Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
72 : Kehamilan Chole


__ADS_3

Helios masih diam tak percaya meski kedua sudut bibirnya perlahan tertarik mengukir senyum bahagia, ketika Chole buru-buru berjinjit dan mengalungkan kedua tangannya pada tengkuk Helios. Ulah yang juga langsung membuat tubuh Chole agak bergelantungan di tubuh Helios.


“Aku beneran enggak menyangka, padahal sudah khawatir efek KB-nya lebih dari tiga bulan baru bisa hamil. Ini beneran alhamdullilah banget!” ucap Chole.


Kehamilan Chole membuat Chole bahkan sekelas Helios merasa sangat bahagia. Kedua tangan Helios berangsur memeluk Chole sangat erat seiring air mata bahagianya yang mengalir membasahi pipi.


“Chole ...,” lembut Helios terdengar sengau dan Chole langsung tersipu mendengarnya.


“Selamat yah, Mas! Semoga setelah ini bukan hanya Jong Kook yang bangga ke aku, tapi juga Mas dan anak-anak!” ucap Chole benar-benar terharu. Untuk pertama kalinya, ia mendengar sang suami tertawa. Tawa yang tentu saja tak selepas manusia pada kenyataan. Dan yang membuat dadanya berdebar-debar, Helios sampai mengangkat tubuhnya.


Chole sengaja agak memundurkan kepalanya hingga wajah bahkan tatapan mereka bertemu. Meski tentu saja, tatapan Helios hanya dari mata kiri.


“Aku memang tidak ahli berkata manis ... tapi ini sangat membuatku bahagia—” Helios mendadak berhenti berucap. Ia bingung harus berucap apa lagi, dan berakhir tersipu.


Chole yang merasa gemas dengan ekspresi suaminya yang jadi mirip manusia bahagia pada kebanyakan, segera membingkai wajah Helios. Ia nyaris menyambar bibir Helios menggunakan bibirnya, tapi dengan cepat Helios menghindar bahkan menolak. Sampai detik ini, Helios menatapnya sambil menggeleng.


“Kenapa ...?” rengek Chole.


“Aku belum steril. Rok*o*k, alk*o*l bahkan ... lebih. Aku mandi dulu, ya. Nanti baru lanjut. Kamu jga ganti baju, cuci tangan, soalnya sudah telanjur pegang aku,” sergah Helios yang berangsur menurunkan Chole dengan sangat hati-hati.


“Ya sudah kalau gitu mending kita mandi bareng saja. Apa salahnya,” gerutu Chole, tapi di hadapannya, Helios justru jadi kebingungan.


Chole menatap heran Helios. “Mas enggak mau mandi bareng aku?” sewotnya memastikan.

__ADS_1


“Y-ya tentu mau! Masa iya enggak mau,” balas Helios yang memang jadi agak gugup.


“Nah iya ... masa iya mau menolak rezeki? Enggak semua istri mau diajak mandi bareng apalagi yang ngajak duluan istri loh!” bangga Chole dan di hadapannya, Helios makin salah tingkah. Pria itu pamit untuk mengunci pintu kamar. Tak berselang lama setelah itu, Chole terkikik, merasa sangat lucu pada tingkah suaminya.


Sembari terus memegang test pack-nya, Chole menunggu kedatangan Helios. Tak sampai dua menit pria itu kembali.


“Nanti pakaianku dicuci terpisah,” ucap Helios sambil membuka jaket kulitnya.


“Nanti biar aku yang cuci sendiri pakaian Mas. Nanti aky rendam dulu biar aroma enggak jelasnya hilang. Ro*ko*k, alko*h*ol,” sanggup Chole.


“Ya sudah, kamu masuk dulu soalnya aroma rok*ok sama a*lkoholnya kuat banget,” lanjut Helios masih berucap lembut. Kebahagiaan yang tengah ia rasa, membuat ucapan yang lolos dari mulutnya, menjadi jauh lebih tersaring dan terdengar manusiawi.


“Kalau aku kasih test pack pertama ini buat Mas, Mas mau simpan, enggak? Sampai nanti anak-anak dewasa bahkan mereka menikah terus punya anak?” Chole sengaja menantang sang suami sambil mengangsurkan test pack di tangan kanannya.


