Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
57 : Mencintaimu Dengan Caraku


__ADS_3

Chole menyuapi sang suami dengan porsi besar, seolah Helios akan pergi perang dan wajib ia beri makan sekenyang mungkin.


Di lain sisi, Helios masih khawatir ada yang memang sengaja Chole sembunyikan darinya.


“Chole, tatap aku.” Helios memang sudah menerima suapan dari Chole lagi, tapi kali ini ia meminta sang istri untuk menatapnya.


Setelah tujuh jam lebih menjalani penerbangan, mereka memang sampai di Seoul Korea Selatan, tempat Helios akan menjalani operasi. Perjalanan mereka dilanjutkan langsung ke hotel mereka menginap. Karena rencananya, besok pagi segala persiapan operasi untuk Helios, mereka jalani. Dan di hotel mereka menginap, mereka tengah makan malam. Hanya berdua karena Tuan Maheza dan ibu Aleya juga makan di kamar sendiri. Keduanya menginap di kamar sebelah mereka menginap.


“Mas Helios kenapa?” bingung Chole. Ia tak lagi mengenakan cadar maupun jilbab. Kini, ia memakai piyama lengan panjang warna kuning selaras dengan piyama yang Helios pakai. Helios sendiri juga tak lagi memakai masker maupun kacamata hitam.


“Apakah kamu juga mencintaiku sementara aku ingin kamu tahu, bahwa aku mencintai kamu. Aku merasa harus bilang begini karena kepadamu, aku rasa caraku melakukannya sangat berbeda,” ucap Helios sambil mengunyah pelan makanan di dalam mulutnya.


“Mencintai kamu, kadang membuatku marah-marah. Tak jarang aku justru teriak-teriak kepadamu. Sering juga aku membuatmu menangis. Dan ... semua yang aku katakan, itu yang benar-benar sudah terjadi dan kini terputar lagi di ingatanku.” Setelah menelan makanannya, Helios berkata, “Aku mencintaimu dengan caraku, yang memang jauh dari kata manis apalagi romantis. Ibaratnya, iya ... aku sadar, aku bukan kriteria kamu yang suka jin penunggu rumah makan jongkok.”


“Namun, perlu kamu tahu, aku selalu ingin memberikan yang terbaik buat kamu. Aku selalu ingin kamu mendapatkan yang terbaik dan itu bersamaku. Aku bukan laki-laki yang akan dengan mudah melepaskan kamu walau itu bisa membuatmu jauh lebih bahagia.”


“Karena meski prosesnya lama, enggak mudah bahkan menyakitkan, pelan-pelan pasti aku akan berubah jadi yang kamu mau.” Helios mengakhiri ucapannya sambil terus menatap teduh kedua mata Chole silih berganti. “Ya sudah sih, jangan nangis. Aku kan enggak minta kamu buat nangis!” lanjutnya kali ini mengomel dan baginya masih menjadi bagian dari caranya mencintai Chole.


“Mas, aku mau peluk,” rengek Chole yang memang sudah sampai tersedu-sedu.

__ADS_1


“Sini ....” Helios agak geser dan mulai agak merentangkan kedua tangannya. Ia membiarkan Chole duduk di pangkuannya.


“Aku juga sayang ke Mas. Aku cinta Mas, ... dengan caraku juga. Jadi, ketika aku berisik, di setiap aku bikin Mas marah, termasuk itu di setiap aku melukai diriku hanya untuk Mas, semua itu juga bagian dari caraku mencintai Mas. Aku mencintai Mas dengan kata-kataku, dengan tawaku, dengan keberisikanku, dengan kemanjaanku, termasuk dengan setiap sentuhan yang aku lakukan, benar-benar dengan semuanya dan kadang bisa disalah artikan padahal semua itu tetap bagian dari caraku mencintaimu.”


“Terus, meski dulu aku bilang aku siap pergi jika Mas tetap tidak bisa bahagia bersamaku, sekarang setelah aku tahu ternyata Mas juga enggak bisa tanpa aku, ... aku juga enggak akan melepaskan Mas. Aku juga enggak akan membiarkan Mas membagi perhatian, cinta, apalagi hidup Mas kepada wanita lain bahkan itu, ... kepada kak Cinta. Karena aku pastikan, enggak ada yang bisa lebih mencintai Mas seperti aku kepada Mas.”


