
"Selamat ya!"
Elin tak henti-hentinya tersenyum hari itu. Ia baru saja merilis film solonya yang berjudul Cinta Tersembunyi. Tepat 5,5 tahun setelah ia pergi dari kehidupan Ariel.
Elin tersenyum tipis setelah acara launching itu selesai. Ia membuka ponselnya untuk melihat foto Galang. Senyumnya melebar ketika ia berkata, "Makasih banget, Mas. Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan jadi orang seperti ini."
Elin meninggalkan tempat itu dengan Cindy, sekretaris sekaligus sopir pribadinya. "Mbak Rika mau mampir ke mana?"
"Pulang aja," jawab Elin. Yah, ia sudah lama mengganti nama pemberian orang tuanya. Itu tidak mudah, semuanya dilakukan Galang dengan hati-hati. Ia ingat Galang sempat berseteru dengan ibunya, Dewi ketika ia memutuskan untuk membawa Elin.
Dan nama Rika Sawitri adalah pilihan mereka berdua. Ia mengganti nama pena dan ia langsung dikenali dengan nama itu oleh banyak orang ketika ia meliris beberapa buku. Kesuksesan Elin benar-benar dilandasi oleh ketulusan Galang untuk membantunya.
"Bentar, aku ke toilet dulu, Cin. Kamu tunggu di mobil aja," pamit Elin.
Elin meninggalkan Cindy dan masuk ke toilet. Ia hanya ingin mencuci tangan usai ia banyak bersalaman dan memberikan tanda tangan pada orang-orang. Ia selalu berdandan agar tak terlihat semirip mungkin dengan Elin yang dulu. Ia bahkan mengenakan hijab sejak setahun lalu dan ia merasa jauh lebih nyaman dengan hal ini.
"Kak Elin?"
Elin menghentikan aktivitasnya mencuci tangan di wastafel ketika mendengar suara yang tak asing. Ia tak ingin mengangkat mukanya. Ia adalah Rika, bukan Elin lagi. Kenapa ada orang yang memanggilnya demikian?
"Kak Elin!" panggil wanita itu lagi.
Elin menelan keras. Ia harus bersandiwara, pikirnya. Dengan pongah, ia mengangkat wajah lalu mengibaskan tangannya. "Kamu bicara dengan saya?"
"Ya. Aku ... Kak ... Kak Elin berubah banget," kata Gladis dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu salah orang. Saya bukan Elin," kata Elin. Beruntung waktu itu muncul Cindy dari balik pintu toilet.
"Mbak Rika dicariin sama Pak Ben. Ada meeting dadakan," kata Cindy.
Elin mengangkat bahunya di depan Gladis. Ia harus meyakinkan bahwa ia bukanlah Elin. Ia tak ingin terlibat dengan kehidupan mantan keluarganya. Apakah ia anak durhaka yang tak ingin menuruti kata-kata orang tua yang telah merawatnya? Ia tak peduli. Bukankah ketika ia di titik terendah dalam hidupnya, mereka juga tidak ingin mendengar dirinya?
__ADS_1
"Kak!" Gladis memanggil Elin lagi.
Elin mengira ia bisa membuat Gladis yakin ia bukanlah Elin, tetapi ia lupa, adiknya itu adalah gadis yang sangat gigih.
"Kak Ariel nyariin kamu, Kak!" teriak Gladis.
Langkah Elin yang sudah cukup jauh dari Gladis pun terhenti. Jantungnya berdetak liar ketika mendengar nama Ariel. Ia melebarkan kedua matanya, tetapi ia segera mengerjap. Ia tak ingin peduli. Jadi, ia kembali melangkah. Ariel tak peduli dengannya. Ariel berbahagia dengan kehidupannya sendiri!
"Luna sakit! Dia sakit keras!"
Kali ini Elin berhenti melangkah lagi. Di sebelahnya, Cindy tampak bingung karena Elin terlihat tak fokus dan seorang gadis meneriakkan kata-kata aneh di belakang mereka.
"Mbak Rika kenal cewek itu?" tanya Yuna.
Elin menoleh pada Cindy dan mengangguk. "Adik saya."
"Kak, ayo kita bicara," kata Gladis seraya mendekati Elin. Ia meraih tangan Elin yang begitu dingin. "Kak Ariel ... dia menyesal. Dia nyariin kamu terus, Kak."
"Apa yang terjadi sama Luna?" tanya Elin. Jika itu menyangkut anaknya, ia baru ingin tahu.
