
Pesona Chole sudah langsung membuat dunia seorang Jay hanyut. Jay tak kuasa mengakhiri ingatan tentang pertemuan sekaligus kebersamaan singkat mereka. Kelembutan Chole yang tampak begitu tulus, juga mata lebar Chole yang sangat indah melebihi semua keindahan yang pernah Jay jumpai di dunia ini. Apalagi kini, Jay kembali memergoki Chole. Wanita itu ganti pakaian dan memakai hijab pink nude. Jay tak sengaja memergokinya, terlepas dari Jay yang langsung tak memiliki nyali untuk menampakkan diri. Malahan, Jay merasakan apa itu yang dinamakan, “cinta bisa membuat seseorang bo*doh”. Yang mana, hanya melihat Chole bahagia dan itu dari kejauhan, itu sudah langsung membuat Jay bahagia. Senyum lembut layaknya manusia yang sedang jatuh cinta, membuat pria berusia tiga puluh empat tahun itu menyadari, dirinya kembali manusiawi. Bahkan, rasa marah seketika membuncah ketika ada angin kencang berembus.
Jay nyaris lari untuk melindungi Chole, memastikan wanita dan ia anggap bidadari berhati malaikat itu baik-baik saja. Hanya saja, ada dua orang pria yang sudah menunggu di depan sana dan sudah lebih dulu mengamankan Chole. Dua pria yang langsung membuat seorang Jay tak bisa berkata-kata.
“Hah ...? Anak buahnya Helios?” batin Jay benar-benar syok. Ia sampai melepas kacamata hitamnya untuk memastikan apa yang tengah bergulir di depan pintu masuk toilet.
Chole yang tampak sangat energik sekaligus ceria, agak berjinjit kemudian menghampiri sosok bertubuh sangat tegap dan awalnya memunggungi Chole.
“Helios ... itu memang Helios! Apa hubungan mereka? Wanita itu apanya Helios ...? Anak? Orang seperti Helios begitu menyayangi wanita itu. Wanita itu memanggil Helios ‘Mas‘, berarti dia adiknya Helios. Hah ... masa iya ... tapi kabarnya, dulunya Helios anak kyai. Pantas kalau adiknya bercadar miri bidadari. Masalahnya, aku mencintai adik daru musuhku sendiri,” batin Jay lagi. Menyaksikan Chole yang tak segan memeluk manja Helios dari belakang kemudian disambut Helios dari sebelah kiri karena mata pria itu yang berfungsi memang sebelah kiri Jay sudah langsung baper.
“Ya Tuhan, baru kali ini aku ingat Kamu hanya karena adiknya Helios ... manja gemesin banget gitu. Kulitnya selembut dan seputih tofu. Itu beneran bidadari berhati malaikat. Tapi masa iya, adiknya bidadari berhati malaikat, kakaknya bur*uk rupa berhati dakjal?” lirih Jay. Meski kabar operasi plastik yang Helios jalani, juga sudah sampai ke telinganya. Hanya saja, sampai detik ini selain ia hanya bisa melihat Helios dari kejauhan, Helios juga masih memakai masker sekaligus kacamata hitam.
“Tapi kok, ... daripada ke Cinta yang sudah ia nikahi, Helios lebih lengket ke adiknya. Masa iya adik dipeluk ci*um gitu? Ah ... efek saking cantik dan bikin gemes banget, makanya Helios bisa sesayang itu ....” Sampai akhirnya Chole dan Helios menunaikan salat maghrib, Jay masih menjadi pengunt*it super kepo.
__ADS_1
Jay mengawasi dari kejauhan tanpa berani mendekat. Tak semata karena di sekitar Chole ada Helios dan kedua pengawal yang nyaris tidak pernah lengah mengawasi Chole. Karena Jay juga terlalu malu kepada Chole jika alasannya masuk ke tempat ibadah yang ia yakini sangat Chole hormati, justru menimbulkan keributan. Apalagi, Helios dan anak buahnya pasti tidak akan melepaskannya jika mereka mengetahui keberadaannya.
