
Setelah satu tahun lebih menjalani hukuman, akhirnya Cinta mau menemui orang yang menjenguknya. Tuan Maheza dan ibu Aleya melakukannya. Keduanya datang penuh kedamaian meski air mata kerap mengurai cerita.
Cinta masih dengan hijrahnya. Masih memakai semua kiriman Chole maupun keluarga Tuan Maheza. Harapan mereka agar Cinta benar-benar menjadi lebih baik, telah sepenuhnya terlaksana. Kini saja, Cinta tengah membasuh kedua kaki orang tuanya sambil meminta maaf. Tersedu-sedu Cinta melakukannya hingga Tuan Maheza maupun ibu Aleya tidak bisa mengakhiri kesedihan apalagi tangisnya.
“Jadi orang yang lebih baik lagi, ya. Semangat!” lembut ibu Aleya sambil membingkai wajah Cinta yang masih memakai cadar, menggunakan kedua tangannya.
Cinta yang balas menatap ibu Aleya, segera mengangguk-angguk.
“Kakak-kakak, apa kabar, Mah, ... Pah?” lembut Cinta masih bersimpuh di hadapan Tuan Maheza dan ibu Aleya.
Detik itu juga, ibu Aleya mengernyit kemudian menoleh, menatap Tuan Maheza yang ternyata sudah melakukan hal serupa. Mereka menatap tak paham Cinta atas pertanyaan yang Cinta maksud.
“Kak Cikho, alhamdullilah sehat. Sekarang kak Cikho jualan aneka keripik. Ada keripik singkong, keripik sukun, sama keripik pisang. Jadi di lapas kak Cikho kan ada usaha gitu, dan hasilnya di salurin ke restoran Chole! Singkong, pisang, sukun, mereka yang tanam. Jadi, kak Cikho juga belajar berkebun juga,” balas ibu Aleya merasa sangat bangga pada perubahan positif sang putra. Karena meski di dalam lapas, Cikho yang sudah menyadari kesalahannya mau bangkit. Tak semata menjadi sosok yang lebih baik, tetapi juga dengan semangat mengajak napi lain berwirausaha sesuai arahan petugas lapas.
Walau berstatus sebagai NAPI, biasanya pemerintah memang akan melakukan berbagai pelatihan ketrampilan, agar setelah lepas dari penjara, para mantan NAPI, jadi manusia lebih berguna. Diharapkan, para mantan NAPI juga memiliki kehidupan lebih layak atas pelatihan keterampilan yang didapatkan.
“Masya Allah, Mah. Kak Cikho keren banget. Serius, buat yang kali ini, kak Cikho keren banget!” ucap Cinta masih berlinang air mata. “Tapi kak Chole juga selalu keren!” sambungnya dan lagi-lagi, membuat Tuan Maheza maupun ibu Aleya terkejut.
__ADS_1
Alasan Cinta memanggil Chole dan Chalvin kak, karena Cinta merasa keduanya jauh lebih pantas menjadi teladan ketimbang ia dan Cikho. Bahkan mesk ia dan Cikho lebih tua dari keduanya, kenyataan Chalvin dan Chole yang selalu bertanggung jawab menjadi bukti, bahwa keduanya memang layak menjadi panutan.
“Sebenarnya aku juga ada kegiatan rutin gitu, Pah, Mah. Tapi enggak sampai punya penyalur seperti kak Cikho, soalnya aku enggak tahu bisa sampai gitu,” ucap Cinta. “Padahal kalau sampai laku lumayan, ya. Bisa buat masa depan. Apalagi aku lihat, ada saja napi yang masih punya banyak tanggungan dan sering hanya bisa nangis karena memang enggak bisa apa-apa.”
“Andai kamu enggak menutup diri dari kami, tentu semuanya bisa dirundingkan. Intinya, asal kamu bisa bikin teman-teman kamu kasih karya yang menjual, dalam artian kalian harus mengutamakan kualitas karya kalian, nanti pasti kami bantu!” ucap Tuan Maheza.