Kedua mata Elin memanas. Ia memang sudah lama sekali tidak melihat kehidupan Ariel. Karena ia pergi jauh, ia bahkan sering ke luar negeri bersama Galang. Terakhir kali, ia melihat Ariel dari kejauhan adalah setahun setelah ia melahirkan, Ariel terlihat baik, ceria seperti biasa. Begitu juga dengan Sinta dan Luna. Jadi, Elin memutuskan untuk benar-benar menjauh dari mereka dan memulai kehidupan barunya di Malaysia.
"Apa?" tanya Elin tak percaya. Ia berharap Gladis sedang berdusta. Namun, kedua mata Gladis seolah mengucapkan segalanya.
"Ayo pulang," kata Gladis dengan nada memohon.
Elin menggeleng pelan. Untuk apa? Apakah Luna akan mengenalinya sebagai ibu kandungnya? Elin rasa tidak. Bukankah ada Sinta di sisi Ariel dan Luna? Mereka memiliki banyak uang, Luna pasti bisa ditangani dengan baik. Hatinya merasa sangat sakit ketika memikirkan hal itu. Ia masih belum memiliki kesempatan untuk melihat seperti apa wajah Luna dari dekat.
"Kakak nggak kasihan sama anak Kakak sendiri?" tanya Gladis.
Elin menarik tangannya. "Dia pasti sembuh, 'kan?"
__ADS_1
"Dia butuh donor sumsum tulang belakang. Dan belum ditemukan yang cocok. Barangkali ... dia punya golongan darah yang sama seperti Kakak. AB rh+," kata Gladis.
Elin mengangguk. Oh, jadi ia hanya dibutuhkan untuk datang dan memberikan sumsum tulang belakang bagi Luna? Barangkali Ariel mencarinya karena hal itu.
"Mbak Rika ... kita harus datang ke meeting," kata Cindy mengingatkan. Ia tahu pembicaraan ini cukup penting, tetapi Elin terlihat tidak nyaman.
Elin mengangguk pada Cindy. "Maaf, Gladis. Aku masih ada banyak pekerjaan. Aku ... aku sudah menyerahkan Luna pada Kakak dan Mbak Sinta 5,5 tahun yang lalu. Kenapa sekarang baru nyari aku? Karena mereka butuh donor? Karena mereka mau memanfaatkan aku lagi?"
Elin menatap Gladis dengan nada mencela. Ia lalu membalik badan dan tak mempedulikan panggilan Gladis lagi. Ia membelok di koridor lalu mencari toilet lain yang sepi. Di sana, Elin menangis lebih keras karena ia menyesal. Seharusnya ia bertanya lebih banyak tentang Luna, seharusnya ia menemui Luna, seharusnya ... ia memberikan semuanya untuk Luna.
***
Gladis mengusap wajahnya ketika Elin tak terlihat lagi. Dua orang satpam mendekatinya ketika ia berusaha mengejar Elin yang kini dikenali sebagai Rika, seorang penulis naskah film yang tengah naik daun.
Gladis tak berhenti menangis ketika ia keluar dari gedung dan mencoba menelepon Ariel. Dengan gemetar, ia menunggu Ariel menjawab panggilannya.
"Halo, Gis," sapa Ariel.
"Kak! Aku ketemu sama Kak Elin!" pekik Gladis. Ia menunggu respon Ariel, tetapi kelihatannya Ariel terlalu kaget karena mendengar hal ini jadi hanya bisa membeku. "Dia di sini, Kak. Dia Malaysia. Aku udah bilang ... Luna sakit. Dia ...."
"Dia masih marah." Ariel menebak di seberang. Karena Elin tak terlihat lagi sejak bertahun-tahun lalu, ia bisa mengerti perasaan Elin.
"Ya. Dia nggak mau pulang, Kak. Dia ... aku bakal bujuk dia buat pulang. Kakak tunggu Luna aja di rumah sakit," kata Gladis dengan terisak-isak.
"Aku pengen ke sana juga," kata Ariel pilu. "Tapi kondisi Luna nggak baik sekarang. Dia masih harus dikemo."
"Aku tahu. Aku yang bakal bujuk Kak Elin. Dia pasti pulang," kata Gladis meyakinkan.
"Makasih, Gladis. Kamu ... kamu tahu bahwa kehidupan Elin sekarang? Dia baik-baik saja?" tanya Ariel.
"Sangat baik! Dia udah sukses," kata Gladis setengah menangis setengah tertawa.
__ADS_1
Ariel terisak di seberang. Ia merasa bersyukur sekaligus lega jika benar Elin memiliki kehidupan yang baik. Sangat baik.
"Kakak tunggu kabar aku. Aku bakal bawa Kak Elin pulang."