Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
26. Pekerjaan Mulai Kacau


__ADS_3

Usai melepaskan kepergian Ariel, Sinta pun mulai menyiapkan sarapan untuk Elin. Ia membawa roti dengan selai, jus jeruk dan bubur ayam buatannya sendiri. Begitu tiba di kamar, Elin sudah meringkuk di tempat tidurnya dengan selimut menutupi badan.


"El, kamu tidur lagi?" tanya Sinta seraya meletakkan baki berisi makanan di atas nakas. Ia duduk di sebelah Elin lalu menepuk-nepuk punggungnya.


"Ehm, aku ngantuk, Mbak," jawab Elin. Ia mengerjap-ngerjap untuk mengumpulkan kesadarannya. "Kak Ariel udah berangkat, Mbak?"


"Udah. Setengah jam-an yang lalu deh," jawab Sinta.


Elin menatap Sinta kecewa. Jadi, Ariel benar-benar pergi tanpa melihatnya? Padahal ia sedang lemas setengah mati, pikirnya.


"Kamu makan dulu, ini aku juga bikinin bubur. Jangan lupa diminum vitamin dari dokternya," kata Sinta. Ia mengecek botol vitamin yang ada di laci nakas Elin. "Kamu minum kan?"


"Iya, Mbak. Tenang aja," ujar Elin. Ia mendudukkan dirinya lalu mengambil ponsel. "Mbak ini nanti aku makan, aku mau telepon Pak Galang dulu. Tadi aku belum izin."


"Oh, ya udah. Kamu makan kalau udah siap telepon ya. Walau nggak enak, kamu harus tetep coba makan kasian janinnya," ujar Sinta.


Elin hanya mengangguk. Ia menunggu hingga Sinta meninggalkan kamarnya lalu menekan tombol panggil pada kontak Galang. Panggilannya tidak lantas dijawab jadi Elin mencoba hingga 3 kali.


"Assalamualaikum, Elin?" sapa Galang.


"Waalaikumsalam, Pak. Saya mau izin, hari ini saya nggak masuk," ujar Elin.


"Kamu nggak masuk? Hari ini proses casting pertama lho." Galang mengingatkan Elin.


Elin terkesiap. Ia menoleh ke kalender meja yang tergantung di tembok. "Ya ampun, saya lupa, Pak."


"Kamu izin kenapa? Kamu sakit atau ada masalah?" tanya Galang.


"Ehm, saya nggak enak badan, Pak. Bisa diundur nggak ya?" tanya Elin seraya mengusap tengkuknya.


"Ya nggak bisa, El. Ini kan udah dijadwalkan. Kamu beneran sakit?"


"Iya, Pak. Bisa saya lewatkan untuk hari ini, Pak? Besok saya pasti datang," kata Elin mencoba bernegosiasi.


"Ya udah terserah kamu. Kamu istirahat aja. Tapi besok kamu harus masuk. Kamu kan yang harus ikut milih siapa aja aktor sama aktris yang harus masuk dalam film kita," kata Galang.


"Iya, Pak. Saya paham," tukas Elin cepat. "Saya izin sehari, Pak."


"Oke."


Elin membuang napas panjang usai menutup teleponnya. Benar, ia masih memiliki deretan pekerjaan panjang yang harus ia selesaikan. Jika sudah melewati tahap casting, pembacaan naskah dan pengambilan adegan, ia bisa mengundurkan diri. Filmnya pasti akan tetap diproduksi.


Elin menegakkan dirinya lalu mulai makan, ia tidak ingin selemah ini hanya karena sedang hamil, pikirnya dalam hati. Namun, apa yang ia makan benar-benar tidak sesuai ekspektasi. Lidah dan perutnya seolah tidak mau diajak bekerja sama. Ia hanya memakan beberapa sendok bubur dan menyesap jus jeruk itu hingga tersisa separo.


Apa yang diinginkan Elin sekarang hanyalah ada di dekat Ariel. Entah kenapa, ia sudah terbayang dengan apa terjadi tadi malam. Ia hampir mencium bibir Ariel. Sayangnya, Sinta sudah lebih dulu muncul.

__ADS_1


Elin mencebik lalu kembali berbaring. Bahkan untuk mandi saja ia sangat malas. Ia mengira waktu 9 bulan untuk mengandung bayi itu akan berlalu dengan cepat, sayangnya bahkan 1 hari saja terasa begitu lambat.


***


Elin merasa sedikit lebih bersemangat keesokan harinya. Ia sudah sarapan dan bersiap ke kantor. Ia tidak sabar untuk mengikuti proses casting, ia sendiri yang akan ikut memilih pemeran utama filmnya.


"Kamu udah sehat?" tanya Ariel ketika mereka berdua saja di dalam mobil.


"Udah kok, kemarin aku teler banget. Kalau hari ini aku semangat," jawab Elin.


"Alhamdulillah," gumam Ariel.


Mobil Ariel memelesat cepat di jalanan lalu berhenti di depan gedung tempat bekerja Elin. Ia menatap Elin yang sedang merapikan riasannya.


"Udah sana turun, udah cantik," ujar Ariel.


Elin menoleh sekilas pada Ariel. Seketika ia merasa perutnya dipenuhi kupu-kupu. Ariel mungkin mengusirnya karena ia juga harus buru-buru berangkat ke kantornya sendiri, tetapi pujian singkat Ariel berhasil membuatnya tersipu.


"Ya, aku kerja dulu."


Elin melihat Ariel mengangguk pelan. Ia lantas turun dari mobil dan berjalan menuju lobi. Di sana, ia bertemu dengan Susi dan Mirna. Ia menyapa mereka seperti biasa.


"Wah! Akhirnya datang juga. Sakit apa kemarin?" tanya Susi.


