Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
110 : Janji


__ADS_3

“Dia kenapa? Bawa dua kantong sebanyak itu enggak mau dibantuin,” ucap Helios terheran-heran menatap putranya.


Chole yang berdiri di sebelah Helios sambil berjemur di bawah matahari pagi, juga tak kalah heran. “Yang Mamah tahu, dua kantong warna oren itu mas Kim siapin buat temannya yang namanya Ryu.”


“Orang Jepang? Tetangga baru?” balas Helios yang kemudian menyusul kepergian sang putra.


Kim yang melangkah buru-buru sambil menenteng dua kantong bahan warna oren, sampai keluar dari halaman rumah. Kedua ajudan yang mengawal sampai kewalahan lantaran setiap bantuan yang keduanya ajukan, selalu Kim tolak.


“Om-Om enggak usah ikut ... aku mau ketemu temenku. Dia baik, namanya Ryu. Mamah sudah tahu!” yakin Kim sambil terus berjalan.


“Penasaran, ... sebenarnya Ryu seperti apa karena sejauh ini, aku memang hanya tahu namanya. Nama teman Kim yang mau dikasih hadiah itu Ryu, tapi aku juga belum pernah bertemu Ryu.” Chole yang penasaran, berangsur menyusul. Ia melangkah hati-hati sambil mengelus perutnya yang besar, menggunakan kedua tangan. Di depan sana, Helios sampai berlari dan nyaris berhasil menyusul Kim.


Kim yang akan sampai gerbang, berangsur menghentikan langkahnya. Ia yang memakai topi hitam, menatap sebal orang-orang di belakangnya, termasuk itu sang papah. “Kalian kenapa, sih?”


“Papah dan semuanya ingin kenalan sama Ryu juga. Kami ingin berteman!” yakin Helios.


“Tapi Ryu pemalu, Papah!” balas Kim masih lembut.


“Cowok?” tebak Helios sambil kembali melangkah mendekati putranya lagi. Namun, Kim berangsur menggeleng.


“Tetangga kita? Teman sekolah?” Helios kembali menebak-nebak.

__ADS_1


“Dia perempuan dan dia hobi belajar. Makanya aku siapin banyak buku buat dia. Dari buku pelajaran TK, SD, SMP, sampai SMA! Orang tuanya terlalu mis*kin buat menyekolahkan dia, jadi dia harus banyak belajar biar bisa dapat beasiswa!” jelas Kim.


Saking lancarnya sang putra berbicara dalam konteks orang dewa*sa, Helios jadi sulit percaya, apa yang membuat putranya begitu? Kenapa putranya jadi emosional? Adakah hal yang telah Kim tahan, membuat Kim merasa gagal dan sebagainya? Pikir Helios.


“Mamah juga ikut, ya!” sergah Chole yang membuat Helios buru-buru menghampirinya. Helios langsung merangkulnya, menuntunnya dengan sangat hati-hati.


Tak lama kemudian, mereka kompak berjalan menyusuri sepanjang jalan hingga sampailah mereka keluar dari kompleks rumah mereka berada. Kim tak lagi menenteng kantong berat berisi bukunya. Kedua kantongnya sudah ditenteng salah satu ajudannya, yang mana kenyataan tersebut menjadi syarat dari sang papah jika Kim ingin diizinkan bertemu Ryu dan memberikan hadiah pilihannya.


Ryu yang Kim maksud, ialah bocah perempuan selaku anak dari pasangan pemulu*ng yang beberapa kali sempat Kim beri banyak makanan ketika mereka bertemu saat jalan santai pagi-pagi.


“Ryu, ... kamu jadi pulang kampung?” sedih Kim sambil menghampiri Ryuna yang berdiri di belakang gerobak besar. Malahan tadi Kim melihat sendiri, kedua tangan kecil Ryuna yang sebenarnya tidak memiliki banyak tenaga apalagi Ryuna bertubuh kurus, sengaja membantu mendorong gerobak.


Dengan tegar, Ryuna yang penampilannya ibarat langit dan bumi dari Kim, mengangguk-angguk. “Bapakku makin sering sakit, jadi kami akan pulang kampung besok. Hari ini menjadi hari terakhir kami mul*ung.” Ia menjelaskan dengan tertata sekaligus sangat jelas. Terlebih, di hadapannya, Kim tampak menahan tangis.


Kedua tangan kurus Ryuna dengan sigap menerima. Walau kurus, nyatanya tangan itu sangat perkasa dan mungkin karena Ryuna terbiasa bekerja.


