
Seperti biasa, mata Chole sudah bengkak meski wanita itu sadar, sang suami sudah selesai menjalani operasi mata. Chole bahkan tetap membiarkan jemari tangan kanannya bertasbih, meski tangan kirinya sudah menggenggam erat tangan kanan Helios. Ia membuat ruas jemari mereka mengisi satu sama lain, menegaskan mereka memang tak akan terpisahkan, kecuali maut yang menjemput.
“Batalin puasanya. Kasihan janin kamu,” lirih ibu Aleya dan kali ini, ia agak mengomel keada Chole.
Meski sudah dinyatakan sukses menjalani operasi mata, efek operasi memang membuat Helios belum siuman dan itu menjadi kekhawatiran tersendiri untuk Chole.
“Chole nangis terus yah, Mah?” tanya Helios tanpa tanda-tanda dirinya bangun.
Kendati demikian, ulah Helios sudah langsung membuat Chole tersenyum senang.
“M-mas ...,” refleks Chole yang sudah langsung merengek.
“Kamu buka puasa dulu, baru ngobrol lagi. Atau, boleh ngobrol, tapi sambil buka puasa,” ucap Helios masih terdengar lemah.
“Iya, Mas ... aku nurut,” ucap Chole benar-benar patuh.
Hingga satu minggu berlalu dan aktivitas mereka masih sebatas di ruang rawat, perban mata Helios akhirnya akan dibuka.
“Chole, ... aku tetap belum bisa lihat apa-apa,” ucap Helios.
“Perbannya belum dibuka, Mas. Masih proses, ... masih proses!” yakin Chole yang sudah dag-dig-dug saking tegangnya menyambut hasil operasi mata sang suami.
Interaksi Chole dan Helios yang kerap lucu, dari Helios yang kadang galak sementara Chole ngelunjak, menjadi hiburan tersendiri untuk Tuan Maheza dan ibu Aleya yang ada di sana. Hingga meski mereka sedang menangis dan sedih sekaligus khawatir, jika Chole dan Helios sudah seperti sekarang, mereka tidak bisa untuk tidak tertawa.
__ADS_1
“Chole, kamu di sebelah mana?” sergah Helios. ia terlalu bersemangat setelah sadar, semua perban sudah dilepas tuntas dari kedua matanya. “Kamu harus jadi hal yang pertama aku lihat!”
“Kalau sudah begini, Mas juga mirip bayi, bukan hanya aku yang bayi!” protes Chole. Ia memutuskan untuk membingkai wajah Helios menggunakan kedua tangannya dan membuat wajah mereka nyaris tak berjarak, agar harapan sang suami menjadikan wajahnya sebagai hal pertama yang terlihat oleh mata kanan yang baru dioperasi, terwujud.
Cahaya samar yang begitu berkilau perlahan menyapa mata kanan Helios. Mata itu menyipit lantaran refleks menghalau sinyal.
“M-mas ....,” lembut Chole menunggu reaksi Helios.
“Heum ...?” lirih Helios mendapati bayang-bayang wajah sang istri. Kali ini benar-benar tak hanya mata kirinya, tapi juga mata kanannya yang telah dioperasi.
Senyum manis tersungging dari kedua sudut bibir Helios. Senyum yang menular dan membuat Chole bahkan kedua orang tuanya tersipu.
“Kesabaran Chole tidak hanya membuat sikap Helios yang awalnya dingin bahkan keja*m menjadi lembut penuh perhatian. Karena kesabaran Chole yang tak segan merangkul Helios menjadi manusia lebih baik lagi berhasil membuat pria buru*k rupa dan mata kanannya buta, menjelma menjadi pangeran yang benar-benar gagah sempurna. Selamat yah, Chole. Mamah bangga ke kamu. Semoga kalian diberi anak-anak yang pintar, lucu-lucu, murah rezeki, yang juga penyabar super semangat kayak kamu. Ibaratnya, kamu ini berlian yang selalu berkilau, pelangi dengan segala warna sekaligus pesonanya. Memang beruntung banget siapa pun yang kenal apalagi punya kamu. Mamah yakin, itu juga yang Helios rasakan!” batin ibu Aleya yang merasa terharu. Ia menitikkan air mata menyaksikan interaksi manis kedua mata Chole dan Helios yang tadi sempat bertatapan lama. Namun kini, tanpa harus membuat Chole meminta apalagi merengek, Helios sudah langsung memeluk Chole erat. Pelukan yang benar-benar mesra. Karenanya, ibu Aleya juga refleks memeluk suaminya yang ia dapati tak kalah bahagia darinya.
