
“Bersamanya, aku merasa dicintai. Aku merasa diinginkan. Terlebih dia juga tak mempermasalahkan kebutaan mata kananku apalagi takut ke wajahku lagi,” batin Helios membiarkan Chole menggandengnya, mengantarnya hingga teras depan.
Mereka melangkah santai. Membiarkan keheningan di sana menciptakan ketenangan bagi mereka yang sampai detik ini masih bergandengan.
“Mas, ... kalau aku kangen Mas, ... aku boleh telepon, apa video call, enggak?” tanya Chole.
“Kirim pesan saja,” singkat Helios.
“Loh, kenapa? Satu kali saja beneran enggak bisa, walau itu dari istri?” balas Chole heran. “Mas kan pimpinan.”
“Namun klienku juga butuh privasi, Chole. Pekerjaanku berbeda dengan pekerjaan orang pada kebanyakan termasuk dari pekerjaanmu,” sergah Helios mematahkan pandangan sang istri terhadap pekerjaannya.
Terlalu banyak perbedaan dalam hidup mereka, diam-diam Chole mengakuinya. Karena itu juga, Chole mewajibkan dirinya untuk jauh lebih peka, lebih memahami keadaan agar ia menemukan solusi untuk setiap perbedaan di antara mereka. Terlebih seperti awal keyakinannya, bahwa pada dasarnya semua orang bahkan mereka yang sudah menjadi pasangan merupakan dua sosok berbeda. Keduanya hanya disatukan dalam sebuah ikatan dan membuat mereka membangun kenyamanan agar hubungan yang mereka jalani dapat mereka nikmati.
“Ada wanitanya, ya? Bahkan sepertinya memang banyak!” gerutu Chole mendadak cemburu. Kali ini ia tidak bisa mengontrol emosi, tapi maksudnya baik. “Aku bilang begini karena aku ingin Mas tahu, aku cemburu!”
Helios sudah langsung menghela napas dalam lantaran merasa tak habis pikir kepada Chole. Terlebih baginya, hanya dirinya yang pantas cemburu dalam hubungan mereka apalagi pada kenyataannya, mereka ibarat si cantik dan si buruk rupa.
“Kalaupun ada bahkan banyak, mereka enggak sudi walau itu sekadar melirikku. Yang ada mereka jijiik! Mereka takut kepadaku!” kesal Helios menatap Chole.
Chole terkesiap menatap sang suami yang masih ia gandeng tangan kirinya. “Lah itu, ... yang lain saja begitu ke Mas, terus kenapa giliran aku takut ke Mas, Mas langsung marah bahkan benci ke aku?” protesnya.
Pertanyaan barusan sudah langsung membuat Helios kebingungan. Untuk beberapa saat, Helios sempat diam hingga akhirnya ia berkata, “Ya karena kamu terlalu berisik!”
__ADS_1
“Tapi berisikku memang jujur. Aku bukan orang yang lain di mulut lain di hati. Termasuk pekerja wanita yang memberikan perhatian cuma-cuma di luar sana tanpa terkecuali yang berkeliaran di sekitar pekerjaan Mas. Mereka begitu karena mereka ada maunya. Karena andai Mas enggak punya posisi apalagi uang, ya mohon maaf pasti mereka enggak mau kenal!” ucap Chole.
Menghadapi Chole yang berisik layaknya sekarang, sudah langsung membuat kepala Helios pusing. “Kalau kamu berisik begini, beban hidupku jadi tambah. Ya sudah, aku pergi. Kalau ada apa-apa langsung kabari asisten pribadimu. Yang antar pulang kita tadi, dia asisten pribadi kamu. Namanya Doni!”
“Eh, Mas. Bentar! Mas mau pergi dan pulangnya besok, sementara selama itu jangankan vidio call, telepon suara saja enggak boleh. Sini, aku segel dulu!” berisik Chole sambil mengeluarkan sesuatu dari pinggir gamis kanannya.
Helios sudah langsung syok, penasaran dengan apa yang akan Chole lakukan tapi ia yakin, istrinya akan melakukan hal nekat. “HAH?” Sebuah lipstik merah yang Chole keluarkan langsung membuatnya tak bisa berkata-kata. Apalagi ketika Chole dengan buru-buru bercermin di gagang pintu.
Di sana memang minim jendela kaca dan Helios sengaja membuatnya begitu, akibat pobianya terhadap wajahnya sendiri.
