Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
65 : Cinta Dan Benci


__ADS_3

Helios dan Chole mengantar Tuan Maheza dan ibu Aleya hingga depan pintu masuk. Keduanya dikawal oleh Ben dan Dandi hingga bandara. Helios sudah mengutus kedua anak buahnya itu untuk memastikan sang mertua masuk ke pesawat tanpa kendala.


Hanya saja, dada Helios mendadak terasa sangat sesak ketika isak tangis Chole pecah di sana. Sambil memeluknya erat dari samping, Chole yang melepas kepergian mobil yang membawa orang tuanya, tersedu-sedu.


Kedekatan Chole dengan orang tuanya yang juga sangat menyayangi Chole, dirasa Helios menjadi hal yang membuat Chole begitu berat jika harus jauh apalagi berpisah dengan orang tuanya.


“Ini sungguh bukti, betapa dia menjadi sumber semangat sekaligus sumber kehancuranku. Senyum, tawa dan semua bahagianya selalu menjadi nyawa untukku, tapi setiap lukanya tak ubahnya kematian yang siap menghabi*s*iku,” batin Helios yang perlahan mendekap tubuh Chole.


“Berpisah untuk sementara saja sesakit ini, apa kabar kalau sudah enggak punya?” lirih Chole masih tersedu-sedu. “Sekarang aku tahu apa yang Mas rasakan.” Kali ini ia mengeratkan dekapannya. Ia bahkan menyandarkan wajahnya ke dada Helios. “Jadi mulai sekarang, kita harus hidup lebih sehat, agar anak-anak kita enggak sedih hanya karena kita enggak ada.”


“Chole, jangan mikir macam-macam.”


“Ini realita, Mas!”


Balasan Chole sudah langsung membuat Helios tidak bisa menjawab. Helios sadar, andai apa yang mereka bahas terus diperdebatkan, otomatis Chole juga akan menyinggung pekerjaannya sebagai mafia. Helios yakin Chole akan sibuk berpikir negatif, ketakutan karena membayangkan masa depan mereka yang akan selalu dihantui bahaya bahkan kematian.


Tak lama kemudian, mereka sudah kembali ke kamar. Helios sengaja pergi ke balkon dan berdalih untuk mengurus pekerjaan. Sementara di dalam, Chole masih murung dan tengah memandangi boneka beruang maupun foto-foto liburan mereka dengan Tuan Maheza dan ibu Aleya. Chole meringkuk mirip orang sakit di tengah-tengah kasur sambil memandangi semua itu. Sesekali, jemari Chole akan meraba setiap foto, atau malah mendekap boneka beruang miliknya dan Helios.


Helios masih kerap diam-diam mengawasi dari bibir pintu balkon sambil sesekali menatap layar ponselnya. Ia tengah memantau setiap CCTV di markas. Tampak Syam yang menangis ketika menjenguk pak Mul. Syam yang menggunakan kursi roda, meninggalkan pak Mul dengan tangis. Syam tak hanya terlihat terluka, tapi juga kecewa. Helios tak tega melihatnya dan sampai berkaca-kaca.


“Syam ... kamu harus kuat!” lirih Helios seiring ia yang menunduk disertai air matanya yang akhirnya jatuh membasahi pipi.

__ADS_1


Tak lama kemudian, fokus perhatian Helios tercuri pada salah satu rekaman CCTV yang tengah berlangsung. Ia melihat kedatangan Excel yang sampai disertai Azzura. Excel memperlakukan Azzura dengan sangat hati-hati. Semacam menggandeng dan membopong kerap Excel lakukan di setiap keduanya melewati anak tangga. Selain itu, Azzura juga tampak menjaga setiap langkah bahkan geraknya. Azzura tak lagi bertingkah layaknya ninja seperti saat awal pernikahannya dan Excel dan memang membuat Azzura terlibat di beberapa pertemp*u*ran dengan mafia Jay dan Cobra—baca novel : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia. Namun Helios baru ingat, kini Azzura tengah hamil lagi, sementara di kehamilan sebelumnya, Azzura sempat keguguran. Pantas jika Excel dan Azzura tampak jauh lebih hati-hati menjaga janin keduanya.


“Harusnya Excel tahu kenapa orang tuanya Chole mendadak pulang tanpa bisa menunggu,” pikir Helios. Setelah memastikan Excel sampai di ruang kerja dan beberapa anggota mafia mereka yang sempat menemui juga beranjak pergi, Helios sengaja menghubungi Excel melalui sambungan telepon.


“Chalvin kecelakaan ... kritis, ... maaf. Ini salahku yang tak mungkin lagi membu*n*uh.”


