Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
87 : Kentut Aroma Wabah dan Bikin Baper!


__ADS_3

“Ukhti sayang ... sini sama suami Ojan. Nama aku memang Ojan, tapi kamu cukup panggil suami. Yuk nikah yok, nanti maharnya kelinci. Kelinci saja, yah, soalnya kalau sapi keberatan. Kalau kelinci kan cukup digendong. Belakang gendong kamu, depan gendong kelincinya. Samawa tanpa banyak biaya pokoknya!” bujuk Ojan yang bertutur manis.


Sampai detik ini, Ojan yang masih memakai seragam SD dan sesekali akan meminum bekal air minum warna pink di dadanya, memilih nangkring di motor Jay. Motor gede yang sampai Ojan pindah ke depan pos satpam rumah makan Akala agar pemiliknya keluar menghampirinya.


“Buset, aki-aki si tukang co*spl*ay anak SD. Beneran deh, mending dikejar-kejar Helios ketimbang dikejar-kejar dia!” batin Jay yang masih menjadi ukhti bercadar pink. Sampai detik ini, ia belum berani menampakkan diri dan masih bersembunyi di pohon mangga rumah sebelah rumah makan. Hanya saja karena Ojan bermental permen karet dan seolah akan sulit berhenti mengejarnya, Jay berniat kabur tanpa mog*enya yang sudah Ojan boyong sampai depan pos satpam.


Masalahnya, Ojan tidak sendiri. Anak buah Helios dan Excel yang bertugas jaga-jaga di sana juga sesekali berpencar mencari ukhti bercadar pink dan mereka yakini sebagai penyamaran Jay.


“Lagian kok aku apes banget? Masa warna pink ini ternyata kesukaan aki-aki tukang co*spl*ay anak SD!” kesal Jay lagi dalam hatinya. Tampak seorang pengemudi motor mendekat dan mengajak aki-aki tukang c*osp*lay anak SD pulang. Pria yang dipanggil “Sepri” itu tak segan mengejar tapi yang dikejar juga minggat dengan jurus lari andalan.


Parahnya, Ojan kabur ke rumah sebelah. Rumah di mana ada pohon mangga yang dipanjat Jay untuk bersembunyi!


“Ealah, itu ngapain dia malah ke sini!” jerit Jay dalam hatinya. Ia makin panik sepanik-paniknya.


“Pulang, Jan. Pulang. Kalau tuh wanita malah berkumis atau malah ban*ci gimana? Atau malah ternyata dia mata-mata yang tukang bu*nuh orang? Mikirnya ke situ, Jan! Kan kamu sendiri yang bilang, ke dia, kamu enggak merasakan sinyal janda!” omel Sepri berhenti mengejar.


Ojan yang sesekali masih menatap Sepri, berangsur memanjat pohon mangga Jay berani. “Pokoknya aku enggak mau pulang sebelum lihat kumis si Ukhti secara langsung!” ngeyelnya.


Mendengar itu, Sepri langsung menghela napas dalam kemudian berkecak pinggang. “Eh, Jan ... daripada kamu ngejar si Ukhti enggak jelas dan takutnya beneran berkumis, mending kamu pulang. Itu di IGD ada Didi yang baru datang. Pepet Didi saja nyata adanya enggak berkumis juga!”


“Ya Tuhan ini gimana!” batin Jay masih sibuk menjerit dalam hati. Perlahan tapi pasti, ia terus naik.


“Eh, Pri ... ini kok pohonnya goyang-goyang!” keluh Ojan nyaris menengadah dan itu langsung membuat kedua mata Jay memelotot.


“Ya makanya cepat sini. Itu pohon ada hantunya, nanti kamu dij*ilat bahkan digig*it!” ujar Sepri sengaja menakut-nakuti Ojan. Jadi, ketahuan kan, alasan Ojan takut banget sama hantu?

__ADS_1


“Ih, Priiii, aku enggak bisa gerak ini. Gendong ih!” rengek Ojan kali ini panik sepanik-paniknya. Ingin kabur tapi ketakutan yang sudah langsung membuncah malah membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.


Sepri yang dongkol tak memiliki pilihan lain untuk menghampiri Ojan. Ia melihat ada sosok pink di atas sana. Namun, ia sengaja diam kemudian menggendong Ojan yang juga sudah langsung minta digendong. Hanya saja saat Ojan nungging, pria itu juga tak segan memberikan kenang-kenangan kentut aroma wabah.