“Dan karena kita sudah sama-sama tahu, ini sama saja kita sudah sama-sama sepakat. Jadi andai nanti sampai ada kejadian Mas dengan sadar melukaiku, ... lebih dari sekali, ... ini akan menjadi alasanku pergi.” Chole mengakhiri ucapannya dengan dada yang terasa sangat pegal. Karena meski baru membayangkan, ia memang sudah merasa sangat sakit. Di hadapannya, Helios sudah sibuk menggeleng.


“Aku beneran sudah enggak ada rasa apa pun ke Cinta apalagi ke wanita lain. Sekarang, ... sampai nanti kita beneran sudah pikun ... yang aku mau hanya kamu.” Helios menangis. Hatinya terenyuh, merasa bahagia sekaligus bersyukur luar biasa, meski peringatan perpisahan dari Chole juga sudah langsung melukainya.


Chole yang merasa makin sedih, sengaja mendekap erat tengkuk Helios menggunakan kedua tangannya.


Helios segera membalas, mendekap punggung Chole sangat erat menggunakan kedua tangannya yang sudah tidak diperban. “Berarti nomor yang kamu blokir itu nomor Cinta? Kode area-nya masih di Cilacap Jawa Tengah.”


“Beres urusan di sini, ayo kita temui dia secara langsung. Kita tanya apa maksudnya. Hanya karena dia tidak jadi dengan Akala, lantas dia ingin kembali kepadaku? Memangnya dia enggak malu ke keluargamu yang sudah membesarkannya hingga jadi ‘orang’? Memangnya dia enggak malu ke orang-orang yang tahu kisah kita?” lirih Helios.


Walau tidak bersuara, Chole yang memang sudah berlinang air mata, berangsur mengangguk-angguk. “I love you, Mas!”


“He‘um. Mulai sekarang kamu jangan sampai setr*es. Manfaatkan kesempatan di sini buat rehat sekaligus memanjakan diri,” balas Helios yang sampai detik ini masih bertutur manusiawi bahkan lembut.

__ADS_1


“Sekarang, biarkan aku melihat wajah kamu,” lanjut Helios masih lembut.


Mendengar itu, Chole berangsur menyeka asal sekitar matanya kemudian memberanikan diri untuk menatap Helios. “Jangan aneh-aneh, kita beresin makan dulu,” sergahnya wanti-wanti.


Helios mengangguk-angguk, meski pada akhirnya, bibirnya menyita bibir sang istri dengan ci*uman lebih dari dua menit.


“Kalau sudah begini, aku jadi enggak bisa bedain antara romantis atau malah sakaratul maut!” keluh Chole yang kemudian mencubit gemas hidung Helios cukup lama.


“Apa bedanya dengan yang kamu lakukan sekarang? Ini romantis apa sakaratul maut?” protes Helios.


Chole yang refleks tertawa berangsur menyudahi ulahnya. “Poto, yah, Mas. Buat kenang-kenangan sebelum besok. Tapi aku fotonya tetap di pangku gini. Jadi nanti kita fotonya pakai timer!” rengeknya benar-benar manja.


“Wajahku tetap aku tutup,” tawar Helios.


“Enggak usah. Begini saja!” yakin Chole.


“Kebant*ing lah ... kamu bagaimana aku kayak apa?” protes Chole.


“Enggak apa-apa ih, ... bentar, aku ambil ponsel!” Chole buru-buru turun dan langsung pergi ke sebelah. Karena di nakas sebelah tempat tidur mereka, ponselnya berada.

__ADS_1


“Serius, aku beneran enggak sabar nunggu saat itu tiba. Saat kam bertemu dengan kak Cinta. Aku ingin tahu tanggapan kak Cinta. Bukan bermaksud jahat, tapi andai setelah apa yang pagi ini aku katakan dan kak Cinta tetap berharap ke mas Helios, berarti kak Cinta memang kura*ng ajar!” batin Chole.


Chole yang kembali ceria segera menghampiri sang suami dengan langkah buru-buru sekaligus tak sabar. Ia menyiapkan ponselnya di meja, kemudian segera bersiap di pangkuan sang suami sesuai rencana.


__ADS_2