
Chole sangat menghargai keputusan sang papah. Membatasi hubungan dengan Cinta tanpa benar-benar memutusnya, dirasanya akan jauh lebih menjaga perasaan satu sama lain. Buat jaga-jaga, demi kebaikan bersama. Terlebih sampai kapan pun, tidak ada yang tahu isi hati sekaligus pikiran manusia.
“Lalu, bagaimana dengan Cikho? Namun jujur, Pah. Membatasi hubungan belum menjamin semuanya akan lebih baik apalagi baik-baik saja. Semoga sih, Cinta benar-benar berubah. Karena sedikit banyaknya, aku yakin Chole masih khawatir mengenai hubungan kami. Siapa sih, yang enggak iri dengan hubungan kami? Makanya sejauh ini, kita kan enggak tahu isi hati sama pikiran orang ke kita, apalagi yang namanya penyakit hati, penyakit ain, hanya bisa disembuhkan dengan doa-doa. Karena enggak mungkin juga aku minta Chole buat enggak posting foto kami. Jadi ya, makin kencengin doa saja, karena memang hanya itu pengobat hati sama penyakit iri,” ucap Helios setelah ia duduk di sebelah sang istri yang juga sudah langsung memeluknya.
“Mas tahu banget kalau aku masih takut ke kak Cinta,” lirih Chole sambil tetap memeluk sekaligus menyandar pada tubuh suaminya. Ia hanya agak menengadah untuk bisa menatap kedua mata suaminya.
“Sudah punya anak dua, sudah enam tahun lebih kita bersama. Masa iya, aku masih enggak peka? Yang ada nanti ada panci sama piring terbang,” balas Helios sambil berbisik-bisik juga karena biar bagaimanapun, di sana masih ada Tuan Maheza dan ibu Aleya.
Kemudian mereka membahas nasib Cikho yang juga akan sama dengan Cinta. Mereka juga akan membatasi hubungan mereka dengan Cikho. Namun berbeda dengan Cinta, Cikho hanya dimodali dua petak sawah yang keberadaannya masih satu kampung dengan keluarga pak Kalandra.
“Cikho itu laki-laki. Dia harus lebih belajar setelah apa yang dia lakukan karena saat kepadamu saja, dia sadar, apa yang dia lakukan salah,” ucap Tuan Maheza.
Selama membahas Cinta dan Cikho juga, ibu Aleya hanya diam. Ibu Aleya jadi murung, dan terlihat sangat kecewa sekaligus sedih. Karenanya, Chole sengaja menegurnya.
“Mamah juga jangan terus menyalahkan diri Mamah. Sekarang, mending Mamah sama Papah fokus urus cucu saja. Bahagia lah, habiskan masa tua Mamah Papah dengan bersantai bersama cucu-cucu kalian. Apalagi kan sekarang, si kembar juga mulai terbiasa diajak liburan ke Jakarta karena Nina dan Akala beneran sudah menganggap kita sebagai keluarga. Alhamdullilah, Mah. Allah memang seadil ini. Enggak dapat balasan dari yang Mamah rawat dari kecil, Allah kasih ganti lebih melalui Nina dan Akala. Malini pun sudah mulai mau SMP, berarti bentar lagi mulai remaja. Dan semuanya beneran sayang ke Mamah. Semuanya sayang ke kita!” yakin Chole yang masih berucap lembut.
Menghela napas dalam, Tuan Maheza yang duduk di sebelah ibu Aleya pun mendekapnya. “Semuanya sudah memilih jalan takdir masing-masing. Dan kita enggak boleh serakah hingga kita lupa menjaga sekaligus mensyukuri apa yang sudah ada,” yakinnya.
__ADS_1
Berusaha tegar demi anak dan keluarganya, ibu Aleya menghela napas dalam. Ia berusaha ikhlas, karena hanya dengan begitu, ia bisa merasakan kebahagiaan. Walau pada kenyataannya, Cinta dan Cikho memang anak kandungnya sebagai Resty, pada kenyataannya, kini ia bukan lagi Resty. Kini ia sudah menjadi Aleya, setelah menjalani transmigrasi kehidupan karena ia memiliki kesempatan untuk kembali hidup—baca novel : Pembalasan Istri yang Terbunuh (Suamiku Simpanan Istri Bos).
