Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
92. Akhir Kisah


__ADS_3

Elin tak lantas membuat keputusan. Ia bahkan memiliki nomor telepon Ariel, tetapi ia sungguh enggan untuk menghubungi Ariel. Bukan karena ia tak merindukan sosok itu, bukan karena ia tidak ingin bertemu dengan Luna. Namun, ia juga merasa sangat bersalah. Seandainya dulu ia tidak pergi, akankah kisah ini berbeda?


Elin kini tengah melihat-lihat foto Luna yang dikirimkan oleh Gladis ke ponselnya. Ia menggeser satu persatu mulai dari ketika Luna masih bayi, di mana ia masih dirawat oleh Sinta, hingga Luna yang sudah masuk taman kanak-kanak.


Elin tersenyum sesekali, ia melihat kedekatan Luna dengan Ariel di foto-foto terakhir, mungkin ketika Ariel sudah bercerai dengan Sinta. Dari Gladis, Elin mendengar bahwa Ariel lebih banyak di rumah daripada di kantor setelah ia bercerai. Ariel pasti mencurahkan banyak kasih sayang untuk putri mereka.


"Maafin Mama," gumam Elin seraya mendekap ponselnya. Ia mencium wajah Luna di foto tersebut lalu bergumam, "Mama pasti datang untuk kamu."


***


Setelah 2 hari diliputi kegalauan, Elin pun memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ia tidak pulang bersama Gladis karena adiknya itu masih ada pekerjaan di Malaysia. Namun, ia yakin Gladis sudah memberitahu Ariel karena beberapa kali Ariel menelepon nomor barunya. Dan tak satupun panggilan itu dijawab oleh Elin.


Elin kini berada di taksi yang akan mengantarkannya ke rumah sakit di mana Luna dirawat. Elin membuka ponselnya untuk melihat foto lama Galang. Ia tersenyum tipis sembari berujar, "Aku pulang, Mas. Setelah sekian lama akhirnya aku kembali ke sini."


Elin menepis kabut tipis yang baru saja mampir ketika ia mengenang Galang, pria baik yang sudah banyak membantunya. Namun, ia tak pernah bisa memberikan banyak untuk Galang.


"Udah sampai, Mbak," ujar sopir taksi membuyarkan lamunan Elin.


Elin mengangguk. Ia memberikan sejumlah uang lantas keluar dari taksi. Ia hanya membawa sebuah ransel kecil jadi, ia tak perlu mampir ke hotel lebih dulu. Ia hanya ingin segera melihat Luna.


Dengan debaran jantung yang liar, Elin pun akhirnya tiba di koridor kamar VIP di mana Luna berada, barangkali Ariel juga ada di sana. Itu menggelisahkan bagi Elin. Jadi, ia hanya berdiri di sana selama beberapa detik.


"Elin?"


Elin menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia mundur selangkah untuk membuat jarak dengan Ariel yang baru saja muncul dari arah belakangnya.


"Kamu benar-benar datang," kata Ariel dengan suara bergetar.


Elin mengangguk pelan. Bibirnya begitu kelu hingga ia tak bisa merespon ucapan Ariel. Ariel bergerak maju dan mengikis jarak di antara mereka. Elin semakin berdebar dan ia membenci ini. Sudah lama ia ingin melupakan Ariel, tetapi kini Ariel mengisi kepalanya. Ariel terlihat masih sama seperti 5,5 tahun lalu. Apalagi ketika Ariel tersenyum tipis.


"Aku senang kamu datang," ujar Ariel membelah kesunyian.


"Mana Luna?" tanya Elin.


Ariel mengedikkan dagu. Ia kemudian melangkah lebih dulu dan Elin menyusul. Sama seperti Elin, Ariel pun berdebar tak terkira. Ia sudah menunggu momen pertemuan dengan Elin. Ia bahkan sudah menyiapkan kata-kata permohonan maaf untuk Elin sebelumnya dan ia menyesal karena apa yang ia ucapkan justru berbeda dari apa yang hendak ia katakan. Ia ingin berkata bahwa ia merindukan Elin, ia kehilangan dan ia selalu mencari.


