
“Kenapa kamu tiba-tiba ingin menikahi Cinta, Syam?” Helios yang duduk sila di dalam masjid pesantren, menatap saksama Syam.
“Untuk melindungi kebahagiaan yang sudah ada. Kebahagiaan Mas dan mbak Chole, serta kebahagiaan Akala beserta istri. Ah, ... kebahagiaan Tuan Maheza sekeluarga juga. Karena jika aku menikahi Cinta, aku juga bisa mengarahkannya. Agar dia enggak ngerasa kesepian karena harus serba sendiri.” Syam yang juga duduk sila di hadapan Helios, menjelaskan dengan saksama.
Helios yang masih serius, berangsur berkata, “Cinta mau?” Walau di sana hanya ada mereka, baginya apa yang sedang mereka bahas memang sangat rahasia.
“Tentu saja menolak.” Syam masih menyikapi dengan tenang cenderung dingin. Ekspresi yang seolah sudah menyatu dengan kehidupan pria itu semenjak Syam menggantikan Helios mengurus pekerjaan mafia mereka.
“Kamu benar-benar yakin?” lembut Helios memastikan. Ia tak mau Syam salah langkah. “Yang namanya menyesal selalu datang di akhir.”
“Aku sangat yakin, Mas. Demi kebaikan bersama. Aku akan memastikan Cinta fokus kepada hubungan kami. Kami akan memulai hubungan setelah pernikahan. Pacaran setelah menikah. Ini menjadi satu-satunya cara agar rasa baper dan iri yang masih kerap memenuhi hati Cinta, apalagi diam-diam aku sering memergokinya memandangi Mas maupun Akala dari kejauhan. Ditambah lagi, satu tahun ini Cinta juga justru bekerja di sini. Setiap orang bisa berubah. Termasuk orang yang pernah jahat dan mulai berhijrah. Apalagi jika orang itu selalu merasa sendiri tanpa ada yang peduli seperti yang Cinta alami,” tegas Syam lirih sekaligus cepat. “Aku janji aku akan membahagiakannya, meski mungkin, awal-awal akan terasa berat. Biar kami bisa sama-sama fokus.” Kali ini, Syam benar-benar memohon. Kalau gini caranya, Author mendadak pengin bikin novel khusus Syam dan Cinta #eh.
Tak langsung menjawab, Helios justru menghela napas dalam kemudian mengangguk-angguk. “Ya sudah, ... apa pun itu aku dukung. Chole juga pasti akan dukung. Apalagi biar bagaimanapun, Chole sudah menganggapmu sebagai adiknya.”
“Nah itu ... itu jadi satu-satunya yang sebenarnya bikin aku iri banget ke Mas!” balas Syam yang kali ini mengeluh.
“Hah, maksudnya bagaimana?” Helios terheran-heran, tak paham dengan maksud Syam.
Syam menghela napas dalam kemudian berkata, “Mbak Chole ibarat kunci kebahagiaan sekaligus kesuksesan Mas. Mas beruntung banget punya mbak Chole!”
“Meski sudah lama enggak bant*ing orang, aku masih lincah buat melakukannya termasuk ke kamu loh!” jengkel Helios sudah langsung cemburu lantaran istrinya dipuji-puji laki-laki lain, bahkan itu Syam. Namun, bukannya takut apalagi merasa bersalah, Syam justru menertawakannya.
Pulang dari masjid setelah meminta Syam untuk istirahat, ternyata Chole belum tidur. Chole malah sedang melangkah pelan di sekitar ranjang, sementara Kim dan Calista sudah sangat lelap.
“Sudah mau pukul dua pagi loh ... tadi kan sudah tidur?” Namun karena Chole terlihat tidak nyaman, Helios buru-buru menghampirinya.
“Hamil sekarang ... rasanya beneran beda. Ya panas, ya sakit semua ... padahal sebelumnya apalagi pas hamil mas Kim,” ucap Chole tak mau duduk meski Helios sudah menuntunnya.
“Mau ke rumah sakit? Ya sudah ke rumah sakit saja ya. Biar anak-anak kita titipin dulu ke Uwa sama Bibi,” yakin Helios yang masih merangkul punggung Chole.
Chole yang awalnya menatap sekaligus menyimak Helios berangsur merenung. “Cek darah, USG dan sebagainya mungkin ya? Mungkin ada yang perlu dihindari atau malah ditekuni?” Demi kebaikan bersama, pemeriksaan kesehatan secara intensif dirasa Chole perlu segera ia lakukan.
__ADS_1
“Ya sudah, ayo!” sanggup Helios yang juga sudah langsung bersiap-siap, termasuk menyiakan keperluan Chole. “Kamu mau pakai jilbab yang mana?”
Di kehamilan yang kali ini, Chole memang belum pernah melakukan USG. Chole yang sudah pernah hamil dua kali merasa, asal ia menjaga pola makan sekaligus istirahat dan tak lupa olahraga.
“Minta USG dan cek darah buat tahu keadaan lebih lanjut saja dok. Soalnya memang jadi sering enggak badan,” ucap Helios karena kini saja, sang istri sudah merasa tak karuan. Chole masih belum merasa nyaman dan sampai ditawari untuk diinfus.
Sekitar lima belas menit kemudian, mereka sudah siap di ruang USG. Helios masih siaga dan sengaja mengurus Chole agar semacam membopong Chole tak sampai membuat orang lain yang melakukannya.
“Duk ... duk ....”