“Sebelah mana, ya? Kening! Sampai besok jangan dihapus loh, Mas. Kalaupun hilang karena keringat, ya enggak apa-apa yang penting bukan dihapus karena sengaja. Eh, jangan hanya kening deh, semuanya saja!” Chole masih heboh, masih membingkai kedua sisi wajah Helios menggunakan kedua tangannya. Dan menggunakan bibirnya yang sudah sangat merah, ia menyegel wajah suaminya.
“Chole!” tegur Helios sambil terpejam pasrah.
“Terima kasih banyak. Sering-sering begini. Ibaratnya, ini nyawa tambahan yang sengaja kamu kasih ke aku!” lirih Helios, antara serius tapi juga marah. Terlebih tanggapannya justru dibalas tawa tak berdosa oleh sang istri.
“Hanya kamu yang berani kur*ang ajar begini ke aku!” sewot Helios lantaran ketika akan ia kejar, Chole sudah terbirit-birit masuk.
Helios terpaksa pergi tanpa bisa melihat Chole di detik-detik kepergiannya.
“M-mas!” Meski pada kenyataannya, keyakinan Helios salah lantaran nyatanya, sang istri sudah ada di balkon lantai atasnya. Chole masih pecicilan dan tampak sangat ceria, dadah-dadah kepadanya dengan lipstik merah yang masih wanita itu genggam menggunakan tangan kanan.
Helios yang sampai menengadah hanya untuk memandangi Chole, refleks mesem. “Ada orang seperti dia? Baru nangis ketakutan dan beneran histeris mirip orang trauma, kok sekarang justru pecicilan cekikikan gitu?” batin Helios sambil geleng-geleng menatap sang istri. Namun tiba-tiba Helios menyadari, sang istri mirip pelangi.
__ADS_1
Bagi Helios, Chole tersusun oleh banyak karakter yang wanita itu satukan hingga menciptakan banyak keindahan.
“Sampai kita menua dan kita beneran enggak bisa apa-apa, aku bakalan terus bikin Mas berulang kali jatuh cinta ke aku!” batin Chole masih melepas kepergian Helios.
Tampang Helios yang disegel sang istri khususnya di bagian kening yang tak tertutup, langsung menjadi pusat perhatian. Dari mereka yang ada di depan rumah megah Helios, juga mereka yang ada di markas tanpa terkecuali, Syam yang langsung Helios temui di ruang rawat
Syam langsung mesem. “Hubungan Mas dan mbak Chole benar-benar baik.”
“Duniaku memang langsung jungkir balik!” sadis Helios.
Syam yang refleks menertawakan balasan Helios dan terdengar ngenes, refleks berkata, “Tapi Mas benar-benar bahagia. Beda banget loh Mas dari biasanya. Aura pengantin barunya beneran terasa!”
Helios mengangguk-angguk dan memang membenarkan anggapan Syam. Tanpa tahu, di depan pintu ruang rawat ada beberapa mafia yang diam-diam menyimak. Ketiganya mempermasalahkan kinerja Helios.
Sambil melangkah pergi dari depan pintu ruang kesehatan, mereka masih berjejer membahas kemungkinan terburuk andai Helios juga bucin mirip Excel.
“Sejak bos Excel enggak aktif gara-gara pernikahannya saja, kita sering kecolongan. Apa kabar kalau bos Helios juga menyusul? Bisa jadi, nasib kita juga enggak jauh berbeda bahkan sampai lebih dari Syam!” bisik si pria yang berdiri di antara kedua rekannya dan ditanggapi anggukan serius oleh kedua rekannya. Tak beda dengannya, kedua rekannya juga terlihat sangat khawatir pada keadaan.
Karena andai Helios mengikuti jejak Excel yang langsung bucin ke istrinya, otomatis nasib anak buah mafia Helios juga langsung terancam!
“Kita enggak boleh biarin itu terjadi. Pelan-pelan, kita harus bikin Bos melupakan istrinya! Kita harus buat, wanita bahkan istri itu enggak penting karena asal kita punya uang apalagi kalau ditambah kita juga punya kedudukan, urusan wanita beneran kecil!” ucap mafia yang masih berdiri di tengah dan masih berbisik-bisik.
Rencana pun dibuat.
__ADS_1
“Nanti kita kan bakalan ke acara pelelangan dan di sana banyak wanita cantik sekaligus seksi!” mereka tersenyum dan sangat bersemangat. Tak sabar karena mereka juga ingin ‘bersena*ng-sena*ng’.