Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
38 : Hadiah


__ADS_3

“Ini yang lain beneran hanya ngontrak,” batin Helios sembari menerima suapan dari Chole.


Steak yang awalnya di piring dan sudah dipotong-potong, kini sudah berpindah ke cobek dan sebagiannya sudah Helios lahap. Lebih lahap lagi, sang istri menyuapinya dengan tangan kosong tanpa sendok. Mereka makan bersama karena Chole juga baru saja ikut makan.


“Aku suapin Mas, Mas suapin aku,” protes Chole.


“Alaaah!” sewot Helios tak mau, tapi kali ini, Chole kembali menertawakannya.


“Steak geprek ini, ... enak sih. Bentar, aku ambil nasi.” Sepanjang melangkah pergi meninggalkan Helios untuk mengambil nasi, Chole terus berpikir, apakah Cinta juga menghubungi Helios?


Sebenarnya Chole ingin menanyakan langsung kepada Helios, tapi Chole ragu. Apalagi Chole tahu, rasa sayang sekaligus cinta Helios kepada Cinta sangatlah besar. Sementara kepadanya, pria itu baru belajar menerima. Chole terlalu takut, Helios mendadak ‘oleng’ kemudian melupakan kisah mereka. Pun meski dari awal Chole menegaskan, Helios boleh berpoligami. Masalahnya, itu hanya boleh terjadi jika wanitanya bukan Cinta. Sebab andai Cinta mau kembali, untuk apa Chole bertahan?


“Tadi kamu bilang minta hadiah?” tegur Helios lantaran Chole yang mendadak diam, langsung membuatnya khawatir. Padahal, nasi dan semua lauk mereka sudah habis dan Chole akan meninggalkan tempat tidur.


Chole kembali duduk sekaligus kebingungan. “Oh iya, ... lupa.”


Helios mendengkus. Sambil memalingkan wajah dan memang sengaja tak mau menatap Chole, ia berkata, “Apa yang kamu pikirkan sampai kamu jadi pikun gitu? Langka-langka, orang mau minta hadiah justru lupa.” Helios jadi curiga, ada yang sedang mengganggu pikiran Chole.


Chole berdeham kemudian mengatakan hadiah yang ia inginkan. “Jadi, nanti mas yang telepon mamah papah. Ajak mereka ikut gabung makan-makan. Andai Mas yang langsung bilang, mereka pasti seneng banget. Ya Mas yah ... selagi orang tua masih ada. Karena nanti kalau sudah enggak ada, yang bisa menghubungkan kita hanya doa.”


Helios hanya menunduk dan memang masih membelakangi Chole.


“Masssss,” rengek.


“Iya, tapi ada syaratnya,” ucap Helios.


“Syarat? Syarat gimana, Mas?” sergah Chole


“Jangan diam seperti tadi lagi, takutnya kamu kesuru*pan karena rumah ini belum dibikinin selametan!” ucap Helios yang kemudian menghela napas. Cukup lega lantaran akhirnya ia tahu apa yang telah mengganggu pikiran Chole. Karena ia memang berpikir, kerinduan Chole kepada orang tuanya, juga hubungan baik Helios dengan orang tua Chole, menjadi beban pikiran Chole. Hingga sekelas Chole yang berisik sampai menjadi diam.


Chole langsung mesem dan perlahan tersipu. “Oke!”

__ADS_1


Helios kembali menghela napas dalam tak lama setelah ia mendengar langkah cepat Chole pergi dari sana. Ia berangsur menoleh ke arah kepergian Chole. “Sepertinya sekarang, duniaku memang hanya dia.”


“Langsung telepon sekarang yah, Mas! Biar papah mamah sudah langsung siap-siap,” seru Chole yang langsung berisik.


Helios langsung bergumam. “Pakai hape kamu, nanti aku yang ngomong.”


“Kenapa enggak pakai hape Mas saja?” jengkel Chole.


Helios yang langsung kesal segera berkata, “Ambil di kamar! Di atas brankas!” Baru juga membuat hatinya tenang, wanita di hadapannya sudah kembali memuatnya kesal.


“Oke! Makasih banyak Mas Suamiiii!” ucap Chole kegirangan sambil mengangkut cobeknya.


“Bentar, ... panggilan buat aku masih kurang!” protes Helios.


Chole berangsur balik badan kemudian menatap bingung sang suami. “Mas Suami, kan ...?”


“Sayangnya enggak lagi?” sergah Helios masih protes.


Meski Chole sudah berusaha menahan tawanya, ia tetap tidak bisa dan tetap menertawakan Helios.


“Cuci tanganmu, aku tunggu di lantai atas. Kita istirahat di lantai atas saja,” ucap Helios yang memang langsung melangkah pergi.


