Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
81 : Pertemuan Chole Dan Jay


__ADS_3

“Mas, makan pop*mie kalau perjalanan mudik gini, enak banget loh!” rengek Chole ketika mereka akan mencari restoran terdekat.


“Enggak usah di restoran-restoran, terlalu biasa. Di pinggiran saja!” yakin Chole meski sang suami belum membalas. “Sekalian maghriban!” ia makin bersemangat.


Helios yang sekarang selalu berpikir semua yang Chole inginkan merupakan bagian dari mengidam, bagian dari kemauan janin mereka, nurut-nurut saja.


“Di depan ambil kiri, di sana tempat istirahatnya luas dan banyak pilihan, Mas,” seru Chole dan kali ini sengaja mengajak mafia yang menyetir berbicara.


“Siap, Non!” sanggup si pria.


Mendengar itu, Chole sudah langsung menatap Helios. “Mas, ini kok dari tadi, kadang aku dipanggil Non, Mbak, Nyonya, ibu, bahkan ibu negara, ini gimana, sih?”


“Semua jawaban benar,” balas Helios tak mau ambil pusing, meski yang ada, jawabannya itu justru membuat Chole pusing.


“Kenapa kamu jadi diam?” tagih Helios langsung ketar-ketir hanya karena Chole langsung diam tak lama setelah menerima jawaban darinya.


“Enggak apa-apa, Mas. Kau hanya lagi mikir,” balas Chole.


“Mikir apa?” Helios makin khawatir.


“Aduh, seribet ini jadinya kalau berhadapan sama orang yang sudah bucin,” batin Chole yang sudah refleks menggeleng sambil menatap Helios sebagai balasannya.


“Makan pop*mie?” lanjut Helios masih ingat keinginan Chole.

__ADS_1


Chole langsung mengangguk-angguk sambil tersenyum ceria.


“Sudah masuk rest area, kamu mau istirahat di mana?” Helios sengaja menyerahkan semua keputusan kepada Chole karena lagi-lagi, ia tak mau salah langkah.


“Parkirnya depan masjid saja. Bismillah, niat baik juga kasih hasil baik,” balas Chole yang kemudian diteruskan oleh Helios kepada anak buahnya.


Setelah dibukakan pintu oleh anak buahnyaa yang duduk persis di hadapannya, Helios langsung keluar kemudian membimbing Chole.


“Kaki kamu aman? Mau rehat di mana? Kesemutan? Pelan-pelan habis itu baru ke toilet umum.” Helios sudah sibuk sendiri mengurus sang istri, hingga keberadaan dua pengawal mereka jadi terasa tidak berguna.


Kedua anak buah Helios jadi sering berkode mata satu sama lain. Karena ketika Chole meminta bantuan mereka pun, Helios sudah buru-buru mengambil alih.


“Si Bos beneran ya, protektif, pencemburu akut!” bisik mereka sebelum masuk ke toilet yang berbeda.


Semuanya memilih masuk ke toilet tanpa tahu, sekelas Jay sudah langsung menyelinap masuk juga ke area toilet. Bertepatan dengan itu, Chole keluar dari toiletnya dan bermaksud mencari Helios, hingga pertemuan dengan Jay tak terelakan.


Chole yang hatinya selembut sutera sudah langsung tidak tega melihat Jay. Yang mana baik Jay apalagi Chole, belum mengenal satu sama lain.


“Pakai ini, Mas. P3K lengkap! Atau kalau enggak, Mas pergi ke klinik terdekat!” Setelah mengeluarkan tas pink berukuran sedang dan berisi P3K-nya dari tote bag-nya, Chole menatap prihatin sosok Jay. Tak tega rasanya melihat Jay yang ia yakini terluka parah. Apalagi langkah Jay juga terbilang pin*cang.


Berbeda dari biasanya, kali ini Jay memakai jaket levis warna biru telur asin, dipadukan dengan celana panjang berwarna senada, dan kaus hitam lengkap dengan topi masih berwarna hitam.


“Dia malaikat apa bidadari?” batin Jay sudah langsung terpesona pada sosok bercadar serba biru toska di hadapannya. Dunia seorang Jay sudah langsung berhenti berputar dan menjadikan dirinya maupun Chole sebagai satu-satunya yang hidup.