Elin berhenti sejenak di depan pintu kamar Luna yang telah dibuka Ariel. Ia bisa mendengar suara aneka alat yang ada di dalam sana dan seketika air mata Elin luruh. Ariel menoleh pada Elin, ia yakin Elin sedang diliputi oleh rasa sedih atau bersalah atau mungkin ia masih marah padanya.


"Luna anak yang kuat. Dia baru dikemoterapi kemarin dan sekarang dia udah jauh lebih baik," kata Ariel seraya melebarkan daun pintu.


"Bisa biarin aku berdua aja sama Luna?" tanya Elin.


"Ya. Tentu aja. Dia pasti bisa ngenalin kamu kalau dia bangun," ujar Ariel.


Namun, hingga bermenit-menit Elin duduk di kursi kecil yang ada di sebelah ranjang Luna, gadis cilik itu tak kunjung membuka mata. Elin terus menangis seraya menggenggam tangan mungil Luna. Gadis itu sudah melewati banyak hal di usia sekecil itu, bahkan waktu bayi dia mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Sinta.


Kedua mata Elin mengedar hingga ia melihat pigura kecil berisi fotonya di atas nakas. Lalu foto Ariel yang sedang memeluk Luna. Dan akhirnya ia memakukan tatapan pada selembar kertas di sana. Elin mengambil gambar itu. Ia tersenyum, tetapi ia juga menangis karena gambar buatan Luna. Itu gambar dengan tulisan Papa, Luna dan Mama di bawah setiap karakternya.


Dengan lembut, Elin mengusap kening Luna. "Kamu harus sembuh, Sayang."


Elin tak sadar bahwa Ariel sudah bergabung dengannya sejak beberapa menit lalu. Ariel duduk di sofa panjang yang biasa ia gunakan tidur ketika menemani Luna bermalam.


"Kamu baik-baik aja, El?" tanya Ariel.


Elin menoleh sekilas dan mengusap pipinya. "Ehm, kayak yang Kakak lihat."


"Aku cari kamu selama ini," kata Ariel. "Tapi kamu kayaknya nggak mau aku temuin."

__ADS_1


"Kenapa Kakak nyari aku? Aku dengar ... Luna butuh donor sumsum tulang belakang. Apa karena ...."


"Jangan salah paham," potong Ariel cepat. Ia berdiri dan mendekati Elin. "Aku nggak mungkin ... aku nggak akan pernah memanfaatkan kamu lagi. Aku minta maaf untuk masa lalu kita. Maafin aku. Aku selalu merasa bersalah sama kamu setiap hari, setiap malam. Aku ... aku selalu merindukan kamu. Kamu lihat ... Luna ... dia punya wajah kamu. Setiap kali aku melihat Luna, aku selalu ingat kamu. Aku nggak pernah lupain kamu."


Elin mencebik. Yah, ketika ia melihat wajah Luna pertama kali tadi, ia sungguh takjub. Bagaimana bisa gadis kecil itu mewarisi wajahnya sementara ia tinggal dengan sang ayah saja? Padahal, ia sungguh berharap agar Luna bisa semirip mungkin dengan Ariel. Sayangnya, Tuhan lebih berkuasa dalam melukis.


"Aku bakal jadi donor buat Luna kalau emang itu diperlukan," kata Elin seraya menggenggam kembali tangan kecil Luna.


"Itu juga masih butuh pemeriksaan. Kalau memang cocok, kamu baru bisa jadi donor," kata Ariel. Ia membuang napas panjang. "Aku berharap kamu datang bukan hanya karena Luna butuh donor. Aku harap kamu jangan salah paham."


"Aku tahu," ujar Elin. Mereka terdiam selama beberapa saat hingga Elin teringat ucapan Gladis. "Aku kaget waktu Gladis bilang ... kakak udah lama suka sama aku. Apa itu benar?"


