Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
74. Keegoisan Ariel


__ADS_3

Galang menatap foto kiriman Firda dengan mata membelalak. Bagaimana tidak? Elin tampak duduk bersama dengan Ariel di kafe Firda. Jadi benar, Elin sudah menikah dan suami Elin adalah kakak angkatnya sendiri? Bukankah Ariel memiliki seorang istri?


"Kenapa bisa begini?" gumam Galang tak mengerti. Ia menutup percakapannya dengan Firda lalu mencari kontak Elin. Ia ragu-ragu hendak mengirim pesan. Bahkan, bertanya kabar saja mereka tak pernah lagi.


"Tak mungkin Elin menikah dengan Mas Ariel. Mas Ariel juga punya istri dan mereka saudara angkat," ujar Galang lagi.


Tok! Tok!


Pikiran Galang spontan buyar karena ketukan pintu. Ia menoleh dan melihat ibunya masuk. Wanita bernama Dewi itu langsung duduk di kursi kerja Galang.


"Kamu nggak sarapan? Nggak ke kantor?" tanya Dewi.


"Nggak, Ma. Ini nanti agak siang dikit aku mau ke lokasi syuting. Sarapan nanti aja, santai," kata Galang. Ia menyimpan ponselnya cepat karena ia sedang membuka kontak Elin.


Sayangnya, Dewi sudah lebih dulu melirik nama Elin di sana. "Kamu masih berhubungan wanita itu?"


"Mama kenapa sih? Aku sama Elin nggak ada hubungan apa-apa kok," jawab Galang.


"Bohong kamu. Berapa bulan kamu dekat dengan Firda tapi nggak ada kemajuan? Udah 5 bulan, Lang. Kamu masih nggak bisa melupakan Elin?" tanya Dewi lagi.


"Aku butuh waktu, Ma. Lagipula, Firda itu temen aku. Aku nggak cinta sama dia meskipun kami sering bareng. Udah deh, biar aku yang ngurus masalah percintaan aku," kata Galang dengan nada jengkel.


"Mama tuh khawatir, kamu hampir 26 tahun dan kamu ini udah sukses banget. Harusnya kamu udah mikir nikah, Lang. Mama setuju kalau kamu serius sama Firda, langsung nikah aja. Mama jamin kamu pasti bisa ngelupain Elin kalau kamu udah ngrasain nikmatnya menikah," kata Dewi antusias.


"Nggak, Ma. Aku nggak bisa kayak gitu. Kasihan Firda kalau aku cuma manfaatin hatinya," kata Galang seraya berdiri. "Mama tenang aja, aku udah lupain Elin kok. Lagian dia udah nikah, dia juga udah mau punya anak jadi ... Mama nggak perlu khawatir."


"Justru itu Mama khawatir, Lang. Kamu kayaknya patah hati banget sama Elin. Apalagi Elin udah menikah."


Yah, itu benar. Galang sudah patah hati dan rasanya sangat sulit menyembuhkan luka hatinya. Terlebih ketika ia tahu ada banyak rahasia yang disimpan Elin. Ia tak bisa menipu dirinya sendiri bahwa ia mencemaskan Elin. Elin adalah gadis ceria dengan semangat menggebu-gebu dan punya mimpi besar. Elin juga sangat berbakat, tetapi semuanya padam karena ia menikah dan hamil. Itu sangat aneh bagi Galang.


"Aku nggak mau bahas Elin, Ma. Udah deh. Aku mandi terus sarapan aja daripada ngelantur gini."

__ADS_1


Dewi membuang napas panjang. Ia tak tega melihat putra semata wayangnya bersedih karena patah hati. Padahal sudah hampir setengah tahun sejak ia diperkenalkan dengan Elin. Apakah ia salah sudah bersikap sombong tak menerima Elin dulu?


***


Sementara itu, Ariel dan Elin baru saja meninggalkan kafe Firda. Elin hanya melambaikan tangan pada Firda ketika ia keluar dari kafe tersebut. Ia membuang napas panjang karena merasakan tatapan penuh tanya Firda padanya.


"Dia nggak tahu apa-apa tentang pernikahan kita kan?" tanya Ariel begitu mereka masuk mobil.


"Nggak kok. Tenang aja," jawab Elin.


"Dia siapa?"


"Kayaknya pacar Pak Galang," jawab Elin.


Ariel menoleh ke arah Elin. Ia hampir melupakan Galang. Padahal terakhir kali bertemu ia yakin Galang terlihat sangat curiga kenapa ia bisa bersama Elin di pulau Nareswari.


