
Helios tidak mau mengambil risiko. Demi kebaikan bersama khususnya keselamatan keluarganya. Apalagi alasan Chalvin amnesia dan Laras terlantar juga gara-gara Jay.
“Wanita itu, dia sangat menyayangi Chalvin, adik Cinta yang sengaja kamu celaka*i. Kamu mau aku panggilkan dia dan mengungkap fakta ini di hadapannya?” tanya Helios. Namun meski Jay yang sudah berdiri di hadapannya sudah langsung kebingungan dan belum sempat menjawab, ia sengaja berkata, “Baik. Aku akan menghubunginya!”
Tentu Helios tidak akan membuat Chole ada di sana secara langsung apalagi di sana ada pak Mul. Bisa jadi, pak Mul justru berulah kecuali jika pak Mul dipindahkan tapi pria itu harus dipastikan aman. Kaki dan kedua tangannya tetap dalam keadaan diikat sementara mulutnya juga wajib disumpal agar tidak bersuara, contohnya. Hingga tanpa menunggu lama, Helios meminta anak buahnya untuk menjalankan semua itu.
Ruang penjara Jay dan pak Mul sengaja ditukar. Namun, Jay tak sampai disumpal mulutnya layaknya pak Mul.
“Aku bukannya tidak manusiawi. Karena selain pak Mul yang tetap tidak merasa bersalah dan masih saja berusaha menyalahkan bahkan menyer*ang Chole, aku takut pak Mul nekat berteriak, sementara suaranya juga aku takutkan melukai Chole!” pikir Helios.
Helios masih terdiam di depan penjara Jay dan sebelumnya menjadi penjara untuk pak Mul. Ia masih menunggu kedatangan Chole dan tengah di perjalanan dikawal Dandi. Tadi, Helios sengaja menghubungi Chole secara langsung melalui telepon video agar sang istri percaya.
“Jika wanita itu sangat menyayangi Chalvin, berarti dia adik, atau malah saudara Chalvin yang lain. Namun, kenapa dia sangat dekat dengan Helios? Berarti dia Cinta? Namun setahuku Cinta tidak secantik itu. Mata dan warna kulit saja sudah sangat berbeda,” batin Jay benar-benar gelisah. Ia terlalu takut akan dibenci oleh wanita yang ia suka bahkan cintai, akibat ulahnya. Padahal, Jay sungguh cinta pada pandangan pertama, kepada Chole.
Sekitar tiga menit kemudian, akhirnya Chole datang. Membuat seorang Jay sudah langsung merasakan kehancuran lantaran pria itu terlalu takut akibat ulahnya kepada Chalvin.
“Ya Tuhan ... memang masih wanita yang sama,” batin Jay yang kemudian refleks berkata, “Dia bukan Cinta?”
Chole langsung menatap marah Jay. Pria yang langsung ia ingat sebagai sosok yang ia tolo g saat di rest area acara pulang kampungnya, sekitar dua minggu lalu. “Salah kak Chalvin apa, Mas?!”
__ADS_1
Jay sudah langsung kebingungan. Melalui lirikannya, ia memergoki tangan kiri Helios yang sudah langsung menggandeng erat tangan kanan Chole. Lagi-lagi keduanya tak masalah melakukan interaksi sangat dekat.
“Adanya luka saja harus diobati, kenapa kamu sengaja membuat kakakku terluka, Mas?!” todong Chole. “Bisa kamu, balikin kakakku kembali sehat seperti sedia kala? Bahkan andai aku dan mas Helios enggak gerak cepat, dampaknya akan fatal!” Tanpa menyebutkan yang dimaksud, tentu dampak fatal itu mengenai hubungan Chalvin dan Laras, juga nyawa Chalvin sendiri yang sempat kritis gara-gara kecelakaan yang Jay lakukan.
“Coba sekarang katakan kepadaku, apa yang akan kamu lakukan? Bahkan sekadar minta maaf saja, atau bahkan sekadar menyadari apa yang kamu lakukan salah, kamu enggak, kan?” kesal Chole.
“Sudah, ayo kita pergi.” Helios memboyong Chole dari sana. Ia tak mau emosi sang istri makin tak terkendali dan itu bisa berakibat fatal kepada Chole maupun janin mereka.
