Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
71 : Chole, Harta Paling Berharga Milik Helios


__ADS_3

Mas Suami Sayang : Chole, aku bahagia banget karena aku punya kamu. Meski aku baru berani bilang ini lewat tulisan, aku ingin kamu tahu itu. Aku mau kamu tetap sehat dan berhenti melukai diri kamu agar hidupku tetap berwarna.


Senyum haru bertaburan menghiasi wajah cantik Chole yang masih terlihat sangat segar atas sisa air wudu di sana.


Mas Suami Sayang : Janji, ya. Jangan jatuh-jatuh lagi. Boleh ceroboh, tapi jangan jatuh. Dibiasakan. Karena bisa memang karena terbiasa.


Kebanggaan Jongkok : Iya, Mas. Aku juga bahagia banget karena punya Mas yang selalu ribut kalau aku recokin ❤️❤️❤️


Mas Suami Sayang : 😘


Balasan Helios sudah langsung membuat Chole tersenyum takjub.


Kebanggaan Jongkok : Itu emot sia*lan, kan? Mas lupa, apa memang emotnya sudah alih fungsi? 🤣🤣🤣🤣🤣, ah ditinggal suami kerja jadi kurang kasih sayang 🤣🤣🤣🤣🤣


Mas Suami Sayang : Alih fungsi. Bukan sia*lan lagi 😘❤️


Chole berangsur duduk di sajadah yang sudah ia gelar di lantai sebelah kasurnya.


Kebanggaan Jongkok : Boleh telepon? 😘😘😘😘😘


Mas Suami Sayang : Jangan, lagi rame-ramenya. tiga atau empat jam lagi.


Kebanggaan Jongkok : Oke 😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


Mas Suami Sayang : Sekarang kamu tidur.


Kebanggaan Jongkok : Mau salat terus dzikir saja. Aku enggak bisa tenang kalau Mas lagi di luar.


Mas Suami Sayang : Tapi kalau aku santai bareng kamu, kamu cepat tidur sampai ngorok.


Kebanggaan Jongkok : 😂😂😂😂 aku ngorok? Kalau ada Mas, aku gampang tidur efek pikiranku tenang.


Mas Suami Sayang : Nanti aku rekam pas kamu tidur terus ngorok.


Kebanggaan Jongkok : Berarti bener, kalau aku tidur ngorok? Ah enggak apa-apalah kalau aku tidur aku ngorok. Yang penting aku cantik, pinter, pinter masak, pinter bahagiain suami juga. Ditambah pinter ngorok juga 😂😂😂😂


Beres berkirim pesan dengan sang istri, Helios kembali fokus sekaligus serius dengan keadaan di sana. Perj*udian masih berlangsung. Kebanyakan pelakunya merupakan laki-laki berumur, meski ada beberapa yang berusia awal kepala tiga. Tentu, wanita se*ksi, al*kohol dan asao rokok menjadi warna utama di sana. Malahan kini, Dandi dan Ben datang masing-masing membawa satu kantong berukuran besar kemudian diberikan kepada pria paling bringas. Pria paling bringas yang dulu sempat membuang Shin.


Beres menyediakan semua itu lengkap dengan alat hi*sapnya, Helios mengajak Dandi dan Ben keluar. Karena bisa dipastikan, meski suasana akan menjadi makin ramai oleh setiap ucapan tak jelas yang keluar dari masing-masing mulut di sana dan jumlahnya ada dua puluh lima orang, semuanya akan berakhir t*e**** sementara tugas mereka juga otomatis nyaris berakhir.


“Kalian melihat gerak-gerik mencurigakan dari Jay?” tanya Helios tak lama setelah Dandi yang melangkah di belakangnya, menutup pintu.


“Aku rasa pelelangan kali ini juga berjalan lancar. Tidak ada tanda-tanda Jay ke sini. Curiganya, Jay sudah menguatkan mental. Mengha*b*isi atau diha*bi*s*i, dan andai pun dia sudah memiliki sekutu baru, aku rasa dia akan langsung mengincar kelemahan Bos!” ucap Ben yang makin mengabdikan kesetiaannya setelah kebaikan yang ia terima dari Helios maupun Chole dan awalnya nyaris ia sing*ki*rkan.


