Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
79 : Mulai Mengidam?


__ADS_3

“Teruntuk kalian yang mengukir kebahagiaan di atas luka-luka pasangan. Untuk kalian para pasangan pengkhianat, juga kalian yang dengan sadar menjalin hubungan dengan pasangan orang, ... percayalah, tebar tuai itu ada. Andai kalian tetap tidak malu dengan apa yang kalian lakukan walau dunia mengut*uk kalian, sadar tidaknya kalian sebenarnya kalian sudah merasakan balasan bahkan hukuman. Balasan tak harus dengan luka yang sama, meski kadang justru lebih mengerikan,” batin Chole masih membiarkan wajahnya di pangkuan Helios.


Helios menghela napas dalam guna meredam sesak yang telanjur memenuhi dadanya. Rasa sesak yang juga sudah membuatnya tidak baik-baik saja. Kedua tangannya berangsur membingkai wajah Chole dan perlahan mengangkatnya agar istrinya itu menatapnya. Kedua mata lebar Chole masih basah sekaligus merah.


“Aku benar-benar minta maaf. Ini beneran di luar kendali, tapi ... alasan Chalvin kecelakaan juga karena aku. Mereka berusaha melukai orang-orangku. Aku tahu ini fatal, tapi lebih fatal lagi jika kamu tahu dari orang lain apalagi, ... musuhku. Sebenarnya aku enggak punya musuh, tapi mereka selalu ingin membuatku tun*duk kepada mereka. Chole ... maaf. Maaf berkali-kali maaf. Aku hanya ingin kamu tahu, tapi aku enggak bisa tanpa kamu. Aku beneran sudah jujur sejujur-jujurnya agar kamu tahu keadaanku. Agar tidak ada salah paham lagi.” Helios begitu takut Chole marah apalagi meninggalkannya. Alasan yang juga membuatnya refleks berucap dengan nada sangat cepat.


Pengakuan Helios benar-benar membuat Chole terkejut. Chole sampai tidak bisa berkata-kata karena awalnya yang ia bahas cenderung pada kesetiaan pasangan juga agar Helios menjadi manusia lebih baik lagi. Terlebih bagi Chole, kehamilannya bukan hanya anugerah, tetapi juga ujian akankah ia dan Helios bisa menjadi manusia lebih bersyukur, selain mereka yang mampu menjaga amanah tersebut.


“Chole ...,” lirih Helios seiring ia yang menempelkan hidung mereka. Ia begitu takut karena Chole masih saja diam. Chole terlihat sangat syok. “Chole, tolong katakan sesuatu ....”


“Aku terlalu syok, Mas. Aku ....”


“Kamu boleh marah ... aku siap menerima hukuman, tapi jangan pernah kamu meninggalkanku bahkan sekadar berpikir untuk melakukannya!”


“Aku benar-benar minta maaf. Aku lalai, aku kecolongan!” Helios terus meyakinkan.


Bersama air matanya yang kian deras berjatuhan, Chole mengangguk-angguk dan berangsur mendekap tengkuk Helios erat menggunakan kedua tangannya.


“Memendam ini benar-benar membuatku tidak tenang. Aku takut kamu justru tahu dari orang lain. ”


“Makanya aku sudah sering jujur ke Mas. Aku sering ajak Mas ngobrol biar Mas terbiasa ngobrol sekaligus membahas segala sesuatunya juga dengan aku. Kapok ketakutan sendiri, salah siapa enggak jujur dari awal!” kesal Chole yang sebenarnya sudah sampai ingin mencubit sang suami.

__ADS_1


Helios berangsur mengakhiri dekapannya, tapi kedua tangannya langsung membingkai wajah Chole, menatapnya dengan saksama. “Kamu enggak marah?”


“Tentu saja marah, apalagi Mas sampai kecolongan. Namun, ... kemarin saja Ben yang sudah Mas perlakukan sangat baik nyaris membuat kita salah paham menggunakan foto Mas saat membantu Shin. Mau bagaimana lagi? Sudah terjadi, ....” Chole tak bisa berkomentar lagi. “Mengharapkan orang lain setia kepada kita bukan hal yang mudah bahkan meski kita sudah kasih semuanya. Tapi enggak apa-apa. Ibaratnya nantinya pasti kena seleksi alam sendiri. Yang baik bertahan, yang sudah enggak baik pasti pergi.”


