Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
80 : Makin Protektif dan Bucin


__ADS_3

Kaki palsu untuk Syam telah terpasang. Helios dan Chole yang menyaksikannya langsung terharu. Perasaan keduanya jadi campur aduk khususnya Helios yang tahu penyebab sekaligus proses Syam hingga bisa ada di titik sekarang.


“Bantu, Mas,” lirih Chole, agar Helios tidak hanya fokus mengamankannya dan itu terus menggandengnya sambil sesekali menatap, memastikannya baik-baik saja.


“Aku jalan bentar keluar. Dari tadi duduk terus rasanya kaki jadi enggak nyaman. Aku bisa sendiri,” ucap Chole masih meyakinkan pada sang suami yang begitu protektif sekaligus bucin kepadanya.


“Jangan jauh-jauh,” pinta Helios berucap lirih dan terdengar sangat manusiawi sekaligus adem untuk semua yang mendengar, khususnya bagi Syam dan para pekerja medis yang ada di sana. Kelimanya refleks berkode mata sambil senyum-senyum sendiri memperhatikan Helios yang terus memperhatikan kepergian Chole. Karena setelah ditinggal Chole, yang ada Helios justru jadi tidak fokus.


“C-chole ....” Helios berseru berharap Chole segera kembali. Sebab ketakutan yang begitu besar itu benar-benar tak bisa ia hindari di setiap Chole jauh darinya.


“Belum ada dua menit, Mas ...,” lirih Syam mengingatkan.


Helios menatap Syam dengan kekhawatirannya kepada Chole. “Bentar, ya ....”


“Iya enggak apa-apa, Mas. Daripada jauh tapi gelisah, mending bareng-bareng saja.” Bagi Syam, apa yang baru ia ucapkan memang yang terbaik.


Helios langsung tidak bisa berkomentar, tapi ia buru-buru keluar dari sana dan bermaksud menyusul Chole.


Chole masih jalan-jalan di lorong depan ruang kesehatan. Wanita itu bahkan refleks berhenti melangkah kemudian menoleh pada sumber kegaduhan dari langkah lari yang Helios lakukan.


Senyum ceria sudah langsung Chole berikan. “Diam di situ, Mas. Tahan. Aku mau bikin video.”

__ADS_1


“Video apa?” Helios refleks maju, tapi itu sudah langsung membuat Chole merengek. Alasan yang juga membuatnya buru-buru mundur


“Mas di situ saja. Ini aku mau bikin video,” ucap Chole yang sudah mengeluarkan ponselnya dari tas selempang kecil warna birunya.


Chole merekam lantai di hadapannya sambil melangkah mendekat, kemudian setelah jaraknya pada Helios makin dekat, ia sengaja meraih tangan kiri Helios. Helios sendiri tidak berani bertingkah bahkan sekadar bernapas berlebihan. Takut salah dan berakhir membuat Chole berisik karena merengek. Baginya jika itu sudah terjadi, urusannya bisa panjang.


Setelah tangan mereka saling bergandengan, Chole sengaja mendekapkan ke perutnya. Awalnya, kamera terus merekam tangan mereka yang ada di perut Chol. Namun perlahan tapi pasti, kamera beranjak naik diarahkan ke wajah Chole maupun Helios.


“Mas Suami Sayang, ... senyum, dong!” manja Chole.


Helios sudah langsung merinding mendengarnya. “Astaga ... apa lagi ini?” batinnya buru-buru tersenyum lantaran Chole terus merengek. Kini saja, setelah memintanya untuk ‘dadah-dadah‘ ke kamera dan sudah memakai kamera depan, Chole berangsur berjinjit kemudian menempelkan bibirnya yang tertutup cadar, menempel di pipi kiri Helios.


“Jangan disebar-sebar, takut ada yang enggak suka terus balik jadi penyakit ke kita,” bisik Helios sengaja menempelkan bibirnya yang tak tertutup masker, ke ubun-ubun Chole.


Sekitar dua jam kemudian, mereka sudah di bank pusat sesama bank rekening milik Chalvin. Chole yang berbicara panjang lebar sementara Helios hanya mengawal. KTP Chalvin, KK keluarga Tuan Maheza, rekening asli dan juga surat keterangan sakitnya Chalvin, mereka bawa untuk mengurus. Hingga Chole yang memang sudah dikenal oleh beberapa petugas di sana karena merupakan nasabah khusus, segera mendapatkan bukti mutasi yang dimau.


