Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
98 : Baby Boy!


__ADS_3

“Brokoli Sayang, kamu mau punya anak! Besok kita besanan, ya!” teriak Ojan sudah langsung berlari menghampiri Chole.


“Jangan sampai!” refleks Helios dalam hatinya. Ia terlalu takut Ojan nekat menyentuh terlebih memegang Chole. Karenanya ia sengaja buru-buru mendekap Chole, hingga Ojan yang sungguh berniat menyentuh sekaligus memeluk Chole, justru berakhir terbanting efek menghantam punggungnya.


“Aku pikir tadi enggak ada tembok, tapi tadi aku nabrak apa?” keluh Ojan yang sudah langsung menjadi bahan tawa di sana.


“Mas ...?” lirih Chole mendelik kepada Helios yang ia yakini sengaja menghalang-halangi Chole.


Seperti rencana, Chole dan Helios memang menggelar syukuran untuk kehamilan Chole. Kini menjadi acara tujuh bulan kehamilan Chole. Meski bukan acara syukuran pertama karena saat acara empat bulan mereka merayakannya di panti asuhan, kini memang menjadi acara pertama mereka yang menghadirkan semuanya dalam formasi lengkap. Sekelas Azzam saja sampai mengajak Sundari, menggandengnya layaknya pasangan pada kebanyakan.


Acara sendiri benar-benar digelar di penginapan sekaligus resto milik Liam suami Indah. Liam anak paman Lim sampai terkejut karena nama pemilik penginapan sekaligus resto kekinian yang selalu ramai itu, mirip dengan namanya.


“Asli, aku beneran merasa tertampar. Sesukses ini dia, sama-sama namanya Liam, aku belum jadi pengusaha. Ganteng banget lagi orangnya!” ucap Liam.


“Aku, maksudnya?” ucap Ojan. Layaknya Liam, ia juga belum punya gandengan.


“Hah, maksudnya apa?” ucap Liam kebingungan. Di hadapannya, wajah Ojan tampak sangat serius.


“Yang ganteng banget itu Liam yang punya resto sama penginapan ini. Bukan Mas ih, amit-amit jabang kebo!” ucap Liam seketika membuat perkumpulan di sana diwarnai tawa.


“Liam, Liam, ... nanti Om Ojan nginepnya di rumah kamu, ya. Pengin naik heli, tapi bukan heli guk guk guk, melainkan helikopter. Om mau jadi Sahrukhan! Hahaha!” ucap Ojan benar-benar heboh.


“Si Ojan kayak enggak punya beban hidup, ya?” ucap Helios berbisik-bisik kepada Chole. Dari semuanya, hanya ia yang tidak tertawa di setiap Ojan bertingkah.


“Iya, Mas. Orangnya serame itu, bikin bahagia!” balas Chole berbisik-bisik juga.

__ADS_1


“Tapi kayaknya, bukan hanya enggak punya beban hidup deh. Emang dasarnya enggak punya ota*k!” balas Helios berbisik-bisik lagi.


Detik itu juga Chole jadi terbahak seiring jemari tangan kanannya yang membekap bibir Helios.


Rombongan Excel baru datang dan menjadi rombongan terakhir yang baru bergabung. Terlepas dari semuanya, Helios dan Chole memang sengaja menyewa penginapan sekaligus resto di sana hingga yang di sana pun hanya bagian dari acara mereka. Tampak Akala dan Nina yang menjadi pasangan paling adem. Interaksi saja hanya bisik-bisik, sambil bertukar senyuman.


Excel tak hanya membawa Azzura dan bayi kembar mereka. Karena mereka juga datang bersama keluarga Excel. Ada mamahnya Excel yang masih duduk di kursi roda dan sudah langsung mencuri perhatian Akala. Akala sudah langsung menyusul bersama Nina. Jadi, Akala membopong mamahnya Excel, sementara Nina mendorongkan kursi roda kosongnya.


“Yang, jangan. Sudah, taruh situ saja takut perutmu kenapa-kenapa,” tegur Akala lirih sekaligus lembut.


“Memangnya sudah langsung isi?” tanya Helios yang memang sudah langsung menyusul. Ialah yang membawa alih kursi roda mamahnya Excel setelah Akala mesem kemudian mengangguk, membenarkan dugaannya bahwa Nina sudah sedang hamil.


“Wah, semangat, ya!” heboh Chole sudah langsung memeluk Nina.


Tak lama berselang, mereka sudah bersama rombongan keluarga. Acara kumpul-kumpul sengaja dilakukan di halaman depan, tapi mereka sudah berangsur bersiap memasuki resto untuk makan siang.