“Malahan aku jadi berpikir, apakah tersesatnya anak-anakku juga karena misi kesempatan kembali hidup yang aku jalani? Namun sepertinya tidak. Sepertinya memang karena anak-anak lebih mirip mas Tomi,” pikir ibu Aleya.
***
Sekitar lima hari kemudian, Chole sedang manja-manjanya kepada Helios, ketika rombongan dari kampung datang. Dini hari menjelang subuh, Chole yang baru beres memberi Calista ASI, masih memeluk sekaligus bersandar manja kepada sang suami yang juga sampai memangkunya.
“Yang telepon Ojan. Pasti langsung bilang, ‘Papi’!” ucap Helios yang kemudian menahan tawanya.
Chole juga sudah langsung menahan tawanya karena mereka memang sengaja menjaga tawa mereka lantaran Calista masih sangat sensiti*f pada suara. Kata para orang tua, Calista begitu lantaran tali pusarnya belum lepas. Jadi, tidur pun Calista tidak bisa nyenyak karena pusarnya yang sedang sakit-sakitnya.
Chole bisa mendengarnya lantaran Helios sengaja meloadspeker telepon suara dari Ojan.
“Yaiyalah gede. Ini kan memnag rumah orang, bukan rumah semut. Makanya, aku minta kalian nginep di sini, jangan di hotel apalagi pos ronda seperti rencanamu, Anak lanang!” balas Helios yang memiliki panggilan khusus kepada Ojan yaitu anak lanang, atau itu anak laki-laki.
Dari seberang, Ojan sudah langsung terkikik. “Ya maksudnya, Pi ... aku jadi bingung masuknya lewat mana? Pintunya ini sebelah mana ...?”
__ADS_1
“Sejatinya, pintu rumahku ada di atap, Anak Lanang!” balas Helios sengaja jail. Bersama sang istri, ia jadi sibuk menahan tawa.
Sekitar sepuluh menit kemudian, bersama Chole, Helios menyambut keluarga dari kampung. Namun khusus untuk Chole, ia tak sampai keluar dari rumah, lain dengan Helios yang sampai keluar gerbang lantaran Chole masih memegang adat pamali. Demi kebaikan bersama sekaligus untuk jaga-jaga.
“Sayang, sudah pada datang?” lembut ibu Aleya yang ternyata sampai terbangun. Keramaian di luar lah penyebabnya. Hingga ia yang sengaja menginap di sana bersama sang suami, memutuskan untuk memastikan.
Semenjak Calista lahir, ibu Aleya dan Tuan Maheza memang menginap di sana. Kadang, Chalvin sekeluarga ikut serta. Namun khusus dari kemarin, Chalvin memboyong keluarga kecilnya ke luar kota untuk acara bisnis.
“Sudah, Mah. Itu sama papahnya anak-anak. Alhamdullilah, seseneng ini didatangi mereka!” ucap Chole sampai berkaca-kaca kemudian memeluk sang mamah.
Ibu Aleya tersipu dan balas memeluk sang putri. Ia bahkan merasa sangat bahagia lantaran kebersamaan para orang tua juga sampai ke anak-anak. Yang mana, ia juga berharap, para cucu dan selanjutnya akan melanjutkan juga.
“Mamiiiiiiiiii Brokoli sayaaaang!” seru Ojan sambil membentangkan kedua tangannya dan jelas tampak akan memeluk sang mamah angkat.
“Heh, heh, Anak Lanang! Jangan pegang apalagi peluk-peluk Mami, ya!” lantang Helios yang kemudian buru-buru menghampiri sang istri. Ia sampai berlari di tengah tawa pecah yang terdengar sangat renyah di sana. Tawa pecah akibat ulahnya melarang Ojan memeluk sang mami.
Helios sengaja mengamankan Chole, memeluknya erat dan menjaganya dari Ojan. Chole sampai mengeluh, ulah Helios membuat ASInya rembes.
__ADS_1
“Pah, banjir ini ASI aku, jangan sekenceng itu meluknya. Lagian si Anak Lanang kan sudah punya pawang!” lirih Chole yang menertawakan sang suami.
Lalu, akan ada keseruan apa lagi? Anggap saja ini akan menjadi part seru-seruan sebelum cerita ini tamat, yaaa ❤️