Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
53 : Romantis Ala Mereka


__ADS_3

“Adik sama Kakak, sama saja. Tim baru akan charge hape kalau hapenya sudah tewas ....” Helios sengaja menyindir sang istri.


Mendengar itu Chole hanya mengerucutkan bibirnya. Namun pada kenyataannya, tampaknya ponsel Chalvin juga kehabisan daya baterai layaknya ponsel Chole. Nomor ponsel Chalvin mendadak tak bisa dihubungi lagi.


“Terus gimana, Mas?” tanya Chole.


“Ya mau bagaimana lagi? Mau nyusul ke sana?” balas Helios masih sewot.


“Makanya Mas beli helikopter, biar kalau kita mau ke mana-mana, tinggal ‘ser’ terbang!” ucap Chole tak kalah sewot. Karena Helios langsung meliriknya dengan lirikan khas orang marah, Chole sengaja berkata, “Meski suamiku Helios, masalahnya suamiku enggak bisa terbang!”


Mendengar itu, Helios yang tersinggung langsung lari menghampiri Chole. Tentu, Chole yang takut memilih langsung melarikan diri sambil refleks menjerit ketakutan. Jeritan yang sangat mirip peluit. Karena setiap Chole menjerit, Helios akan refleks membekap telinga. Malahan tak jarang, Helios akan melakukannya sambil agak menunduk.


“Jangan lari kamu Chole!” tegas Helios penuh peringatan sambil terus lari menyusul Chole. Di hadapannya, Chole terus berlari sekaligus lebih berisik dari biasanya. “Asli, ini beneran asli. Ada orang mirip Chole yang berisiknya mirip peluit ditiup,” lirih Helios buru-buru meninggalkan dapur lantaran Chole yang awalnya terbirit-birit menghindarinya, mengeluh pipis di celana dan langsung meminta pertanggungjawabannya.


“Mas Helios! Tanggung jawab ini, aku pipis di celana beneran gara-gara Mas.”


“Lah, kok gara-gara aku, kalau aku saja enggak pernah minta kamu buat pipis di celana!” Helios tetap tidak mau disalahkan.


“Tapi Mas bikin aku takut. Bayangin saja, Mas ngejar aku dari lantai atas, dari kamar sampai dapur. Ih, jangan pergi gitu ini tolongin aku dulu, nanti pipisku ke mana-mana.” Chole yang memang sudah tak menyusul Helios berakhir menangis. Antara malu tapi juga sebal, selain sisa rasa takutnya efek dikejar Helios yang sampai membuatnya lemas.


Sebenarnya, alasan Helios buru-buru membelakangi Chole karena ia sudah tidak bisa untuk tidak tertawa. Baginya, apa yang terjadi pada Chole, yaitu terkencing-kencing sambil lari terbirit-birit karena takut kepadanya, benar-benar lucu.

__ADS_1


“Mas, ih ... cepetan. Takut ada yang lihat. Nanti kalau ada Mbak yang datang, gimana?” rengek Chole mulai tersedu-sedu.


Helios yang agak membungkuk karena tawa yang ditahan, makin sulit mengakhiri tawanya. Ia juga sampai sulit menjelaskan perasaannya, tapi baginya, ulah Chole sangat lucu. Baginya, Chole merupakan orang paling lucu sekaligus orang paling menggemaskan, yang ada di muka bumi.


“Eh, ... Mas Helios malah ngetawain aku, ya?!” tuding Chole yang memang mencurigai Helios.


“Kata siapa?” Helios mencoba menepis meski sampai saat ini, ia malah jadi lemas sambil senyum-senyum sendiri.


“Itu, ... itu kalau gitu, Mas pasti lagi ngetawain aku, kan? Ayo, ngaku!” yakin Chole.


“Fitnah!” tepis Helios buru-buru balik badan demi meyakinkan. Walau pada akhirnya, ia malah kembali sibuk menahan tawa hanya karena melihat wajah Chole, terlepas dari ingatannya yang dihiasi rengekan Chole, beberapa saat lalu.


“Kan, Mas ....”


Chole yang sempat melangkahkan kaki kanannya, buru-buru merapatkannya. Juga, kedua tangannya yang dengan segera menutup wajah. Kendati demikian, ia yakin Helios kembali tertawa dan lebih tepatnya menertawakannya. Terbukti, pria itu kembali cekikikan dan tak kunjung menghampirinya.