“Terus yang Chalvin ...?” tagih Helios. Sebab baginya, kini masalah terbesarnya adalah kecelakaan Chalvin dan itu gara-gara Jay yang sengaja menggertaknya.


Chole menatap serba salah Helios. “Sudah enggak bisa dicegah. Sudah telanjur terjadi, ya tinggal diperbaiki. Tinggal diobati. Mau bagaimana lagi?” Malahan tiba-tiba, Chole jadi kepikiran Cinta. Apa kabar wanita itu setelah sebelumnya sempat meminta Chole pergi lantaran Cinta ingin menjadi bagian dari Helios?


“C-chole ...?” Helios masih belum bisa sepenuhnya tenang apalagi baik-baik saja.


“Tuh, adzan ...,” lirih Chole sambil menepis tatapan Helios. Sudah sampai adzan subuh, yang dengan kata lain, mereka menghabiskan waktu terbilang lama untuk obrolan mereka. Namun sampai detik ini, Helios malah sibuk meminta maaf.


“Aku benar-benar minta maaf,” lirih Helios sudah sampai memeluk erat Chole dan kali ini ia sengaja memangkunya.


Helios yang masih ketakutan, tak kuasa berkomentar. Ia hanya diam sambil terus memeluk Chole yang sampai ia pangku.


“Mas ... Mas ...,” panggil Chole sambil mengelus-elus perutnya menggunakan tangan kanan.


Helios berangsur menatap Chole, memastikan apa yang terjadi lantaran rengekan sang istri barusan terdengar mengeluh.


“Perutku enggak enak, rasanya nek ... apa sih bahasanya. Mirip mual, tapi bukan mual. Coba Mas tolong buatin air hangat kasih madu. Kasih jeruk nipis dikit,” ucap Chole.

__ADS_1


Mendengar itu, Helios makin ketakutan. Ia segera memindahkan Chole ke tengah-tengah tempat tidur kemudian buru-buru membuatkan yang Chole mau. Di kamarnya ada kulkas kecil. Ada juga air hangat dari dispenser. Termasuk gelas dan sendok lengkap dengan perlengkapan makan. Kemarin Chole sudah menyiapkan semua itu. Karena seperti yang Chole bilang, berisiknya Chole yang meminta ini itu memang berguna. Terbukti sekarang Helios bisa menyiapkan segala sesuatunya lebih mudah.


“Coba minum ini ....” Helios nyaris memberikannya kepada Chole, tapi lagi-lagi ia mencicipinya.


“Jangan dicicipi terus nanti yang ada habis sama Mas,” protes Chole dan Helios hanya mengangguk-angguk kaku sebagai permintaan maafnya.


“Seger Mas. Enak di tenggorokan, jadi enggak enek juga,” ucap Chole.


Helios terdiam dan langsung merenung serius untuk beberapa saat. “Kayaknya yang di perut keberisikan gara-gara kita sibuk ngobrol.”


Chole langsung menahan senyumnya. “Masa, sih?”


“Bisa jadi. Coba diingat, tadi berapa kata yang sudah kita ucapkan? Banyak! Eh, ini kamu mau lagi?” balas Helios dan Chole yang sempat kembali tertawa, mengiyakan.


Helios segera membuatkan minuman madu hangat diberi sedikit jeruk nipis untuk sang istri.


“Kelakuan Papahmu ... jadi ketularan absr*ud gitu!” ucap Chole lirih sengaja mengajak yang di dalam perutnya mengobrol sambil mengelusnya pelan menggunakan kedua tangan.


“Mas, ini aku mulai ngantuk ....”


“Subuhan dulu, habis itu tidur. Nanti pukul delapan aku bangunin biar kamu bisa berjemur. Habis itu kita temenin Syam pasang kaki. Bentar, ini ... ini minum lagi,” ucap Helios yang berangsur duduk di sebelah sekaligus hadapan Chole yang masih duduk selonjor.

__ADS_1


Helios membantu Chole minum minuman raci*kannya. Resep dari Chole itu juga langsung ia sukai. Manis ada asamnya, meski tak lama setelah itu Helios jadi berpikir, tanpa mereka sadari, minuman tersebut telah menjadi bagian mengidam mereka.


__ADS_2