
“Kamu jangan dekat-dekat istriku lah ....” Helios menatap sebal Ojan.
“Ihh ... kenapa? Brokoli kan memang kesayangan aku!” balas Ojan sewot dan sengaja duduk di sebelah Chole. Namun, ia benar-benar tak menyangka jika Helios dengan sigap langsung memangku Chole. Helios terlihat jelas tidak mau berbagi Chole kepadanya, bahkan meski untuk sekadar mengobrol biasa.
Sekelas Excel yang pendiam, refleks menertawakan sikap posesif Helios kepada Ojan.
“Pelit banget, sih! Kasihin Brokoli ke aku! Kami beneran kangen, woiii!” kesal Ojan.
“Mas Ojan, ... biarin ih. Mas Helios kan memang suaminya Chole,” tegur Azzura sambil mengelus-elus perutnya.
“Tapi kan aku suami masa kecilnya Brokoli sayang!” kesal Ojan membalas Azzura.
“Kan tadi kamu sudah dikasih wanita bercadar pink!” semprot Helios.
“Oh iya, ya. Tapi si pink lolos. Kayaknya dia pakai kekuatan datang bulan deh, makanya baru dikejar sudah langsung menghilang ...,” bingung Ojan yang kemudian pamit sambil menyalami semua tangan di sana kecuali tangan Azzura dan Chole.
“Salaman!” kesal Ojan kepada Helios yang tak kunjung memberikan tangan kanannya untuk ia salami.
Helios tak hanya enggan. Karena alasannya tak kunjung memberikan tangan kanannya, memang efek ia takut kepada Ojan. Semacam dilu*dahi, atau malah lebih parah karena orang seperti Ojan memang tidak mengenal aturan.
“Sudah, Mas. Disalami, nanti yang ada enggak pergi-pergi,” lirih Chole sengaja meraih tangan kanan Helios kemudian memberikannya kepada Ojan.
“Yang bercadar pink jangan sampai lolos. Kalau kurang bantuan, bawa dua orangku buat bantu!” ucap Helios masih membiarkan tangan kanannya dijabat oleh Ojan.
“Dua orangmu buat bantu? Lah, aku kentuti saja mereka mual-mual! Beneran enggak guna mereka! Berapa kamu bayar satu bulannya?” balas Ojan.
“Mas Ojan, ... Mas. Sudah. Soalnya kalau sudah membahas kentu*t Mas, beneran sudah enggak ada lawan. Ibaratnya,” ucap ibu Arum sambil menahan senyumnya.
__ADS_1
“Ibaratnya kentu*t Ojan ya sudah tergolong wabah, Mah!” ucap Azzam yang baru datang sambil membawa satu piring rujak iris.
Mendengar itu, semuanya kompak tertawa bahkan sekelas Helios. Hanya saja, berbeda dengan yang lain, Helios yang gengsi sengaja sembunyi-sembunyi sambil sebisa mungkin menahan tawanya.
“Eh, Zam. Baru kemarin ke Yogyakarta mana pulangnya enggak sambil gendong candi, sudah langsung isi kamu! Kamu beneran langsung hamil?!” sergah Ojan menghampiri Azzam yang sebenarnya tengah melangkah menuju kebersamaan dan itu di lantai bawah dekat pintu masuk.
“Sudah kamu diam. Kejar sana si cadar pink! Oalah malah Sepri yang datang!” balas Azzam yang kemudian berkata, “Innalilahi, Sepri kan calon kakak iparku!”
“Duh Jam, itu jangan-jangan Sepri mau jemput aku. Tolong aku, Jam. Aku mau ngejar si pinky!” Ojan sampai bersembunyi di belakang punggung Azzam lantaran ia terlalu takut hadirnya Sepri di sana karena untuk menjemputnya.
“Pri, kamu mau cari Ojan? Nih, nih, orangnya ngumpet di punggungku!” heboh Azzam yang langsung membuat Ojan minggat.
Ojan bahkan melewati Sepri begitu saja. “Mau cari si pink berkekuatan datang bulan!” seru Ojan sambil terus lari menggunakan sepatu but rainbow rubbynya.
“Itu enggak dikejar, Pri?” tanya Azzam yang kemudian duduk di sebelah Excel.
“Gimana kabar terbarunya mbak Suci, Mas?” tanya Excel.
“Oh iya, aku lupa. Kamu baru keluar dari persarangan perlindungan janda?” celetuk Azzam yang langsung tertawa. Namun ia juga segera membagi rujaknya kepada Azzura yang sudah langsung minta.
Terlepas dari kehebohan di sana, ibu Arum sengaja menawari Chole dan Helios makan. Meski pada akhirnya, Chole dan Helios dijamu dengan banyak makanan. Namun, pilihan Chole dan Helios cenderung pada pecel dan rujak mbak Arimbi atau itu istrinya mas Aidan.
