
"Apa aku aja yang di sofa?" tanya Elin lirih. Ia mencopot heatsetnya lalu sedikit menoleh ke belakang. Dengan begitu, Elin bisa merasakan wajah dingin Ariel di tengkuknya yang terbuka. Ah, ini serangan!
"Nggak, begini aja," jawab Ariel seraya mendaratkan kecupan di tengkuk Elin.
Elin spontan merasakan getaran luar biasa di tubuhnya. Dekapan Ariel begitu erat, tetapi juga lembut. Tangan dan tubuh Ariel yang semula dingin karena baru selesai mandi, perlahan menjadi lebih hangat. Elin merasa sangat nyaman dengan posisi seperti ini.
Perlahan, Elin mendaratkan tangannya di punggung tangan Ariel yang ada di perutnya. Ia merasa seperti mereka sedang menyentuh bayi mereka bersama. Ariel mengubah posisi, ia melepaskan perut Elin, lalu menggenggam erat tangan Elin yang hangat.
Tangan Ariel terus menggenggam tangan Elin selama beberapa saat hingga akhirnya ia kembali mengusap perut Elin dengan lembut, lalu tangan itu bergerak naik. Elin tak berdaya karena serangan yang diberikan Ariel di sana.
"Kak," panggil Elin gugup.
Ariel menjawab dengan kecupan-kecupan lembut lagi di tengkuk Elin. Ia menyentuh bagian tubuh Elin lebih intens hingga Elin benar-benar melayang. Terlebih ketika jemarinya menyusup di balik baju tidur dan menyingkap bra yang menutupi gundukan kenyal itu.
Elin tak kuasa menolak, serangan demi serangan yang diberikan oleh Ariel membuatnya mengeluarkan suara terlarangnya. Ia membalik badan seketika dengan napas terengah. Ditatapnya wajah Ariel yang begitu tampan. Ia menyentuh wajah itu, ia benar-benar berhasrat untuk mencium bibir Ariel. Segera, tetapi ia juga takut.
"Kita nggak seharusnya begini," ujar Elin gugup. "Kita punya perjanjian."
"Lupain aja perjanjian itu," kata Ariel. Ia mer emas sejenak dada Elin yang ada di depannya lalu mengusap punggung Elin naik turun. "Kamu istri aku. Aku juga harus kasih kamu nafkah batin. Aku nyesel udah bikin kamu sakit hati sama aku, El."
Elin mengusap pelan bibir Ariel. Ia tak tahan lagi untuk menciumnya. "Kita cuma punya 5 bulan lagi."
__ADS_1
"Kalau gitu, biarin aku bikin kamu bahagia selama 5 bulan itu," bisik Ariel.
Elin mendekatkan bibirnya ke bibir Ariel dan ia mencium lebih dulu. Ah, ia tak peduli dengan waktu 5 bulan yang tersisa untuk menjadi istri Ariel. Ia sudah dibuai malam ini dan ia tak ingin kehilangan kesempatan. Ariel dengan cepat memberikan respon atas ciuman Elin. Ia tahu, Elin tak akan menolaknya.
Ciuman lembut itu berubah menjadi lebih panas dalam beberapa detik. Ariel mengubah posisi dengan cepat, ia mengungkung tubuh Elin dengan menumpu berat badan di siku dan lutut agar tidak menindih perut Elin. Setiap inchi wajah Elin tak luput dari ciuman Ariel yang kemudian berpindah ke bagian rahang, leher dan bahu.
Ariel dengan terampil melucuti pakaian Elin sementara ia hanya perlu menyibak handuk yang melilit di pinggangnya. Ia kembali menyerang setiap jengkal tubuh Elin dengan lembut sekaligus ganas kemudian ia mencium bibir Elin.
Tak lama, Ariel pun mencoba menerobos masuk ke tubuh Elin. Ia baru beberapa kali bercinta dengan Elin dan kini, ia melakukannya lagi. Elin tersentak pelan, ketika Ariel sudah masuk sempurna. Ia menatap bagian tubuhnya yang menyatu dengan Ariel. Yah, ini yang ia rindukan. Ia menginginkannya, jadi ia membiarkan Ariel melakukan apa saja padanya malam itu.