Ada keanehan di detak jantung janin Chole kali ini. Sang dokter yang melakukan USG langsung menyikapi dengan serius.
“Sebentar ....” Dokter memastikan layar monitor di hadapannya.
“Ada dua detak jantung?!” sergah Helios dan itu juga yang sebenarnya ingin Chole pastikan.
Chole yang awalnya hanya merasakan rasa sakit dan juga sudah membuatnya sangat tidak nyaman, mendadak semangat untuk memastikan.
Detik itu juga Chole langsung kegirangan, meski ia hanya mampu meluapkannya melalui tatapan sekaligus senyuman kepada Helios. Walau Helios tampak belum bisa tenang bahkan kabar janin kembar seolah tak menyentuh hati pria itu, Chole tetap merasa sangat bahagia.
“Enggak apa-apalah jadi kurang fit, yang penting kembar, soalnya pengin banget!” ucap Chole.
“Mau kembar atau enggak, yang penting sama-sama sehat,” ucap Helios sambil mendekap kepala Chole. Ia membenamkan bibirnya di kepala Chole, sementara tangan satunya lagi merab*a sekitar perut Chole.
“Memang ada dua, dan alhamdullilah sehat. Selamat ya. Ini beneran sehat semua!” yakin dokter wanita yang menangani.
Detik itu juga, Chole refleks mendekap tengkuk Helios menggunakan kedua tangannya. “Aku enggak apa-apa, Mas. Sumpah aku bahagia banget. Aku makin semangat!” yakin Chole kepada sang suami.
Helios yang masih menyikapi dengan serius, berangsur mengangguk-angguk sambil mengumbar senyum.
“Kamu wajib sehat, ya. Makin dijaga segala sesuatunya!” pinta Helios.
__ADS_1
Chole mengangguk-angguk. “Iya, Mas!”
Di kehamilan kali ini, mungkin karena efek hamil anak kembar, kesehatan Chole memang jadi kurang baik-baik saja. Ibu Aleya sampai datang dan sengaja tinggal dengan mereka demi membantu Chole, termasuk turut serta mengurus Kim dan Calista. Karena meski memandikan dan menyuapi anak-anak bisa Helios lakukan, di beberapa kesempatan, Helios memang tidak bisa melakukannya karena jadwal pekerjaan Helios yang terbilang padat.
Malam pulang kerja, Helios sengaja diam-diam duduk di belakang Chole yang sedang yoga di balkon kamar mereka.
“Pah ...?” panggil Chole lembut tanpa sedikit pun melirik Helios.
Helios sudah langsung tersenyum pasrah. “Padahal aku sudah enggak bersuara. Jalan mengendap-endap mirip mal*ing, mandi pun di kamar lain,” lembutnya yang kemudian agak maju kemudian mendekap Chole dari belakang.
“Dikiranya cuma Ojan yang punya sinyal janda? Aku pun punya sinyal macam itu. Bedanya, sinyalku sinyal suami. Apalagi kalau sempat LDR cukup lama seperti sekarang!” ucap Chole sambil menahan tawanya.
“Sudah, yang kemarin jadi dinas luar kota terakhir biar aku bisa fokus sama kalian. Apalagi HPL sudah makin dekat,” balas Helios sambil mengelus-elus perut Chole yang memang sudah sangat besar karena kini memang sudah dekat dengan HPL. Bahkan karena kenyataan itu juga, kamar mereka sudah dihiasi dua ranjang bayi berwarna putih dan semua aksesori berwarna putih maupun biru mengingat anak kembar mereka diprediksi berjenis kelamin laki-laki.
“Bentar deh Mah, itu bed cover, boneka, kasur, kok serba pink? Kamu beli?” tanya Helios merasa terganggu dengan apa yang ia sebutkan dan keberadaannya ada di dekat lemari pakaian mereka.
“Itu dari Ojan, katanya buat si kembar,” jelas Chole.
“Ojan emang kampre*t. Anak durhakem. Sudah tahu adik kembarnya laki-laki, kok ya masih dikasih serba pink!” kesal Helios sambil menahan tawanya.
“Diterima saja, yang penting enggak dipakai,” lembut Chole sambil membingkai sebelah wajah Helios kemudian mengec*upnya. “Aku bahagia banget, Pah ....”
Helios membalasnya dengan tersenyum lepas. “Lebih-lebih aku!” ucapnya balas mengec*up pipi Chole yang masih penuh keringat.
❤️TAMAT❤️
Kelanjutannya, bakalan di novel anak-anak ya. Sudah ada novel Kim, novel yang lain menyusul. Follow akun aku atau IG buat tahu kabar karya-karyaku ya. Aku bakalan beresin satu persatu novelnya ❤️
BTW, terima kasih banyak sudah membersamai, mendukung, bahkan mencintai novel ini. Maaf jika ada banyak salah baik yang sengaja maupun tidak. Novel ini ikut lomba Terpaksa Menikahi Suami Cacat, jadi sudah tahu konteksnya, ya. Novel ini bukan novel wanita tangguh apalagi pembalasan istri. Jadi, andai karakter Chole manja, cengeng, berisik, Chole tetap hadir dengan daya tariknya. Kalau enggak suka ya enggak apa-apa. Jangan banding-bandingin ini sama novel Arum apa yang lain, karena dari tema saja sudah beda. Ini terpaksa menikah, bukan wanita tangguh, penderitaan istri, atau wanita tangguh. Intinya kalau baca sambil lihat sub tema, biar enggak kecewa dan mencak-mencak di komentar merasa paling benar 😂
__ADS_1