Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
73. Elin Bertemu Firda


__ADS_3

Di tempat lain, Elin baru saja masuk ke ruang UGD bersama Ariel. Seorang perawat dan dokter langsung mendekat dan melihat luka Elin.


"Dia terkena pisau, Sus, tapi kayaknya berdarah terus. Saya khawatir," kata Ariel.


"Ini perlu dijahit dikit aja, Pak. Mungkin pisaunya tajam," kata sang dokter. "Sebentar, ehm ... bisa duduk di sini dulu."


Elin pun dibimbing Ariel duduk di sebuah kursi kecil. Ia agak pusing karena melihat darah yang lumayan banyak, apalagi rasanya cukup perih. Ia menoleh pada Ariel yang tampak pucat.


"Kak, ini tuh cuma luka kecil," kata Elin sambil tertawa.


"Iya, tapi kamu harus dijahit juga. Gimana kalau kamu kurang darah, kamu kan lagi hamil," kata Ariel cemberut.


"Nggaklah, ini cuma kegores tapi agak dalem mungkin," ujar Elin. Ia meringis ketika obat bius disuntikkan ke jarinya. "Aku nggak tahu pisaunya tajam. Ceroboh banget aku."


"Besok kalau mau kupas dan potong buah bilang sama aku. Biar aku aja yang potong buat kamu," kata Ariel. Ia menatap jari Elin yang sedang dijahit. "Jari kamu tuh berharga banget. Kamu kerja pakai itu, gimana kalau sakit gitu, kamu nggak bisa nulis nanti."


"Ya udah, aku kan libur," ujar Elin.


"Benar, kamu istirahat aja. Jangan kecapekan di depan laptop." Ariel membuang napas panjang. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Jelas, ia sudah terlambat untuk datang ke kantornya.


"Kakak mau berangkat kerja? Aku bisa pulang sendiri kok, tenang aja."


"Nggak. Aku datang telat aja. Aku anter kamu pulang nanti," ujar Ariel. Ia jelas tak ingin Elin pulang sendiri. Selain ia khawatir, ia juga takut Elin akan kabur.


"Yakin nih?"


"Yakin banget. Udah, itu masih sakit nggak?" tanya Ariel. Elin menggeleng. "Udah selesai ya, Dok?"


"Udah, Pak. Udah beres lukanya," jawab sang dokter.


"Alhamdulillah. Ada obat atau salep gitu?" tanya Ariel lagi.


"Ya, ada. Nanti saya bikinkan resepnya dulu, Pak."


Perawat itu mendekati Ariel sementara sang dokter menulis di secarik kertas resep. "Ehm, silakan administrasinya," ujar perawat itu.


Ariel berdiri lebih dulu lalu ia menepuk bahu Elin. "Kamu di sini aja. Abis tebus obat nanti kita sarapan bareng. Oke?"

__ADS_1


Kedua mata Elin langsung berbinar. Rasa perih di jarinya lenyap seketika karena ia begitu senang bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan Ariel di luar rumah. Ia menatap jarinya yang dibalut perban kecil. Ah, ia tak keberatan sakit sedikit tetapi mendapatkan banyak perhatian dari Ariel.


"Yuk, kita ambil obat dulu di apotek," kata Ariel.


"Oke." Elin pun berdiri. Ia merasakan tangan Ariel menyusup di jemarinya dengan hati-hati. Ia sudah lama sekali memimpikan hal ini, agar ia bisa digandeng oleh Ariel.


"Kamu mau sarapan apa?" tanya Ariel.


"Terserah aja. Aku udah laper banget jadi yang cepet dan nggak pakai antri kalau ada," kata Elin.


"Ya udah, di sana ada kafe. Kita sarapan di sana aja. Aku belum sempat ngopi tadi," ujar Ariel menimpali.


"Oke."


Setelah mengambil salep luka untuk Elin, Ariel pun mengajak Elin ke mobil. Mobil itu memutar jalan selama beberapa menit lalu berhenti di sebuah kafe yang tak begitu ramai.


"Udah pernah ke sini?" tanya Elin.


"Belum, tadi berangkat itu baru aku perhatiin. Kayaknya kafe baru. Yuk!"


"Kamu temen Mas Galang, 'kan?" tanya wanita itu.


Ariel menoleh pada Elin yang mengangguk pelan. Dalam hati Ariel, siapa lagi wanita ini. Kenapa mengenal Elin dan Galang? Tak mungkin wanita ini tahu tentang hubungannya dengan Elin kan?


