
“M-mas ... Mas, mau keluar dari dunia mafia?” ucap Chole susah payah menahan emosinya di tengah perasaannya yang sudah langsung campur aduk. “Maksudku, ... Mas akan mengikuti jejak mas Excel ...?” Chole benar-benar ingin tahu sekaligus mendengarnya secara langsung dari bibir suaminya.
Senyum hangat terbit dari bibir Helios yang perlahan menjadi tersipu. Di hadapannya, sang istri tampak kacau. Namun ia paham, alasannya begitu karena kabar darinya mengenai keputusan terbarunya, telah membuat sang istri merasa sangat bahagia.
“Ya!” singkat Helios mengangguk-angguk. “Aku mau fokus urus bisnis saja dan sepertinya masih akan tetap melibatkan para mafia.”
Chole mengangguk-angguk paham. “Iya ... aku paham, Mas! Makasih banyak, ya!” Ia yang terlalu bingung bagaimana caranya mengungkapkan kebahagiaan sekaligus rasa terima kasihnya, memilih mendekap erat tubuh Helios.
“Buat jaga-jaga dan enggak bikin repot, Jay dan pak Mul juga tetap ditahan, dipen*jara. Yang penting masih dikasih makan sama minum,” ucap Helios sesaat setelah ia balas memeluk Chole.
Chole mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Enggak apa-apa. Gitu saja, daripada bikin susah. Yang penting kita kasih minum sama makan. Daripada mereka berkeliaran di luar dan malah bikin masalah!”
Chole benar-benar tidak menyangka, hal yang awalnya sangat mustahil, kini perlahan menjadi nyata. Akhirnya Helios akan keluar dari dunia mafia dan perlahan fokus memulai bisnis untuk masa depan mereka.
“Ada dua orang yang sangat berpengaruh pada keputusan ini,” ucap Chole yang kemudian buru-buru menatap mata Helios. Suaminya itu sudah langsung mengernyit serius dan tampak sangat penasaran.
“Siapa ...?” ucap Helios.
“Ojan sama Syam!” sergah Chole sambil tersenyum ceria.
“Ojan ...? Kenapa harus dia? Bukan kamu saja?” balas Helios.
__ADS_1
“Ojan karena aku yakin, alasan Jay akhirnya tertangkap itu gara-gara kewalahan dikejar Ojan. Azzam bilang, Ojan suka banget sama yang bercadar apalagi warnanya pink. Ya ibaratnya, Jay menggali lubang makamnya sendiri!” Chole jadi terkikik geli seiring ia yang membenamkan wajahnya di dada sang suami.
Detik itu juga Helios jadi tersipu. “Bener, sih ... Ojan. Tapi, apa yang sebenarnya sudah Ojan lakukan sampai si Jay pingsan sehari dua malam? Masa iya, si Ojan memper*kosa Jay sampai lemes terus pingsan?” pikir Helios.
Keesokan harinya, keberangkatan mereka ke bandara juga sampai dikawal Syam. Syam melangkah cepat layaknya orang normal. Mereka diikuti oleh empat orang mafia. Dua mafia mengawal kepergian Chole dan Helios, dua yang tersisa kembali bersama Syam.
“Bismillah ... selangkah lagi, Mas Helios bisa hidup normal. Makasih banyak ya Allah. Enggak nyangka akan sampai di titik ini, padahal awalnya hamba berpikir pernikahan ini hanya akan penuh air mata. Maaf banget juga karena belum apa-apa, hamba justru sudah buru*k sangka sejak awal,” batin Chole seiring pesawat yang ditumpanginya yang akhirnya mendarat karena mereka sudah sampai di bandara Changi Airport, Singapura.
“Mas jangan takut, ya?” ucap Chole nyaris menangis.
“Yang takut itu kamu,” tepis Helios hingga membuat Tuan Maheza dan ibu Aleya yang lagi-lagi menemani mereka, kompak menahan tawa. Lain lagi dengan Chole yang akhirnya menumpahkan air matanya seiring istrinya itu yang berangsur memeluknya.