Cinta sudah langsung mengangguk-angguk. “Iya, Mah. Pah, aku mau banget. Nanti aku ajak ke teman-temanku, syukur-syukur mereka mau. Tapi harusnya mau sih, Pah, Mah. Soalnya hasilnya beneran lumayan banget, bisa buat keluarga di rumah. Terus kalau sudah keluar dari sini juga bisa buat bekal usaha!” Dalam diamnya Cinta berpikir, niat baiknya itu juga akan menjadi awal mula dirinya berguna untuk orang lain.
Beres urusan dengan Cinta, ibu Aleya dan Tuan Maheza sengaja menyempatkan diri untuk mampir ke kediaman ibu Arum. Karena di sana ada Nina yang juga sudah mereka anggap sebagai anak. Di luar dugaan, ternyata di sana ada Helios dan Chole. Helios dan Chole yang memang ikut pulang kampung bersama mereka, sedang mengantar Kim untuk imunisasi di klinik milik Azzura.
“S-sayang, si Kim langsung enggak mau sama aku gara-gara aku bikin dia disun*tik!” ucap Chole mengadu pada sang suami dan mengakhirinya dengan senyum geli.
“Dendam, dendam, tuh anak ke kamu!” balas Helios sengaja menakut-nakuti.
Chole cekikikan dan sengaja mendekap manja suaminya. Mereka memperhatikan baby Kim yang juga mengadu kepada Tuan Maheza sambil tersedu-sedu. Tentu bukan laporan dengan suara berlafal jelas karena baby Kim memang belum bisa berbicara. Usianya saja baru lima bulan. Namun, kedekatannya dengan kakek neneknya, membuat bayi itu memiliki interaksi khusus.
“Ra, itu tadi imunisasinya bisa bikin demam?” tanya Helios.
__ADS_1
“Itu kan tadi vaksin rotavirus. Vaksin rotavirus berguna buat melindungi anak dari diare akibat infeksi rotaviru. Kalau vaksin ini sih harusnya efeknya enggak sampai demam karena biasanya, bayi yang mendapatkan imunisasi ini hanya akan mengalami reaksi alergi dan efek samping berupa muntah, mual, lebih rewel, dan diare. Namun buat jaga-jaga, enggak ada salahnya sedia P3K buat baby. Plester kompres, paracetamol, obat diare, batuk, ini beneran perlu. Kalau mau yang alami pun alangkah baiknya kita tanam tumbuhan obat khususnya. Nanti kalau ada apa-apa, kalian cukup hubungi aku, ya,” jelas Azzura.
“Tapi si Kim beneran kayak kebal, Ra!” jelas Chole yang menyudahi dekapannya kepada Helios.
“Mirip papahnya. Papahnya juga kuat, sakit enggak dirasa!” ucap Helios sengaja membanggakan diri alias pamer.
“Tapi cemburu dikit langsung teriak-teriak!” sergah Chole sengaja menyindir Helios sambil tertawa. Tawa yang menular kepada Azzura, bahkan kepada Helios yang langsung sibuk menjelaskan.
“Gimana nggak cemburu!” lirih Helios masih menggerutu.
“Kamu hanya boleh cemburu ke member BTS, Mas. Sisanya beneran enggak mempan karena level Chole lebih tinggi dari tiang listrik!” ucap Azzura dan sudah langsung membuat tawa di sana kembali tersambung.
“Tapi kalau aku pikir-pikir, Kim cengeng mirip Rayyan! Papahnya sih, dendam kesumat banget ke si Rayyan, makanya Kim jadi banyak miripnya!” ucap Chole dan membuat tawa Azzura makin lemas saja.
“Kim sini sama Papah. Oma sama Opa mau jenguk Aunty Nina sama baby siapa?” ucap Helios sengaja menghampiri kebersamaan kedua mertuanya yang ada di depan kebun sebelah klinik.
“Sama Papah dulu, kita ke Mamah!” sergah Helios. Ia paham, sang mertua yang sangat baik, juga akan menjenguk Nina yang sudah dianggap anak oleh keduanya. Bukan hanya dianggap semata. Karena keduanya juga memperlakukan Nina layaknya anak. Jadi, terhitung anak Tuan Maheza dan ibu Aleya jadi ada enam. Empat anak angkat, dua anak kandung. Sebab, Malini juga sampai keduanya angkat jadi anak, meski sampai detik ini, Malini masih dalam pengawasan sekaligus tinggal bersama Nina, di kediaman pak Kalandra.
__ADS_1