Selama bermenit-menit, mereka berdua tenggelam dalam rasa nikmat yang luar biasa. Elin tak peduli jika rambutnya semakin kusut, ia juga tak peduli jika suaranya mengeras. Ia hanya ingin menikmati apa yang ia dapatkan.
Elin masih ingat bagaimana Sinta menjerit keenakan malam itu. Entah posisi seperti apa yang mereka lakukan, Elin tak peduli lagi. Ia juga bisa merasakannya, ia bisa melakukannya dengan Ariel. Dan kini, ia benar-benar seperti kucing nakal yang sedang memporak-porandakan pertahanan Ariel. Jika Sinta bisa membuat Ariel puas, ia pasti juga bisa. Bahkan, ia mungkin yang lebih baik!
"Kakak tidur di sini kan?" tanya Elin seraya menatap wajah Ariel.
Di depannya Ariel mengangguk. "Ya. Aku nggak ke mana-mana."
Elin mengangguk lega. Ia mendaratkan keningnya di dada Ariel. "Aku selalu sedih setiap kali Kak Ariel ninggalin aku di kamar setelah kita ... sebenarnya aku nggak pengen ditinggal begitu aja."
"Aku tahu. Maaf," ujar Ariel seraya mengusap puncak kepala Elin dan mencium di sana. "Aku bingung banget waktu itu. Aku tahu, kita udah nikah, tapi kita juga saudara. Kamu adalah adik aku selama bertahun-tahun, dan aku selalu ngerasa bersalah setelah ngelakuin itu sama kamu. Aku cuma bingung."
__ADS_1
"Dan sekarang? Malam ini? Apa Kakak juga nyesel?" tanya Elin dengan berlinang air mata.
Ariel menggeleng pelan. Ia mengangkat dagu Elin agar mereka bisa bertatapan. "Aku nggak bakal nyesel. Malam ini, kamu adalah istri aku. Begitu juga dengan malam-malam yang akan datang."
Ariel mencium bibir Elin kembali. Dan itu membuat Elin merasa bahagia. Ia memeluk Ariel, tetapi ia tak lantas tidur atau merasa tenang. Masih ada banyak hal di kepalanya saat ini.
"Tapi aku nggak bakal bisa jadi istri Kakak terus," ujar Elin sedih. "Aku cuma punya waktu 5 bulan."
Ariel mengangguk lalu ia mendekap lebih erat tubuh Elin. "Aku nggak nyangka, gara-gara pernikahan ini aku udah bikin kamu kayak gini. Apa kamu bener-bener punya perasaan lebih ke aku?"
Elin mencebik. Sebenarnya ia sudah lama sekali mencintai Ariel, tetapi ia takut jika mengakuinya semua akan berubah.
"Aku berharap, perasaan Kakak juga berubah karena pernikahan ini," ujar Elin. Ariel terdiam, begitu juga Elin selama beberapa saat. "Tapi aku tahu, bahkan jika perasaan Kakak berubah, pasti bakal tetep milih Mbak Sinta. Benar?"
Ariel mengusap punggung Elin dengan lembut. "Maafin aku."
Elin tak ingin menangis malam itu, tetapi lagi dan lagi air matanya mengalir tanpa permisi. "Kakak nggak perlu minta maaf. Ini bukan salah Kakak. Aku tahu Kakak cinta banget sama Mbak Sinta."
Ariel membuang napas panjang. Dadanya bergemuruh saat ini, karena tadinya ia berusaha untuk memperbaiki perasaan Elin, tetapi sepertinya ia hanya akan membuat Elin lebih terluka lagi.
"Sebenarnya, aku nggak tahu dengan perasaan aku sendiri," ujar Ariel jujur. "Aku selalu ngeliat kamu sebagai adik angkat aku, tapi sekarang kamu sedang mengandung bayi aku. Kita bahkan beberapa kali tidur bareng." Ariel menggeleng pelan. "Aku nggak bisa ngeliat kamu sebagai seorang adik lagi tapi rasanya juga salah kalau aku mencintai kamu."
__ADS_1
Elin tersenyum getir. Ia sudah tahu ini. Sejak awal ia tahu, perasaannya untuk Ariel tidak akan terbalaskan. Namun, ia juga menikmati permainan ini.
"Pernikahan kita masih sekitar 5 bulan lagi," ujar Elin. "Bisakah Kakak berpura-pura mencintai aku selama itu?"