Karena telanjur jatuh hati, Jay juga memesan apa yang Chole pesan. Dua pop*mi, dua teh hangat dan satu es jeruk. Semua itu Chole nikmati bersama Helios yang sampai Chole suapi.
“Tapi kok tatapan Helios begitu banget ya ke wanitanya ... Kol ya, namanya? Dari tadi, Helios Kal Kol, Kal Kol. Kol ... Jay, ... kok cocok ya?” lirih Jay yang duduk di anak tangga sebelum teras masjid. Sambil mengaduk-aduk pop*mi miliknya yang masih panas, ia jadi senyum-senyum sendiri hanya karena yakin, dari nama saja, dirinya dan Kol alias Chole sudah sangat cocok.
“Setengah matang begini lebih enak, ya?” sergah Helios masih disibukkan dengan kebersamaannya dan sang istri yang begitu telaten menyuapinya.
“Tapi pas mamah papah kalian datang, kalian langsung umpetin atau malah buang tuh mi?” timpal Helios sengaja memotong cerita sang istri. Detik itu juga Chole terbahak.
“Sepertinya sudah jadi lagu wajib hal semacam itu terjadi. Nanti anak-anak pun pasti gitu. Ada saja yang diumpetin dari kita, ... tapi bayangin saja seru. Dan aku yakin, sebenarnya meski orang tua marah karena mereka terlalu khawatir kita kenapa-kenapa, sebenarnya mereka juga gemas, merasa lucu bahkan terhibur dengan ulah anak-anak,” lanjut Helios.
Chole yang tetap mempertahankan cadarnya meski itu membuat acara makan dan minumnya ribet, langsung tersenyum hangat, sehangat rasa yang menyelimuti hati sekaligus kehidupannya hanya karena mendengar ucapan suaminya barusan. Ia berangsur mendekap lengan kiri Helios menggunakan kedua tangannya meski kenyataan mereka yang duduk di kursi berbeda, membuat mereka tetap agak berjarak. Yang mana, kebahagiaan Chole benar-benar terasa sempurna ketika bibir Helios menempel di keningnya, sementara tangan kanan suaminya itu mengelus-elus perutnya.
__ADS_1
“Jantungku serasa lepas hanya karena diperlakukan begini. Masya Allah ... langgeng-langgeng kita ya Mas!” batin Chole.
“Nah, ... sekarang malah makin mirip orang pacaran!” kesal Jay baper sekaligus cemburu sendiri melihat interaksi Chole dan Helios. Padahal, ia meyakini keduanya hanya kakak adik. Namun, interaksi manis keduanya selalu saja membuat hatinya tercab*ik. Tanpa ia sadari, mi seduh yang masih panas, sudah berpindah ke lambung dan ia mendapat efek tidak nyaman di mulutnya. “Duh, andai aku disuapi ditiupi sama Kol juga.”
Jay sampai lupa dengan maksudnya ada dan terus mengawasi rombongan Helios. Dan semua itu masih karena penyebab yang sama, Chole—bidadari berhati malaikat yang ia yakini sebagai adik Helios. Bahkan saking bapernya, ia sampai mengeluarkan tas pink pemberian Chole kemudian mendekapnya, di tengah tatapannya yang sibuk mengawasi Chole.
Ketika Chole sudah diboyong Helios menggunakan mobil, Jay masih mengikuti. Hanya saja, alasan sekaligus tujuan pria itu sudah tak sama dari awal. Karena semuanya sudah telanjur kacau.
Sekitar pukul sepuluh malam, mobil yang membawa Helios dan Chole akhirnya memasuki pelataran sebuah hotel. Bukan hotel mewah layaknya di kota-kota besar, tapi di sekitar sana itu menjadi satu-satunya hotel berkelas.
“Terus aku ngapain masih begini, kalau aku saja jadi ragu mengusik Helios?” pikir Jay memilih mengawasi dari seberang jalan depan hotel.
Andai Jay mengikuti lebih jauh, hingga pria itu tahu Helios dan Chole satu kamar, dan di kamar yang keduanya pesan hanya ada satu tempat tidur berukuran besar untuk dua orang, pasti Jay tak lagi yakin bahwa keduanya kakak adik.
__ADS_1