
Ketika Elin masuk ke kamar, ia segera ke toilet. Tangannya masih terasa begitu pedih karena luka gores yang cukup dalam. Elin membasuhnya di wastafel lalu ia mencari-cari kotak obat yang selalu ada di ransel kerjanya.
Elin mengabaikan gedoran di daun pintu. Ia juga mendengar Ariel memanggil namanya, tetapi ia tak ingin peduli. Ia sangat kesal pada dirinya sendiri yang begitu bodoh karena merasa terluka setelah melihat dan mendengar adegan panas Ariel.
"Bego banget. Kenapa aku bertingkah kayak seorang istri yang lagi mergokin suaminya selingkuh sama wanita lain!" desis Elin seraya mengambil obat merah. Ia meneteskan di telunjuknya yang menganga. Dengan telaten, Elin membalut lukanya sendiri.
Elin juga memeriksa telapak kakinya yang terkena pecahan kaca di beberapa bagian. Pedih, tentu saja. Namun, itu tak sebanding dengan luka di hatinya. Jika kemarin ia masih bisa menahan rasa cemburu, kali ini ia tak sanggup lagi. Rasanya, hatinya sudah remuk dan tak berbentuk lagi.
"Jangan nangis. Bodoh!" umpatnya pada diri sendiri. Elin mengusap wajahnya. Entah kenapa air matanya benar-benar tidak sopan karena tak mau menurut. Tanpa permisi air matanya terus mengalir.
Sama seperti Ariel, Elin pun tak bisa tidur malam itu. Elin sudah menangis selama bermenit-menit hingga ia merasa begitu sepi. Ariel dan Sinta mungkin sudah masuk ke pembaringan mereka. Dan memikirkan itu membuat Elin merasa lebih sakit hati.
'Salah nggak kalau aku marah?' batinnya. 'Bukannya aku juga istri Kak Ariel. Wajar kan kalau aku cemburu dan kesel?'
Elin semakin tenggelam dalam duka, ia membenci dirinya yang begitu bodoh terjebak dalam surat perjanjian itu. Yah, ia sudah menuruti semua butir pasal perjanjian itu. Dan nyatanya, ia adalah sangat dirugikan. Ariel dan Sinta hanya ingin bayinya. Ia sama sekali tidak mendapatkan keuntungan.
1 miliar. Yah, ia akan mendapatkan uang sebanyak itu. Namun, rupanya rasa sakit yang harus ia tanggung tidak bisa terbeli. Elin begitu marah malam itu hingga ia memutuskan untuk tak peduli lagi dengan isi perjanjian. Ia ingin pergi! Tidak setelah bayinya lahir, tapi sekarang!
Elin bergegas mengambil beberapa pakaian bersih miliknya. Ia memasukkan asal ke dalam ransel. Tak lupa ia mengecek dompet, ia bernapas lega ketika mendapati ia sudah mengambil uang tunai beberapa hari yang lalu. Jika ia pergi dan menggunakan debit, dalam sekejap Ariel akan tahu di mana ia pergi.
"Laptop!" ujarnya. Ia memiliki banyak hal berharga di sana, termasuk pekerjaannya. Ia tak akan pergi tanpa laptop itu jadi ia langsung menyurukkannya ke dalam ransel. Elin mengambil jaket lalu ponsel.
Dengan gelisah, Elin berselancar ke aplikasi GoMobil lalu memesan, ia tidak menunjukkan lokasinya sekarang, tetapi ia memilih lokasi yang tak begitu jauh dari rumah Ariel. Di persimpangan perumahan. Elin menunggu cukup lama untuk mendapatkan mobil karena ini sudah hampir jam 3.00 dini hari. Namun, ia bernapas lega ketika mendapatkan seorang driver yang mengambil pesanannya.
__ADS_1
Elin berpikir lagi, apa yang perlu ia bawa. Ia menatap voice recorder pemberian Ariel. Dengan ragu, ia akhirnya mengambilnya. Ia mengantongi benda mungil itu di jaketnya.
Dengan susah payah, Elin pun membawa ranselnya keluar kamar. Ia menatap pintu kamar Ariel dan Sinta selama beberapa detik. Mereka mungkin sudah tidur lelap dalam mimpi indah, pikirnya. Elin mendengus. Ia menggeleng pelan, ia tak ingin menangis lagi jadi ia hanya berharap Ariel tak akan mencegahnya pergi pagi ini.
"Berat banget," gumam Elin ketika ia menyeret ranselnya yang penuh. Ia tak sanggup mencangklongnya lantaran terlalu penuh.