“Mah, Pah, ini tolong titip Chole. Takutnya dia nekat nyamperin Jong Kook hanya karena enggak aku awasi. Takutnya pas aku operasi, dia malah otw!” ucap Helios kali ini memohon.
“Semoga operasinya berjalan dengan lancar, ya. Chole pasti aman sama kami. Enggak akan ada drama kabur ke Jung Kook!” yakin ibu Aleya.
“Tapi besok kita baby moon-nya ke Korsel, kan, Mas?” manja Chole.
“Nanti kita bikin di puncak saja yang suasananya banyak kabut, terus pasang aksesori berbau Korea Selatan. Lagian kamu, cinta budaya sendiri apa susahnya sih,” ucap Helios dan memang sudah memakai seragam pasien. Selain itu, ia juga sudah siap diantar menuju ruang operasi.
“Yang penting aku cinta suami lah, Mas!” ucap Chole yang pada akhirnya mengeluarkan jurus nadalannya—rayuan ma*ut.
__ADS_1
Helios dan kedua orang tua Chole sudah langsung tersipu.
“Chole, ... aku sengaja menyiapkan acara di puncak untuk keluarga besar kita karena sejauh ini, kita merahasiakan kehamilan kamu. Ibarat menjaga silaturahmi sebelum kita mulai membangun pondok,” ucap Helios penuh perhatian. Karena makin ke sini, Helios makin lancar berucap lembut.
“Mamah setuju. Enggak perlu ke Korsel, kumpul bareng keluarga di puncak, pasti lebih seru. Syukur-syukur yang di kampung juga ikut!” ucap ibu Aleya bersemangat. Terlebih tak bisa ia pungkiri, hubungan Chole dan Helios menjadi salah satu sumber terbesar kebahagiaannya sekaligus keluarga besar.
“Kenapa acaranya enggak di kampung saja? Biar acaranya biar sambil ninjau lokasi pesantren mau dibangun, sama biar yang di kampung juga enggak harus repot-repot ke kota apalagi mereka juga sibuk semua,” ucap Tuan Maheza.
“Tapi kan mereka juga kayaknya jarang ke puncak, Pah. Sekali-sekali biar mereka bisa sambil healing!” yakin Chole tiba-tiba setuju jika acara mereka dibuat di puncak. “Nanti sewa vila yang ada kolam renangnya, syukur-syukur dekat spot wisata yang oke, yah, Mas!” Chole sangat bersemangat kemudian melirik wajah orang tuanya sambil tersenyum tak berdosa.
“Nanti kita ke A Door To Heaven saja. Di sana ada penginapan sekaligus resto. Selain hotel berbintang, di sana juga menyiapkan kemah, rumah pohon, juga jembatan gantung yang langsung menghubungkan ke air terjun karena di belakangnya memang berupa sawah, air terjun dan juga anak sungai yang kadang dihuni ikan. Di sana beneran cocok buat acara kita. Biar Ojan bisa renang di sungai, atau malah jumpalitan di tangga gantung sebelum kemah di halaman depan,” ucap Helio.
“Bentar, itu punya Liam sama Indah, ya, Mas?” ucap Tuan Maheza memotong ucapan Helios.
Helios yang refleks menatap Tuan Maheza, berangsur mengangguk. Ia refleks melakukannya. “P-papah pernah ke sana?”
“Favorit ... romantis banget soalnya!” ucap ibu Aleya kegirangan dan jadi kerap menatap sang suami.
“Loh, kok kayaknya cuma aku yang ketinggalan update,” ucap Chole kebingungan.
“Asli di sana keren, Sayang. Buat spot foto juga oke banget. Tapi wajib booking dari jauh-jauh hari soalnya memang antre karena selalu rame!” yakin ibu Aleya yang masih heboh membahas “A Door To Heaven” penginapan sekaligus resto milik Liam dan Indah—novel : Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri).
__ADS_1
“Besok kita bangun penginapan sama resto juga, biar Liam sama Indah, bagi-bagi rezeki ke kita!” ucap Helios yang sudah langsung merancang usaha yang di maksud di pikirannya.
“Ayo, ayo. Aku siap bantu!” sergah Chole bersemangat dan langsung disambut senyum bahagia oleh orang tuanya yang wajahnya ia tatap.