Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
36 : Rame dan Heboh


__ADS_3

Jujur, diperhatikan oleh Chole dengan tatapan berbinar, ceria, dan sungguh memati*kan, membuat jantung Helios tidak aman. Jegad-jegud bunyi jantungnya saking kerasnya organ pemompa darah itu bekerja. Hingga demi meredamnya, Helios tak berani menatap kedua mata Chole secara terang-terangan. Ia hanya melakukannya melalui lirikan mata kiri yang benar-benar singkat.


Namun, ketika Chole mengakhiri dekapan kedua tangannya pada tengkuk, Helios sudah langsung heboh mengomel kepada Chole dan ia tatap sempurna. “Pengin jatuh? Tangan kananku masih sakit!”


Chole menghela napas dalam sambil menatap tak berdosa sang suami. Ia juga tak segan meminta maaf.


“Aku cuma mau lihat wajah Mas. Seg*elku masih ada apa malah sudah raib?” ucap Chole yang langsung tersenyum kegirangan ketika seg*el merahnya masih terbilang jelas di posisinya. Chole bahkan tertawa lepas lantaran merasa menang.


“Sudah kamu turun! Dikiranya kamu enggak berat!” kesal Helios merasa tawa Chole barusan sama saja mengi*njak-injak harga dirinya.


“Sun dulu ...,” rengek Chole benar-benar manja. Tentu yang ia maksud sun itu c*ium.


Helios refleks menelan ludahnya. Namun entah kenapa, kali ini ludahnya dan harusnya masih berupa cairan, mendadak menyakitkan ketika ia telan. Ia seolah menelan biji kedondong! Ditambah lagi, suasana yang sepi ia yakini memang karena di ruang keluarga lantai bawah kebersamaan mereka yang luas, hanya berisi mereka.


Sadar sang suami tengah melongok sekitar, Chole juga ikut-ikutan. “Aman, Mas!” yakin Chole bersemangat dan buru-buru membuka sebagian cadarnya.


“Aku rasa, gara-gara kamu kewarasanku jadi terganggu!” keluh Helios yang hanya berani men*cium singkat bibir Chole. Terlebih akibat ulahnya, Chole langsung tertawa.


Helios bahkan nyaris melemparkan tubuh Chole andai ia tidak ingat, kini wanita itu segalanya untuknya. Karena kini, Chole juga yang membuatnya buru-buru ingin pulang. Wanita itu juga yang membuatnya ingin terus berkomunikasi, mencari kebahagiaan yang malah mereka dapatkan dari hal-hal ala*y sekaligus leb*ay.


Sepanjang Helios melangkah melewati anak tangga menuju lantai atas selaku keberadaan kamar mereka, Chole yang melangkah sambil memegangi pinggangnya menggunakan kedua tangan efek sisa rasa sakitnya, juga buru-buru lari.


“CHOLEEEEEEEEE!”


Teriakan Helios barusan, Chole dengar bertepatan dengan ia yang baru sampai di depan pintu dapur. Teriakan yang juga membuat Chole panik, syok, sekaligus takut. Hingga ia yang awalnya encok efek menggelundung dari anak tangga, seolah memiliki nyawa tambahan. Ia sudah langsung loncat masuk dapur, kemudian buru-buru menutup pintu dan itu ia lakukan dalam hitungan detik.


Dua orang ART yang tengah mencuci gerabah dan masih memenuhi wastafel terheran-heran menatap ulah Chole yang juga membuat mereka terkejut.

__ADS_1


“CHOLEEEEE!”


Lebih terkejut lagi lantaran suara bariton Helios menggelegar melebihi gemuruh guntur. Mereka termasuk Chole langsung ketakutan. Chole bahkan buru-buru lari memutari meja luas berlapis marmer berwarna hitam yang ada di tengah-tengah dapur. Cara Chole menghindari Helios mirip bocah yang menghindari kejaran ibunya, setelah si bocah melakukan kesalahan fatal.


“CHOLE, singkirkan semua pernak-pernik pink kamu dari kamar!” marah Helios, tapi yang ditatap sudah langsung menatapnya dengan tatapan sangat tidak berdosa. Selain itu, Chole juga terlihat jelas menjaga jarak dan tak mau dekat-dekat dengannya.


Jujur, ekspresi Chole membuat Helios makin gemas. Chole benar-benar menggemaskan layaknya bayi. Dan Helios sadar dirinya sangat beruntung karena memiliki istri mirip boneka barbie. Masalahnya, Helios akan langsung emosi jika ingat suasana kamarnya yang elegan dengan nuansa emas agak gelap, kini jadi cerah dengan warna serba pink!


“Itu ... itu juga kamarku kan, Mas Suami?” bakas Chole yang sudah senam jantung. Ia sampai berkeringat dingin karena jika Helios sedang marah seperti sekarang, pria itu benar-benar menakutkan.


“I-iya ... tapi bukan berarti kamu seenaknya mengubahnya menjadi kamar barbie!” balas Helios benar-benar geregetan meski kali ini berucap lirih.