__ADS_1


Lantaran ada beberapa orang yang masuk, Jay langsung terusik. Jay bermaksud pergi, tapi Chole tak membiarkannya dan buru-buru memberikan tas berwarna pinknya.


“Sudah, ini pakai saja. Buat Mas. Itu diobati lukanya!” ujar Chole buru-buru masuk ke ruang toilet yang sempat ia tinggalkan lantaran ia mendadak kebel*et.


Jay nyaris tertab*rak rombongan yang baru datang juga berangsur mundur meski kedua matanya tidak bisa berhenti memandangi pintu toilet Chole berada. Namun pada akhirnya, ia masuk toilet pria di hadapan toilet yang Chole gunakan.


Ketika Jay masih sibuk mengobati setiap lukanya menggunakan P3K pemberian Chole, Chole sudah dibawa pergi oleh Helios.


“Mas pernah pulang kampung?” Pertanyaan tersebut lolos begitu saja dari mulut Chole seiring senyum ceria yang membuat kedua matanya menyipit. Namun seketika ia ingat sang suami pernah menemani Cinta pulang kampung, senyum itu perlahan menjadi hambar, menyakitkan. “Oalah Chole, kok kamu jadi melow begini sih? Kamu wajib strong!” batin Chole meyakinkan dirinya sendiri. Meski kedua matanya jadi menatap khawatir kedua mata Helios. Kedua mata itu khususnya mata kiri, seolah sedang menyaksikan adegan masa laku yang tengah bergulir di ingatan dan itu Chole curigai berisi agenda pulang kampung dengan Cinta, sesuai pertanyaan yang baru saja Chole layangkan.


“Pernah ... beberapa kali, ... tapi tentu, yang sama kamu yang paling berarti,” ucap Helios setelah ia sempat membuat Chole menunggu beberapa waktu. Ia sengaja memberikan jawaban menenangkan lantaran perubahan ekspresi Chole benar-benar drastis di setiap istrinya itu membahas semua hal yang berkaitan dengan hubungan Helios dan Cinta.


Jawaban dari Helios yang terkesan sengaja menjaga perasaannya, ditambah Helios yang tak segan memeluknya sambil terus melangkah, tetap tidak bisa membuat Chole benar-benar tenang.


“Jangan serakah, Chole. Syukuri apa yang sudah ada, dan kamu wajib menjaganya. Jangan sampai Allah marah lalu Allah mengambil semua yang sudah ada. Cemburu bukan cara membuat keadaan baik-baik saja. Karena cemburu hanya akan membuatmu terluka. Boleh cemburu, tapi kamu tetap harus bisa bersikap. Jangan sampai, suamimu justru merasa tidak nyaman karena setiap kecemburuan yang kamu rasakan!” batin Chole menasihati dirinya sendiri. Kemudian, ia refleks menatap Helios, membingkai wajah suaminya itu menggunakan kedua tangan, dan mencubitnya gemas.


Awalnya, Helios mulai bisa bernapas lega. Namun melihat ujung gamis bagian tangan kanan dan juga sarung tangan kanan Chole dihiasi darah segar, ia sudah langsung panik. Ia refleks berhenti melangkah untuk memastikan.


“Ini darah apa? Tadi pas turun dari mobil belum ada ...!” tanya Helios sudah langsung mengabsen keadaan sang istri dari ujung kaki hingga ujung kepala, depan belakang.


Bukan hanya Helios yang ketar-ketir. Karena kedua mafia yang mengawal juga. Ditambah lagi, apa pun yang terjadi pasti mereka juga yang disalahkan sekaligus harus tanggung jawab.


“Ini tadi itu, ... kayaknya darah orang itu, Mas—”

__ADS_1


“Tadi di toilet ada orang kayaknya habis kecelakaan. Wajah sama tangannya berdar*ah-dar*ah, terus jalannya juga pin*cang. Aku enggak tega lihatnya, jadi aku kasih P3K punyaku ke dia. Mungkin karena itu, darahnya ada yang menempel di ujung gamis bagian tangan sama sarung tangan kananku.” Chole menjelaskan sambil menahan rasa takut karena selain Helios yang sudah terlihat kalut karena takut, masalahnya yang Chole tolong itu laki-laki—dan Chole khawatirkan akan membuat Helios cemburu.


Meski tanpa Chole sadari, dirinya telah menolong Jay yang selama ini sudah sangat jah*at kepada Helios.


__ADS_2