“Kalau boleh tahu, ini lokasinya di mana saja?” tanya Chole mengecek setiap transaksi selepas perjalanan Chalvin ke Cilacap.


Setelah dilacak, tiga transaksi terbilang besar Chalvin lakukan di rumah sakit. Dan Helios sudah langsung tahu, lokasi rumah sakit itu di mana.


“Ini masih di Cilacap, tapi di kabupaten,” sergah Helios dengan suara lirih.

__ADS_1


“Masalahnya siapa yang sakit?” ucap Chole tak kalah lirih. Namun pada akhirnya, nama Cinta ia sebut karena alasan Chalvin ke Cilacap juga masih karena Cinta.


“Aku selidiki ke sana ... tapi belum tentu Chalvin ambil uang buat berobat, kan?” ucap Helios.


“Namun uang sebanyak itu enggak mungkin kak Chalvin habiskan tanpa alasan, kan?” balas Chole.


“Harusnya di sana ada CCTV,” ucap Helios yang sebenarnya belum selesai, tapi Chole sudah lebih dulu mengajaknya untuk ke sana.


“Ayo, ke sana. Jangan hanya Mas. Nanti habis cek lokasi dan sampai cek CCTV rumah sakit, kita ke rumah ibu Arum. Sedikit banyaknya mereka pasti tahu. Entah tentang kak Chalvin, atau malah Cinta. Maksud aku bilang begini karena aku dan kak Chalvin selalu berkunjung ke sana meski kami hanya ada di kampung sehari. Khususnya lagi kalau sampai lama, biasanya kami kalau ke sana tanpa mama, pasti makannya di rumah makan ibu Arum. Sementara kak Cinta, tentu karena hubungannya dengan Akala,” ucap Chole yang sudah langsung membuat sekelas Helios terpesona. Karena meski berisik sekaligus kekanak-kanakan bahkan ceroboh pada keselamatannya sendiri, Chole tipikal yang akan sangat teliti untuk hal penting lainnya layaknya kini.


“Sebenarnya bisa tanya lewat telepon, tapi itu kurang sopan,” lirih Chole.


“Ya sudah, ayo berangkat!” sergah Helios. Karena selain Chole pasti lebih puas jika ikut serta dalam memecahkan kas*us Chalvin, pada kenyataannya ia memang tidak bisa jauh-jauh dari Chole.


“Kalau ketemu kak Cinta, Mas wajib jaga jarak ya. Apalagi bagaimanapun keadaannya, dia tetap kakak aku yang mau enggak mau pasti akan selalu ada di dekat kita. Yang namanya se*tan kan selalu menjerat dengan kebahagiaan, kenik*matan, biar targetnya terpikat. Lain kalau mereka langsung ngamuk, seram, yang ada pada takut!” tegas Chole mendadak emosional lantaran ia sudah langsung ingat Cinta yang ingin kembali kepada Helios, selain wanita itu yang sampai memintanya pergi.


“WA kak Cinta, baik yang di hp aku, juga Rean yang sampai dimanfaatkan, aku sampai enggak habis pikir ke kak Cinta, apa sebenarnya maunya. Apa sebenarnya yang ada di pikirannya. Ke aku dan keluargaku saja tega, apalagi orang lain,” keluh Chole yang kemudian menjadi sibuk istighfar sekaligus menghela napas pelan.


Sebenarnya Helios ingin menceritakan uang miliknya yang dihabiskan Cinta, juga Cinta yang telah membuat wajah Nina sangat mirip dengan wajah Nina. Namun tiba-tiba itu menjadi alasan kekhawatiran Helios pada Chole dan juga janin mereka. Hingga niat hati hanya pergi berdua, Helios memutuskan untuk mengajak kedua anak buahnya agar ia bisa fokus menjaga sekaligus mengurus Chole, termasuk itu di perjalanan ke kampung halaman mereka yang bisa memakan waktu hingga dua belas jam.


“Kita pulang ke rumah dulu buat ambil pakaian ganti sekaligus keperluan lainnya,” sergah Helios.

__ADS_1


Walau masih merasa dongkol sekaligus sangat cemburu kepada Cinta, Chole tetap bersemangat menjalani persiapan perjalanan mereka ke Cilacap.


__ADS_2