Dengan hati-hati, Elin membuka pintu depan. Ia berdebar keras ketika daun pintu itu berderit. Ia menengadah ke lantai atas dan bernapas lega karena Ariel atau Sinta tidak muncul. Dengan cepat, ia menyusup ke luar. Ia berjalan secepat mungkin sembari mengangkat ransel ke pintu gerbang. Ia merutuk dalam hati karena halaman rumah ini cukup besar, jadi untuk keluar rumah saja ia sudah kelelahan.
"Dikit lagi," ujar Elin menyemangati dirinya sendiri ketika ia berhasil keluar dari pintu gerbang besar rumah Ariel.
Elin bersyukur tak ada lagi satpam yang disewa oleh Ariel untuk menjaga rumahnya. Karena dulu, ketika ia pertama kali pindah ada seorang satpam yang berjaga di depan. Namun, karena satpam itu harus pulang kampung, Ariel belum lagi menyewa seseorang. Mungkin, karena Ariel juga tak ingin menambah daftar orang yang tahu tentang pernikahan rahasianya.
Dengan terengah-engah, akhirnya Elin sampai di persimpangan jalan. Ia beruntung, mobil yang ia sewa juga sudah datang. Sang sopir langsung turun lantas membantu Elin memasukkan ranselnya ke dalam mobil.
"Iya, Neng. Ini beneran ke Pantai Serayu yang ada di Pulau Nareswari?" tanya sopir meminta konfirmasi.
"Iya, Pak."
"Itu lumayan jauh hampir 2 jam ke pelabuhan. Nanti harus naik feri juga, Neng. Kapalnya masih agak siang baru ada jadwal. Saya barusan cek."
"Saya tahu, Pak. Tenang aja, saya ada urusan di sana," ujar Elin berdusta. "Saya mau dianter sampai sana, nanti saya bayar Bapak berapapun biayanya."
"Oke, Neng."
__ADS_1
Elin menyandarkan kepalanya di kaca mobil. Ia mengusap perutnya dengan lembut. Jika ia pergi seperti ini, ia bisa memiliki bayinya, tetapi itu artinya ia sudah mengkhianati perjanjian yang ia buat dengan Ariel dan Sinta. Bagaimana jika ia dituntut? Atau mungkin ia akan tetap memberikan bayi itu pada Ariel dan membuat pria itu bahagia karena sudah mendapatkan bayi?
Elin sama sekali tidak memiliki rencana, mungkin ia hanya akan menepi lebih dulu selama beberapa hari atau minggu. Mungkin, ia akan menemukan jawaban setelah ia sampai di Pantai Serayu.
***
Sementara itu, ketika bangun dari tidurnya, Ariel lekas mandi dan menunaikan ibadah sholat subuh. Ia membangunkan Sinta lalu segera keluar dari kamar. Ia hanya tidur beberapa jam usai pergulatan batin tadi malam.
"El!" panggil Ariel seraya mengetuk pintu kamar Elin. Ia mengetuk beberapa kali lalu mencoba memutar kenop pintu. "Nggak dikunci."
Jantung Ariel berdebar keras ketika menyadari pintu kamar Elin tak dikunci lagi. Ia segera masuk lalu menatap ke sekeliling. Elin tak ada! Ia mengecek di toilet, tetapi Elin juga tak ada.
"Kamu di mana, El?" gumam Ariel. Ia berlari ke luar kamar lalu melongok ke lantai satu. Namun, eksistensi Elin sama sekali tak ada. Ia kembali ke kamar Elin lalu mengedarkan matanya. Laptop Elin tak ada! Ariel tersadar, Elin sudah pergi dari rumah.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Sinta. Ia baru saja hendak membuat sarapan. Namun, ketika ia keluar kamar, ia melihat Ariel begitu panik.
"Elin pergi. Aku harus cari dia," ujar Ariel panik. Ia meninggalkan Sinta yang masih terbengong. Dengan cepat, Ariel menyambar ponsel beserta kunci mobilnya yang ada di atas nakas.
"Kamu mau cari Elin ke mana, Mas?" tanya Sinta yang ikut menyusul Ariel ke kamar.
"Ke mana aja. Dia nggak mungkin jauh. Kamu cek CCTV, liat jam berapa Elin pergi dari rumah dan dia pergi dengan siapa. Kabari aku!" ujar Ariel tegas.
Sinta mengangguk. Akan gawat jika Elin pergi begitu saja. Ia masih membutuhkan Elin dan bayinya. Ia pun menarik lengan Ariel kuat-kuat.
__ADS_1
"Kamu harus dapatkan kembali Elin, Mas. Dia bawa bayi kita. Jangan sampai Elin kabur!"