuk membeli kopi tanpa kafein.
"Tumben ganti menu," komentar Mirna.
"Nggak papa lah sekali-kali," ujar Elin. Ia melangkah keluar dari kafe bersama dengan Mirna. Kedua mata Elin tiba-tiba terpaku pada sosok Galang yang sedang bersama dengan wanita cantik di depannya. Mereka ada di kedai yang ada di sebelah kafe.
"Eh, itu kan Pak Galang!" pekik Mirna dengan mata melotot. "Itu cewek siapa coba?"
"Mana aku tahu," ucap Elin. Ia menarik lengan Mirna agar mereka lekas menjauh.
"Cantik juga, apa pacarnya ya?"
Elin mengangkat bahu. Bagus jika memang Galang sudah bersama wanita lain. Barangkali, Galang sudah melupakannya. Itu jauh lebih baik agar ia bisa bekerja dengan lebih santai alih-alih merasa tegang karena Galang bersikap dingin padanya selama sebulan terakhir.
Gosip tentang Galang menjamur dengan cepat, cukup banyak yang bertanya pada Elin tentang Galang dan wanita yang makan siang bersamanya tadi. Padahal, Mirna yang menyebarkan gosip tersebut. Mirna mengatakan bahwa Elin adalah saksinya. Jadi, beberapa yang penasaran juga menyamperi Elin hanya untuk mencari klarifikasi.
"Pak Galang!" panggil Mirna ketika Galang lewat. Galang menghentikan langkah pada Mirna. Ia sudah curiga ada sesuatu karena sejak masuk, beberapa pasang mata langsung terpaku padanya.
"Ada apa ini?" tanya Galang.
Mirna tersenyum miring hingga Elin hanya bisa menggeleng. Soal gosip, Mirna memang tidak pernah mau ketinggalan. "Yang makan siang bareng Pak Galang tadi siapa? Cantik lho!"
"Jadi, kalian semua sedang membicarakan saya dengan wanita yang bersama saya?" tanya Galang seraya menggeleng.
__ADS_1
"Iya, Pak. Penasaran banget soalnya," kata Mirna.
"Nggak usah menyebarkan gosip. Dia cuma teman kok," jawab Galang. Ia berlalu dengan cepat dan melewati meja Elin tanpa menyapa seperti pagi tadi.
Galang tidak berbohong. Wanita itu bernama Firda. Mereka sudah berteman sejak SMA. Firda meneruskan sekolahnya di luar negeri dan baru saja pulang. Karena ini mereka sepakat untuk makan siang bersama.
Mamaku: Gimana ketemuannya sama Firda? Kamu masih akrab sama dia kan?
Mamaku: Udah, luapin aja Elin. Kalau kamu cocok sama Firda, Mama juga OK.
Mamaku: Firda cantik kok. Nggak kalah sama Elin.
Mamaku: Cepat move on, Lang. Kalau kamu nggak nyoba, kamu nggak bakal pernah tahu.
Galang membaca beberapa pesan dari ibunya. Tentu saja, ia sudah mencoba melupakan Elin. Namun, itu tidak mudah karena setiap hari ia harus bertemu dengan Elin. Ia tahu, Firda adalah wanita baik. Mereka sudah berteman cukup lama bahkan orang tua mereka juga sudah saling mengenal.
Galang mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Ia mendengar ponselnya kembali bergetar.
Firda: Aku di-chat mama kamu nih, disuruh ke rumah nanti malem. Kamu keberatan nggak, Mas?
Galang: OK. Aku tunggu di rumah. :-)
***
Selain mual-mual, Elin memiliki masalah baru. Kandungannya sudah masuk ke minggu ke-8 dan ia menjadi dua kali lebih mudah mengantuk ketika bekerja. Beberapa kali ia hampir tertidur hingga Mirna menegurnya.
"Kamu kenapa sih? Kebanyakan begadang nih pasti," ledek Mirna. Ia membuatkan kopi untuk Elin karena tak tahan melihat Elin terkantuk-kantuk di mejanya.
"Makasih, Mir. Aku mau ke toilet dulu," ujar Elin. "Mau cuci muka dulu."
Elin berjalan cepat ke toilet untuk membasuh mukanya. Selain mengantuk, ia juga lemas sekali padahal ia bisa makan cukup baik tadi siang. Ia pun merogoh ponselnya untuk mengirim pesan pada Ariel.