“Jan, ih ... kira-kira dong kalau kentut. Sudah kerasnya mirip toak, eh aromanya juga matiin!” keluh Sepri sudah langsung mual. Terlebih sumbernya menempel di punggungnya.


“Eh, Pri! Aku beneran baru sadar kalau kentut aku tuh sebau ini!” ucap Ojan dengan gayanya yang benar-benar polos.


“Lah emang iya!” sewot Sepri masih berusaha sabar.


“Pantas si Jam-jam bilang, aroma kentutku aroma wabah!” balas Ojan merasa bangga, kentutnya bisa aroma wabah karena tak sembarang orang bisa melakukannya.


“Ini kamu beneran baru tahu kentut kamu sebu*suk itu? Memangnya selama ini, hidung kamu ke mana?” sewot Sepri masih buru-buru melangkah sambil terus menggendong Ojan agar pria itu tak melihat sosok pink di pohon sana.


“Selama ini hidung aku, aku tugasin buat mendeteksi sinyal janda, Pri. Kasihan lah hidungku kalau dikasih banyak kerjaan!”


“Ihhh Sepri ... gini-gini kan aku sarang-sarang ke kamu!”


“Sarang apa? Sarang tikus?!”


“Saranghaeyo lah Sepri, ah kamu enggak gahul lah!”


Buuuuukkkk!


Di belakang sana dan sumbernya dari lokasi yang baru Ojan dan Sepri tinggalkan ada yang jatuh. Suara jatuh terbilang keras sekaligus kuat. Sepri yakin itu si ukhti pink. Namun Sepri memilih membawa Ojan pergi tanpa memastikannya. Toh, Ojan juga langsung ketakutan.

__ADS_1


“Pri, itu apa, Priiii? Hantu Glundung Pringis, ya? Hantu kepala mirip kelapa raksasa terus nanti kalau dilihat dia langsung meringis senyum ... Priii Priii, aku masih perjaka Pri, nanti aku diji*lat, Pri kayak katamu!” Ojan makin heboh dan tak bisa diam.


Padahal bersama sekelas Sepri harusnya Ojan merasa aman. Karena meski Sepri seorang difabel, tak ada satu hal pun bahkan itu dem*it paling menakutkan yang Sepri takuti.


“Tuh ukhti kayaknya pingsan gara-gara kentutnya Ojan deh!” batin Sepri terkikik sendiri sambil terus menggendong Ojan yang tidak mau diam. Malahan, Ojan masih kerap kentut gara-gara menahan takut.


Keesokan harinya, Chole dan Helios sengaja bangun lebih awal untuk jalan pagi. Mereka melakukannya masih di sekitar hotel. Setelah tiga puluh menit berlalu dan itu cukup untuk olah raga rutin kehamilan Chole, keduanya langsung kembali. Karena sesuai jadwal, hari ini mereka akan mengunjungi alamat wanita yang tertangkap kamera CCTV bersama Chalvin di rumah sakit. Wanita yang sampai melakukan tarik tunai menggunakan ATM Chalvin.


“Habis dari sana, kita jadi jenguk kak Cinta, kan, Mas?” tanya Chole sambil melirik sang suami yang masih menggandengnya erat.


Helios masih menjadi suami siaga dan tak segan mengelap setiap keringat yang mengalir dari kening Chole.


Walau tampak setengah hati, Helios yang kembali mengelap sekitar alis Chole yang berkeringat parah, mengangguk-angguk.


“Mas enggak mau natap aku?” rengek Chole lantaran di setiap ia membahas Cinta, Helios seolah sengaja menghindari tatapannya.


“Apa? Kenapa hanya tatap? Kamu enggak ada rencana kasih aku jatah tambahan buat pagi ini?” kesal Helios tapi langsung dibalas tawa oleh Chole yang juga langsung memeluknya dari samping kiri.


Chole menatap manja mata sang suami meski kedua kaki mereka terus melangkah memasuki hotel mereka menginap. “Habis dari sini, kita tinggal siap-siap operasi mata kanan Mas, ya?” lembutnya benar-benar manis dan langsung dibalas tatapan teduh oleh mata kiri Helios.


“Iya ... biar mata kananku juga bisa melihat, aku punya istri yang sangat cantik,” ucap Helios.


“Cantik tapi berisik?” balas Chole sambil menahan tawanya.


“Lebih dari berisik malahan!” balas Helios dan Chole langsung tertawa lepas.

__ADS_1


Kedua mafia yang mengawal jadi senyum-senyum sendiri lantaran aura kebahagiaan Chole dan Helios benar-benar bikin iri. Baper!


__ADS_2