"Oh, Mbak Firda," gumam Elin. "Nggak nyangka ketemu Mbak di sini."


"Ini kafe aku, kamu ...." Firda menatap Ariel dan Elin bergantian lalu ia melihat ke tangan Elin yang sedang digandeng oleh Ariel. Wanita itu pun tersenyum. "Ini suami kamu ya?"


Elin tersenyum canggung. Ia menarik tangannya dari genggaman Ariel lalu mengusap tengkuknya dengan gusar.


"Maaf, kalian mau pesan menu? Sebentar, kami beneran baru buka," kata Firda yang menyadari ada kecanggungan di antara mereka. Entah karena ia sok akrab dengan Elin, atau karena memang Elin tak suka ditanyai hal pribadi, atau mungkin alasan lain. Firda tak bisa menebak.


"Kita duduk di sana," kata Ariel seraya mengedikkan dagu ke arah sudut ruangan.


"Oke." Elin pun menurut. Ia segera duduk dan membaca menu yang ditawarkan oleh kafe milik Firda. Ia merasa agak tenang karena bertemu dengan pacar dari Galang. Apalagi terakhir kali ia bertemu Galang, pria itu sudah agak curiga dengannya.


"Nanti tulis aja mau pesan apa di sini," kata Firda seraya mengulurkan sebuah buku catatan menu. Ia melambai pada seorang pelayan agar membantu mereka berdua memilih menu.

__ADS_1


"Oke, makasih, Mbak." Elin tersenyum kaku. "Oh ya, selamat atas launching kafenya ya."


"Sama-sama," ujar Firda dengan ceria. Ia menatap Ariel yang masih membaca buku menu tanpa mengacuhkan. Ia agak penasaran dengan hubungan Elin dengan Ariel. Tadinya ia mengira Ariel adalah suami Elin, tetapi ia juga agak heran karena tiba-tiba Ariel terlihat tidak memberikan banyak atensi pada Elin.


"Apa itu bukan suami Elin?" gumam Firda yang kini berdiri di balik meja pemesanan pelanggan. Ia melirik perut Elin yang agak membusung, ia yakin Elin sedang hamil. Jadi ia lekas saja menyimpulkan bahwa itu adalah suami Elin.


Atensi Firda pecah ketika ia mendengar ponselnya berdering. Ia menatap nama Galang di layar ponsel. Pucuk dicinta ulam pun tiba!


"Halo, Mas. Tumben kamu telepon, udah sarapan?" sapa Firda dengan lembut. Ia masih dalam mode PDKT dengan Galang karena Galang belum melupakan sosok Elin.


"Ehm, Mama nanyain kamu terus. Katanya kamu jarang main ke sini lagi," kata Galang di seberang.


"Oh ya? Beneran Mama nanyain aku?" goda Firda dengan nada antusias.


"Ngapain aku bohong," tukas Galang. "Kamu tahu kan, Mama pengen aku nikah sama kamu."


"Tapi kamu nggak mau kan? Aku tahu kok, Mas," ujar Firda dengan nada bosan.


"Aku mau kita biasa aja, Fir. Kita kan udah lama temenan. Kalau kamu mau main ke sini sama Mama aku nggak masalah kok," ujar Galang.


Firda terkekeh. "Tenang aja, kapan-kapan aku main. Aku baru keteteran karena grand opening kafe nih. Ini aja hari kelima udah lumayan rame yang datang."


"Alhamdulillah, aku ikut seneng pokoknya."


"Makasih, Mas. Ehm, ini ada satu pelanggan yang kamu kenal juga lho," ujar Firda seraya menatap ke arah Elin yang sedang mengobrol dengan Ariel. Semakin ia memperhatikan, semakin ia yakin pula bahwa keduanya menatap dengan penuh perhatian.


"Siapa? Teman aku?"


"Elin. Dia di sini tuh," jawab Firda. Ia terdiam selama beberapa saat karena Galang juga tidak merespon. "Dia sama suaminya. Lagi hamil tuh kayaknya."


"Suami? Kamu lihat suaminya?" Kali ini Galang terdengar lebih antusias.


"Iya. Kenapa? Kamu belum pernah lihat suami Elin?" tanya Firda.


"Belum. Kamu bisa kasih tahu aku kayak apa suaminya?"


Firda memutar bola matanya, ia tak mengerti kenapa Galang sangat penasaran dengan sosok suami Elin, tetapi ia segera berkata, "Bentar, aku kirimin fotonya."

__ADS_1


__ADS_2