“Emang enak, Mas! Suasana pink, pokoknya yang serba pink, itu beneran bikin aku enak!” jawab Chole refleks menjawab cepat.


Helios geleng-geleng sambil sesekali menghela napas sekaligus melirik Chole. “Kamu bahkan memasang kelambu pink! Lampu pink! Gorden pink! Seprai selimut, bantal! Bahkan ada bantal berwajah orang Korea di tengah-tengah tempat tidurku!”


“Tapi itu juga tempat tidurku. Dan orang Korea itu, mereka biasku, Mas. Itu Jin RM!” jelas Chole.


ART yang diam-diam menyimak meski mereka berusaha fokus mencuci gerabah, kompak saling lirik sambil berbisik, “BTS. Tadi saja kita dikasih!” Lebih tepatnya, memiliki majikan Chole membuat mereka seolah mendapatkan rejeki nomplok.


Walau takut, Chole berangsur mendekat. Namun ia mendadak loncat ke belakang lantaran Helios kembali membentak. Pria itu maju seolah akan menerk*anya hidup-hidup.


“Cepat singkirkan bantal wajah Jin rumah makan itu! Kamu hanya boleh menaruh gambar satu laki-laki dan laki-laki itu aku! Aku baru pulang tapi kamu sudah bikin hidupku makin beban!” Helios terus marah-marah walau ia sudah memanggul Chole di pundak kanannya.


Membuat ART yang sedang mencuci gerabah jadi cekikikan.


“Jebule si bos cembukur!” ucap salah satu ART berambut ikal itu. Maksud ucapannya, ternyata alasan Helios marah-marah karena pria itu cemburu.

__ADS_1


“Gokil banget! Jin penunggu rumah makan. Padahal itu Jin dan RM BTS!” timpal ART yang satunya dan langsung membuat kebersamaan mereka diwarnai tawa kecil yang sengaja mereka tahan.


Sampai di kamar, Chole terpaksa mengambil bantal berhias sablon foto idolanya dan sampai detik ini masih Helios sebut sebagai jin penunggu rumah makan.


“Terus ini taruh mana, Mas Suamiiiiiii sayang,” rengek Chole benar-benar lirih karena sedih.


“Kasih Mbak saja. Karena kalau aku minta kamu itu buat ganjal lemari, pasti kamu ambil lagi!” Helios masih marah-marah dan makin marah karena ia memergoki, bantal yang dimaksud dan tengah Chole dekap erat justru tengah diciu*mi oleh sang istri.


“I-yaaa. Aku umpetin saja, ya? Lihat ini, Mas. Ini ada tanda tangan asli soalnya aku belinya langsung di Gamnam! Papah kasih ini buat hadiah ulang tahunku yang ke dua puluh lima kemarin!” Chole melangkah cepat sambil terus mendekap bantalnya. Ia menghampiri Helios yang masih berdiri di bibir pintu kamar mandi. Demi membujuk Helios, ia sengaja memeluk erat pria itu.


Detik itu juga Helios mendengkus. Amarahnya langsung surut, langsung luluh. Hingga beberapa menit kemudian, bantal itu memiliki posisi di meja, bukan lagi di ranjang mereka. Terakhir, Chole sampai membantu Helios seka di kamar mandi.


“S-sayang, ... ini apa?” lirih Chole bersama senyumnya yang hilang.


Chole melihat bekas bibir berwarna merah darah di leher sebelah kiri Helios. Masalahnya itu bukan miliknya.


“Apa sih?” lirih Helios bingung. Ia yang tak lagi memakai kacamata maupun masker karena tubuhnya saja hanya tertutup bagian bawah menggunakan handuk, menatap Chole penuh tanya.


Chole mengusap kuat bagian yang dimaksud saking kesalnya hingga Helios mundur sambil meringis.


“Chole ...?!”


“Lipstik! Ini bibir siapa nyangkut di sini? Kenapa enggak di depanku saja, biar tuh bibir aku bikin dendeng?!” kesal Chole sambil menunjukkan bekas lipstik yang menempel di handuk sekanya.


Helios langsung merenung dan perlahan paham kenapa kejadiannya sampai sekarang. Shin. “Aku sudah bilang ke dia, aku punya istri. Mungkin efek aku nolong dia, dia jadi baper dan. Sudah, beneran enggak penting!”


“Besok kalau ketemu dia lagi, kasih fotoku ke dia!” tegas Chole benar-benar marah melebihi singa betina.

__ADS_1


Helios menghela napas sambil menggeleng. “Aku bahkan enggak berharap bertemu dia lagi!” Tiba-tiba saja ia teringat kasus Cinta yang membuatnya jadi khawatir pada Chole sekeluarga.


“Asli aku heran sama wanita ataupun orang yang tipe Shin. Doyan sama pasangan orang. Enaknya memang dibikin dendeng!” kesal Chole. Saking kesalnya, ia sampai menggosok kuat bahu kiri Helios menggunakan handuk seka hingga suaminya kembali meringis.


__ADS_2