“Mas Ojan ... kenalin, adik saya. Namanya Rere. Janda, nih, anaknya yang sama Lena. Selama ini Mas Ojan kan kenalnya Lena, kan?” ucap Excel benar-benar sengaja mengenalkan Rere sang adik yang pernah menikah dengan Cikho—baca novel : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia.


“Wah ... dari dadaku langsung sibuk keluar daun waru merah!” ucap Ojan kegirangan. Namun berbeda dari biasanya, kali ini ia jadi tidak bisa bersuara. Bibirnya hanya komat-kamit tanpa menghasilkan suara. Malahan, untuk pertama kalinya, ia justru menitikkan air mata.


“Liaaam, Liam ...! Mohon maap, kayaknya ini tanda-tanda aku mau slod out!” bisik Ojan yang kemudian memeluk erat Liam, tapi di bagian leher hingga yang ada, Liam seperti dice*kik.


“Enggak mungkin si Rere mau sama kamu. Andai mau, pasti mata sama otaknya bermasalah. Fix!” yakin Liam berbisik-bisik sambil susah payah mencoba melepaskan diri dari Ojan.


“Re, mohon maaf ... kamu beneran mau sama Ojan?” ucap Azzam yang sudah langsung lemas akibat tawanya.

__ADS_1


“Re, aku asli setia. Nanti kalau kita sudah nikah, aku pensiun dari musafir cinta. Janji! Aku ... aku juga penyuka anak kecil!” ucap Ojan sangat manis dan memang sedang berusaha meyakinkan Rere.


“Penyuka anak kecil namanya pedopil, Jan! Bahasanya diganti jadi penyayang, bukan penyuka!” yakin Azzam sengaja membenamkan wajahnya di punggung Sundari. Sebab melihat wajah Ojan yang tampak.merah sempurna khas orang kasmaran, membuatnya kesulitan mengakhiri tawanya.


“Oh, gitu, yah, Jam? Oke lah, Jam. Aku nurut. Yang penting, janda kali ini enggak boleh lepas!” semangat Ojan sambil fokus menatap Rere penuh cinta. Berbeda dari wanita yang pernah ia dekati, kali ini tidak ada penolakan. Rere yang memakai hijab merah muda salem, balas menatapnya hanya tersipu tanpa balasan berarti, tapi Ojan yakin, itu tandanya Rere mau.


“Jan, ... dekati anaknya, kamu bisa lebih cepat dapat ibunya!” ucap Sepri yang kali ini masih menggandeng Binar, anak Suci—janda yang juga sedang ia dekati.


“Ah, iya, Pri! Beres, Pri!” ucap Ojan sangat bersemangat, dan sudah langsung usaha mendekati putra Rere.


Semuanya tersenyum bahagia apalagi Chole yang merasa sangat lega atas apa yang kini terjadi.


“Ini adiknya Excel beneran mau sama Ojan? Lah, Ojan bakalan makin dekat dengan kita, dong, Yang? Masa iya, kita bakalan jadi besan beneran?” bisik Helios benar-benar ngeri. Belum lagi, anak Rere itu anak Cikho dan beberapa kali juga diajak oleh Tuan Maheza maupun ibu Aleya, menjadi kebersamaan mereka.


“Nanti, kami juga akan mengabarkan jenis kela*min bayi kami, ya!” ucap Chole benar-benar ceria sambil memasuki resto di sana. Malahan, ia dan Helios yang memimpin langkah. Tampak Syam yang masih jaga-jaga di depan pintu masuk, bersama anggota mafia lainnya yang tersebar di sekeliling resto dan penginapan mereka menggelar acara. Karena Helios hanya mengontrol jalannya setiap jadwal mafia, Syam dan kawan-kawan begitu mengabdi. Malahan Syam berdalih, dirinya akan mengutus mafia khusus untuk mengawal anak-anak Helios dan Chole.


Sekitar satu jam kemudian, yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba. Semuanya berkumpul di depan halaman resto. Helios dan Chole yang akan mengabarkan jenis kelam*in anak mereka, sudah berdiri di tengah-tengah sambil memegangi kembang api dan sudah dinyalakan.


“Dorr ....!” Bersamaan dengan kembang api yang melesat, di atas mereka menjadi dipenuhi warna biru.


“Baby boyyyyyy!” semuanya bersorak bahagia apalagi ibu Aleya dan Tuan Maheza.


Ibu Aleya sudah langsung menghampiri Chole dan Helios. Begitu juga dengan Chalvin yang turut menuntun Laras. Namun karena perut Laras sudah sangat besar, Chalvin melakukannya dengan sangat hati-hati.


“Chole bilang, nanti Namanya Kim Jongkuk!” lantang Helios dengan bangganya, tapi semuanya justru langsung menertawakannya tanpa terkecuali sang istri.

__ADS_1


__ADS_2