
“Mas—” Syam mendadak tak bisa mengutarakan maksud yang awalnya sudah ada di ujung lidahnya.
Kenyataan Syam yang tampak sungkan membuat seorang Helios yakin, pria yang ia anggap sebagai adik, sudah mengetahui kasus pak Mul.
“Dia pantas menerimanya!” singkat Helios sampai detik ini masih memilih berdiri tak jauh dari tubuh Syam.
Syam mengernyit dan tampak tidak paham. “Maksud Mas, bagaimana?”
“Aku ingin dia mati perlahan karena dia sudah berani mengganggu istriku!” walau masih berucap lirih, sebenarnya Helios sangat marah. Bukan hanya dadanya yang menjadi bergemuruh di setiap ia ingat ulah pak Mul dan sampai membuat wanita ceria sekelas Chole nangis meraung-raung ketakutan. Sebab di setiap ia mendengar nama serba “Mul” disebut, darahnya seolah didihkan. Apalagi jika ia sampai ingat tangis Chole gara-gara pak Mul, Helios sudah langsung ingin mengamuk.
Kini saja, Syam yang sudah paham pada watak Helios, mendapati kedua tangan pria buruk rupa itu mengepal di sisi tubuh. Yang mana, kedua tangan Helios juga sampai gemetaran, menandakan Helios sedang sangat marah.
“Syukur kalau begitu, ... apalagi aku yakin, mbak Chole jauh lebih baik. Bukan membandingkan fisik dan kecantikan karena sebenarnya, mbak Cinta juga enggak kalah cantik. Namun kalau dilihat siapa yang lebih bahkan paling tulus, ya tentu mbak Chole. Sejujurnya, mbak Chole bucin akut loh ke Mas. Asal mas perhatian, j-jangan ... j-jangan galak-galak, yah, Mas. Apalagi kan, mbak Chole tipikal lemah lembut. Lebih lembut dari mbak Azzura,” ucap Syam panjang lebar, tapi lawan bicaranya malah jadi kebingungan.
“Sebenarnya, apa maksudmu?” tanya Helios.
“M-mas ....” Syam sudah ketakutan.
Helios sengaja menghadap Syam sambil bersedekap. “Kita sedang membahas hal yang berbeda?”
“Hah?” Syam yang walau seorang mafia, tapi hati ‘hello kitty’ makin tidak mengerti.
__ADS_1
“Tadi aku bahas Mul, tapi kamu—” Helios yakin, Syam justru sedang membandingkan Cinta dengan Chole. Lihatlah, Syam yang sampai detik ini masih terlihat ketakutan, buru-buru mengangguk.
Helios mengangguk-angguk paham. “Ya sudah, katakan saja kamu mau ngomong apa. Selagi aku masih ada waktu.”
“Memangnya, Mas mau ke mana?” sergah Syam serius, tapi ia yang ingat sesuatu langsung mengoreksi ucapannya. “Oh iya ... Mas akan mengawal ... dan harusnya aku ikut dengan Mas.”
“Kalau kamu memang belum selesai dengan ceritamu, lanjutkan karena selanjutnya, aku mau ngomong serius,” ujar Helios yang belum apa-apa memang sudah serius.
Walau ucapan Helios juga langsung membuatnya penasaran, Syam tetap menuntaskan cerita sekaligus maksudnya. “Satu hari sebelum hari pernikahan Mas dan mbak Cinta, Max ngaku dia diminta mbak Cinta dan mbak Cinta jemput ke bandara dan mbak Cinta bilang, dia udah izin Mas.”
Untuk sejenak, Helios tidak bisa berkata-kata walau mulutnya sudah terbuka dan harusnya sudah melayangkan kata nyelekit andalannya.
“Masa sih? Seharian itu sampai pukul dua belas malamnya saja, Cinta bareng aku karena memang aku yang minta.” Lebih tepatnya, Helios sengaja membuat keadaan itu terjadi, demi mensiasati agar Cinta tidak kabur sebelum mereka benar-benar menikah. Meski pada kenyataannya, apa yang Chole lakukan justru membuat Helios kecolongan. Walau tentu saja, Chole sudah menggantinya dengan bahagia yang sampai detik ini sampai membuat hati Helios berbunga-bunga.