Mereka meninggalkan Jay maupun pak Mul yang mulutnya masih disumpal, begitu saja. Namun dari keduanya benar-benar tidak ada yang tersiksa. Karena meski Jay tak sampai kesulitan napas layaknya apa yang pak Mul alami akibat mulutnya yang disimpan. Jay juga menjadi sesak napas efek patah hati. Sebab Chole yang menjadi cinta pertamanya malah mengenalnya dengan hal yang membuat wanita itu sangat marah bahkan membencinya.
Jay terduduk sekaligus menunduk lemas di tengah kedua matanya yang menjadi berkaca-kaca.
“Ada apa, Syam?” tanya Helios meski jujur saja, otaknya sudah langsung yakin, Syam akan membahas pak Mul terlebih biar bagaimana pun Syam tahu Helios baru saja menemui pak Mul.
“Bos lupa, sore nant Bos ada jadwal pelelangan?” ucap Syam.
Helios sudah langsung merenung sejenak, sementara Dandi dan Ben yang refleks saling tatap, berangsur mengangguk-angguk, membenarkan jadwal yang Syam maksud.
“Nanti aku saja yang pergi, Bos. Biar Bos juga bisa fokus istirahat. Mulai sekarang, Bos cukup pantau dari kejauhan saja. Apalagi kan Jay sudah dikurung. Jadi, demi kebaikan bersama, lebih baik Jay memang tetap dikurung. Yang penting kita kasih dia makan dan minum,” ucap Syam lagi meski Helios belum menjawab pertanyaannya yang sebelumnya.
__ADS_1
“Kakimu sudah baik-baik saja? Kamu sudah terbiasa?” tanya Helios sambil menatap cemas Syam, tapi dengan segera Syam tersenyum semringah sambil mengangguk-angguk. Senyum semringah yang juga sudah langsung menular kepada Helios. “Baiklah,” ucap Helios sambil mengangguk-angguk. “Nanti bawa anggota yang sudah terbiasa ikut, tapi nanti ditambah dua anggota karen aku tidak ikut bersama kalian.”
“Baik, Bos!” sanggup Syam tetap tersenyum bahagia. Namun sebelum ia benar-benar pergi, Helios mendandaninya layaknya gaya Helios.
Helios memakaikan kacamata hitam dan masker hitam yang menutupi nyaris seluruh wajah Syam. “Biar begini, biar mereka segan bahkan takut kepadamu!” yakin Helios. Ia sampai memberi kacamata miliknya, juga stok masker baru yang ia keluarkan dari saku dalam jasnya.
“Makasih banyak, Mas!” semringah Syam, dan sampai menitikkan air mata lantaran Helios langsung memeluknya. Helios memeluknya sangat erat dan ia yakini juga sampai menitikkan air mata. Apalagi, kini di sana mereka hanya berdua.
Kenyataan Syam yang bergaya layaknya Helios, tak hanya membuat Syam disegani bahkan ditakuti layaknya apa yang Helios yakini. Karena efek sangat mirip Helios, Syam juga menjadi incaran Shin.
Di pelelangan kali ini, Shin memang kembali menjadi salah satu wanita pengh*ibur. Shin sangat semringah, bersemangat, dan tak segan memeluk Syam dari belakang ketika mereka hanya berdua di tempat sepi.
Detik itu juga Syam langsung terdiam bengong. Ekspresi yang nyaris sama dengan ekspresi Helios, setelah Chole izin ikut mengurus perusahaan orang tuanya.
“Mas ....” Kamu lagi hamil.
“Iya ... aku janji aku akan hati-hati, tapi kak Chalvin memang enggak bisa urus penuh dalam waktu dekat karena keadaannya belum stabil.” Chole meyakinkan. “Gini saja, sekarang aku bantu perusahaan, nanti kalau kak Chalvin sudah stabil, kita bikin perusahaan sendiri. Perusahaan cabang dari perusahaan papah juga enggak apa-apa. Buat masa depan anak-anak kelak, Mas. Ayo kita siapin sekarang. Ada yang urus pesantren, ada yang urus perusahaan. Mas bilang, ingin punya banyak anak? Otomatis kita juga wajib persiapan lebih banyak, kan?” semangat Chole dan langsung mendapat tatapan serius dari mata kiri Helios yang belum ditutup menggunakan kacamata hitam lagi.
Menyiapkan masa depan, itulah kiranya yang tengah Chole lakukan sekaligus mengajak Helios, demi anak-anak mereka. Novel anak-anak juga siap aku buat setelah novel ini beres, ya.
__ADS_1