“Meski mereka sempat meny*erang Chalvin, aku yakin mereka tidak akan melakukannya lagi dalam waktu dekat. Apalagi sekelas Bos pasti bisa dipastikan langsung melakukan pengamanan lebih ketat.” Dandi juga angkat suara, yang mana ia juga tak ragu meminta Helios untuk lebih menjaga Chole.


“Harusnya Jay memang tahunya, Bos dengan Cinta, tapi Bos tetap wajib jaga-jaga takutnya Jay sudah tidak segegabah dulu. Karena setiap kekalahan yang selalu Jay dapatkan pasti akan membuat dia lebih cermat lagi,” lanjut Dandi.

__ADS_1


Dalam diamnya, Helios memang langsung membenarkan anggapan Dandi. Karena setelah Jay dengan sengaja melu*k*ai Syam, kemudian Chalvin juga sampai menjadi sas*ar*an, Jay pasti akan langsung mengincar Chole.


“Tangkap dan hab*i*si dia. Jangan sampai apa yang kita khawatirkan benar-benar terjadi,” kesal Helios sudah langsung emosi. Bahkan meski ia tahu, ada lima belas mafia yang akan menjaga Chole, jika wanitanya itu sedang tidak bersamanya.


“Ceklek ....”


Suara pintu yang ditutup secara lirih barusan langsung membuat gerak-gerik seorang Helios menjadi bengis. Helios mundur dan menatap murka pintu yang baru akan mereka tinggalkan.


“Shin masih saja ingin mendekatiku? Buang saja dia ke laut kalau dia tetap tidak mengerti bahasa manusia! Aku sudah berulang kali memberinya peringatan, tapi dia terus saja bermain-main kepadaku!” kesal Helios dan membuat kedua anak buahnya ketar-ketir sendiri. “Jangan sampai dia sengaja bekerja sama dengan mafia lawan. Ingat, lawan kita bukan hanya Jay. Jika Jay saja sudah siap mengh*abisi sebelum diha*bisi, kita juga harus melakukan itu lebih dulu!” tegas Helios dan kedua anak buahnya jadi makin sibuk mengangguk tanpa berani menatapnya.


Kepergian Helios diikuti dengan Ben dan Dandi yang segera kembali masuk ke dalam. Seperti yang Helios khawatirkan, Shin sungguh menjadi pelakunya. Wanita itu mereka pergoki tengah berusaha lari meninggalkan pintu yang sesekali ditatap takut. Tentunya, kali ini Ben dan Dandi tidak membiarkan Shin lepas. Apalagi wanita itu tak kunjung memperbaiki kesalahan dan malah makin berulah.


Pulang dari acara lelang yang membuat mereka berurusan dengan dunia gel*ap para sultan pencari kebahagiaan duniawi, Helios tak lagi dikawal Ben dan Dandi. Ia dikawal oleh mafia berbeda karena keduanya ia tugasi untuk mengantar salah satu sultan yang membawa sab*u terbilang berat, selain dolar yang jumlahnya tak sedikit hingga si pria meminta kawalan khusus.


Chole menjadi sosok pertama yang Helios cari. Apalagi selagi Jay masih berkeliaran, Helios tidak akan bisa tenang. Karena memang tak ada yang lain yang menjadi sasaran empuk selain Chole, untuk menghan*curkan sekaligus membuat Helios bertekuk lutut. Iya, Chole—sumber semangat sekaligus kehancuran untuk Helios.


“Chole ...?” kamar Chole dalam keadaan sepi. Di tempat tidur berkelambu pink juga dalam keadaan rapi.


“Chole ...?” Helios terus mencari sambil berseru. Ia sengaja masuk ke kamar mandi yang pintunya dalam keadaan terbuka.


Ternyata di sana ada sang istri yang sedang berdiri membelakanginya di depan wastafel. Setelah Helios amati lebih dekat, tangan kanan Chole tengah memegang benda pipih yang besarnya tak lebih panjang dari kelingking orang dewasa.


“M-Mas ...?!” Chole tersenyum haru menatap sang suami kemudian memamerkan alat tes kehamilan berhias dua garis merah. Itu miliknya!

__ADS_1


__ADS_2