“Excel saksinya karena sebelum dia pulang kampung buat jemput Azzura, dia sempat ikut cek persiapan di hotel buat resepsi pernikahan,” lanjut Helios menutup penjelasannya. Namun dari ekspresi Syam yang terlihat ngeyel, ia juga jadi penasaran. Benarkah ada dua wanita yang rupanya mirip Cinta?—baca novel : Pembalasan Istri yang Haram Disentuh.
“Cinta enggak punya kembaran, Syam!” lirih Helios mulai geregetan. “Lama-lama kok kamu mirip Chole. Pasti ini gara-gara sering makan masakannya!” tudingnya yang kali ini sampai agak memiringkan kepalanya ke kanan hanya untuk menatap Syam secara saksama.
“Ada videonya, adan foto sudah pasti. Rekaman CCTV di Bandara baik yang di Jakarta maupun Incheon Korea Selatan karena memang mbak Cinta dari sana. Tiket penerbangan juga dari sana. Semuanya lengkap. Kemarin saja, aku yang nempe*leng Max sampai minta maaf karena memang buktinya akurat.” Syam menjelaskan sejelas-jelasnya.
Helios yang jadi bingung, berangsur melepas kacamata hitamnya. Ia menunduk sambil merenung serius. “Minta Max buat kirim semua itu ke aku.” Setelah berucap demikian, Helios berkata, “Excel ... kamu sudah bahas ini dengan Excel?”
__ADS_1
Syam menghela napas panjang dan berakhir mengangguk ragu. Termasuk juga dengan tatapannya yang menjadi tak lagi dipenuhi keyakinan.
“Kenapa? Tanggapannya bagaimana? Kok Excel enggak bahas ini ke aku, ya? Tumben?” Helios makin bingung.
“Salah enggak sih, kalau aku mikir, sebenarnya ... sebenarnya Mas Excel sudah tahu kasus ini, Mas! Soalnya pas aku ajak mas Excel diskusi, mas Excel jadi sentime*n.”
“Sentimen bagaimana?” balas Helios.
“Mas Excel bilang, akan ada saatnya semuanya terungkap!” yakin Syam.
“Jadi beneran ada dua Cinta? Apa bagaimana sih? Kesimpulannya hanya wajah yang mirip, tapi warna kulit, bentuk tubuh dan rambut, beda?” balas Helios lagi yang langsung melakukan cocoklogi. Hanya saja, apa yang harus dicocoklogi kan, kalau seharian itu saja, Cinta bersamanya?
“Suaranya juga beda, Mas. Max bilang, Cinta yang dia jemput suaranya lembut kayak wanita muda gitu!” balas Syam lagi. Selalu begitu, di setiap ia membahas semua yang berkaitan dengan Helios, ia sampai lupa dengan rasa sakit sekaligus luka-lukanya, termasuk itu mengenai dirinya yang sudah tidak punya kaki.
Helios merenung sejenak, walau pada kenyataannya, ia sampai menghabiskan waktu nyaris satu menit hanya untuk mengambil kesimpulan. “Berarti dia memang bukan Cinta. Hanya wajah mereka saja yang sama. Mereka dua orang yang berbeda.”
“Terus, ngapain dia minta diurusin dan itu pakai nomor ponsel mbak Cinta?” sergah Syam.
Mendadak, dunia Helios hening. “Ada dua wanita berwajah Cinta, tapi minta diurusinnya masih pakai nomor hape Cinta, ... masa iya, ini sengaja dibuat buat mengelabuhi aku?” pikirnya yang langsung menyikapi dengan serius.
“Terus, setelah dijemput di bandara, mereka ke mana?” sergah Helios kian mengeratkan dekapannya terhadap tubuhnya sendiri. “Excel tahu ini, dan dia hanya mengomentari semuanya akan terbongkar pada waktunya. Namun sejauh ini Excel juga yang paling enggak suka ke Cinta hanya karena Cinta pacar Akala tapi Cinta juga harus berurusan dengan aku. Masa iya, Excel sengaja menciptakan klo*ningan Cinta? Namun kenapa harus Cinta juga yang kasih arahan ke Max? Dan kenapa juga Excel bilang semuanya akan terbongkar pada waktunya?” Helios benar-benar berpikir keras.
__ADS_1