Mendengar itu, Chole langsung tersenyum ceria. “Gampang tes lagi. Aku kan beli tiga. Soalnya, awal mula cek kehamilan juga iseng. Mamah bilang, minta aku cek kehamilan, buat jaga-jaga, jangan sampai aku mengikuti jejak Azzura. Aku enggak boleh kecapaian, dan wajib cek biar bisa lebih menjaga diri.”


Helios tersenyum haru menyimak penjelasan sang istri. “Ya makanya, jangan jatuh-jatuh lagi,” lembutnya, tapi Chole langsung menggeleng. “Kenapa?”


“Ya enggak mungkin enggak jatuh, sementara sampai detik ini saja, aku terus jatuh di hati Mas!” manja Chole sengaja menggo*da suaminya.


“Enggak usah berulang kali jatuh karena kamu sudah jadi penghuni tetap sekaligus satpam komplek di sana!” omel Helios dan langsung ditertawakan oleh sang istri.


“Kok satpam komplek Mas? Jadi penghuni tunggal dan sampai harus jadi satpam, berasa terjebak di pulau terpencil!” tawa Chole yang berangsur mendekap tubuh Helios menggunakan kedua tangannya. Ia mendekap mesra Helios yang segera membopongnya, kemudian memboyongnya ke ruang untuk mandi dan hanya berdinding sekaligus berpintu kaca tebal.

__ADS_1


***


“Ada yang kamu mau? Kamu mau makan atau minum apa?” tanya Helios sekitar satu jam kemudian. Ia mengeringkan kepala Chole sambil berjemur di balkon kamar Chole.


“Apa ya? Enggak ada yang aneh sih, Mas. Enggak pengin apa-apa, atau memang belum. Mas sendiri ...?” ucap Chole. Ia masih menunduk dalam, membiarkan hangatnya sinar matahari menemani kehangatan perhatian yang terus Helios berikan.


“Aku ...? Aku juga belum ... tapi memang sudah agak beda. Aku merasa ada jiwa lain dalam diriku dan sepertinya memang efek mengidam,” ucap Helios.


Chole terkikik dan berangsur mendekap tubuh sang suami penuh kemanjaan. Tak menyangka, kehamilannya membuat Helios menjadi sangat lembut. Helios menjadi sangat perhatian dan tak hentinya memanjakannya.


“Chole benar-benar hamil. Aku harus segera menemukan Jay sebelum dia berulah. Aku juga harus memperketat keamanan untuk Chole,” batin Helios yang kemudian membenamkan bibir berikut wajahnya di punggung kepala Chole.


“Aku akan mengusahakan agar aku lebih punya banyak waktu buat kamu. Apalagi ini anak pertama,” lembut Helios.


“Bukan hanya kamu, Mas. Sekarang kan sudah ada calon anak kita. Berarti, dari kamu jadi kalian,” protes Chole sambil menengadah hanya untuk menatap wajah Helios dengan saksama. Suaminya langsung mengangguk-angguk pasrah, dan untuk kali pertama, Helios sepasrah menurut seperti itu. Kenyataan yang lagi-lagi membuatnya gemas. Ia berangsur berdiri kemudian membingkai wajah Helios, mengabsennya menggunakan kec*u*pan gemas. Ke*cu*pan gemas yang lagi-lagi ditanggapi dengan pasrah oleh Helios, meski tak lama setelah itu, Helios juga berangsur memeluknya dengan agak mengangkat tubuhnya.


“Sekarang jemur dulu yang benar, sambil atur jadwal ke dokter kandungan. Biasanya daftar online dulu, kan? Excel sama Azzura biasanya gitu. Biar enggak ribet apalagi antre lama-lama,” ucap Helios.


Chole langsung mengangguk-angguk. “Sambil sarapan yuk, Mas? Aku belum sarapan dan sengaja tunggu Mas pulang. Mas juga belum sarapan, kan? Sepertinya papah mamah juga masih di rumah, mau sekalian kasih kabar bahagia kita ke mereka.”


“Terlalu bahagia bikin aku lupa makan. Aku beneran enggak haus apalagi lapar. Penginnya cepat-cepat dia lahir, besar, terus aku sekolahin setinggi mungkin. Kasih dia fasilitas terbaik, dan bikin dia jadi anak paling bahagia!” ucap Helios berkaca-kaca mengatakannya.


“Mmm, so sweet. Aku yakin Mas bakalan jadi papah terbaik!” manis Chole sambil mendekap kepala Helios menggunakan kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2