
“Kan, bener hamil ... selamat ya ... ini buat Mamah! Punya kamu sama kak Chalvin juga masih Mamah simpan!” Ibu Aleya benar-benar heboh. Ia segera memeluk hangat Chole dari samping. Karena ia berdiri di antara Chole dan Helios, kemudian ia juga sengaja merangkul Helios maupun Chole secara bersamaan. Kata selamat dan juga doa terbaik terus terlontar dari bibirnya mewarnai kebersamaan di sana yang langsung diselimuti kebahagiaan.
Kabar kehamilan Chole memang melahirkan banyak harapan sekaligus kebahagiaan di tengah keadaan keluarga Tuan Maheza yang sempat diwarnai gonjang-ganjing akibat ka*s*us Cikho dan Cinta.
Chalvin menjadi yang paling heboh dan tak segan membopong Chole. Chalvin benar-benar tak jaim atau setidaknya canggung kepada Helios, meski di beberapa kesempatan, Helios akan berdeham memberi kode keras.
“Mereka kakak beradik, saudara kandung, Helios. Masa iya cemburu. Besok anak-anakmu juga harus saling menyayangi begitu.” Hati kecil Helios menasehati, dan kali ini fokus perhatian Helios kembali tertuju pada sang istri. Di hadapannya, Chole baru menghampiri Tuan Maheza dan tak segan duduk di pangkuan Tuan Maheza layaknya ketika istrinya itu kepadanya. Helios berpikir, hal semacam itu terjadi lantaran Chole sekeluarga tumbuh dalam keharmonisan yang luar biasa. Kelembutan dan kasih sayang mengiringi setiap interaksi mereka tanpa sedikit pun hal menyakitkan bahkan itu bersuara dengan nada tinggi.
“Jangan jatuh-jatuh lagi, biar suami kamu enggak teriak terus. Untung kamu langsung ngikutin arahan Mamah. Bayangin kalau kamu hamil dan kamu belum tahu, tapi kamu terus jatuh?” ucap Tuan Maheza.
Chole tertawa kemudian berkata, “Aku mau bikin Mas Helios benci ke Jin, RM, atau Jung Kook—”
“Enggak ... enggak. Mulai sekarang aku bakalan lebih sabar. Toh mereka cuma bias, sementara aku suami kamu!” ucap Helios sengaja memotong penjelasan Chole.
Chalvin dan ibu Aleya tertawa lepas dan berakhir terbahak-bahak. Lain dengan Tuan Maheza yang hanya tersipu sambil membenamkan wajahnya di punggung Chole yang masih bertahan di pangkuannya.
“M-mas Suami Sayang ... Mas harus benci mereka biar anak kita mirip mereka!” protes Chole.
__ADS_1
“Loh, gimana ceritanya? Mitos, pamali? Enggak ... enggak, aku enggak percaya! Malahan aku takut, kalau aku sewot terus ke mereka, yang ada kita terus ribut!” balas Helios.
Sepanjang Chole dan Helios mengobrol sekaligus berdebat, selama itu juga Chalvin dan ibu Aleya menertawakan keduanya.
“Nanti kalau anaknya cowok, namanya Kim, yah, Mas!” rengek Chole.
“Kim Jongkok? Apa malah Kim Jungkir? Asli, baru dengar saja sudah ngeri!” sergah Helios yang kali ini sibuk menggeleng.
Kendat demikian, tanggapan Helios yang selalu melenceng dari apa yang Chole harapkan, justru membuat tawa di sana makin pecah. Tuan Maheza sampai terbatuk-batuk karenanya.
“Ternyata Helios enggak seseram nama sama tampangnya. Dia humoris juga. Apa efek kehamilan Chole ya? Kelihatannya, dia juga seneng banget. Syukur lah, Chole punya suami yang care ke dia. Dan Helios juga bukan orang sembarangan,” batin Chalvin diam-diam memperhatikan Helios melalui lirikan. Ia duduk di sebelah Helios dan hanya terhalang kursi kosong milik Chole.
Setelah mengangguk-angguk sanggup kemudian menge*cup pipi kiri sang papah, Chole berangsur turun dari pangkuan Tuan Maheza. Ia kembali ke tempat duduknya kemudian melanjutkan persiapan makan mereka.