“Mas, ih ... ini aku beneran sudah enggak nyaman, terus takutnya ompolnya juga meresap sepanjang masa!” rengek Chole kali ini sengaja protes.


Helios berdeham. “Iya. Asal kamu tahu, itu aku pakai marmer yang harganya paling mahal!”


“Harga diri aku tetap lebih mahal, ... jangan sampai ada yang tahu kalau aku ngompol, bahkan meski itu Mbak. Sini bantu aku. Aku mau ganti terus pel sini biar enggak bau!” sergah Chole tak sabar dan geregetan kepada Helios yang justru sibuk meng-goda sekaligus menge*jeknya.

__ADS_1


Pada akhirnya, Helios tetap membopong Chole, membawanya ke kamar dan membuat istrinya itu buru-buru ganti sekaligus membersihkan diri.


“Ini aku juga harus mandi ulang kena efek bayi tak tahu diri,” lede*k Helios.


“Aku enggak amnesia, Mas. Aku masih ingat diri. Ya sudah, Mas mandi. Aku mau pel lantai bentar, terus bikin jus!” balas Chole sengaja pamit. Ia mengelus-elus lengan kiri sang suami kemudian menge*cup pipi kiri pria itu sebelum ia pergi dari sana dan segera menjalankan niatnya. Dari mengepel lantai yang terkena pipisnya, dan terakhir membuat jus yang menyegarkan.


Kali ini Chole sengaja memilih buah pir yang ia beri sedikit madu, susu cair, es batu, dan juga sedikit garam agar buah pirnya tidak cepat menghitam. Dan ketika Helios akhirnya datang, Chole langsung tersenyum kikuk lantaran ia teringat pada apa yang sempat terjadi beberapa saat lalu. Seperti niat Helios, pria itu benar-benar mandi dan kepalanya saja masih setengah basah, selain aroma segar dari sabun yang sudah tak asing di indera penc*iuman Chole. Aroma segar yang sudah Chole sukai dan sampai menimbulkan sensasi ketenangan tersendiri.


“Aku enggak nakut-nakutin lagi loh. Awas kalau difitnah nakut-nakutin lagi, padahal memang kamu yang ngompolan!” ujar Helios ketika Chole menyuguhkan dua nampan berisi dua gelas besar jus pirnya.


Chole langsung duduk di sebelah Helios sambil menahan tawanya. “Kan, jangan dibahas kenapa? Sensitip itu!” rengek Chole kali ini berbisik-bisik. Ia membiarkan Helios memboyong tubuhnya, mendekapnya dalam pangkuan.


“Jangan berisik, aku mau urus kerjaan,” lirih Helios fokus pada layar ponselnya.


“Kerjaan? Kan sudah kanji beneran rehat enggak urus kerjaan dulu?” protes Chole berbisik-bisik juga.


“Ini aku lagi kirim beberapa berkas ke Excel,” ucap Helios memang kewalahan mengetik maupun memilih setiap berkas di ponselnya lantaran ia hanya menggunakan tangan kiri.


“Sini, sini. Aku yang jadi tangan Mas. Mas cukup kasih arahan gimana-gimananya,” sergah Chole.


Seseru itu memang kebersamaan mereka sekarang. Yang awalnya berisik menjadi hening syahdu penuh kelembutan sekaligus malu-malu, terlebih ketika akhirnya tatapan mereka bertemu. Keseruan yang mereka yakini sangat berbeda dengan keseruan pasangan lainnya, apalagi pasangan yang memang normal. Namun baru Helios dan Chole sadari, interaksi mereka dari berisik ke yang manis, begitu juga sebaliknya, benar-benar manis.

__ADS_1


Berbeda dengan Helios dan Chole yang memang sudah merasakan ketergantungan satu sama lain, di sebuah ruang rawat biasa, seorang wanita berambut panjang dan penuh luka apalagi bagian wajahnya, tengah tersedu-sedu. Wanita tersebut berada di sebuah ruang rawat yang tidak begitu luas dan fasilitas di sana juga bukan fasilitas mewah.


“Duh, kena air mata saja perihnya makin menjadi-jadi gini. Ya Alloh, kenapa aku enggak mati saja, sih?” batin si wanita dan tak lain, ... Cinta.


__ADS_2