"Ya. Aku merasa bersalah karena menyimpan rasa cinta sama kamu. Itu salah, kamu adik angkat aku, jadi aku berniat melakukan banyak hal untuk melupakan kamu. Dan ... aku kaget ketika dengar dari Gladis bahwa kamu memiliki perasaan yang sama dengan aku. Bahkan kamu juga menuliskan sebuah buku tentang perasaan kamu sama aku sejak kamu masih remaja," kata Ariel. Ia menatap Elin yang juga tengah menatapnya. "Aku minta maaf ... seharusnya aku lebih berani mengakui perasaan aku sejak dulu. Semua ini tak akan terjadi jika aku lebih berani."


Elin mengangguk. Melihat Luna membuatnya tak ingin memikirkan masa lalu lagi. Ia merasa sedikit hangat karena tahu, Ariel juga telah mencintainya untuk waktu yang sangat lama.


Mereka kembali terdiam selama beberapa saat hingga akhirnya Ariel kembali bicara. "Apa aja yang kamu lakukan? Apa kamu ... sudah menikah atau ... berpacaran? Aku dengar dari Gladis, kamu bersama Galang selama ini."


Elin mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah cincin dari kantong cardigannya. "Dia ngelamar aku."


Ariel mengangguk. Hatinya terasa tak nyaman sekarang, tetapi jika itu artinya bagus untuk kehidupan Elin, ia akan turut berbahagia.


"Setahun yang lalu," kata Elin melanjutkan. "Aku belum kasih jawaban. Tapi dia meminta aku buat simpan cincin ini. Aku ... aku hampir berkata aku mau nikah sama dia. Tapi, seminggu setelah dia ngelamar aku dia mengalami kecelakaan. Dia baru ... mendaki di gunung, tapi ... ada longsor dan dia nggak selamat."


Ariel melihat Elin menggenggam cincin itu. Ia tak tahu tahun-tahun yang dilewati Elin bersama Galang, tetapi ia menebak ada banyak hal di sana. Galang pasti adalah sosok yang berharga bagi Elin.


"Aku turut berduka," ujar Ariel lirih. Ia menoleh pada Luna yang baru saja bergerak. "Luna ... kamu bangun?"


Luna tidak merespon, tetapi Elin bisa merasakan genggam di tangannya. "Apa yang terjadi?"


"Mungkin dia ngerasa nyeri," jawab Ariel seraya mengusap wajah Luna. "Dia di bawah pengaruh obat, jadi mungkin tidurnya agak lama. Tapi ... dia pasti bangun nanti."


"Aku mau ketemu dokter," kata Elin. "Kapan aku bisa tes?"


"Nanti, kita tunggu Luna bangun aja," kata Ariel meyakinkan. Ia mengusap pipi Elin kali ini lalu bergerak mendekat dan memeluk Elin.


Elin melingkarkan lengannya di pinggang Ariel dan ia menangis tersedu-sedu di sana. Ia sungguh tak tega melihat Luna kesakitan.


"Seharusnya aku datang sejak kemarin kemarin," isak Elin. "Berapa lama ... sudah sejak kapan Luna sakit?"


"Sekitar 6 bulan," jawab Ariel. Ia mengusap lembut kepala Elin yang kini ditutupi oleh hijab. "Itu bukan salah kamu. Dia nunggu kamu dengan sabar."


Ariel melepaskan pelukan dan berlutut di depan Elin. Ia menggenggam tangan Elin dengan lembut. "Aku bakal kasih semuanya yang aku bisa buat Luna."


Ariel mengangguk. "Makasih."


Keduanya menoleh ketika Luna bergerak pelan. Ariel berdiri untuk mengecek Luna yang sedang mengernyit lalu perlahan membuka matanya.


"Hei, kamu bangun, Cantik?"


Elin tersenyum mendengar panggilan sayang Ariel untuk Luna. Ia berdebar ketika Luna menatap Ariel yang duduk di tepi ranjangnya. Keduanya bertatapan.


"Papa, aku mimpi," ujar Luna.


"Kamu mimpi apa, Luna?" tanya Ariel seraya mengusap wajah Luna.


"Aku liat Mama."

__ADS_1


"Itu bukan mimpi. Mama kamu udah datang," kata Ariel seraya mengalihkan tatapan pada Elin dan tersenyum. Luna pun mengikuti arah pandang ayahnya.