“Mas juga makan yang banyak, ya. Habis makan rehat, terus baru cek kandungan,” ucap Chole sambil mengisi piring Helios dengan makanan sehat yang sudah ia siakan sebelumnya.
Tuan Maheza dan ibu Aleya kompak saling menoleh. Ibu Aleya meraih tangan kiri Tuan Maheza dan langsung digenggam oleh tangan kiri sang suami. Dalam hatinya keduanya bersyukur, di balik musibah yang terus menghampiri mereka, ada kebahagiaan yang juga turut bertubi mereka terima. Pertama, hubungan Helios dan Chole yang makin lama makin erat. Kemudian, kenyataan Helios yang juga mulai bisa berbaur dengan mereka. Terakhir dan menjadi kebahagiaan paling spesial, tentu mengenai kehamilan Chole yang belum sampai membuat Chole maupun Helios mengalami mengidam berarti.
__ADS_1
Di tengah kebahagiaan atas kebahagiaan Chole dan Helios, benak Chalvin mendadak dihiasi bayang-bayang kejadian seorang pria dan wanita. Chalvin berpikir, laki-laki di benaknya merupakan dirinya. Namun, wanita berambut panjang berpipi tembem yang tersenyum malu-malu kepadanya, baginya terbilang asing.
“Chole? Tapi senyum mereka berbeda. Pipi dan matanya juga. Namun, jika wanita itu bukan Chole, lalu siapa? Atau mungkin, dia bagian dari ingatan satu tahun terakhirku yang hilang?” pikir Chalvin lagi yang belum bisa ingat Laras, meski bayang-bayang kebersamaannya dan Laras di masa lalu, kerap terputar sekaligus memenuhi benaknya.
“Ya Allah ... alhamdullilah. Jadi makin bersemangat gini. Lihat anak-anak akur, hubungan Chole dan Helios juga semanis itu, dan sekarang Chole juga sedang hamil,” batin ibu Aleya tak hentinya memanjatkan syukur.
“Nanti bikin syukuran. Syukuran rumah kalian, syukuran operasinya Helios, syukuran Chalvin juga, sekalian syukuran kehamilan Chole. Mau dibikin di panti asuhan, apa panti jompo? Jadwalnya kalian yang atur. Disesuaikan dengan jadwal Helios. Sehari saja sempatin,” ucap Tuan Maheza dan Helios yang ditatap, langsung mengangguk-angguk.
Helios memang masih irit bicara selain pada Chole, tapi tanggapan Helios yang perlahan menjadi hangat memang menjadi kemajuan luar biasa.
Kemudian, kebersamaan mereka diakhiri dengan kepergian Tuan Maheza yang pergi ke kantor bersama Chalvin. Karena meski Chalvin amnesia sebagian, Chalvin yang memang tipikal pekerja keras sengaja ikut sang papah untuk langsung belajar proyek-proyek yang sedang berjalan.
“Aku enggak akan pernah lupa ini. Bahagialah kamu wahai anakku karena hadirmu sudah sangat kami nanti. Kami semua menyayangimu, dan berjanji akan membuatmu menjadi orang paling beruntung karena telah menjadi bagian dari kami,” batin Helios.
Di bawah hamparan kelambu pink, Helios tersenyum damai memandangi wajah Chole yang sudah pulas meringkuk sekaligus menyandar ke dadanya. Chole yang berdalih akan menidurkan Helios justru tidur lebih dulu lengkap dengan dengkuran lembut yang menyertai.
“Andai kamu tetap egois ingin dengan Cinta, belum tentu kamu akan sebahagia sekarang. Wajahmu yang sudah tak lagi bur*uk rupa. Bahkan sekarang kamu juga akan menjadi seorang papah. ” Helios yang masih bicara dalam hati, berangsur membenamkan bibir sekaligus wajahnya di kepala Chole yang kali ini tak tertutup jilbab.
__ADS_1
“Papah akan melakukan apa pun untuk keselamatan sekaligus kebahagiaan kalian. Semuanya akan baik-baik saja, dan kita tetap bisa hidup normal seperti yang lainnya,” batin Helios yang siap menjadi suami sekaligus papah siaga meski dirinya merupakan ketua mafia.