
Elin menangis puas di pelukan Ariel malam itu. Ia menuntaskan semua kesedihan yang ia rasakan. Hingga akhirnya, ia merasa begitu tenang di pelukan Ariel. Elin tak tahu berapa lama mereka berpelukan, tetapi Ariel melepaskan diri darinya lalu mengusap puncak kepalanya dengan lembut.
"Kamu masih mual-mual?" tanya Ariel.
"Nggak kok. Tapi aku ngantuk. Aku mau sholat terus tidur aja," jawab Elin.
"Oke. Kamu istirahat aja. Aku bawa ini turun." Ariel meletakkan kembali piring dan mangkuk Elin ke atas baki. Ia juga menyusun piring-piring tadi siang yang masih ada di meja Elin.
"Makasih udah nemenin aku," gumam Elin ketika Ariel meninggalkan kamarnya.
Ariel membawa semua alat makan itu ke dapur. Ia meletakkan mereka di wastafel lalu ia mencuci tangan. Tak lama, Sinta pun datang. Ia berniat menyiapkan makan malam untuknya dan Ariel.
"Gimana Elin? Dia mau makan?" tanya Sinta. Ia melirik piring dan mangkuk Elin yang hanya tersisa sedikit makanan di sana.
"Lumayan," jawab Ariel. Ia membalik badan lalu menyandarkan diri di konter. "Kenapa kamu nggak bilang sama aku kalau Elin muntah-muntah parah kayak gitu?"
"Apa?" tanya Sinta kaget.
"Aku baru punya kesempatan liat Elin di kamarnya. Dan dia lemes banget karena muntah terus. Apa Elin kayak gitu dari kemarin?"
Sinta menelan keras. Sudah sejak beberapa hari yang lalu Elin memang seperti itu. Namun, karena ia tidak ingin Ariel terlalu mencemaskan Elin, ia selalu mencegah Ariel datang ke kamar Elin.
"Kemarin dia nggak papa, Mas," jawab Sinta berbohong. Ia mengambil dua piring lalu duduk di meja makan disusul oleh Ariel. "Dia kayak mungkin mungkin karena dia tadi kehujanan makanya masuk angin."
"Gimana bisa Elin kehujanan?"
"Ya karena di luar turun hujan, Mas. Gitu aja masih tanya!" Sinta menatap sengit suaminya. "Salah sendiri nggak bawa payung. Pulang-pulang udah basah kuyup."
__ADS_1
"Kamu kan bisa susulin payung kalau dia nggak ada payung. Atau minta Budhe Sarti buat keluar jemput di depan. Tadi pagi kan cerah, makanya Elin nggak bawa payung," kata Ariel dengan nada kesal.
"Kamu kenapa sih? Kamu segitu khawatirnya Elin? Namanya orang hamil muda juga banyak dramanya, Mas. Dulu aku juga mual-mual dan lemes kayak gitu. Kamu lupa?" Sinta meneguk air di gelasnya dengan cepat. Ia benar-benar kesal dengan Ariel sekarang.
"Aku nggak lupa, Sin. Tapi kondisi Elin beda, dia muntah terus. Budhe Sarti juga bilang gitu, dia nggak bisa makan dan minum. Aku khawatir kalau Elin kenapa-kenapa," ujar Ariel menjelaskan.
"Jadi sekarang kamu peduli sama Elin? Kamu bilang semalam kamu hanya khawatir sama bayi dalam kandungan Elin. Apa sekarang, kamu sudah memiliki perasaan khusus untuk Elin, Mas?" tanya Sinta dengan mata basah. Wajahnya memerah lantaran ia sangat marah.
"Bukan begitu. Aku cuma mau kamu juga lebih perhatian sama Elin. Kalau ada apa-apa sama Elin, bayi kita juga juga bisa kenapa-kenapa, Sayang," kata Ariel dengan lebih lembut. Melihat Sinta marah membuatnya menjadi serba salah.
"Alasan! Kamu cuma jadiin itu alasan biar kamu bisa kasih perhatian sama Elin!" hardik Sinta tak terima.
Ariel membuang napas panjang. Ia menyesap air minumnya lalu menatap Sinta. "Apa aku salah kasih perhatian sama Elin? Dia sedang hamil muda. Dia bahkan nggak bisa makan dan baru bisa makan kalau yang nyuapin."
"Jadi kamu mau nyuapin Elin setiap hari? Pagi, siang dan malam?" tanya Sinta keras.
Sinta masih cemberut. Ia menarik tangannya begitu saja dari genggaman Ariel. "Aku cuma takut kamu bakal jatuh cinta sama Elin, Mas. Aku nggak kamu ninggalin aku."