Suara Excel dari seberang terdengar lirih sekaligus frustrasi. Suara yang sudah langsung mengguncang kewarasan seorang Helios. Chalvin kecelakaan dan Excel sampai meminta maaf? Maksudnya, penyebabnya masih karena pekerjaan mereka sebagai seorang mafia?


“J-jay?” Helios menduga tanpa bisa mengutarakan apa yang sebenarnya ingin ia tanyakan dan itu sudah di ujung lidah. Tak terbayang andai Chole tahu Chalvin kecelakaan dan keadaannya sampai kritis. Lebih tak terbayang lagi andai Chole tahu penyebabnya justru mafia musuh Helios.


“Aku sudah mengirim orang untuk mengawasi setiap anggota keluarga Chole,” ucap Excel.


Namun, Excel malah mendadak diam. Kenyataan yang membuat Helios nyaris gi*la karena kini, ia mendadak teringat wajah kalut orang tua Chole yang terus berusaha tegar, ditambah wajah sedih Chole yang baru akan berhenti menangis setelah kedua matanya sangat sembam.


“Kecelakaan yang seperti apa? Apa yang mereka lakukan kepada Chalvin dan sampai membuat Chalvin kritis?!” tegas Helios walau sampai detik ini, ia masih bertutur lirih.


“Mobil yang Chalvin kendarai ditabrak dari arah berlawanan menggunakan truk. Mobilnya ringsek—”


Mendengar itu, Helios refleks menengadah dan perlahan menghela napas. “Nyawa harus dibalas nyawa, Cel. Kirim orang untuk meng*ha*b*isi Jay. Pastikan Jay ma*ti agar dia tidak mengganggu kita lagi!” tuntut Helios. “Andai dia di sini, atau di sekitar sini, sudah ...!”


Helios juga menyayangkan kenapa Excel tak sampai mengabarinya. “Kenapa aku selalu telat tahu! Kamu tahu, caramu begini bikin aku enggak berguna!”

__ADS_1


“Berguna kamu sekarang cukup jaga dan bahagiakan Chole!” sergah Excel yang memotong ucapan Helios.


Helios terpejam dan perlahan kembali meminta maaf. “Bagi Chole, keluarga apalagi orang tua merupakan segalanya, Cel!” Kali ini Helios benar-benar merasa frustrasi. “Ya sudahlah. Aku akan mengatur waktu untuk pulang secepatnya!” Helios sengaja mengakhiri sambungan telepon suara mereka.


Baru juga Helios menghela napas kemudian hendak menatap Chole, alarm di ponselnya bunyi. “Chole, alarm yang kamu minta sudah bunyi!” Ia agak berseru sambil menghampiri Chole. Tak lupa, ia juga mengunci pintu balkonnya. Tampak Chole yang langsung bersemangat.


“Sudah bunyi, Mas? Sini, Mas. Sini, cepetan. Pinjam ponselnya. Ponsel Mas ada tiga, kan? Sekalian laptopnya ya Mas. Bentar, aku juga mau ambil laptopku ....” Setelah serba buru-buru, Chole juga terban*t*ing karena jatuh dari tempat tidur.


“Ngapain pakai acara jatuh sih ... sakit banget inii ...!” keluh Chole sembari berusaha duduk. Namun ketika ia menoleh kepada Helios dan pria itu memejamkan erat matanya sementara wajah ya sudah merah padam, ia sengaja berkata, “Enggak, Mas. Enggak jadi sakit. Serius enggak jadi sakit asal Mas jangan marah. Sum-sum ... pah, ini enggak sakit, tapi Mas jangan marah, ya!” mohonnya dan langsung diam ketika Helios menatapnya.


“Kamu mau ngapain pasang alarm, pinjam semua hape dan laptopku juga?” sewot Helios sambil menghampiri Chole kemudian bersiap membopongnya. Chole tak berani menatapnya.


“Aku benar-benar akan marah kalau kamu tetap enggak mau jujur!” lanjut Helios lirih tapi sangat menusuk.


Takut-takut menatap Helios, Chole berkata, “MV—musik video Jung Kook, rilis di yo*utu*be!” ucap Chole yang kemudian merengek. “M-mas, jangan marah ... M-mas ....”


“Jongkok bangga punya fans kayak kamu!” tegas Helios sengaja tak memperpanjang kemarahannya.


Mendengar itu, Chole langsung girang. “Masa sih Mas, Jung Kook bangga punya fans kayak aku?!”


Ulah Chole yang selalu membuat dunia seorang Helios jungkir balik membuat pria itu sadar, perbedaan cinta dan benci benar-benar tipis.

__ADS_1


__ADS_2