“Iya Mas Suami Sayang—” Chole sengaja menggoda suaminya, dan langsung menahan tawa lantaran sang suami membalasnya dengan mendengus mirip dengusan lembu.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Chole sudah megambil ponsel Helios. Dan Chole baru tahu, Helios bukan tipikal yang rajin chatingan. Malahan hanya pesan dari kontaknya saja yang dibalas dengan tuntas. Tentu, kesempatan tersebut membuat Chole kepo kepada ruang obrolan WA Helios dengan Cinta. Namun ternyata, hanya ada beberapa pesan dan itu pesan permintaan Cinta agar memberi Chole kesempatan. Pesan yang juga menjadi perantara permintaan maaf Cinta kepada Helios. Pesan tersebut dikirimkan tepat di malam yang harusnya menjadi malam pertama Chole dan Helios.


“Ini beneran, kak Cinta enggak WA mas Helios juga? Coba aku cek satu-satu, takutnya kayak yang kemarin viral, chat-nya lewat aplikasi ojek!” batin Chole.


Di ruang obrolan yang tidak sebanyak ruang obrolan milik Chole, tidak ada kontak mencurigakan. Membuat Chole beralih ke aplikasi pesan biasa. Karena di aplikasi pesan biasa, sederet pesan menumpuk ada ratusan dan itu belum dibaca.


Rasa ingin tahu Chole tersebut pula yang membuat wanita itu melihat SMS banking pengeluaran sangat besar. “Bentar, bentar, ini kok banyak banget. Dari satu nomor rekening, berarti totalnya ... wih, lima em? Ini Mas Helios buat apa uang sebanyak ini?” batin Chole. Namun andai ia tahu itu ulah Cinta, ia pasti lebih bingung.

__ADS_1


“Sudah belum? Ambil hape kok lama banget?” omel Helios yang memang baru datang dan langsung mengejutkan Chole. Beruntung, Chole tak sampai menjatuhkan ponselnya.


Chole berangsur balik badan. Ia masih berdiri di depan brankas seberang tempat tidur. Kini ia menatap Helios yang tampaknya belum terbiasa dengan nuansa pink di kamar mereka. Pria itu kerap ia pergoki bergidik di setiap mata kirinya yang masih berfungsi, mengawasi.


“Mas, mas ... ini aku sengaja baca-baca pesan di hape Mas,” ucap Chole.


Helios yang mendapatkannya langsung melotot tak percaya menatapnya. “Sengaja kok minta maaf?!”


“Daripada enggak ngaku. Daripada bohong!” sergah Chole.


Helios kembali menirukan dengusan lembu. “Terus apa lagi? Aku tahu kamu mau tanya-tanya mirip wartawan.”


“Iya, bener, Mas. Mas tahu banget ya,” balas Chole yang kemudian menertawakan dirinya sendiri.


“Astaga ...,” lirih Helios geleng-geleng kemudian melangkah meninggalkan Chole.


Helios membuka pintu menuju balkon. Ia sengaja membuka kedua sisi pintu kemudian duduk di kurdi kayu yang ada di sana.


“Mataku sakit kalau harus baca pesan. Lagian, kalaupun aku enggak respons mereka dan mereka memang butuh penting banget, pasti mereka telepon. Kamu enggak usah bilang, bagaimana kalau mereka enggak punya pulsa! Ini dua ribu dua puluh tiga yang melipir ke sebelah saja sudah bisa bikin orang terhubung ke wifi g-ratis!” Helios menjelaskan tanpa bisa untuk tidak mengomel.


Chole menanyakan alasan Helios membiarkan pesan-pesan di ponselnya menumpuk. Ya karena mata Helios sakit termasuk mata kirinya jika pria itu berlama-lama menatap tulisan di layar ponsel. Faktor tersebut pula yang membuat Helios melewatkan pesan m-banking pengeluaran Cinta.


Fakta mata Helios yang akan sakit hingga pria itu memutuskan untuk tidak membaca pesan lain selain pesan dari Chole, membuat Chole iba. Chole berangsur jongkok di hadapan Helios.


“Pastikan Mas sehat, Mas nyaman. Ngapain fokus kerja, sementara Mas sudah punya lebih dari cukup? Ingat yah Mas, meninggal enggak bikin Mas bawa uang apalagi semua harta Mas. Buat apa Mas kerja capek-capek kalau bukan buat membahagiakan diri.” Chole meyakinkan sambil terus jongkok.


“Sudah!” yakin Helios.


“Jangan hanya ke satu dokter. Ikhtiar, usaha, jangan putus asa!” yakin Chole. “Mamah pernah divonis kanker rahim stadium 3, tepat aku baru berusia sebelas bulan. Sekarang aku sudah sampai nikah, alhamdullilah, perjuangan mamah enggak sia-sia. Setiap dokter itu ketemu mamah pun, dia bingung. Jadi, ya jangan pesimis dulu. Ayo coba lagi!” yakin Chole lagi.


Hati Helios langsung terenyuh, melow, dan perlahan menjadi pink seiring mata kirinya yang menatap silih berganti kedua mata jernih sang istri. Kedua mata itu masih menatapnya dengan penuh peduli, cinta.

__ADS_1


“Aku mau kesehatan Mas suami sayang, sebagai hadiah pokokku juga, selain kebahagiaan papah mamah dan juga hubungan baik kalian,” pinta Chole masih usaha.


Chole yakin, sekejam-kejamnya Helios, pria itu masih memiliki hati yang lembut bahkan hangat.


__ADS_2