
Mendengar kabar kedatangan Helios, Syam yang masih duduk di kursi roda, benar-benar bahagia. Lebih bahagianya lagi ketika Helios yang datang bersama Chole, tengah fokus membuat jus jambu biji merah.
Pada kenyataannya, dulunya Helios merupakan pria lemah lembut yang serba bisa. Termasuk urusan pekerjaan rumah lengkap dengan memasak, Helios benar-benar bisa. Terlebih meski anak kyai, Helios juga sempat mencicipi suasana kehidupan pondok yang selalu membuat para santri untuk hidup mandiri.
“Aku baru tahu kalau ternyata Mas bisa. Cuci buah, potong buah, taruh ke blender, beneran enggak kaku. Kayak sudah terbiasa,” ucap Chole. Ia yang awalnya duduk menunggu berangsur melangkah menghampiri Helios. Ia sengaja mendekap Helios dari samping kiri. Helios yang baru menyalakan blendernya, berangsur menggunakan tangan kirinya untuk merangkul tubuh Chole.
“Sudah pakai susu cair enggak usah dikasih kental manis kayak yang biasanya kita beli, kan?” tanya Helios.
“Iya, enggak usah. Lagian Mas juga enggak boleh mengonsumsi yang manis-manis,” balas Chole.
“Tapi kasih dikit juga enggak apa-apa sih, biar lebih enak,” ucap Helios yang kemudian menatap Chole, tapi sang istri sudah langsung menertawakannya.
Melihat interaksi manis antara Helios dan Chole, Syam jadi tidak enak mengganggu. Syam memutuskan mundur dan tak jadi masuk. Ia sengaja pergi dari sana menggunakan kursi roda elektriknya. Barulah sekitar dua puluh menit kemudian, Helios memboyong Chole dan masing-masing dari keduanya membawa gelas besar berisi jus yang dibuat.
“Mereka akur banget ya? Kelihatan bahagia banget gitu?” pikir Syam. Yang ia tahu, Helios sudah berhasil menjalani operasi plastik. Namun jika melihat kebahagiaan yang menyelimuti Chole dan Helios, Syam yakin kebahagiaan keduanya, lebih dari keberhasilan yang Helios jalani.
“Syam ... gimana?” sergah Helios semringah ketika memergoki Syam ada di teras depan taman dan keberadaannya tidak begitu jauh dari dapur.
“M-mas ...!” Syam tak kalah semringah. Ia tatap wajah Helios dan juga wajah Chole, silih berganti.
Sampai detik ini, Helios masih menutupi wajah maupun kedua matanya. Masker hitam maupun kacamata hitam, masih menutupi wajah Helios, nyaris tak ada perubahan dari gaya Helios sebelumnya.
Helios membiarkan tangan kanannya disalami dengan takzim oleh Syam.
__ADS_1
“Mas kelihatan sehat banget,” sergah Syam.
“Alhamdullilah. Kamu gimana? Besok wajib siap, ya! Kamu bakalan punya tugas khusus!” balas Helios yang kemudian mengelus-elus perut Chole.
Syam yang tahu maksud Helios langsung tersenyum lepas. Ia tak bisa berkata-kata, tapi ia segera menatap Chole dengan tatapan penuh terima kasih.
“Mbak Chole memang pawangnya Mas Helios ... ditambah lagi sekarang sudah ada calon bos kecil! Mm, beneran sudah enggak bisa jauh-jauh kalau gini caranya!” ucap Syam dan langsung disambut tawa bahagia oleh Chole. Lain dengan Helios yang hanya tersipu.
“Mas, buka dong maskernya. Takutnya pas ketemu tanpa masker, yang ada aku justru enggak mengenali Mas!” lanjut Syam kali ini merengek dan lagi-lagi membuat Chole tertawa.
“Asli aku malu. Enggak pede. Yang kemarin enggak pede, yang sekarang pun tetap enggak pede,” jelas Helios yang kemudian menyeruput jusnya melalui sedotan.
“Sini ... sini,” lirih Chole. Awalnya ia berjinjit hanya untuk membuatnya lebih leluasa membuka maskernya. Namun itu hanya berlangsung sesaat lantaran Helios segera membungkuk sekaligus menunduk, hingga kinerjanya lebih mudah.
“Alhamdullillah ...,” ucap Syam refleks.
“Iya, ... iya, Mbak Chole. Masya Allah banget.” Syam mengoreksi ucapannya sambil mengangguk-angguk. “Tapi dulu juga gitu, Mbak. Cuman yang sekarang versi dewasanya.”