“Nanti bawa bumbunya, ya. Kalau sayur sama buah buat rujak kan pasti ada. Kalau racikan bumbu kan memang enggak selamanya bisa beneran mirip rasanya. Ini buatan Mbak Mbi, makanya nama menunya pun pecelnya Mbak Arimbi. Rujak dan semuanya juga masih dengan nama Mbak Arimbi. Kalau mau yang serba khusus mbak Arimbi, di depan rumah ayah Angga ada warung khususnya.” Ibu Arum dengan bangga mengenalkan menu andalan buatan sang menantu yang memang terbilang fenomenal.
Hidangan yang juga sudah langsung menjadi favorit Chole dan Helios. Malahan tengah malam, keduanya sampai keluar dari hotel mereka menginap hanya untuk mencari buah bahan rujak.
“Aku ingin tahu, kenapa kamu sengaja menyembunyikan kehamilan kamu?” tanya Helios sambil menatap saksama wajah Chole yang tak lagi tertutup cadar. Istrinya itu juga sudah tak memakai kerudung. Rambut panjang lurusnya tergerai indah, selain wajah tanpa riasnya yang tetap terlihat sangat cantik.
__ADS_1
Sambil menyuapkan satu potong buah apel yang sudah dicocol bumbu rujak kepada Helios, Chole yang jadi sedih berkata, “Takut pamali. Nanti tunggu tiba-tiba besar saja. Apalagi, aku pakai syari jadi enggak kelihatan juga.”
Sambil mengunyah suapan Chole, Helios berkata, “Kelihatan pun enggak apa-apa, kan kamu punya suami!” Ia memang mengomel, tapi omelannya sudah langsung membuat Chole menahan tawa dan perlahan tersipu.
“Nanti biar kejutan lah Mas. Yang penting sama-sana jaga, selamat sampai persalinan bahkan selamanya!” ucap Chole sambil mengambil potongan buahnya di kotak dan sudah bersanding dengan satu kotak bumbu rujak.
“Anak-anakku pasti kuat,” yakin Helios yang kemudian mengelus-elus perut Chole menggunakan tangan kanannya.
“Amin ...,” ucap Chole yang memang tidak bisa berhenti memakan rujaknya.
“Enak banget!” Helios sampai memuji rasa bumbu rujaknya.
“Efek ngidam bukan, sih?” ucap Chole sambil menahan tawanya.
Helios langsung ikut tertawa. Yang mana tawanya juga langsung bertambah hanya kareha ia teringat nasih si wanita bercadar yang masih saja dipepet Ojan.
“Tadi kamu lihat kan, di dekat rumah makan cabang punya Akala itu, Ojan duduk di motor gede. Tapi aku curiga itu memang Jay. Biar kapok sih. Apalagi aku yakin, daripada ke aku, dikejar-kejar Ojan begitu jauh lebih bikin Jay kewalahan!” ucap Helios yang tertawa bersama Chole.
“S-sayang jangan makan belimbing dulu, soalnya kandungan air di belimbing bisa bikin kamu keselek apalagi sekarang kita beneran rawan ketawa!” tegur Helios sudah langsung menukar potongan buah belimbing yang Chole ambil, dengan potongan buah semangka.
Beberapa saat kemudian, Chole sengaja pindah dan duduk di sebelah Helios. Ia memeluk manja Helios dari samping kiri. Hal yang memang harus ia lakukan agar suaminya itu bisa melihatnya dengan leluasa.
“Kamu kasihan ke Nina?” tanya Helios yang memang sudah paham dengan cara pikir sang istri. Chole yang masih memeluknya tetap menunduk. Alasan yang juga membuat Helios berangsur memeluk Chole erat. “Kamu enggak usah khawatir karena Nina sudah ada di orang sekaligus lingkungan tepat!” yakin Helios.
Chole berangsur mengangkat wajah kemudian tatapannya. Ia tak kuasa untuk tidak bersedih apalagi berlinang air mata hanya karena apa yang sedang ia rasa sekaligus pikirkan. “Salah enggak jika aku menduga, alasan kerusa*kan otak kak Chalvin, karena kak Chalvin terlalu pusing mikirin kas*us kak Cinta? Apalagi ibu Arum dan semuanya bilang, pas putusan sidang, kak Chalvin sampai pingsan.”
Helios yang membenarkan anggapan sekaligus kemungkinan sang istri berangsur mengangguk-angguk. Terlebih dokter yang menangani berdalih, keru*sakan pada saraf otak Chalvin yang menyebabkan Chalvin mengalami amnesia sebagian, juga karena kondisi pikiran Chalvin yang saat kejadian memang kurang baik.
__ADS_1
“Awalnya memang menyakitkan Chole, tapi pasti Allah punya rencana terbaik kenapa Chalvin harus menjalani skenario ini!” yakin Helios terlebih sejauh ini, ia sudah membuktikannya sendiri.