“Rezekinya Chole,” ucap Tuan Maheza merasa bangga kepada Chole. “Asli Papah bangga banget ke Chole. Meski anaknya berisik pecicilan dalam artian manja, aslinya Chole tangguh banget!” bisik Tuan Maheza sambil terus membalas dekapan ibu Aleya.
“Setelah ini, asli aku berani menghadapi pengusaha bedak itu!” yakin Helios dan tentu saja yang ia maksud Rayyan.
“Rayyan itu CEO perusahaan fashion, Mas. Bukan pengusaha bedak!” yakin Chole lembut.
“Tapi dia juga pakai make-up, bibir saja dipoles-poles. Asli aku ilfi*l!” sewot Helios.
Chole refleks terkikik. “Amit-amit ih, Mas. Nanti kalau anak kita ikut-ikutan, gimana?”
__ADS_1
“Enggak ada ceritanya! Silsilahnya saja enggak ada!” yakin Helios.
“Sudah ... sudah, habis ini langsung beli oleh-oleh yuk!” segah Chole bersemangat.
Hari ini, ibu Aleya dan Tuan Maheza berencana pulang. Chole sengaja membeli oleh-oleh untuk dititipkan karena ia masih harus di sana. Sebab tiga hari lagi, Helios sudah harus kontrol. Jadi, daripada mereka khususnya Chole yang sedang hamil kecapean di jalan, mereka disarankan untuk tinggal di hotel.
***
“Alhamdullilah banget!” ucap Chole sembari melepas kepergian orang tuanya di bandara.
Helios yang turut melepas kepergian mertuanya dengan kedua matanya, makin tersenyum lepas. “Alhamdullilah, ... rasanya seperti mimpi. Meski jujur, kalau ingat keluargaku, asli aku nelangsa.” Kini saja, ia sudah langsung berkaca-kaca.
Chole sengaja mengeratkan dekapan kedua tangannya terhadap lengan kanan Helios. Iya, ia tak harus serba di kiri lagi karena meski kini ia di sebelah kanan, sang suami sudah bisa melihatnya dengan leluasa. “Mereka pasti bahagia kalau Mas juga bahagia. Mereka akan ikut bangga kalau Mas jadi manusia yang lebih berguna. Jadi, nanti selain mulai usaha, kita kan juga bakalan bangun pesantren. Orang tua Mas pasti bahagia banget karena akhirnya, pesantren dibangun dan berjalan lagi. Jadi nanti, untuk pengurus pesantren, aku juga akan selektif yah, Mas. Jangan sampai pesantren kita juga dihuni oleh preda*tor s*e*k*s yang mengatas namakan agama sekaligus surga untuk menje*rat mang*sanya. Contohnya saja pak Mul, kan. Mbak di rumah sudah kena semua. Kan ba*j*ingan banget. Dipercaya malah dakjal!” Chole sungguh akan selektif apalagi akhir-akhir ini ia sudah terlalu muak dengan kasu*s pele*ceh*an terhadap wanita di bawah umur yang selalu saja marak dan biasanya justru berkembang di lingkungan agama sekaligus masyarakat kalangan b*awah.
“Nanti pasti selektif. Nanti kamu yang pimpin sekaligus punya. Asal jangan dikasih foto apalagi lagu BTS aja! Apalagi foto Jung kook!” balas Helios. Iya, pembangunan pesantren ia dedikasikan untuk Chole. Ia membangun pesantren untuk Chole maupun anak-anak mereka.
“Aku enggak sengeri itu kok Mas. Ya bagi-bagi situasi ih. Mas ini kelihatan banget dend*amnya ke si Jung Kook!” ucap Chole yang terkikik geli. Ia berangsur berjinjit untuk mendekap erat tengkuk Helios.
“I love you!” bisik Helios dengan sadar tanpa permintaan apalagi paksaan.
Sekelas Chole saja sampai terkejut bahkan merinding. Chole menatap tak percaya kedua mata suaminya yang detik ini sudah langsung menatapnya penuh Cinta.
“I love you too, Mas!” balas Chole kegirangan kemudian buru-buru mendekap erat tengkuk Helios lagi. Helios sendiri sudah langsung memeluk Chole erat di antara lalu lalang pengunjung bandara yang beberapa di antaranya langsung menjadikan apa yang mereka lakukan sebagai fokus perhatian.
__ADS_1