Elin: Kak aku mau makan mangga muda. Aku pengen banget.
Kakakku: Oke.
Seperti biasa Ariel membalas pesannya dengan cepat. Ia tersenyum tipis lalu mengantongi ponselnya. Ia kembali ke tempat duduknya dan menyesap kopi buatan Mirna.
"Kenapa senyam-senyum?" tanya Mirna penasaran.
__ADS_1
"Nggak kok," jawab Elin. Ia berdehem agar terlihat biasa saja, padahal ia sedang senang karena sebentar lagi waktu untuk pulang. Itu artinya, ia akan segera bertemu dengan Ariel.
***
"Kok kita berhenti di sini sih, Kak?" tanya Elin ketika mobil Ariel menepi di dekat sebuah pasar. Ia sangat mengantuk sehingga langsung tertidur setelah mobil Ariel berjalan selama lima menit.
"Katanya kamu mau makan mangga muda. Aku mau beliin sekarang," jawan Ariel seraya mematikan mesin mobilnya.
"Tapi aku nggak mau mangga di sini. Aku mau yang di rumah lama kita. Kakak yang petik dari pohonnya," ujar Elin dengan nada manja.
Ariel membuang napas panjang. "Rumah kita kan di luar kota. Lagian belum tentu sedang berbuah, kita beli aja ya," kata Ariel menawar.
Elin langsung cemberut. Ia mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada Ariel. "Pohonnya lagi berbuah, itu banyak tahu. Aku dikirimin sama Budhe Isna makanya aku pengen."
"Kita udah terlanjur ke sini," kata Ariel. "Beli yang di sini aja, kan sama aja. Sama-sama buah. Lagian nggak mungkin kita pulang ke rumah lama. Aku nggak punya waktu."
Elin semakin cemberut. Ia benar-benar sudah membayangkan makan buah mangga itu. Dulu, ketika ia masih SMP dan Ariel masih kuliah, mereka akan makan buah itu di bawah pohonnya langsung.
"Aku beliin yang di sini aja ya," kata Ariel lagi.
"Nggak mau, aku mau yang di rumah," ujar Elin bersikeras.
"Kamu ini kenapa jadi manja gini sih?!" Ariel menghardik Elin seketika. Ia tidak mengira kehamilan Elin akan mengubahnya menjadi sosok yang seperti ini, padahal dulu ketika Sinta hamil, Sinta tidak pernah menginginkan makanan atau minuman khusus. "Kita udah jauh-jauh ke sini. Harusnya kamu tadi bilang kalau kamu mau yang di rumah lama bukan yang dibeli. Kamu nggak liat ini udah mau Maghrib."
Elin menggigit bibirnya. Ia juga tidak tahu kenapa ia bisa bersikap manja seperti ini. Ia sudah mencoba untuk biasa saja karena ia tahu, Ariel tidak mencintainya. Namun, tubuhnya bereaksi berbeda. Ia bahkan ingin menangis sekarang.
"Ya udah, beli aja."
"Oke. Kamu tunggu di sini aja daripada capek ngeluh lagi," ujar Ariel.
Elin menatap Ariel yang keluar dari mobil. Ia langsung meneteskan air mata karena ingat Ariel baru saja menghardiknya. Ia sangat kesal. Ia menunggu Ariel dengan membaca beberapa pesan dari Mirna, ia juga membaca obrolan di grup.
Tak lama, Ariel pun kembali dengan satu kresek kecil buah mangga. Ia bisa mencium aroma segarnya, sungguh menggoda meskipun bukan itu yang ia inginkan.
"Nggak usah cemberut," kata Ariel seraya mengusap bahu Elin. "Nanti buahnya aku kupasin. Oke?"
Elin mengangguk pelan. Itu cukup menyenangkan. Seandainya saja ia bisa makan buah itu berdua saja di rumah, atau di tempat lain. Sayangnya, akan ada Sinta di antara mereka. Elin hanya memiliki waktu berdua dengan Ariel ketika berangkat dan pulang kerja. Ariel bahkan tidak pernah tidur di kamarnya.
Padahal, Elin selalu merindukan malam-malam panasnya dengan Ariel. Sayang, sesuai perjanjian itu, ia tidak akan pernah bisa menikmatinya lagi.
__ADS_1