"Luna ...." Elin memanggil dan dengan hati-hati ia menyentuh tangan Luna. Ia menunggu respon. Ia takut Luna akan berteriak, marah atau menangis karena ia terlalu lama pergi.


Namun, Luna tersenyum tipis. "Mama."


Hati Elin seketika terasa hangat. Panggilan singkat Luna padanya berhasil membuat ia kembali meneteskan air mata. Namun, Elin tahu itu bukan air mata kesedihan. Ia yakin, itu adalah air mata kebahagiaan.


Ariel melepaskan tubuh Luna dan membiarkan Luna merentangkan tangannya untuk Elin. Dengan terharu, Ariel pun menatap Elin yang sedang mendekap tubuh Luna. Ia begitu sedih ketika ia ingat waktu Luna dilahirkan, Elin bahkan tak sempat memeluknya.


"Mama ... Mama beneran datang." Luna bicara lirih.


"Iya, Sayang. Mama minta maaf karena baru pulang," kata Elin dengan gemetar.


"Mama nggak akan pergi lagi kan? Kata Papa ... Mama bakal tinggal sama aku sama Papa juga," kata Luna dengan polos.


Elin tersenyum tipis. Ia tak tahu sesungguhnya masa depan apa yang akan menyambutnya. Ia menoleh pada Ariel yang hanya tersenyum penuh harap.


"Kamu mau Mama tinggal bareng sama kamu?" tanya Elin pada Luna..


Luna mengangguk dengan antusias dan Elin pun tertawa. "Aku juga pengen ditemani Mama."


Elin mengangguk pelan. "Mama nggak bakal kemana-mana. Mama janji."


Setelah banyak bicara ini dan itu dengan Luna, dokter pun datang. Elin meminta izin untuk segera melakukan tes agar ia tahu apakah ia cocok menjadi donor untuk Luna. Ia ingin putrinya itu segera sembuh.


"El, aku minta maaf," kata Ariel ketika Luna kembali tidur. "Aku udah bicara omong kosong pada Luna. Aku cuma pengen dia punya sedikit harapan kalau kamu bakal ada di sisi Luna."


"Itu bukan omong kosong. Aku bakal temenin Luna terus," kata Elin.


"Kamu yakin?" Elin mengangguk. "Jadi ... kamu mau tinggal bareng ...."


"Aku nggak bilang iya kalau masalah itu. Aku datang untuk Luna bukan untuk ... Kakak."


"Ah." Ariel mengangguk. "Oke. Aku ngerti. Tapi ... kamu percaya masa depan kita masih bisa kita susun lagi? Kita bertiga. Aku, kamu dan Luna."


Elin membuang napas panjang. "Hubungan kita udah lama berakhir, Kak."


"Aku tahu. Tapi perasaan aku nggak pernah berubah." Ariel meyakinkan.


Elin tersenyum tipis. "Ayo kita bicara lagi tentang masalah itu setelah Luna sembuh."


"Ya, itu bagus." Ariel tersenyum. "Yang jelas, aku senang kamu ada di sini. Seolah, sekarang aku bisa bernapas lebih lega. Kita ... aku harap kita bisa bersatu suatu hari nanti."


Elin berdebar sekarang. "Kita fokus sama kesembuhan Luna dulu. Oke?"


"Oke. Oke." Ariel mengangguk. "Tapi ... bisakah kamu jujur sekarang. Apa kamu ... juga punya harapan kalau kita bakal bersatu lagi?"


Elin menatap Ariel yang tersenyum padanya. "Aku nggak yakin. Tapi ... mungkin, kita bisa bersatu lagi. Aku ... aku juga yakin, 5,5 tahun lalu bukan akhir kisah kita. Mungkin kita bisa memulai awal yang baru dan kita bakal punya akhir kisah yang berbeda."


"Bersama Luna."


"Ya, bertiga sama Luna," ujar Elin seraya menggenggam tangan Luna. Ia juga merasakan Ariel menggenggam tangan kirinya.


Kini, Elin siap untuk akhir kisah mereka yang jauh lebih bahagia.


.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2