“Ini buku-buku yang bisa bikin kamu pintar. Kemarin aku cari sama mamah aku! Kamu beneran harus belajar. Kamu masih rajin belajar berhitung sekaligus membaca seperti yang aku ajarkan, kan?” sergah Kim benar-benar serius. Di hadapannya, Ryuna langsung mengangguk-angguk. Kemudian ia menurunkan dua kantong pemberian Kim, sementara sang ibu yang tadi menarik gerobak, dengan sigap menerima.


Ryuna mengambil kantong hitam lusuh sekaligus kot*or dari gerobak bagian depan. Kemudian sambil terus melangkah menghampiri Kim, ia mengeluarkan buku tulis tak kalah lusuh dari kantong tersebut.


“Aku sudah bisa menulis nama bapakku, nama ibuku, dan kemarin aku bisa menulis nama kamu,” jelas Ryuna sambil menunjuk tulisan pensil yang masih acak-acakan di lembar bukunya.

__ADS_1


Tangis yang sedari tadi Kim tahan akhirnya pecah. “Iya, kamu memang hebat. Kamu pasti bisa lebih lagi. Janji yah, kamu harus jadi orang pintar, cerdas, dan sebisa mungkin jadi juara kelas biar bisa dapat beasiswa. Karena hanya dengan begitu, kita pasti akan bertemu meski entah kapan!”


Ryuna yang jauh lebih tegar, berangsur mengangguk-angguk. “Iya, aku janji!”


Chole yang tak kalah cengeng dari Kim, juga sudah ikut menangis. Tersedu-sedu Chole sembari menyeka air matanya menggunakan kedua jemari tangannya. Chole dapati, sang suami yang meminjam uang kepada kedua ajudan mereka. Helios memberikan sejumlah uang kepada ayahnya Ryuna. Awalnya ayah Ryuna menolak keras, terus menggeleng sambil memberikan kedua telapak tangannya kepada Helios. Namun karena Helios terus memaksa dan Kim yang terus tersedu-sedu juga sampai memohon, ayah Ryuna tak memiliki pilihan lain selain menerima.


Hari itu menjadi hari perpisahan Kim dan teman baiknya, Ryuna. Jarak dan waktu memang akan memisahkan mereka. Namun, sebuah janji telah mengikat mereka. Dalam hati kecil mereka, baik Kim maupun Ryuna yang kerap menoleh meski kedua kaki mereka telah melangkah pergi yakin, suatu saat nanti, mereka benar-benar akan kembali bertemu dalam keadaan sama-sama sukses.


“Sini ... sudah jangan menangis lagi,” lembut Helios tak tega kepada keadaan putranya. Ia memutuskan untuk mengemban Kim. Jika sudah menangis, Kim memang tidak beda dengan Chole. Kim tipikal yang sulit mengakhiri kesedihannya lantaran Kim terlalu perasa.


“Kenapa Mas membiarkan teman Mas pergi, jika kepergiannya justru membuat Mas sangat sedih?” tanya Helios masih lembut.


“Biar dia jadi orang hebat. Biar dia jadi orang tangguh yang bisa berguna melebihi orang tuanya.” Kim masih tersedu-sedu.


“Itu yang Mas tanyakan ke Mamah kemarin. Tapi alasan Mamah kasih jawaban itu ke Mas karena—” Chole merasa berat dan merasa bertanggung jawab atas kesedihan sang putra.


“Kemarin Mas tanya, Mamah pilih bawa teman buat tinggal sama kita tapi dia berpisah dari keluarganya, atau membiarkan dia bersama keluarganya tapi kita enggak akan pernah bertemu apalagi sama-sama, sama dia lagi? Terus Mamah bilang, Mamah pilih membiarkan teman kita bersama keluarganya, asal keluarganya sayang sama dia karena seorang anak memang harus sama papah mamahnya, atau pun keluarga yang dia punya,” ucap Chole.


Tersedu-sedu, Kim yang menunduk berangsur mengangguk. “Soalnya Ryu enggak mau tinggal sama aku. Dia tetap mau tinggal sama ibu bapaknya karena dia sayang bapak ibunya!”


“Ryu juga sayang banget ke Mas. Buktinya, Ryu berjanji dan kalian sama-sama berjanji buat bertemu lagi!” yakin Helios yang kemudian menimang-nimang Kim.

__ADS_1


Meski Kim merupakan pribadi hangat dan gampang berbaur dengan sesama, selain Kim yang selalu menjadi idola, kejadian Ryu kali ini benar-benar menjadi pertama kalinya Kim terlihat sangat kehilangan. Menandakan jika Kim memang sangat menyayangi Ryuna. Menandakan jika bagi Kim, Ryuna spesial. Nyatanya, Kim rela bersedih untuk kebahagiaan Ryuna yang lebih memilih orang tuanya.


__ADS_2