"Jangan sakit dong, El. Kerjaan kamu lagi lagi anget-angetnya," kata Mirna.


"Iya, semoga aja bisa sehat terus."


Elin mulai mengecek jadwalnya di laptop. Kedua manik matanya bergerak mengikuti kata-kata yang ia baca. Hari ini ia harus meninggalkan kantor untuk melihat proses audisi calon pemeran Surya untuk Citra, naskahnya yang akan segera difilmkan. Elin berdebar keras, karena ini adalah mimpinya. Sebentar lagi mimpinya akan terwujud.


Sayangnya, kondisi Elin benar-benar tidak bagus ketika hari mendekati siang. Ia sudah menahan mual dan pusing sejak berangkat tempat audisi. Ditambah ketika makan siang bersama tim produksi, ia hampir tidak bisa menelan sesuatu, bahkan air mineral saja terasa pahit di mulutnya. Elin sangat ingin pulang, tetapi proses audisi harus ditunda hingga pukul 2.00.


"Kamu masih sakit?" tanya Galang yang melihat wajah pucat Elin.


"Iya, Pak. Saya pusing banget," jawab Elin tak tahan lagi.


"Kamu hampir nggak makan tadi. Kamu mau ke klinik aja?" tanya Galang lagi. Ia sudah sangat khawatir jika Elin pingsan. Apalagi wajah Elin hampir seputih kertas. "Susi! Susi!"


Galang berdiri seraya memanggil Susi. Ia mendekati Elin yang hampir ambruk dari kursinya. Tubuh lemas Elin spontan mendarat di tubuh Galang.


"Elin kenapa, Pak?" tanya Susi cemas.


"Saya nggak tahu, katanya pusing," jawab Galang. "Biar saya bawa ke klinik, kamu temenin dia ya."


"Audisinya gimana, Pak?" tanya Susi.

__ADS_1


"Gampang, ini kan belum mulai. Yang penting Elin biar diperiksa dokter dulu," kata Galang seraya mengangkat tubuh lemas Elin.


Elin menggeliat pelan, ia ingin turun dari gendongan Galang karena tak ingin bertemu dengan dokter yang memeriksanya. Namun, ia sudah sangat lemas sehingga ia tidak punya tenaga lagi untuk melawan. Begitu ia membuka mata, ia sudah ada di ruangan klinik yang ada di lantai satu gedung tersebut.


"Kamu nggak papa, El?" tanya Galang dengan nada khawatir. Ia ingin sekali menggenggam tangan Elin, tetapi ia mengurungkan niatnya. "Kamu tunggu bentar ya, dokternya belum datang."


"Sa-saya nggak papa, Pak. Saya ... saya mau pulang aja," ujar Elin lemas.


"Ya nanti, kamu harus diperiksa," tukas Galang.


Elin menggeleng pelan. Dengan dibantu Susi, ia meneguk teh manis hangat yang lumayan membuatnya lebih segar. Ia mencoba duduk lalu mencari-cari Galang. Sayang, Galang sudah berlalu karena harus meneruskan pekerjaannya.


"Aku mau telepon," ujar Elin. "Kamu liat tas aku nggak? Aku mau minta dijemput."


"Tunggu aja dulu, Pak Galang udah telepon dokter tadi. Kamu abis pingsan, El. Istirahat aja dulu," kata Susi mengingatkan.


"Aku baik-baik aja, Sus. Plis." Elin menerima tas yang diulurkan oleh Susi. Karena ia sudah tak kuat lagi, ia ingin pulang saja. Segera, ia menelepon nomor Ariel.


"Halo, El?"


"Kak, aku mau dijemput. Aku pusing banget," kata Elin pada Ariel.


"Kamu di kantor atau di mana?" tanya Ariel.


"Nggak, aku ... nanti aku kirim lokasinya. Aku lemes banget ini, buruan."


"Oke."


Elin mematikan panggilannya lalu segera mengirimkan lokasinya pada Ariel. Ia agak cemas jika Ariel tahu ia pingsan di sana, Ariel mungkin akan marah. Ia harus merahasiakan kehamilannya, dan jika kondisinya seperti ini terus, ia jelas akan segera ketahui oleh semua orang.


"Saya periksa sebentar," ujar seorang dokter yang baru saja datang.


Susi berdiri dari tepi ranjang Elin untuk mempersilakan dokter itu memeriksa. Namun, Elin segera menurunkan kedua kakinya. "Saya nggak papa, Dok. Saya cuma kecapekan."


"Ya, tapi saya harus periksa Anda lebih dulu. Masih pucet banget lho," ujar sang dokter.


Elin menggeleng pelan. Tepat saat itu ponselnya berdering. Ah, ia merasa begitu terselamatkan ketika melihat nama Ariel di layar. Karena jarak gedung ini sangat dekat dengan kantor perusahaan Ariel, ia pun bisa dijemput dengan cepat.


"Kakak saya udah datang. Saya mau pulang aja." Elin menarik tasnya, lalu dengan cepat ia meninggalkan ruang klinik.


Kepergian Elin membuat Galang sangat marah siang itu. Ia meminta waktu istirahat 10 menit untuk bicara pada Susi. "Kamu gimana sih? Kenapa Elin kamu biarkan pergi? Dia kan baru sakit sampai pingsan kayak gitu. Dia juga punya pekerjaan!"


Susi menciut karena amukan Galang. Ia tahu, ini adalah pekerjaan yang penting untuk Galang dan Elin. "Elin nggak bisa dicegah, Pak. Dia buru-buru pergi. Tapi dia dijemput kakaknya kok. Tenang aja."


Galang mendengus keras. Ia meninggalkan Susi dan bergumam, "Sebenarnya Elin sakit apa?"

__ADS_1


__ADS_2