Ariel merangkul bahu Sinta dan mengusap di sana. "Nggak, Sayang. Nggak akan. Elin udah hamil 2 bulan lebih, nggak nyampe 7 bulan bayinya bakal lahir. Kamu sabar ya. Bukannya kamu meminta aku buat nikah lagi dulu?"
Sinta menatap Ariel dengan mata basah. Yah, ia memang yang memintanya. "Iya, Mas. Aku minta maaf. Aku emosi banget belakangan ini. Mama telepon beberapa kali. Mama juga tanya kapan aku bisa kasih Mama cucu, tapi aku bingung mau jawab apa, Mas."
Ariel mengusap-usap baju Sinta. "Nanti aku bilang sama Mama biar Mama nggak gangguin kamu lagi. Ehm? Kamu jangan cemburu terus. Aku cuma cinta sama kamu. Oke?"
"Oke." Sinta mengangguk. Ia ingin mempercayai Ariel meskipun rasanya sangat berat. Ia yang sudah cacat, rasanya tidak pantas untuk bersanding dengan Ariel meskipun ia sangat tidak ingin ditinggalkan.
"Ya udah, jangan nangis lagi. Ayo makan," ujar Ariel.
__ADS_1
"Iya, Mas. Aku udah masuk tadi tapi kamu juga udah beli sop buntut. Ini buat besok pagi aja ya sopnya," kata Sinta. "Nanti aku simpen di kulkas bisa buat sarapan atau ... siapa tahu Elin masih mau besok."
"Iya, Sayang." Ia mengusap belakang kepala Sinta dengan penuh kasih. "Kamu jangan cemburu-cemburu lagi ya."
"Ehm, aku bakal berusaha, Mas."
***
Keesokan harinya, setelah Ariel berangkat kerja, Sinta bermaksud untuk membuka beberapa novel yang ia ambil dari rumah lama Ariel. Ia sudah menyimpan kotak kardus itu di dekat lemari kamarnya. Karena hari ini ia tidak mendapatkan pesanan kue kering, jadi Sinta ingin bersantai dengan membaca novel-novel itu.
"Bagus-bagus nih," gumam Sinta. Ia baru berkesempatan melihatnya. Dengan riang, ia mengambil satu persatu novel lalu menjejerkan mereka di atas ranjang. Ia ingin memilih mana novel yang paling menarik untuk dibaca.
Kedua mata Sinta tiba-tiba terpaku pada sebuah buku yang ada di bagian paling dasar kardus. Ia sudah mengeluarkan setidaknya dua puluh novel dan kini ia menemukan sesuatu yang sama sekali tidak terlihat seperti novel pada umumnya.
"Apa ini?" Sinta mengangkat buku tersebut dan menyadari bahwa itu adalah sebuah buku harian. "Apa ini punya Gladis?"
Sinta menatap ke arah pintu untuk memastikan pintu kamarnya tertutup. Ia sendirian di kamar, tetapi entah kenapa ia merasa tidak nyaman ketika mendapatkan buku bersampul abu-abu dengan gambar istana besar. Sinta pun membuka halaman pertama buku tersebut.
"Ini ... punya Elin," gumamnya ketika membaca perkenalan yang ada di halaman pertama. Sinta tak tahu bagaimana bisa buku itu sampai di kotak novel milik Gladis. Namun, Ariel pernah berkata bahwa kemungkinan novel itu bercampur dengan milik Elin karena Gladis suka mengambil benda-benda milik Elin.
Sinta kembali membuka halaman buku tersebut. Ia agak penasaran karena buku itu terlihat begitu tebal dan sedikit lebih menggembung daripada yang seharusnya seolah ada beberapa hal yang ditempelkan di sana. Yah, ada banyak foto yang ditempelkan di sana!
"Kenapa foto-foto Mas Ariel ada di sini?" Sinta membelalak ketika ia melihat foto Ariel bersama Elin dengan pose yang sangat dekat. Tampaknya Elin memotong foto tersebut menjadi bentuk hati lalu menempelnya di buku.
"The love of my life. Kak Ariel." Jantung Sinta berdebar kencang ketika membaca caption yang ada di bawah foto. Dengan cepat ia membolak-balik halaman buku, ada banyak foto yang ditempelkan oleh Elin. Jika bukan foto mereka berdua, maka akan ada foto Ariel yang mungkin diambil diam-diam oleh Elin.
"Nggak mungkin!" Sinta menutup rapat buku tersebut. Ia merasa sangat marah sekaligus dipermainkan sekarang. "Jadi, Elin udah lama suka sama Mas Ariel?"
__ADS_1