"Kamu masih berhubungan dengan Galang?" tanya Ariel lagi.


"Oke, aku percaya kok. Tapi, sekarang Galang udah punya pacar. Jadi, dia udah nggak suka sama kamu kan?"


Elin menggeleng pelan. "Kami nggak ada hubungan apa-apa, Kak. Beneran."


Ariel mengangguk. Ia mulai melajukan mobilnya dengan perlahan. "Kamu tahu, di pulau Nareswari, aku sempat kepikiran kamu bakal kabur lagi. Apalagi ada di sana. Aku ngira, kamu bersama-sama dengan Galang di sana."


Elin mendengus. "Aku nganggep Pak Galang itu atasan aku. Aku nggak mungkin berduaan sama Pak Galang di pulau itu."


Ariel mengusap pipi Elin dengan lembut. "Aku percaya kok."


"Tapi kenapa? Kenapa Kakak mikir gitu? Gimana kalau aku beneran lagi barengan sama Pak Galang? Apa Kakak bakal marah?" tanya Elin penasaran.


"Kamu masih tanya?" Ariel menatap Elin lurus selama beberapa detik. Ia segera menoleh ke jalanan lagi karena sedang menyetir. "Tentu aja aku bakalan marah. Kamu itu istri aku. Aku nggak suka liat kamu sama laki-laki lain."

__ADS_1


Elin tertawa kecil. "Apa Kakak cemburu?"


"Apa?" Ariel menatap Elin kaget. Ia agak berdebar karena pertanyaan Elin. Yah, sesungguhnya ia cemburu berat kala itu. Namun, waktu itu ia belum yakin dengan perasaannya. Sekarang, ia sudah sering bersama Elin dan ia yakin apa yang ia rasakan adalah cinta. Sayangnya, Ariel tahu cinta mereka adalah hal yang terlarang.


"Nggak kok. Aku cuma bercanda," kata Elin. "Kakak nggak mungkin cemburu kan?"


"Walaupun aku cemburu, itu nggak bakal ngerubah hubungan kita, El. Kamu tahu itu," kata Ariel.


"Tapi aku seneng kalau Kakak cemburu sama aku. Artinya, Kakak ada rasa sama aku walaupun cuma sedikit." Elin menyatukan ujung telunjuk dan jempolnya lalu mengedipkan mata kanannya untuk membuat gestur yang berarti sangat sedikit.


"Sebenarnya sekarang aku nggak tahu lagi bagaimana dengan perasaan aku ke kamu, ke Sinta. Aku merasa aku adalah pria paling egois di dunia. Aku ... aku juga ingin memiliki kamu, tapi kamu berhak memiliki kehidupan yang lebih baik, El. Aku nggak kamu kamu terus-terusan menjadi orang kedua di hati aku," kata Ariel.


Orang kedua, batin Elin. Yah, itulah dia sekarang. Orang kedua di hati Ariel dan orang ketiga di rumah tangga Ariel dan Sinta.


"Jadi Kakak benaran mau ngusir aku setelah bayi ini lahir?" tanya Elin seraya mengusap perutnya.


"Tentu aja nggak. Aku udah bilang kamu bisa menyusui bayinya," kata Ariel. "Mungkin nggak perlu 2 tahun. Hanya selama 6 bulan atau ...."


"Dan setelah itu?" tanya Elin memotong ucapan Ariel.


Di sebelahnya Ariel membuang napas panjang. "Kita pikirkan nanti aja. Sekarang ... kita jalani aja dulu."


"Kakak bener-bener egois," ujar Elin dengan mata basah.


"Aku minta maaf," kata Ariel. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia merengkuh wajah Elin lalu menciumnya tanpa aba-aba.


Elin terkesiap karena ulah Ariel yang mendadak. Selama ini, ia hanya berciuman di kamar. Dan kali ini, Ariel memberinya serangan di dalam mobil.


"Kak ...." Elin menatap Ariel dengan gugup. Ia bahkan tak sadar Ariel sudah tak mengenakan sabuk pengaman sehingga pria itu lebih mudah menjamah tubuhnya.


"Aku emang egois, El. Kamu ingat itu. Jadi, jika nanti tiba saatnya kita berpisah, kamu bisa lebih cepat ngelupain aku." Ariel menarik pinggang Elin lebih erat dan kembali mencium bibir manis Elin.

__ADS_1


__ADS_2