“Kamu enggak sekalian sebut aku tua, Syam? Usiaku nyaris genap empat puluh tahun,” ucap Helios sudah langsung sensi*tif. Namun, Chole yang tertawa dan tawanya menular, juga membuat sekelas Syam yang selalu tunduk kepadanya tertawa.
Segera Helios mengajak Chole untuk duduk. Bersama Syam, mereka mengobrol banyak hal. Termasuk persiapan Syam sebelum kaki palsunya dipasang. Seperti yang mereka khawatirkan, Syam tak hanya tegang, tapi juga takut.
“Nanti dikonsultasikan saja, kita kan punya dokter pribadi.” Terlalu asyik mengobrol, Helios baru menyadari, jus jambu biji merah yang ia nikmati juga sudah habis.
__ADS_1
“Obat sama ramuannya kamu minum, kan?” tanya Helios.
Syam mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Di badan jadi enteng.”
“Oh, iya?” tanggap Helios terkejut sambil menerima gelas jus milik sang istri. “Sepertinya aku juga wajib coba ramuan herbalnya, biar badan jadi enteng juga!” ucapnya bersemangat kepada sang istri.
Chole hanya menertawakan Helios. “Coba satu, kalau memang cocok, kita beli lagi,” usul Chole.
Kebahagiaan Helios dan Chole, seolah menular pada Syam yang awalnya sempat kehilangan semangat hidup. “Mbak, Mas Helios ngidam yang aneh-aneh, enggak?”
“Suah mulai, tapi belum yang wah gitu, Mas. Alhamdullilah, khawatirnya ngidam aneh-aneh,” balas Chole.
“Kenapa kamu enggak langsung tanya ke aku saja?” omel Helios sambil menikmati jusnya. Justru ia yang menghabiskan jusnya, padahal awalnya ia berniat membuatkan itu kepada Chole, selain Chole yang memang minta.
“Ya kalau aku tanya langsung ke Mas, pasti Mas bohong atau malah enggak jawab. Mas kan biasanya gitu!” jujur Syam yang kemudian berkata, “Mbak Chole, ini aku blak-blakan, jujur sejujur-jujurnya. Jadi kalau ada apa-apa, tolong lindungi aku ya. Kan Mbak pawangnya mas Helios!” mohonnya kepada Chole. Ia sampai memasang wajah melas agar Chole makin kasihan kepadanya.
Lagi-lagi Chole hanya tertawa. Termasuk juga dengan Helios yang membiarkan wajahnya tidak tertutup masker hitam lagi.
“Mas, kemarin anak-anak heboh loh, pas tahu Dandi sama Ben diajak ke Korsel,” cerita Syam.
“Sudah aku duga. Bilang saja semuanya pasti dapat kesempatan. Apalagi sejauh ini, membuat semuanya merasa dihargai apalagi setia, itu beneran enggak mudah. Ada saja yang terg*oda dengan tawaran menggiurkan dari luar,” balas Helios.
“Dibawa santai saja sih, Mas. Enggak usah terlalu dipikirkan. Kita juga enggak perlu mem*aksa mereka buat setia ke kita. Andai semua ketulusan kita enggak bisa menyentuh hati mereka, berarti memang belum jodoh. Lebih baik punya anak buah sedikit tapi setia, daripada banyak tapi enggak setia. Terlebih sejauh ini, setia dan kekompakan menjadi kunci sebuah hubungan termasuk sebuah organi*sasi jaya,” komentar Chole. “Pasti nanti ada saja yang tahu diri dan dengan sendirinya setia tanpa harus diminta apalagi dipa*ksa. Sabar saja, semuanya beneran butuh proses. Yang penting kita sudah melakukan yang terbaik. Bukan hanya sikap kita yang tergantung sikap mereka. Karena sikap mereka juga tergantung sikap kita. Enggak mungkin enggak ada yang tulus apalagi setia, jika kita saja sudah tulus dan selalu setia,” yakin Chole lagi.
__ADS_1
Syam mengangguk-angguk. “Bener, Mbak. Mbak bener banget. Pantas Mbak Chole jadi pawangnya Mas Helios. Lihat, orangnya jadi enggak sibuk marah-marah kan.”
Chole kembali tertawa dan buru-buru merangkul Helios yang sudah sampai menggetok kepala Syam menggunakan sedotan stainles dari gelas jusnya.